Peran BMT dalam Membangun Perekonomian

Tuesday, September 22, 2015 Add Comment



Peran BMT dalam Membangun Perekonomian

Baitul Maal wa-Tamwil  (BMT)  merupakan sebuah jawaban untuk suatu wilayah yang belum terjamah ataupun terjangkau oleh lembaga – lembaga keuangan perbankan. Selain itu BMT  juga merupakan financial inclusion ketika masyarakat kecil tidak mampu mengakses keuangan karna keterbatasan dan beberapa persyaratan  yang harus dipenuhi dalam  system perbankan.
Dalam BMT terdapat perpaduan 2 sifat  yang  berbedaya itu laba dan nirlaba. Bisnis merupakan kegiatan utama  BMT  sedangkan sebagai penunjangan adalah kegiatan sosial. Dalam kegiatan social BMT menghimpun dana – dana social dari zakat, infaq dan shadaqoh ,dan kemudian didistribusikan kepada yang berhak.
Selain kegiatan sosial , BMT juga merupakan lembaga bisnis dengan menghimpun dana melalui simpanan berbentuk tabungan wadiah dan mudharabah. Sementara penyaluran dana berupa pembiayaan atau investasi dengan prinsip juabeli (murabahah, salam dan istisna’), prinsip bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), prinsip sewa menyewa  (ijarah dan ijarah muntahia bitamlik atau IMBT) dan pembiyaan qard yang dijalankan bedasarkan prinsip syariah.
Adanya BMT merupakan tantangan besar bagi para praktisi perbankan syariah, agar mampu menunjukkan kualitas dan profesialisme BMT, sehingga dapat memenuhi aspirasi dan tuntutan masyarakat yang berhubungan dengan aktivitas ekonomi, terealisasinya aspirasi dan tututan tersebut dapat menunjukkan bahwa BMT telah berhasil mendapatkan posisi sebagai sebuah lembaga keuangan syariah yang capable dan credible.
BMT mengalami perkembangan yang sangat signifikan karena perkembangan kinerja dari BMT secara nasional tahun ini telah mencapai asset sebesar Rp 4,7 triliun dan jumlah pembiyaan sebesar Rp 3,6 triliun. (Republika.co.id.)
Perekonomian rakyat
            Krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di Indonesia sampai saat ini belum mampu menemukan titik terang. Kemiskinan yang berada pada lapisan paling bawah dan cenderung terpinggirkan dari setiap aktivitas masyarakat, dapat menimbulkan kesenjangan bagi masyarakat yang kaya dan masyarakat yang  miskin. Mengembangkan perekonomian rakyat berarti meningkatkan kemampuan rakyat dengan cara mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat.
            Untuk meningkatkan ekonomi rakyat banyak sekali hambatan yang harus dihadapi masyarakat,  selain modal hambatan psikologis sebagai umat islam yang harus bertransaksi secara halal serta menghindari system riba dan gharar.
Maka dari itu BMT dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan taraf hidup perekonomian yang lemah, dengan memberikan pembiyaan untuk menambah modal Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sehingga usaha kecil mampu mengelola dan meningkatkan produktivitas pengusaha mikro. Dengan demikian masyarakat kecil tidak meminjam kepada renternir yang tidak akan menyelesaikan masalah tapi malah mencekik masyrakat kecil.
Laila N.S

Diskusi Senin Sore Ala ForSHEI "yuh Lebih Dekat dengan Lembaga ZISWAF"

Monday, September 14, 2015 Add Comment



LEBIH DEKAT DENGAN ZIS (ZAKAT, INFAQ, DAN SODAKOH)

Semarang, Senin (14/9) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) seperti biasa mengadakan diskusi rutinan, bertempat di bawah pohon beringin samping audit kampus 3 UIN Walisongo. Diskusi dimulai pukul 16.00 WIB dengan bahasan “Lebih dekat dengan ZIS” (zakat, infaq, dan sodakoh). Sembari menunggu kader-kader ForSHEI datang, Eni Kusumawati dan Labib selaku PJ membuka jalannya diskusi dengan membaca Basmalah bersama-sama.
Apa itu BAZNAS, LAZ, dan UPZ ? Pertanyaan itu yang menjadi awal dari diskusi kami sore itu. Eni salah satu kader ForSHEI mengatakan bahwa BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah dan terdiri dari unsur-unsur masyarakat dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan, dan memperdaya-gunakan zakat sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan LAZ (Lembaga Amil Zakat) adalah Istitusi pengelola zakat yang sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat yang bergerak dibidang dakwah, pendidikan, sosial, dan kemaslahatan masyarakat. Semestara itu, Arif selaku kader ForSHEI 2013 menambahkan bahwa UPZ atau Unit Pengumpulan Zakat adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu pengumpulan zakat dalam lingkup desa/kelurahan.
Lalu bagaimana perbedaan dari lembaga-lembaga tersebut?  “BAZNAS dibentuk oleh pemerintah dan tugasnya adalah mendistribusikan zakat, LAZ dibentuk oleh masyarakat untuk membantu BAZNA. Sedangkan UPZ lebih sempit cakupannya yaitu di desa/kelurahan tugasnya mengumpulkan zakat.” Ujar Sulistiowati. Undang-undang yang mengatur tentang zakat adalah UU No 33 tahun 2011 tentang BAZNAS, UU No 23 tentang pengelolaan zakat. Perdebatan dan saling mengutarakan pendapat menambah semangat kami untuk saling bertukar pikiran dan pengetahuan. Tidak terasa hampir dua jam kader-kader ForSHEI beradu pendapat, pukul 17.30 WIB dengan bacaan Surotul Fatikhah dan pengumuman dari ketua ForSHEI bahwa besok selasa (14/9) akan diadakan saresehan seluruh kader ForSHEI.

Mudrika

Muslim Indonesia Kurang Zakat

Sunday, September 13, 2015 Add Comment


Muslim Indonesia Kurang Zakat
Indonesia merupakan negara yang memiliki mayoritas orang muslim terbesar. Tentulah istilah zakat sudah tidak lagi asing di Indonesia, namun yang sering dipertanyakan apakah pemahaman umat Islam Indonesia yang rendah terhadap zakat ?. Realitas masyarakat muslim Indonesia hanya mengacu zakat hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun, kenyataan seperti ini yang menjadikan muslim Indonesia dikatakan belum paham apa itu zakat ? [Penulis]

Zakat Diabaikan
       Berbicara masalah muslim tidak akan terlepas dari zakat, zakat sendiri adalah bagian tertentu dari harta benda yang diwajibkan Allah untuk sejumlah orang yang berhak menerima. Seseorang yang beruntung mendapatkan sejumlah harta pada hakekatnya itu tidak lain adalah titipan, konsekuensi yang diterima seperti mengeluarkan zakat. Komponen zakat bukan hanya zakat untuk mensucikan harta secara pribadi, nyatanya makna zakat begitu luas, zakat juga harusnya mampu menjadi pegangan untuk kesejahterann masyarakat Indonesia, yang sampai saat ini belum mau melirik potensi zakat.
       Sadar atau tidak, seringkali ekonomi modern saat ini membawa kekayaan materi bagi sebagian orang, tetapi menimbulkan hedonisme, materialisme, dan individualisme. Yang kaya tambah jaya, yang miskin makin miskin, Mereka yang kaya enggan mengeluarkan zakat dengan alasan “salah sendiri menjadi miskin”?. Di lain pihak, kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi adalah tanggung jawab kita semua. Tampaknya,eksistensi zakat hanya dianggap sebelah mata. Muslim selama ini cenderung tidak seimbang dalam mengartikan ibadah, Zakat juga merupakan sendi pokok ajaran Islam, yang mana Islam mengajarkan muslim untuk peduli dengan kehidupan sosial.
Menunggu Rangkulan Pemerintah
       Lembaga zakat memang telah pemerintah buat yaitu BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), Undang-Undang tentang zakat juga telah dibuat. Akan tetapi tingkat kepercayaan (trust) masyaraakat pada badan atau institusi pengelola zakat masih rendah. Masalahnya tidak terhenti disitu saja pola pengelolaan zakat belum terorganisir secara baik menjadi coretan noda, dan PR tersendiri untuk BAZNAS. Potensi zakat sudah sepantasnya diperlukan upaya strategis untuk mengoptimalkan dana zakat sebagai dana umat untuk menanggulagi kemiskinan umat di Indonesia. Sedangkan untuk permasalahan menumbuhkan kepercayaan masyarakat pemerintah haruslah bergerak cepat, sekaligus mempercepat distribusi zakat, jangan hanya zakat dihimpun namun penyaluran zakat terkesan ‘amburadul (tidak jelas)’.
       Memang tak mudah bagi pemerintah untuk memperkuat lembaga amil zakat dalam rangka melaksanakan syariah Islam dibidang ekonomi. Akan tetapi, pemerintah telah dituntut untuk mensejahterakan masyarakat, pemerintah mulai dari sekarang ini nampaknya harus mensosialisasikan lembaga pengelolaan zakat, potensi, dan pentingnya zakat untuk semua lapisan masyarakat, menjangkau seluruh masyarakat secara merata.
       Untuk pemetaan dan penataan lembaga zakat pemerintah harus membuat dua cabang lembaga zakat yakni lembaga zakat pusat yaitu zona hal-hal yang sifatnya fundamental (makro) pemerintah sebagai pemegang otoritas, dan yang bagian kedua ditempatkan di berbagai daerah. lembaga zakat yang memiliki cabang diberbagai tempat di Indonesia secara tidak langsung juga membukakan lapangan pekerjaan misalnya untuk guru ngaji (di desa), remaja masjid, dan lain sebagainya. Lembaga zakat yang didirikan pemerintah nampaknya selain mengelola zakat, menyadarkan masyarakat tentang pentingnya zakat.

 Dian Isti Fambudi

        
      


ayo BaBa !! (Bayar Zakat dan Bagi Zakat)

Sunday, September 13, 2015 Add Comment



ForSHEI Bahas BaBa

Kamis (10/9), seperti biasa sekitar pukul 16.00 WIB kader ForSHEI berkumpul untuk melakukan diskusi rutin mingguan. Kali ini diskusi bertempat di teras Perpustakaan Pusat UIN Walisongo karena taman samping Audit 2 yang menjadi markas diskusi ForSHEI sedang digunakan oleh UKM lain. Bahasan tema kali ini adalah “Ayo BaBa” (Bayar dan Bagi Zakat).
Sembari PJ menginformasikan perpindahan tempat via-WA, bacaan Surotul Fatikha dilakukan bersama sebagai pembuka jalannya diskusi. Seiring datangnya satu per satu kader ForSHEI menambah semangat untuk mengupas tentang zakat. Dari perdebatan sebagai buah kritis yang timbul menjadikan gelora hidupnya diskusi.
Apa itu Zakat? Siapa yang berhak menerima Zakat? Masih relevankah pengertian 8 golongan  yang berhak menerima Zakat di zaman modern ini? Mempelajari tentang zakat yang sudah tersurat dalam Al-Qur’anul Karim pastinya sudah menjadi kajian umum sejak duduk di bangku SD hingga SMA. Namun tidak lagi pada mahasiswa, yang sejatinya selalu protes ketika ada suatu hal yang tidak sejalan dengan semestinya. Inilah tugas pegiat ekonomi Islam untuk mengkaji sekaligus memberi jawaban atas aplikasi Bayar dan Bagi Zakat dalam masyarakat.
Zakat yang menurut bahasa berarti suci, berkembang dan tumbuh sering disebut dalam al-Qur’an. Diantaranya dijelaskan dalam QS. Al-baqarah : 110, QS. At-taubah: 60, dan masih banyak lagi. Pada QS. At-taubah: 60, dijelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
 Ada 8 asnaf yang berhak menerima zakat, mereka yaitu: pertama Fakir, adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Kedua Miskin, adalah orang yang bekerja namun penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk Fakir dan miskin dalam era sekarang masih sering kita jumpai di pedesaan, terutama yang sudah tidak punya sanak saudara. Ketiga Amil, adalah orang yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Untuk sekarang masih relevan sebagai penerima zakat karena sebagai balas budi jasa. Keempat Mu’allaf, adalah mereka yang baru memeluk agama Islam. Lalu bagaimana dengan Artis kaya raya non-muslim yang dapat ilham dan baru masuk Islam? Latar belakang Mu’allaf masuk sebagai  8 golongan asnaf sendiri adalah untuk mengokohkan hati mereka yang masih lemah dan memberikan pembelajaran tentang berbagi melalui zakat. Kelima Riqob, adalah para budak yang ingin membebaskan dirinya dengan cara membayar kepada majikannya. Keenam Ghorim, adalah orang yang berhutang untuk kebaikan dan tidak mampu membayar hutang dengan gajinya. Ketujuh, Sabilillah. Sabilillah adalah mereka yang berjalan untuk menyerukan agama Allah. Kedelapan Ibnu sabil, adalah orang yang kehabisan bekal pada masa perjalanan dengan tujuan kebaikan.
Dari 8 mustahik tersebut, yang diprioritaskan untuk mendapatkan zakat adalah fakir dan miskin. Ketika sudah tidak ditemui lagi fakir dan miskin dalam masyarakat baru lanjut pada golongan selanjutnya. Sayangnya di Indonesia masih banyak fakir-miskin yang masih membutuhkan. Lebih sayang lagi waktu sudah maghrib pertanda harus diakhiri diskusi dengan perdebatan yang semakin seru ini. Namun akan tetap dilanjut pada pertemuan diskusi senin mendatang. Sampai jumpa senin...

                                                                                                            Eny kusumawati