Mari Beralih ke Konsep Falah Profit Oriented

Monday, November 02, 2015
Hasil gambar untuk bank syariah


Setiap  perusahaan atau produksi yang  menghasilkan dan memproduksi barang dan jasa akan mencari  keuntungan (profit) sebagai tujuan utama. Terlebih banyak sekali ayat AL-Quran  yang memerintahkan kepada kita untuk kaya seperti dalam surat al jumuah ayat 9-10 “ hai orang-orang yang beriman ,apabila diseru untuk shalat pada hari jumat ,maka bersegeralah menuju dzikrullah ,dan tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui. Lalu apabila telah ditunaikan sholat ,maka bertebarlah di muka bumi dan carilah  sebagian dari karunia  Allah ,dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Hal ini sudah jelas bahwa tidak ada larangan tentang  hal memperbanyak kekayaan. Tetapi haru ada konsep tawazun dalam asas transaksi syariah yang termakna seimbang urusan duniawi dan ukhrawi. Seimbang urusan material dan spiritual. Ada juga motif mashlahah, ukhuwah. Ada pepatah arab juga bilang: i’mal lidun yaaka ka annaka ta’iisyu abadaa,wa’mal li aakhirataka ka annaka tamuutu ghadaa (ahmad ifham, 21 oktober 2015) jadi meskipun sudah jelas tentang perintah mencari kekayaan tetapi dalam hal ini harus seimbang(tawazun)yaitu tidak boleh berlebihan, harus barang yang halal,barangnya harus jelas, tidak barang yang maysir dan juga seimbang  dalam sisi charity (non profit oriented).
Nah sebelumnya ada 3 metode untuk membagikan keuntungan secara konvensional yaitu dibagi sama rata, dibagi berdasarkan modal,dan dibagi berdasarkan rasio.sedangkan menurut syariah ada 2 metode yaitu berdasarkan nisbah bagi hasil dan berdasarkan laba. Mari kita rasionalkan manakah yang lebih realistis?yang bisa memanusiakan manusia.trus yang menjadi pertanyaanya bolehkah bank syariah itu menggunakan profit oriented? Lalu boleh apa bedanya dengan bank konvensional?
Ilustrasi sebagai berikut jika menggunakan metode nisah bagi hasil












Hasil gambar untuk ilustrasi mudharabah




Misalnya dengan sistem mudharabah dengan akad awal bagi nasabah 10% dan 90% bagi bank, dan akad tersebut sudah jelas. Yaitu si nasabah akan mendapatkan keuntungan bersih dan jika mengalami kerusakan(produk gagal misal) maka akan ditanggung si mudhorib (bank).jadi nasabah bisa melenggang dan berpikir santai tidak perlu menghawatirkan dana yang diserahkan pada bank. Lalu bagaimana jika kita menitipkan uang kita pada bank konvensional misal menggunakan metode keuntungan dibagi berdasarkan modal jika dalam proses jual beli.
            Dalam menentukan harga atau mencari keuntungan
bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut:
1) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah).
2) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (Musyarakah).
3) Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (Murabahah).
4) Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (Ijarah).
5) Pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain
            Tentu urusan akadnya harus dipahami dan clear dalam artian jelas, dalam bank syariah ada dua jenis  selain profit yaitu nonprofit profit itu disebut falah oriented. Bank mau menggunakan profit oriented maupun nonprofit itu sama-sama diperbolehkan dengan cacatan akad dan sistemnya harus jelas dan logis sesuai pembiayaan  syariah.Tetapi keadaannya harus seimbang ,kalu profit oriented sudah dijelaskan diatas maka kalau produk nonprofit itu selain akad pembiayaan yaitu berupa zakat,infaq dan shodaqoh. Bank sebagai baitut tamwil yaitu pengelola dana dari masyarakat tetapi sebagai nasabah kita harus pandai-pandai dalam memahami ini jangan mencampuradukkan yaitu jangan mengharapkan profit jika kita melakukan transaksi non profit misal memberikan shodaqoh pada bank syariah.

(Mudrika || Staff Media dan Jurnalistik ForSHEI 2015)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »