Perekonomian Syariah Menyongsong Pengelolaan Keuangan Haji di Era Baru

Tuesday, December 09, 2014 Add Comment

 
Prospek Perekonomian Syariah

Semarang, ForSHEI. Kamis (04/12) Kementerian Agama RI, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang dan Forum kerjasama BPS BPIH Syariah mengadakan Seminar Nasional bertema “Perekonomian Syariah Menyongsong Pengelolaan Keuangan Haji di Era Baru”. Seminar yang bertempat di Auditorium II, Kampus III ini dihadiri beberapa Narasumber, diantaranya : Dirjen PHU Kementerian Agama RI, Direktur Pengelolaan Dana Haji KEMENAG RI, CEO BRIS, CEO BNIS, CEO Panin Syariah, Rektor UIN Walisongo Semarang, Dekan FEBI UIN, CEO BSM, CEO Permata Syariah, CEO Mega Syariah, dan CEO Bank Jateng Syariah.
Dalam sambutan membuka acara, Prof. Dr. Muhibbin C. Noor, M.Ag. (Rektor UIN Walisongo Semarang), menjelaskan bahwa acara ini sebagai arena sosiaslisasi bank-bank syari’ah yang hadir dan mungkin belum dikenal di kalangan masyarakat,  juga hal-hal yang terkait dengan pengembangan dan produk Bank Syariah.
Acara yang juga dihadiri oleh dosen-dosen FEBI dan Syariah ini dipadatkan dalam penyampaian materi dikarenakan waktu yang terbatas. Pada sesi pertama, Wahab Zaenuri, M.M, selaku moderator mengatur jalannya presentasi. Setiap narasumber mendapat jatah waktu tujuh menit untuk menjelaskan materi tentang : Peranan Bank Syari’ah dalam Perekonomin di Indonesia. Diawalai presentasi pertama dari Moh. Hadi Santoso (Direktur BRI Syari’ah), selanjutnya Deni Hendrawati (Direktur Panin Bank Syari’ah), dan Imam Teguh Sartono (Direktur BNI Syari’ah).
Memasuki sesi ke dua, Dr. Ali Murtadho (moderator), hanya memberi kesempatan lima menit untuk setiap pemateri. Kali ini topik yang akan dibahas oleh pemateri adalah tentang : Aspek dan Prospek Manajemen Syari’ah. “Indonesia diproyeksi mengalami perubahan ekonomi, sosial, dan teknologi dalam 5 tahun mendatang”, Kusman Yadi, (Direksi Bank Mandiri Syariah) mengawali penjelasan tentang prospek Perbankan Syariah di Indonesia.
Disusul pemaeri selanjutnya Achmad Permana (Direktur Permata Bank Syari’ah), Beni Wicaksono (Direktur Bank Menga Syari’ah), dan diakhiri presentasi dari Agung Siswanto (Direktur Bank Jateng Syari’ah).
Pada sesi ke tiga, yang dimoderatori oleh Arief M (Kemenag) membahas mengenai : Peran PHU dalam Pengembangan Institusi Ekonomi Syari’ah. “Semua dana Haji masuk ke perbankan syari’ah, Haji itu harus clear karena full ibadah, Ini adalah amanah yang harus kita jalankan. oleh karena itu, mitra dirjen PHU dalam mengawal transaksi syari’ah mendapat ridho Allah di dunia berupa kesejahteraan dan di akhirat masuk surga. Jelas Abdul Jamil (Dirjen Haji Kemenag RI) tentang sistem kerja PHU.
Untuk sesi terakhir, Drs. Khoirul Anwar, M.Ag. (moderator) menjelaskan bahwa pada sesi ke empat ini akan memperbincangkan mengenai : Undang-Undang No 34/2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji. “UU ini baru saja lahir dan ditandatangani presiden tanggal 17 kemarin, maka dari itu ini satu hal yang baru. Papar Khoirul.
Asas pengeloaan keuangan haji harus sesuai prinsip syari’ah. Produk-produknya halal, tanpa riba, maisir, dan  Harus mempertimbangkan aspek resiko. UU ini dimaksudkan untuk kepentingan jamaah yang diatur dalam pasal berikutnya. Harus akuntabel bisa dipertaunggunjawabkan”. Direktur Pengelolaan Dana Haji menjelaskan.
Acara berlangsung dengan kondusif yang diakhiri dengan makan siang bersama (prasmanan).

Sulistyowati


Kunjungan "Sosialisasi Edukasi Mata Uang Dan Inflasi Rupiah"

Sunday, November 23, 2014 Add Comment
SEMARANG, FALAH.- Senin (24/11) Kader dan Pengurus ForSHEI akan melakukan kunjungan ke kantor Bank Indonesia Wilayah V Jateng-DIY di jalan Imam Bardjo, S.H No 4 sebagai rangkaian dari program SET 1 bulan September. acara kunjungan ini akan membahas materi tentang mata uang khususnya sistem peredaran mata uang dan inflasi rupiah. lewat acara ini, diharapkan menambah pengetahuan dan memahami terkait sistem peredaran mata uang dan inflasi rupiah khususnya untuk kader ForSHEI yang baru diterima. ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bank Indonesia khususnya Kantor BI Semarang yang telah berkenan menerima permohonan kunjungan yang kami ajukan.
Asuransi Syariah Dalam Kajian Fiqh Kontemporer

Asuransi Syariah Dalam Kajian Fiqh Kontemporer

Saturday, November 01, 2014 Add Comment

ASURANSI SYARIAH DALAM KAJIAN FIQH KONTEMPORER
Oleh:
Dr. H. Abdul Ghofur, M.Ag
Pgs Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo

Hasil gambar untuk asuransi syariah

Secara hakiki kehidupan ini adalah milik Allah SWT, sehingga tidak seorangpun yang dapat mengetahui dan meramalkan secara sempurna apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Setiap ramalan yang dilakukan tidak akan terlepas dari kesalahan karena di masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. Bahkan untuk hal-hal tertentu sama sekali tidak dapat diperhitungkan seperti mati dan rezeki.  Seseorang hanya dapat mereka-reka dan memperkirakan saja.
Dalam dunia usaha, risiko yang dihadapi dapat berupa kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau risiko lainnya dan setiap risiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi, sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Untuk mengurangi risiko yang tidak kita inginkan, maka diperlukan perusahaan yang mau menanggung risiko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang mau dan sanggup menanggung setiap risiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha.
Pada dasarnya, asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan (pasal 1 UU Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian).
Berbagai Pendapat tentang Keberadaan  Asuransi 
Tidak  ada satupun ketentuan yang mengatur secara eksplisit tentang asuransi di dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Dengan demikian, masalah asuransi  di dalam ajaran Islam termasuk bidang hukum ijtihadiyah, yakni untuk menentukan hukumnya apakah asuransi itu merupakan aktivitas yang boleh dilakukan atau haram untuk dijalankan masih diperlukan peranan akal pikiran para ulam ahli fiqh melalui ijtihad. 
Setidaknya, ada empat macam pendapat ulama tentang asuransi ini. Pendapat Pertama menyatakan bahwa asuransi termasuk segala bentuk macam dan cara operasinya hukumnya haram. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pendapat pertama ini: a) asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang di dalam Islam, b) asuransi mengandung unsur ketidakpastian, 3) asuransi  mengandung unsur riba yang dilarang dalam Islam, 4) asuransi mengandung unsur eksploitasi yang bersifat menekan, 5) asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak secara tunai, 6) asuransi  obyek bisnisnya digantungkan pada hidup dan matinya seseorang yang berarti  mendahului taqdir Allah. Beberapa ulama pendukungnya antara lain: Yusuf al-Qardhawi, Sayid Sabiq, Abdullah al-Qalqili (Mufti Yordania) dan Muhammad Bakhit al-Muth’a (Mufti Mesir).
Pendapat Kedua menegaskan bahwa asuransi hukumnya halal atau diperbolehkan. Alasannya antara lain: 1) tidak ada ketetapan nash, al-Qur’an maupun al-Hadits yang melarang asuransi, 2) terdapat kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak baik penanggung maupun teratnggung, 3) Saling menguntungkan kedua belah pihak, sehingga kemaslahatan dari usaha asuransi lebih besar dari pada madharatnya, 4) asuransi dikelola berdasarkan akad mudharabah (bagi hasil) yang dibenarkan oleh ketentuan hukum Islam , 5) asuransi termasuk kategori kopeerasi (syirkah ta’awuniyah) yang diperbolehkan dalam Islam, 6) asuransi dapat berguna bagi kepentingan umum, sebab premi yang tekumpul dapat diinvestasikan untuk pembangunan dan proyek-proyek yang produktif. Para pendukung pendapat ini antara lain: Abdul Wahab Khallaf, Mustafa Ahmad Zarqa (Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syariah, Universitas Syiria), Muhamammad Nejatullah Shiddiqi, Muh. Yusuf Musa (Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syariah, Universitas Kairo) dan Abdurrahman Isa (pengarang kitab Muamalah al-Haditsah wa ahkamuha).
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa asuransi yang diperbolehkan (mubah) adalah asuransi yang bersifat sosial, bukan yang bersifat komersial. Alasannya, asuransi yang bersifat sosial tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh ketentuan agama (hukum) Islam.  Sedangkan dalam asuransi yang bersifat komersial terdapat unsur-unsur yang dilarang oleh Islam. Pendapat ketiga ini didukung antara lain oleh Muhammad Abu Zahroh (Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo, Mesir). 
Pendapat Keempat menetapkan bahwa hukum asuransi termasuk subhat, karena tidak ada dalil syar’i yang secara jelas mengharamkan atau yang menghalalkannya. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati di dalam berhubungan dengan asuransi.
Berdasarkan empat pandangan di atas, umat islam di Indonesia yang merupakan mayoritas dari penduduk Indonesia masih bersikap mendua dalam merespon keberadaan asuransi ini. Di satu sisi, tuntutan kebutuhan akan masa depan, asuransi merupakan kebutuhan setiap orang yang cenderung pada adanya kepastian, sehingga keberadaan program asuransi ini dianggap sangat urgen bahkan sebuah keniscayaan. Di sisi lain, keterlibatan setiap orang Islam dalam usaha asuransi belum  bisa optimal, sebab masih ragu mengenai kedudukan hukum bahkan ada yang menolak secara tegas.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diperlukan solusi dari perspektif hukum Islam. Penerapan asuransi berdasarkan prinsip-prinsip akad atau perjanjian yang tertuang dalam polis asuransi menjadi sebuah keniscayaan. Meskipun di dalam Islam tidak ada dasar hukum  yang secara eksplisit dapat dijadikan acuan bagi praktik asuransi, namun dalam al-Qur’an dan al-hadits terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan dalam perjanjian asuransi antara perusahaan asuransi dan peserta asuransi. Dan perangkat untuk menyambungkan kedua hal tersebut adalah ijtihad yang menghasilkan sebuah pemahaman yang dikenal dengan istilah fiqh.  

Implimentasi Prinsip Syariah dalam Kegiatan Usaha Perasuransian dalam Perspektif  Fiqh Kontemporer
Pada prinsipnya, Islam melarang adanya transaksi-transaksi yang di dalamnya mengandung unsur gharar, maisir, riba, bathil , sebab dalam realitasnya praktek-praktek tersebut akan cenderung hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Namun, Islam juga tidak mengabaikan arti penting kehadiran lembaga keuangan yang memang  dibutuhkan oleh masyarakat dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka, termasuk kegiatan usaha perasuransian. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya yang satu sisi masih tetap bisa memberlakukan usaha asuransi ini, di sisi lain unsur-unsur yang dilarang dalam Islam dapat dihilangkan serta diganti dengan akad-akad yang sesuai dengan ketentuan fiqh kontemporer. Yang dimaksud Ketentuan fiqh kontemporer di sini adalah fatwa ulama yang tertuang dalam DSN-MUI.
Menurut ketentuan Asuransi syariah sebagaimana diatur dalam Fatwa DSN-MUI Nomor 21/DSN/MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah dijelaskan bahwa asuransi syariah (ta’min, takaful atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi Risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad tijarah dan/atau akad tabarru’. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersiil. Sedangkan Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan  dan tolong menolong. Akad tijarah yang dimaksud adalah akad mudharabah, sedangkan akan tabarru’ adalah akad hibah. 
Kedua akad ini dimaksudkan untuk menghidari praktek gharar (penipuan), maisir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan) dan praktek lain yang bertentangan dengan syariah. Dalam akad tijarah (mudharabah), perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul mal (pemegang polis). Secara fiqh, praktek mudharabah ini dapat dibenarkan sepanjang ada kesepakatan dari kedua belah pihak seperti hal yang dipraktekkan dalam perbankan syariah. Artinya, ketika shahibul mal mendapat tambahan harta, hal tersebut tidak dilakukan dengan cara riba. Demikian pula dengan akad mudharabah ini, tidak ada pihak yang dirugikan seperti hangusnya harta (premi) yang telah dibayarkan dan tidak adanya pihak yang teraniaya. Karena semuanya didasarkan atas kesepakatan dengan akad yang jelas, yakni mudharabah. 
Di sisi lain, dalam praktek asuransi syariah juga tidak mengandung unsur maisir (perjudian) sebagaimana dalam asuransi konvensional. Sebab, dalam asuransi syariah juga terdapat akad tabarru’ (hibah) di mana peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah yang dalam hal ini perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah.  Jenis akad tabarru’ ini tidak dapat menjadi jenis akad tijarah. Namun, akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru’ bila pihak yang tertahan haknya, dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya.
Perusahaan asuransi syariah berhak memperoleh bagi hasil dari pengelolaan dana yang terkumpul atas dasar akad tijarah (mudaharabah). Demikian pula klaim atas akad tijarah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya. Sedangkan klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas disepakati dalam akad. Praktek akad tabarru’ ini mengingatkan kita pada akad gotong royong, kerjasama di antara orang-orang pedesaan ketika mempunyai “gawe” yang bertujuan untuk meringankan beban masing-masing pihak yang sedang punya “gawe”. Akad ini lebih dikenal dengan istilah “buwoh” atau “sinoman”. Demikian pula hakikat dari praktik asuransi syariah yang lebih menitikberatkan pada aspek kerjasama dan bahu-membahu untuk meringankan beberapa pihak yang sedang kurang beruntung pada “saat’nya.

Siinkretisme: Budaya Berbigkai Agama

Friday, October 31, 2014 Add Comment
Sinkretisme: “Budaya berbingkai Agama”
Oleh : Asep Saefurrohman (122411066) 
Abstrak
Java have very culture jell and high value of spiritual. This atter is influenced by to the number of religion teaching and culture which step into Java land;ground. The culture of java begun with teaching of worship ancestors animisme of dinamisme until entry of Hindu and Budha and then Islam. the  culture cannot be discharged from Javanese, when each religion teaching which step into Java can’t direct change previous religion teaching when the mentioned have become culture in the middle of society. Javanese Sinkretsme don’t only recognized at a period later Islam teaching have started to step into Java society. Mixing or absorbtion of teaching one with other teaching become matter which  habit and normaly in  Java society. Budha mixed Hindu, Hindu mixed with ancestors even absorbent of Islam teachings going into effect former especially in the people society of Java. Hassle of  Walisongo especially Sunan Kalijaga propagating religion teaching Ism into artistic nuance which taken a fancy to and can earn ism by Java society which that moment is gathered into civilian factions. 
Keyword : Cultural, sinkretisme, Java, Society & Walisongo
  1. Latar Belakang
Kajian yang membahas tentang Islam di Jawa hampir semuanya memgolongkan Islam kedalam dua golongan, yaitu Islam santri dan Islam abangan.[1] Perbedaan ini dapat terlihat dari tradisi, kepercayaan dan ritual ibadah yang dilakukan orang jawa. Berdasarkan sistem kepercayaan, yang disebut dengan Islam Santri adalah sekelompok muslim shaleh yang memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh, menjalankan perintah agama, dan berusaha membersihkan akidahnya dari perilaku syirik. Sedangkan Islam abangan adalah sekelompok muslim yang cara hidupnya masih banyak dikuasai oleh tradisi Jawa pra-Islam, yaitu suatu tradisi yang menitik beratkan pada pemaduan unsur-unsur Islam, Budha-Hindu, dan unsur-unsur asli sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan partisipasi ritualnya, Islam Santri lebih beorientasi menjalankan ritual yang diajarkan Islam secara baku seperti shalat, puasa, ibadah haji, mengaji. Sementara Islam abangan lebih berorientasi pada ritual-ritual yang tidak diajarkan secara baku seperti slametan, ngruwat, tirakat, sesajen, dan sebagainya.
Garis besar yang membedakan antara Islam santri dan Islam abangan adalah kemampuan dalam memahami Islam, Islam santri bisa disebut juga sebagai Islam yang secara mendalam memahami agama sedangkan Islam abangan adalah mereka yang sudah masuk ajaran Islam tapi masih awam dalam ajaran Islam sehingga masih sering melakukan praktek ibadah  yang ada pada masa pra-Islam tanpa mengetahui batasan dan aturan yang jelas.
Islam Santri lebih dekat pada dogma-dogma Islam baku. Dengan kata lain, Islam Abangan atau Agami Jawi yang disebutkan oleh Koentjaraningrat lebih bersifat sinkretis karena menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu-Budha dan Islam (heterodoks). Sementara Islam Santri lebih bersifat puritan karena mereka mengikuti ajaran agama secara ketat (ortodoks)[2].
Kajian dalam makalah ini akan mencoba mengupas unsur sinkretis dalam Islam yang menjadi ciri Islam abangan dengan unsur sinkretis yang disebarluaskan oleh Walisongo dengan memasukan nilai-nilai Islam kedalam kebudayaan dan praktek keseharian orang Jawa. Sehingga dapat dibedakan mana yang memang sesat dan khurafat dengan nilai-nilai Islam yang sudah dituangkan dalam aspek kehidupan dalam masyarakat Jawa.


B.     Pengertian Sinkretisme
Secara etimologis, sinkretisme berasal dari perkataan syin dan kretiozein atau kerannynai, yang berarti mencampur elemen-elemen yang saling bertentangan. Adapun pengertiannya adalah suatu gerakan dibidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal-hal yang agak berbeda dan bertentangan. Simuh menambahkan bahwa sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya suatu agama, yakni suatu sikap yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Bagi yang menganut paham ini semua agama dipandang baik dan benar. Oleh karena itu, mereka berusaha memadukan unsure-unsur yang baik dari berbagai agama, yang tentu saja berbeda antara satu dengan lainnya, dan dijadikan sebagai suatu aliran, sekte, dan bahkan agama.[3] Sebagai contoh dari sinkretisasi antara dua agama yang berbeda adalah penggabungan antara agama Islam dan Hindu di India, seperti yang dilakukan oleh Guru Nanak (1469-1538).
Dikalangan masyarakat Jawa pernah terjadi penggabungan antara dua agama, yaitu agama Budha dan agama Hindu (Siwa). Kedua agama tersebut mempunyai persamaan dan sekaligus perbedaan. Namun oleh masyarakat Jawa pada kurun tertentu kedua agama ini telah diamalkan sekaligus secara bersama-sama. Hal ini dibuktikan ketika Wishnuwardana wafat, nisannya di Waleri berbentuk patung Siwa, sedangkan di Jajaghu berbentuk Budha. Begitu pula candi di Prigen telah digunakan untuk pemujaan para pemeluk agama Siwa maupun Budha.[4]
Suatu langkah sinkretisme telah dipertunjukkan antara orang-orang Islam (penganut aliran “Wektu Telu”) dan Hindu di suatu tempat di pulau Lombok, dengan mendirikan Pura Lingsar. Sebagai Pura, bangunan ini digunakan untuk tempat ritual pemeluk Hindu. Namun keistimewaannya, tempat ini juga digunakan sholat orang-orang yang beraliran Wektu Telu. Di dalam Pura tersebut, di dalamnya terdapat symbol-simbol keIslaman, seperti tangga beranak 17 yang menunjukkan jumlah rakaat shalat, lima buah pancuran yang menunjukkan rukun Islam yang lima, dan sebagainya.
Para pengamat menyebut hal itu sebagai sinkretisasi karena merupakan penggabungan dua agama yang berbeda. Tapi sebagian lain mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan sinkretisasi, melainkan buah dari sikap toleran mendalam yang dilandasi oleh semangat untuk menghormati dan menghayati, serta mengamalkan semua nilai kebenaran, dari mana pun sumbernya. Semagat tersebut diadopsi dari Empu Tantular yang mengatakan bhineka tunggal ika “berbeda-beda tetapi tetap satu” dan tan hana dharma mangrwa “tidak ada kebenaran ganda”.[5]

C.      Munculnya Islam Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa
Ketika Islam masuk ke Jawa ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, pada waktu itu hampir secara keseluruhan dunia Islam dalam keadaan mundur. Dalam bidang politik, antara lain ditandai dengan jatuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258 Masehi, dan tersingkirnya Dinasti Al Ahmar di Andalusia (Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492 Masehi. Dibidang pemikiran, kalau pada masa-masa sebelumnya telah muncul ulama-ulama besar dibidang hukum, teologi, filsafat, tasawuf dan sains. pada masa-masa ini pemikiran-pemikiran tersebut talah mengalami stagnasi. Pada masa ini telah semakin berkembang pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kelompok-kelompok tarekat sesat semakin berkembang dikalangan umat Islam.
Dan kedua, sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu, Budha, dan kepercayaan asli yang berdasarkan animisme dan dinamisme telah melekat di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, dengan datangnya Islam terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akibatnya, muncul dua kelompok dalam menerima Islam. Pertama, yang menerima Islam secara total dengan tanpa mengingat pada kepercayaan-kepercayaan lama. Dan yang kedua, adalah mereka yang menerima Islam, tetapi belum dapat melupakan ajaran-ajaran lama. Oleh karena itu mereka mencampuradukkan antara kebudayaan dan ajaran-ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lama. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dapat dijumpai tulisan-tulisan, tradisi, dan kepercayaan yang tercampur di dalamnya antara aspek-aspek dari ajaran Islam dengan unsure-unsur kepercayaan lama. Upacara-upacara nelung dino, mitung dino, matang puluh, nyatus, mendhak dan nyewu, yang merupakan tradisi pra Islam dalam rangka menghormati kematian seseorang, tidak dihilangkan oleh para mubaligh, tetapi dibiarkan berlanjut dengan diwarnai dan diisi dengan unsure-unsur dari agama Islam.
Sikap toleran dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya setempat, di satu sisi memang dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisasi atau percampuradukkan antara Islam di satu sisi dengan kepercayaan-kepercayaan lama dipihak lain, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana pula yang berasal tradisi. Namun aspek positifnya, ajaran-ajaran yang disinkretiskan tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat Jawa dalam menerima Islam sebagai agama mereka yang baru. Dan sebaliknya, ajaran-ajaran tersebut telah memudahkan pihak Islam pesantren untuk mengenal dan memahami pemikiran dan budaya Jawa, sehingga memudahkan mereka dalam mengajarkan dan menyiarkan Islam kepada Masyarakat Jawa. Cerita tentang Walisongo yang sekti mandaguna dan mampu melakukan hal-hal di luar batas kemampuan manusia telah menarik perhatian bukan saja kaum pesantren, tetapi juga masyarakat yang kurang taat dalam beragama.
           
D.     Praktek-praktek Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa
Dalam uraian di atas telah disebutkan beberpa contoh tentang pelaksanaan sinkretisme antara  unsure-unsur dari ajaran-ajaran Islam dengan agama Budha, Hindu, dan tradisi local Jawa. Dan untuk lebih mengkongkretkan pengertian dan pemahaman tentang masalah tersebut, berikut ini diuraikan kembali beberapa contoh dari hala tersebut.
1.     Penggabungan antara Dua Agama/Aliran atau Lebih
Menggabungkan dua agama atau lebih dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru, yang biasanya merupakan sinkretisasi antara kepercayaan local (Jawa) dengan ajaran-ajaran agama Islam dan agama-agama lainnya. Dari masing-masing agama tersebut diambil yang sesuai dengan alur pikiran mereka. Dan, apabila aliran-aliran kepercayaan yang berkembang di Indonesia, dan lebih khusus lagi di Jawa diteliti, akan didapatkan bahwa aliran-aliran ini merupakan hasil sinkretisasi antara kepercayaan local dengan agama-agama yang telah ada.
2.     Bidang Ritual
1.      Upacara Midodareni
Upacara midodareni misalnya, adalah suatu ritual yang dilangsungkan pada malam hari menjelang hari perkawinan. Ritual ini dimaksudkan sebagai usaha keluarga pengantin untuk mendekati para roh halus supaya melindungi kedua calon pengantin dari mara bahaya yang mengganggu jalannya perkawinan dan hari-hari sesudahnya. Untuk itu calon pengantin tidak boleh tidur sampai tengah malam pada pelaksanaan ritual tersebut. Di kalangan muslim yang taat dalam beragama, ritual ini diisi dengan pembacaan al-Barzanji, kalimah thoyyibah, dan tahlil. Tapi dikalangan masyarakat yang kurang taat dalam beragama, acara ini digunakan sebagai alas an untuk mengadakan begadang sampai pagi.
2.      Upacara Brokohan dan Sepasaran
Dalam Islam, ketika seorang bayi lahir, ayah dan ibunya disyariatkan untuk melaksanakan aqiqah, dengan menyembelih seekor kambing kalau yang dilahirkan perempuan, dan dua ekor kambing kalau yang dilahirkan laki-laki. Namun kenyataan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat muslim Jawa tidak melaksanakan perintah ini. Sebagai gantinya mereka mengadakan upacara brokohan (diadakan setelah bayi lahir ke duania dengan  selamat) dan sepasaran (ketika bayi berusia lima hari). Dalam kedua slametan ini mereka tidak menyembelih kambing, tetapi menggantinya dengan yang lain.[6]
3.      Menggabungkan Agama dengan Budaya Lokal
Yang dimaksud dengan menggabungkan Islam dengan budaya local dalam konteks ini adalah melaksanakan syariat Islam dengan kemasan budaya Jawa. Berbakti kepada orang tua adalah wajib. Dalam melaksanakan syariat ini masyarakat Jawa biasanya menggunakan media sungkem. Begitu pula dalam rangaka memperingati hari Idul Fitri, masyarakat menyiapkan hidangan kupat dan lontong. Secara keratabasa, “kupat” dapat diartikan ngaku lepat Artinya mengaku atas kesalahan. Hal ini merupakan simbolisasi dari perintah untuk meminta maaf kepada orang lain pada hari raya yang penuh kebahagiaan ini. Adapun lontong, secara keratabasa dapat diartikan sebagai olone kothong yang Artinya kesalahannya kosong/habis. Hal ini merupakan simbolisasi dari doa agar semua dosanya termaafkan sehingga dirinya bersih dan suci dari dosa yang pernah menghinggapi.
  1. Serangan terhadap sinkretisme Islam di Jawa
Umat muslim di Jawa pada zaman setelah Walisongo hampir tidak ada pertentangan dalam pendapat dan juga madzhab. Madzhab yang diikuti dalam permasalahan fiqih adalah madzhab Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, dalam permasalahan tauhid mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-As’ari dan dalam tasawwuf mengikuti Imam Al Ghozali dan Imam Abu Hasan As-Syadzili.  Karena paham inilah yang diajarkan dan ditanamkan oleh Walisongo sehingga seolah sudah melekat dalam praktek ibadah orang-orang Jawa pada masa itu.
Pada tahun 1330 H. Mulai bermunculan golongan-golongan orang Islam di Jawa, salah satunya adalah golongan yang masih berpegang teguh pada madzhab muayyan, berpegang pada kutub al mu’tabaroh, cinta pada kepada ahli bait dan para wali dengan mengambil barokah darinya, ziarah kubur, talqin mayit, shodaqoh untuk mayit dan lain sebagainya. Kemudian golongan yang kedua adalah golongan pembaharu yang mengikuti pendapatnya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho bahkan mengambil pendapat dari Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi pendiri gerakan Salafi Wahabi, mengikuti pendapatnya Imam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qoyyim dan Ibnu Abdul Hadi. Golongan ini kemudian mengharamkan berziarah kepada makam Rasulullah SAW. dan lain sebagainya.[7]
Kemunculan gerakan pemurnian agama yang menyerukan agar semua persoalan harus dikembalikan kepada al-qur’an dan as-sunnah tanpa melalui ta’wil terhadap keduanya memunculkan banyak persoalan yang pelik dalam praktek ibadah yang menjadi tradisi orang jawa. Banyak tradisi Islam Jawa yang dikatakan mereka sebagai praktek bid’ah yang harus dibasmi dan dihilangkan dalam praktek-praktek ibadah orang Islam. salah satu contohnya adalah ziarah  para wali, peringatan hari ke-tujuh dan empat puluh kematian, upacara dalam akad nikah dan lain sebagainya.
Nuansa kebudayaan di Jawa sangat sangat kental dalam mengatur tata kehidupan masyarakatnya, sehingga yang dilakukan oleh para penyebar Islam Walisongo menggunakan metode kulturisasi ajaran agama kedalam praktek kebudayaan masyarakat. Nilai-nilai ajaran Islam dimasukan kedalam budaya Jawa, sebagai contoh seni wayang.  Sunan Kalijogo menggunakan metode wayang sebagai media penyebaran ajaran Islam kepada masyarakat Jawa saat itu yang masih tergolong awam. Istilah ajaran Islam dikemas dengan menggunkan istilah Jawa agar masyarakat mudah memahami seperti “kalimosodo”  yang terkenal sebagai jimat yang diambil dari kata kalimat syahadat.
Praktek praktek kebudayaan asli orang Jawa inilah yang menjadi sasaran serangan dari gerakan pembaharu atau tepatnya gerakan pemurnian agama. Semua adat istiadat dalam melakukan ibadah yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh rasulullah maka mereka anggap itu adalah bid’ah yang sesat dan menyesatkan.
Gerakan transnasional yang banyak bermunculan di Indonesia yang banyak dibawa dari Timur Tengah memiliki misi tersendiri yaitu goalnya adalah mewujudkan khilafah islamiyah dan ciri dari gerakan merekan skripturalis, fundamentalis atau radikal.[8]
Gerakan yang seperti ini yang akan sangat berbahaya, karena gerakan merekan mengguakan doktrin agama tetapi berlandaskan politik untuk menguasai, mempengaruhi dan memegang posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Gerakan fundamental sendiri dibagi menjadi dua yaitu ada gerakan tarbiyah dan gerakan radikal. Gerakan terbiyah berusaha menguasai dan mewujudkan khilafah islamiyah lewat jalan partai dan masuk keparlemen, sedangkan gerakan radikal membangun terror dimana-mana untuk menunjukan kekuasaan.



Daftar pustaka
1.      ‘Asy’ari, Hasyim. Risalah ahlu sunnah wal jama’ah.  Madrasah at-turas Al Isalmi, Tebu Ireng : 1418 H.
2.      Gerkan Islam transnasional dan pengaruhnya di Indonesia, Direlease dan disebarkan dalam bentuk powerpoint oleh Badan Intelejen Negara (BIN).
3.      H. Abdul jamil dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000.
4.      Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, Jakarta.
5.      Muchtarom Zaini, 1988, Santri dan Abangan di Jawa, Jilid II, INIS, Jakarta.
6.      Marbangun Hardjowiraga, Adat Istiadat Jawa, Patma, Bandung, 1980.
7.      Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, UI Press, Jakarta, 1998.
8.      Sujatmo, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, Semarang, 1997.




[1] Muchtarom Zaini, 1988, Santri dan Abangan di Jawa, Jilid II, INIS, Jakarta, hlm. 1-7.
[2] Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 312
[3] Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, UI Press, Jakarta, 1998. Hlm. 12.
[4] Sujatmo, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, Semarang, 1997, hml. 18.
[5] Ibid, hlm. 19.
[6] Marbangun Hardjowiraga, Adat Istiadat Jawa, Patma, Bandung, 1980, hlm. 133-134.
[7] ‘Asy’ari, Hasyim. Risalah ahlu sunnah wal jama’ah.  Madrasah at-turas Al Isalmi, Tebu Ireng : 1418 H. Hal. 9 
[8] Gerkan Islam transnasional dan pengaruhnya di Indonesia, Direlease dan disebarkan dalam bentuk powerpoint oleh Badan Intelejen Negara (BIN).

Buletin Falah edisi ke-3

Wednesday, October 22, 2014 Add Comment



Persembahan dari KSEI forshei UIN Walisongo Semarang sebagai bentuk turut serta dalam mensosialisasikan ekonomi syariah kepada masyarakat umum.bulletin dapat di download disini http://www.4shared.com/file/e1DpZmzace/Bulletin_ForSHEI_Edisi_Ke_3.html?
dalam waktu dekat, mohon doa dan restunya bulletin edisi ke-4 akan segera terbit.
Klasifikasi Pekerja Menurut Islam

Klasifikasi Pekerja Menurut Islam

Sunday, October 19, 2014 Add Comment

وَالنَّاسُ ثَلاَثَةٌ : رَجُلٌ شَغَلَهُ مَعَاشُهُ عَنْ مَعَادِهِ فَهُوَ مِنَ اْلهَالِكِيْنَ وَرَجُلٌ شَغَلَهُ مَعَادُهُ عَنْ مَعَاشُهُ فَهُوَ مِنَ الفَائِزِيْنَ وَاْلاَقْـرَبُ اِلَي اْلاِعْتِدَالِ هُوَ الثَالِثُ الَّذِيْ شَغَلَهُ مَعَاشُهُ لِمَعَادِهِ فَهُوَ مِنَ الْمُقْتَصِدِيْنَ . وَلَنْ يَنَالَ رُتْبَةَ اْلاِقْتِصَادِ مَنْ لَمْ يُلاَزِمْ فِيْ طَلَبِ الدُّنْيَا. وَلَنْ يَنَالَ رُتْبَةَ الْاِقْتِصَادِ مَنْ لَمْ يُلاَزِمْ فِي طَلَبِ المَعِيْشَةِ مَنْهَجَ السَّدَادِ وَلَنْ يَنْتَهِضَ مَنْ طَلَبَ الدُ نْيَا وَسِيْلَةً اِلَي الاَخِرَةِ وَذَرِيْعَةً مَا لَمْ يَتَأَدَّبْ فِي طَلَبِهَا بِأَ دَابِ الشَّرِيْعَةِ. (احياء علوم الدين جلد 2 ص 62)
“Manusia terbagi menjadi tiga golongan : pertrama orang yang disibukan oleh pekerjaannya daripada akhiratnya, orang ini adalah sebagian dari orang yang rusak. Kedua orang yang disibukan dengan akhiratnya daripada dunianya, orang ini termasuk sebagian  dari orang  yang beruntung. Ketiga  yang paling dekat kearah adil adalah orang yang disibukan dengan pekerjaannya untuk bekal akhiratnya, orang ini adalah sebagian dari ahli ekonomi sejati.   Dan tidak akan mencapai derajat ahli ekonomi kecuali orang yang bekerja, dan dalam bekerja menggunakan metode yang benar atau tepat. orang yang mencari nafkah dunia sebagai jalan menuju kehidupan akhirat tidak akan tegak (terwujud) selama tidak menggunakan etika dalam bekerja dengan etika yang sesuai dengan syariat.”
                                                                                                       
