Kebijakan Ekonomi Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Saturday, September 24, 2016

Senin (24/9) ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB di samping audit II sebelah timur dan 16.00 WIB di depan perpustakaan pusat UIN Walisongo. Diskusi dihadiri oleh kader ForSHEI baik angkatan 2014 dan 2015 serta didampingi oleh MPF (Majelis Pertimbangan ForSHEI).
Diskusi dibuka dengan bacaan Surah Fatihah serta diikuti pembacaan ayat ekonomi QS. Al-Baqarah:275 yang menjelaskan tentang halalnya jual beli dan haramnya riba. Tema hari ini tentang “kebijakan ekonomi pada masa Khulafaur Rasyidin”. Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat sahabat Nabi SAW., yaitu: Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Abu Bakar merupakan sahabat Nabi SAW. yang pertama kali masuk Islam. Abu Bakar memerintah selama dua tahun. Banyak kebijakan yang diterapkan Abu Bakar dalam pemerintahannya seperti adanya perhatian yang besar atas keakuratan zakat. Pada masa itu terdapat orang yang enggan membayar zakat, murtad, dan nabi palsu. Selain keakuratan zakat, beliau juga melaksanakan pembagian tanah hasil tahlukan. Pembagian ini sesuai dengan Surah Al-Anfal: 41 yang menjelaskan pembagian harta rampasan ditujukan untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, Anak Yatim dan Ibnu Sabil. Tanah-tanah dari orang murtad juga diambil alih guna kepentingan umat Islam, dan distribusi harta baitul mal menggunakan prinsip pemerataan, yakni penerimaan yang didapatkan oleh baitul mal semuanya didistribusikan (balance budget policy). Jadi baitul mal tidak mempunyai cadangan dana. Abu Bakar juga merupakan pelopor adanya sistem penggajian aparat negara.
Umar bin Khattab yang merupakan sahabat Nabi SAW. juga mertua Nabi. Umar bin Khattab memerintah selama sepuluh tahun. Umar banyak melakukan inovasi pada kebijakan sebelumnya. Semakin luas wilayah kekuasaan, Umar mulai memberlakukan administrasi negara dan membentuk jawatan kepolisian. Dalam bidang perdagangan, Umar menyempurnakan hukum dagang tentang pajak dan mendirikan pasar-pasar sebagai penggerak roda perekonomian rakyat. Pada masa Umar juga terjadi kenaikan harga yang terlalu tinggi pada barang-barang, sehingga beliau menerapkan kebijakan untuk tidak melakukan transaksi selama tiga hari berturut-turut terhadap barang tersebut. Mengenai pendistribusian harta baitul mal, Umar menerapkan prinsip keutamaan dimana penerimaan yang didapat dikumpulkan di baitu mal, ketika pendistribusiaan dilakukan pada saat negara membutuhkan, sehingga baitul mal mempunyai persediaan dana. Selain itu, Umar mendirikan Diwan ( sebuah kantor yang bertugas untuk memberikan tunjangan kepada pensiun, perang, dan tunjangan lain).
Utsman bin Affan merupakan khalifah ketiga yang memerintah selama 12 tahun. Enam tahun pertama, beliau melakukan penataan administrasi seperti khalifah Umar. Karena kekuasaan islam semakin luas, sumber penerimaan negara juga semakin besar. Dalam pengembangan SDA, Ustman membuat saluran air, membangun jalan, dan membentuk organisasi kepolisian. Selama pemerintahannya, Utsman melakukan administrasi tingkat atas dan mengganti beberapa gubernur. Dalam pengelolaan tanah negara, beliau membagikannya kepada delapan asnaf. Utsman menggunakan prinsip keutamaan seperti Umar dalam pendistribusian harta baitul mal. Memasuki enam tahun kedua tidak terdapat perubahan dalam hal pekonomian.
Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat Nabi SAW dan keponakan Nabi. Kebijakan yang dilaksanakan pada masa Ali bin Abi Thalib yaitu: mengedepankan prinsip pemerataan dalam pendistribusian kekayaan negara seperti halnya yang diterapkan pada masa Abu Bakar, menetapkan pajak terhadap para pemilik kebun dan mengijinkan pemungutan zakat terhadap sayuran segar, melakukan kontrol pasar dan memberantas pedagang licik, menimbunan barang , dan pasar gelap, membentuk petugas keamanan yang disebut dengan ''Syurthah'' (Polisi) yang dipimpin oleh Shahibus-Syurthah, serta ketat dalam menangani keuangan negara dan melanjutkan kebijakan umar.
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh Lailatus Sholihah dan Aziz Santoso. Setelah itu, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos ForSHEI yang dilakukan secara bersama-sama.




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »