Majalah Falah edisi V "Keuangan Inklusif sebagai Akselerasi Perekonomian Umat"

Majalah Falah edisi V "Keuangan Inklusif sebagai Akselerasi Perekonomian Umat"

Thursday, December 24, 2015 Add Comment
Kebijakan keuangan inklusif adalah suatu bentuk pendalaman layanan keuangan (financial service deepening) yang ditujukan kepada masyarakat in the bottom of the pyramid untuk memanfaatkan produk dan jasa keuangan formal seperti sarana menyimpan uang yang aman (keeping), transfer, menabung maupun pinjaman dan asuransi. Berikut ini adalah Majalah Falah hasil karya kader forshei yang membahas tentang Keuangan Inklusif.

Download E-Magazine Falah Edisi V disini

Hasil gambar untuk keuangan inklusif







Kunci Jawaban Tes Potensi Akademik Forshei 2015

Wednesday, December 23, 2015 Add Comment
Hasil gambar untuk jawaban

Assalamuálaikum Sahabat ForSHEI, setelah kita lalui Tes Potensi Akademik edisi 2015 lusa mungkin masih ada teman-teman yang ingin mengetahui apa sih jawaban dari soal TPA kemarin, di postingan kali ini lah kami akan menjawab pertanyaan berikut, check it out di bawah ya, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kalian semua :) #ket: jika ada angka yang sama, no. pertama soal TPA I dan no. kedua TPA susulan, karena perbedaan soalnya tidak banyak maka kami gabungkan keduanya disini, mohon maaf.

Merajut Ukhuwah Menjalin silaturahim KSEI ForSHEI dan KSEI FORBASYA

Friday, December 11, 2015 Add Comment

 Silaturahim KSEI FORBASYA dengan KSEI ForSHEI

SEMARANG- Jumat, 11 November 2015 KSEI ForSHEI menyambut dengan hangat kedatangan sahabat-sahabat KSEI FORBASYA dari STAIN Pekalongan.
pada pukul 11.00 WIB tepat para peserta studi banding FORBASYA dengan ForSHEI ini sampai ke kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
sembari menunggu para ikhwan melaksanakan shalat juamt para peserta perempuan mengakrabkan diri di kediaman salah satu kader ForSHEI di perum BPI Semarang.
acara yang merupakan serangkaian program kerja KSEI FORBASYA ini dibuka pada pukul 13.00 oleh ketua ForSHEI yaitu Ahmad Fauzi.
dilanjutkan dengan perkenalan dari seluruh peserta studo banding, disambung pula dengan pemaparan materi serangkaian program kerha dari KSEI ForSHEI.
secara bergiliran masing-masing BPH dan koordinator bdang memaparkan program kerja dan mekanisme dalam organisasi ForSHEI itu sendiri.
acar berlangsung cukup seru dengan beberapa dialog interaktif antar peserta dari KSEI FORBASYA yang aktif bertanya dan menanggapi proker dari KSEI ForSHEI.
Setelah selesai berbincang mengenai beberapa pengalaman masing-masing KSEI, studi banding pun ditutup dengan penyerahan cinderamata dari KSEI FORBASYAI kepada KSEI ForSHEI serta foto bersama.
Dari acara studi banding ini, berbagai wawasan mengenai organisasi yang dipaparkan memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Selain menggali ilmu, studi banding ini juga bertujukan menjalin silaturrahim antar KSEI.
Diharapkan, dari studi banding seperti ini dapat mempererat ukhuwah Islamiyah serta mengembangkan wawasan sehingga muncul semangat juang bagi pemuda ekonom rabbani.

FaForit (Family ForSHEI Visit)

Friday, December 11, 2015 Add Comment

 Kunjungan Edukasi dan Sosialisai Interaktif Otoritas Jasa Keuangan 

SEMARANG - kamis 10 Desember 2015, ForSHEI ( Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) UIN Walisongo Semarang mengadakan Kunjungan Edukasi dan Sosialisasi Interaktif Otoritas Jasa Keuangan di kantor OJK regional 4 Jateng DIY pagi hari, dengan diikuti oleh 60 kader ForSHEI angkatan 2013, 2014 serta 2015.
Dilaksanakanya kegiatan kunjungan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai literasi industri jasa keuangan yang saat ini sedang disosialisasikan kepada konsumen atau masyarakat guna meningkatkan tingkat utilitas dan kepercayaan terhadap lembaga dan produk jasa keuangan di Indonesia.
Acara dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Sambutan pertama dibawakan oleh Muhammad Arifin mewakili Dekan 3 yang dilanjutkan sambutan kedua oleh Rusli Ambar (ketua bagian dokumentasi dan sosialisasi OJK regional 4 Jateng-DIY) yang menjelaskan gambaran umum latar belakang berdirinya ojk.
Hans selaku pembicara dari salah satu karyawan ojk mengawali materi dengan memperkenalkan pengertian mendasar mengenai ojk, tujuan, fungsi, tugas dan diakhiri dengan memberikan tips aman dalam berinvestasi.
Di akhir acara diadakanya sesi tanya jawab menarik mewarnai seluruh acara khususnya terkait perlindungan konsumen dan juga ada banyak sekali kader ForSHEI yang antusias dalam sesi tanya jawab tersebut, namun karena keterbatasan waktu sehingga ada pula bebertapa kader yang belum berkesempatan menyampaikan pertanyaanya tersebut.
"acara ini semua kegiatanya tidak hanya mengadung satu makna akan tetapi tersimpan banyak hikmah dan pembelajaran yang inspiratif dan memotivasi. kegiatan ini juga dapat memberikan pengalaman baru bagi kami, teman baru dan tentunya akan melahirkan orang-orang sukses baru nantinya" ujar Ghaniyyu Imam Prakoso salah satu peserta kunjungan kader ForSHEI angkatan 2015.
Tak kalah seru, menjelang ahir acara diadakan game yang membuat antusias seluruh peserta untuk menebak teka-teki dari materi yang telah dipaparkan. Acara ini berjalan dengan lancar. Kegiatan ini berakhir pukul 12.00 tanpa suatu kendala sedikitpun.

Vicky Iffah 




Etika dalam Berekonomi

Tuesday, December 08, 2015 Add Comment
                             Etika berekonomi

Lalu lintas perekonomian di lapangan, terlihat sering menimbulkan ketidakseimbangan teriring dengan rasa “tidak adil” yang mengakibatkan ketidakrelaan serta penderitaan bagi salah satu pihak yang terkait. Dalam ekonomi konvensional misalnya, sistem yang diterapkan tidak didasarkan pada aspek norma ataupun etika berekonomi, justru motivasinya adalah mencari laba sebanyak-banyaknya. Keikhlasan pun sering terabaikan tersisih dengan sistem yang mengikat. Solusi terhadap kegelisahan masyarakat adalah dengan memilah mana yang benar-benar sesuai syariat. Maka dalam hal ini ekonomi Islam lahir dari perkembangan ekonomi secara umum yang syarat akan nilai normalitas, sehingga etika memperhatikan kerelaan menjadi faktor penting dalam brekonomi.
Akhlak memang sudah dimiliki sejak manusia itu dilahirkan, namun belum terlihat sampai dengan terjaadinya suatu tindakan. Dalam Islam Etika sering disebut sebagai akhlak, sedangkan pengertian akhlak merupakan budi pekerti, watak dan tabiat. Disinilah letak yang membedakan antara manusia dengan mahluk yang lain, yakni akhlak. Menurut imam Al-Ghozali “akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika sifat itu tertanam dalam jiwa maka menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syariah”. Adanya akal menimbulkan nilai-nilai moral yang sangat penting bagi manusia, sehingga mampu bersikap, bertindak serta bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya.  Apabila akhlak terpuji sudah dibiasakan sejak dini, maka perasaan berat muncul ketika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah termasuk dalam berekonomi.
Pandangan dalam ekonomi konvensional, para pelaku ekonomi diasumsikan selalu sibuk dengan pemuasan maksimum terhadap keinginan (want) akan barang dan jasa. Sistem ini tidak melihat pendekatan moral dan etika sebagai suatu dasar dalam pemenuhan ekonomi serta menimbulkan permasalahan ekonomi berupa kelangkaan terhadap sumber daya. Akibatnya, distribusi yang tidak adil dan merata terjadi dalam sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kaya terhadap pihak yang miskin dalam rangka pemenuhan kepuasan maksimum tersebut. Selain itu, berkembangnya sistem ribawi serta kurangnya kesadaran pajak dan tanggung jawab sosial merupakan akibat tidak adanya norma yang mengatur sehingga menimbulkan kemiskinan struktural.
Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Ekonomi Islam merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meninjau, meneliti, dan pada akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang islami. Tujuan dari ekonomi syariah tidak lain untuk mencapai falah (kesejahteraan). Falah dapat tercapai apabila  memenuhi 3 pilar yaitu: keadilan, keseimbangan dan kemaslahatan. Sebagian besar, konten ekonomi syariah bersifat normatif yang mengatur perilaku agen dalam ekonomi agar tercapainya falah. Penerapan instrumen dilakukan dengan instrumen wajib, instrumen sukarela, instrumen haram, prinsip profit and loss sharing sebagai pengganti sistem ribawi serta mengedepankan aktivitas ekonomi produktif. Kaitannya dengan hal tersebut, etika benar-benar djadikan pedoman dalam berperilaku ekonomi.
Ekonomi Islam mempunyai sifat dasar yaitu ekonomi rabbani dan insani. Ekonomi rabbani karena adanya nilai-nilai ketuhanan (illahiyah), sedang ekonomi insani dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia. Keduanya harus dijalankan secara berimbang atau beriringan.
Menurut Qardhawi, ilmu ekonomi Islam memiliki 3 prinsip dasar yaitu: tauhid, akhlak dan seimbang. Keimanan mempunyai peranan penting dalam ekonomi Islam, karena secara langsung akan mempengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, gaya hidup, selera dan preferensi manusia, sikap-sikap terhadap manusia, sumber daya dan lingkungan. Konsep tauhid menggunakan standar tertentu dalam menentukan sebuah moral, etika dan hukum yang disebut dengan mashlahah. Hubungan ekonomi dan moral dalam Islam (Yafie, 2003: 41-42) adalah larangan terhadap pemilik dalam menggunakan harta yang dapat menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat, larangan melakukan penipuan dalam transaksi, larangan menimbun emas dan perak atau sarana-sarana moneter lainnya, sehingga mencegah peredaran uang, larangan melakukan pemborosan, karena akan menghancurkan individu dalam masyarakat. Maka berekonomilah dengan mengedepankan etika dan moral agar terwujudnya ekonomi yang berbasis syariah dan terciptanya kesejahteraan bersama.



Dzuriyatun Nafi'ah (staff kajian dan penelitian ForSHEI 2015)
Esensi Wakaf Tunai dalam Mensejahterakan Umat

Esensi Wakaf Tunai dalam Mensejahterakan Umat

Tuesday, November 24, 2015 Add Comment
Esensi Wakaf Tunai dalam Mensejahterakan Umat

Semenjak terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 1997 perekonomian indonesia makin diambang pintu kehancuran. Banyak masalah yang timbul dalam perkembangan ekonomi mulai dari pembagian pendapatan yang tidak merata serta berbagai masalah lainnya yang bermuara pada masalah kemiskinan yang dampaknya masih kita rasakan sampai saat ini. Bahkan karenanya Indonesia menjadi salah satu negara pengutang terbesar didunia. Dengan keadaan seperti ini, kita perlu memikirkan suatu strategi  guna mengatasi ketergantungan kita terhadap hutang luar negeri. Salah satunya dengan digulirkannya wakaf tunai atau uang di Indonesia, karena selama ini umat islam di Indonesia hanya mengenal wakaf-wakaf barang tak bergerak.
Wakaf tunai merupakan produk baru dalam sejarah perbankan islam. konsep wakaf uang dibawa kembali oleh MA. Mannan melaluipembentukan Social InvestmentBank Limited (SIBL) di bangladesh  sejak 22 november 1995 yang dikemas dalam mekanisme instrumen Cash Waqf Certificate. Sertifikat wakaf uang tunai inovasi M.A. Mannan memiliki manfaat praktis. Baik si kaya maupun orang biasa dapat berwakaf sesuai dengan kemampuannya. Masyarakat akan dengan mudah memberikan kontribusi mereka dalam wakaf tanpa harus menunggu menjadi kaya dulu. Meskipun hanya 100 ribu, misalnya, wakaf dapat diterima oleh LKS-PWU. Di Indonesia wakaf tunai diatur dalam Undang-undang wakaf nomor 41 tahun 2004 tepatnya pasal 16 ayat 1 dan 3.
Wakaf uang adalah wakaf berupa uang yang dikelola oleh nazhir secara produktif, hasilnya dimanfaatkan untuk mauquf ‘alaih. Dengan demikian, dalam wakaf uang harus diberikan dulu kepada nadzhir, tidak boleh langsung diberikan kepada mauquf ‘alaih. Di Indonesia yang berupaya menjadi nazhir wakaf uang dengan keragaman konsep dan aplikasinya yaitu Baitul Mal Muamalat, Tabung Wakaf Indonesia, Badan Wakaf Indonesia dan PKPU.
Dalam sejarah islam, orang yang pertama kali mengenalkan wakaf uang adalah Imam Zufar (abad 8 M), salah seorang madzhab hanafi. Imam Zufar menggariskan bahwa dana wakaf uang harus diinvestasikan melalui mudharabah dan keuntungannya dibelanjakan untuk charity. Namun, wakaf uang baru menemukan bentuknya yang matang pada masa Turki Usmani. (abad ke-16 M).
Di Timur Tengah, wakaf uang sudah lama dipraktekan. Di mesir, misalnya, Universitas Al-Azhar menjalankan aktivitasnya dengan menggunakan dana wakaf. Universitas tersebut mengelola gudang  dan perusahaan di Terusan Suez. Universitas Al-Azhar selaku nazhir hanya mengambil hasilnya untuk keperluan pendidikan. Bahkan, Pemerintah Mesir pernah meminjam dana wakaf Al-Azhar untuk operasional pemerintahan. Di indonesia salah satu lembaga yang menerapkan wakaf uang adalah Pondok Modern Gontor Ponorogo (PMDG). Hingga tahun 2006, PMDG memiliki aset tanah wakaf seluas 618,45 ha dan 27 macam unit usaha. Seperti untuk  sektor pertanian, rata-rata hanya 600 juta per tahun, hasil dari sawah seluas 250 ha dan sisanya dialokasikanuntuk kampus, tanah kosong, tanah yang kering. Ini berarti pemberdayaan wakaf tunai belum terlaksana seratus persen.
Dengan demikian dapat dilihat pengaruh potensi keberhasilan wakaf tunai dan ketahanannya dalam  menghadapi krisinya perekonomian suatu negara. Apalagi jika diterapkan di negara indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 200 juta jiwa. Bisa dipastikan segala masalah kemiskinan yang dihadapi rakyat bisa teratasi dan rakyat akan hidup dengan sejahtera.
 shofiyyah (staff media dan jurnalistik ForSHEI 2015)
 Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam al-Ghazali

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam al-Ghazali

Friday, November 20, 2015 Add Comment


 Hasil gambar untuk Abu Hamid Ahmad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi

Abu Hamid Ahmad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi lahir di Tua (Meshed), sebuah kota kecil di Khurusan (Iran) tahun 450 H (1058 M) dan meninggal 505 H (1111 M). beliau di juluki Hujjatul Islam. sejak kecil Imam al-Ghazali hidup dalam dunia tasawuf. Karya beliau antara lain: Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Fazaih al-Batiniyah wa Fazail al-Mustaziriyah, al-wasit, al-Basit, al-wajiz, al-Iqtisad fi al-I’tiqad, Risalah al-Qudsiyyah, Qawa’id al-‘Aqaid, Jawahir al-Quran, Bidayat al-Hidayah, a-Qistas al-Mustaqim, al-Arba’in fi Usul ad-Din, Ihya’Ulum ad-Din, al-Munqiz min ad-Dalal, al-Mustasfa min ‘ilm al-Usul, Iljam al-Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam, dan karyanya yang terakhir Minhaj al-‘Abidin.
Menurut al-Ghazali, uang ibarat cermin yang tidak memiliki warna sendiri tetapi mampu mencerminkan semua warna (nilai atau harga barang-barang komoditas yang lain). Al-Ghazali tidak menggunakan istilah ekonomi, melainkan memilih istilah ‘ilm al-kasb, ‘ilm al-‘uqud dan iqtishad. Kata iqtisad yang berasal dari kata qasada mempunyai arti “seimbang” (equilibrium, balanced) dan tengah-tengah (in between). Dalam al-Qur’an istilah iqtisad disebutkan sebanyak enam kali. Konsep ekonomi al-Ghazali terkait erat dengan pandangannya terhadap eksistensi manusia sebagai homo-economicus. Menurutnya, manusia dilahirkan dengan membawa naluri untuk melakukan kegiatan ekonomi. Hal ini didorong akan upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (al-isytigal ad-dunyawiyah), yaitu kebutuhan akan makan, tempat tinggal dan pakaian.
Uang menurut al-Ghazali adalah barang atau benda yang berfungsi sebagai sarana mendapatkan barang lain. Dengan kata lain uang adalah barang yang disepakati fungsinya sebagai media pertukaran (medium of exchange). Sedangkan teori evolusi uang yaitu kurang memiliki angka penyebut yang sama (lack of common denominator), barang tidak dapat dibagi-bagi (indivisibility of goods), dan keharusan adanya dua keinginan yang sama (double coincidence of wants). Fungsi uang antara lain: Qiwam ad-dunya, alat at-tabadul atau al-mu’awidah, dan sarana pencapaian tujuan dan untuk mendapatkan barang-barang lain.
Dalam padangan al-Ghazali para pelaku riba tergolong kedalam kelompok kufur nikmat. Menurut Beliau ada dua macam riba: Riba fadl dan Riba nasi’ah. Pelarangan Menimbun Uang (Iktinaz/Money Hoarding) menurut Al-Ghazali tujuan dibuatnya uang adalah agar Ia beredar dalam masyarakat sebagai sarana dalam sebuah proses transaksi dan bukannya untuk dimonopoli. Uang yang apabila ditarik dari sirkulasi dan ditimbun oleh seseorang maka akan berdampak buruk bagi perekonomian, Sebab dengan demikian jumlah uang beredar (JUB) akan berkurang. Larangan penimbunan uang (kanz al-mal, money hoarding) terdapat dalam firman Allah: “Dan barang siapa menimbun emas dan perak serta tidak membelanjakannya di jalan Allah, maka berilah kabar kepada mereka akan siksa yang teramat pedih.” (Q.S At-Taubah :34)
Al-Ghazali menyebutkan bahwa salah satu sumber pendapatan yang halal adalah harta tanpa ahli waris yang pemiliknya tidak dapat dilacak, sumbangan sedekah atau wakaf yang tidak ada pengelolanya. Al-Ghazali menyarankan agar dalam memanfaatkan pendapatan negara, negara bersikap fleksibel yang berlandaskan kesejahteraan. Teori evolusi pasar menurut al-Ghazali, pasar berevolusi sebagai bagian dari “hukum alam” segala sesuatu, yakni sebuah ekspresi berbagai hasrat yang timbul dari diri sendiri untuk saling memuaskan kebutuhan ekonomi. Al-Ghazali bersikap sangat kritis terhadap laba yang berlebihan. Laba normal seharusnya berkisar antara 5 sampai 10 persen dari harga barang.
Hierarki produksi menurut al-Ghazali ada tiga: Industri dasar, aktivitas penyokong, dan aktivitas komplementer. Al-Ghazali juga lebih dahulu membahas tentang pembagian kerja dalam mengoperasikan suatu lembaga keuangan dalam sebuah negara.

Party (Staff Media dan Jrnalistik ForSHEI 2015) 

Kongres Ke-3 AFEBI (Asosiasi Fakultas Ekonomi Bisnis Indonesia)

Thursday, November 19, 2015 Add Comment
Rabu (18/9), Kongres Ke-3 AFEBI (Asosiasi Fakultas Ekonomi Bisnis Indonesia)
LOUNCHING KULIAH PERDANA AFEBI
Melalui Video Conference yang diselenggarakan di Aula Bank Indonesia dan Kampus A FE UNTAN Pontianak, Kalimantan Barat. Yang di Brodcast serentak di 9 FE PTN se Indonesia yaitu,
1. Universitas Teuku umar, Meulaboh
2. Universitas Sumut, Medan
3. Universitas Andalas, Padang
4. Universitas Sriwijaya, Palembang
5. Universitas UIN Walisongo, Semarang
6. Universitas Diponegoro, Semarang
7. Universitas Brawijaya, Malang
8. Universitas Hasanudin, Makassar
9. Ga. Kantor Pusat Telkom, Jakarta 

ACADEMIC ENRICHMENT
Bank Indonesia (Deputi Gubernur Bank Indonesia) "New Approach In Management Education To Develop HR Competencies During MEA Implementation" Oleh : Prof.Dr.Jann Hidajat, M.SIE (Presiden Knowledge Management Society Indonesia, Wakil Ketua Majelis Wali Amanat ITB)
INDUSTRIAL ENGAGEMENT
Direktur Enterprise & Business Services, PT Telkom, "Building Digital Academy Society : Enhancing World Class Higher Education" Oleh : Ir.Muhammad Awaluddin, MBA
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk
Oleh : Dr. Susy Liestiowaty "Kolaborasi Industri Perbankan dan Pendidikan Tinggi Mempersiapkan MEA"

Dalam acara ini, Universitas Islam Negeri Walisongo Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam diberi kesempatan untuk mewakili seluruh PTAIN se Indonesia untuk mengikuti kuliah Teleconference membahas berbagai materi dan isu ekonomi Indonesia terkini.
Mahasiswa dari UIN Walisongo Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 40 mahasiswa yang terdiri dari
Dema Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
HMJ Ekonomi Islam
HMJ Perbankan Syariah
HMJ Akuntansi Syariah
HMJ D3 Perbankan Syariah
Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI)
Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM)
LPM Invest
Komunitas Bisnis (KOBI)

Raissa Melinda (BPH ForSHEI 2015)

Rahn "Sistem Gadai Sesuai Syariah"

Monday, November 16, 2015 Add Comment



Pegadaian Syariah
Seiring kemajuan teknologi sekarang ini banyak lembaga menawarkan jasa pinjaman salah satunya adalah pegadaian syariah. Pegadaian syariah merupakan salah satu unit layanan syariah yang dilaksanakan oleh perusahaan umum (perum). Adapun latar belakang didirikanya pegadaian berbasis syariah yaitu sebagai wujud kemaslahatan dalam memberikan kemudahan kepada masyarakat melakukan pinjaman dan terbebas dari rentenir Dengan motto “mengatasi masalah dengan syariah”.
Konsep syariah dalam Rahn
Untuk mengenalkan pegadaian syariah kepada masyarakat maka dibutuhkan pengenalan tentang halal dan haram, akan tetapi masyarakat sekarang ini adalah masyarakat yang rasional dan cerdas. Sehingga untuk mengetahui apakah pegadaian syariah sesuai dengan konsep islami atau tidak, maka perlu pemahaman secara mendalam mengenai apa itu pegadaian syariah atau Rahn.
            Dasar hukum diperbolehkanya transaksi rahn dalam islam terdapat dalam surat al baqarah ayat 282 dan 283. Dan di dukung oleh hadis nabi yaitu “ Nabi SAW bersabda: tidak terlepas kepemilikan gadai dari pemilik yang menggadaikanya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung risikonya.”(HR Asy’syafii,al Daraquthni dan Ibnu Majah). Atas dasar ini maka jelas bahwa hukum gadai adalah boleh.
Sahnya perjanjian gadai perlu adanya rukun dan syarat dalam pelaksanaanya, adapun rukun dan syaratnya adalah : 1) ijab qabul (sighot), 2) orang yang bertransaksi (aqid) meliputi adanya rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai), syarat rahin dan murtahin adalah dewasa, berakal, atas kemauan sendiri. 3) adanya barang yang digadaikan (marhun), syarat barang dapat diserahterimakan, jelas, milik rahin. 4) marhun bih (hutang), syaratnya hutang harus diketahui oleh rahin dan murtahin.
Hukum pemanfaatan barang gadai dalam syariah pada prinsipnya tidak di perbolehkan dimanfaatkan, bisa dibolehkan apabila rahin tidak bisa melunasi hutang, sebagai ganti untuk upah dalam melunasi pinjaman yang diterima. Akan tetapi terdapat banyak pendapat dari para ulama. salah satunya yaitu imam syafi’i yang mengatakan bahwa rahin dibolehkan memanfaatkan apabila tidak menyebabkan berkurangnya nilai suatu barang tersebut.
Implementasi dan mekanisme pegadaian syariah
Pegadaian syariah memiliki ciri tersendiri dalam implementasinya seperti yang diatur oleh dewan syariah nasional bahwa pegadaian syariah tidak menekankan adanya bunga pada barang yang digadaikan, tetapi dalam memperoleh keuntungan dengan memberlakukan fee untuk biaya administrasi, pemeliharaan, perawatan serta penyimpanan atas barang tersebut. Biaya itu dihitung dari nilai barang, bukan dari jumlah pinjaman.
 Untuk memperoleh layanan dari pegadaian syariah, masyarakat cukup menyerahkan barang sebagai jaminan atas pinjaman. Kemudian barang tersebut akan ditaksir oleh orang yang ahli yakni staf penaksir sebagai patokan perhitungan jumlah pinjaman yang dapat diberikan. Maksimum uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90 % dari nilai taksiran. Jadi, nilai pinjaman  selalu rendah dari nilai taksiran.
Kewajiban nasabah melunasi pinjaman apabila telah jatuh tempo. Seandainya  nasabah tidak bisa melunasi pinjaman sampai waktu jatuh tempo maka murtahin meminta izin kepada rahin untuk menjual barang tersebut untuk melunasi hutangnya. Apabila terdapat kelebihan dari yang seharusnya dibayar oleh sipenggadai maka kelebihan tersebut harus dikembalikan kepada sipenggadai.     
Demikianlah konsep dasar pegadaian syariah yang menerapkan sifat kehati-hatian dalam segala hal yang bertujuan untuk menjunjung tinggi kemaslahatan umat. Dapat kita lihat bahwa pegadaian syariah memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin melakukan transaksi dengan halal.[1]

 Ficky (Staff Bidang Media dan Jurnalistik ForSHEI 2015)







[1] Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2011, hal 112-129.