Islam mengajarkan manusia agar senantiasa seimbang dalam urusan dunia dan juga akhirat.  Islam menempatkan kegiatan ekonomi sebagai mazra’ah (lahan menanam) yang kelak akan menuai hasilnya di kehidupan akhirat, orang yang kegiatan ekonominya baik tentu akan menuai hasil baik pula di akhirat, sebaliknya orang yang kegiatan ekonominya buruk tentu akan mendapatkan hasil yang buruk pula dikehidupan akhirat.  Anjuran dan keutamaan  bekerja banyak disebutkan dalam al-qur’an seperti surat An- Naba: 11 yang artinya “ dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”  dan Al-Jumu’ah : 10 yang artinya “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” serta ayat-ayat lain dalam al-qur’an yang menganjurkan manusia untuk senantiasa bekerja di muka bumi ini.
Dalam peraktiknya, Islam mengatur tindakan manusia dalam melakukan pekerjaan agar sesuai syariat. dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghozali bahwa ada tiga golongan manusia dalam menjalankan pekerjaannya, yaitu pertama orang yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga mengesampingkan akhiratnya. Orang ini termasuk golongan orang yang bangkrut, karena hanya sampai di tengah jalan, hanya sukses di kegiatan ekonomi namun tidak punya bekal untuk kehidupan akhirat. Kedua orang sibuk dengan kepentingan akhirat sehingga mengesampingkan kepentingan dunianya, orang ini termasuk golongan orang  yang beruntung. Karena orang dari golongan ini mementingkan bekal untuk kehidupan sebenarnya di akhirat kelak, dan untuk kebutuhan dunia biasanya tercukupi dengan sendirinya dalam kadar sederhana. Ketiga golongan yang lebih tepat dikatakan golongan yang adil seimbang antara dunia dan akhirat, yaitu orang yang sibuk dengan kegiatan ekonomi yang diperuntukan sebagai bekal di kehidupan akhiratnya kelak. Orang ini termasuk golongan muqtashid. Penulis mengartikan muqtashid sebagai ahli ekonomi sejati. Muqtashid yang berasal dari suku kata qashada yang diikutkan wazan ifta’ala menjadi iqtashada yang bermakna sedang, sederhana dan adil, dikatakan adil karena menempatkan kegiatan ekonomi dan akhirat secara seimbang sesuai proporsinya dengan menjadikan kegiatan ekonomi sebagai  bakal kehidupan akhirat.
Seseorang tidak akan bisa mencapai derajat  muqtashid kecuali mencari nafkah untuk  memenuhi kegiatan ekonomi, dan menggunakan metode yang tepat atau relevan dalam mencari nafkah terbesebut. Kemudian kegiatan ekonomi yang dilakukan bisa menjadi washilah untuk kehidupan akhirat dan perantara kesuksesan selama menggunakan etika atau adab yang sesuai dengan syariat Islam. wallahu a’lam bi showab.
Asep Saefurrohman

Seminar ForSHEI "Prasetya ulah bakti sakti praja : Manifestasi Jawa Tengah sebagai sentrum pertumbuhan ekonomi syariah nasional" dengan OJK

Monday, October 13, 2014 Add Comment


Semarang (5/6/14). ForSHEI menyelenggarakan seminar nasional dengan tema "Prastya Ulah Sakti Bhakti Praja: Manifestasi Jawa Tengah sebagai sentrum pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia". acara tersebut terselenggara atas kerjasama ForSHEI dengan OJK Regional Jateng DIY. seminar tersebut berusaha untuk mengungkap potensi Jawa Tengah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan sistem ekonomi Islam yang menggunkan pendekatan Local wisdom. pembicara seminar terdiri dari perwakilan OJK Regional Jateng DIY, BAPPEDA Jateng dan Akademisi. peserta terlihat antusias bahkan membeludak, sehingga panitia terpaksa tidak menerima peserta seminar yang datang belakangan.