Hiwalah, Wakalah dan Kafalah

Tuesday, November 21, 2017
pengertian 
Menurut bahasa, yang dimaksud dengan hiwalah ialah al-intiqal dan al-tahwil, artinya ialah memindahkan atau mengoperkan.Sedangkan pengertian hiwalah menurut istilah, para ulama berbeda-beda dalam mendefenisikannya, antara lain sebagai berikut : Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah ialah “Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab kewajiban pula. “ Menurut istilah ahli fikih artinya “Pindahnya utang dari tanggungan seseorang kepada orang lain.” Jadi dapat disimpulkan bahwa hawalah adalah akad pengalihan hutang atau piutang dari pihak yang berhutang atau berpiutang kepada pihak lain yang wajib menanggung atau menerimanya. Dalam kompilasi hukum islam hawalah diatur daam pasal 318-328, sedangkan dalam Fatwwa Dewan Syari’ah Nasional diatur dalam NO: 12/DSN-MUI/IV/2000. 
 
Dasar Hukum Dalil yang dipergunakan, antara lain : Q.S. Al-Kahfi : 19 
 
  ۚ  لِ ائ َ ق َ ال َ ق ۚ ْمُهَنْيَ وا ب ُلَ اء َسَتَيِ ل ْمُ اه َنْثَعَ ب َكِلََٰذَكَو   ٍمْوَ ي َضْعَ ب ْوَ ا أ ًمْوَ ا ي َنْثِبَ وا ل ُ ال َ ق ۖ ْمُتْثِبَ ل ْمَ ك ْمُهْنِم وا ُ ال َق ْ َٰ مُكَدَحَ وا أ ُثَعْ اب َ ف ْمُتْثِبَ ا ل َمِ ب ُمَلْعَ أ ْمُكُّبَر ْ ىَكْزَ ا أ َهُّيَ أ ْرُظْنَيْلَ ف ِةَ ين ِدَمْ ى ال َلِ إ ِهِذََٰ ه ْمُكِقِرَوِب مُكِتْأَيْلَ ا ف ً ام َعَط ْ َ لَ و ُهْنِ م ٍقْزِرِب اً لَ و ْفَّطَلَتَي دَحَ أ ْمُكِ ب َّنَرِعْشُ ي
 
Artinya : “ Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (Q.S Al-Kahfi :19) 
 
 
Hadist  
ُ لْطَ  م ُيِنَغْ  ال ُظ ،ٌمْ ا ل َذِإَ ف َُ عِبْ أ ت ُْ د آ م َحَ ى أ َلَ  ع ُيِلَ م ُْ عِبَّتَيْلَ ف
“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah” (HR. Bukhari). 
 
Rukun dan Syarat  
Rukun hiwalah itu ada empat, sebagai berikut : 
1. Muhil, yaitu orang yang menghiwalahkan atau orang memindahkan utang. 
2. Muhtal, yaitu orang yang dihiwalahkan, yaitu orang yang mempunyai itang kepadamuhil. 
3. Muhal alaih, yaitu orang menerima hiwalah 
4. Shigat , yaitu hijab dari muhil dengan kata-katanya; “ aku hiwalahkan utangku yang hak bagi              engkau kepada anu “ dan kabul dari muhtal dengan kata-katanya. “ Aku terima hiwalah engkau. “ Syarat Hiwalah adalah sebagai berikut : 
1. pihak pertama (muhil)  
     Cakap dalam melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal. 
     Ada pernyataan persetujuan (ridha). 
 
2. Menanggung Utang Syarat sah menanggung utang ada empat yaitu : 
     Orang yang menanggung harus memberitahu kepada orang yang mengutangi (yang berpiutang).       Waktu menanggungnya harus positif. 
     Hutangnya yang lazim.
     Keadaan hutang diketahui ( pasti ) 
 
Jenis – Jenis Hiwalah  Hawalah dapat di bagi menjadi beberapa jenis yang diantaranya yaitu : 
1. Hawalah haqq (pemindahan hak) terjadi apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menuntut          uang atau dengan kata lain pemindahan piutang. 
2. Hawalah dayn (pemindahan hutang) terjadi jika yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar      hutang. 
3. Hawalah muqayyadah (pemindahan bersyarat) adalah pemindahan sebagai ganti dari pembayaran      hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal). 
4. Hawalah mutlaqah (pemindahan mutlak) adalah pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai      ganti pembayaran hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal). 
 
WAKALAH 
 
Pengertian Menurut bahasa wakalah artinya adalah al-hifdz, al-kifayah, al-dhaman dan al-tafwid (penyerahan, pengdelegasian dan pemberian mandat). Sedangkan menurut para ulama adalah sebagai berikut. 
1. Malikiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah eseorang menggantikan (menempati) tempat yang      lain dalam hak (kewajiban), dia yang mengelola pada posisi itu.’ 
2. Hanafiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah ‘Seseorang menempati diri orang lain dalam                tasharuf (pengelolaan).’ 
3. Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah ‘Suatu ibarah seorang menyerahkan                sesuatu kepada yang lain untuk dikerjakan ketika hidupnya’. 
4. Al-Hanabillah berpendapat bahwa al-wakalah ialah permintaan ‘ganti seseorang yang                          membolehkan tasharruf yang seimbang pada pihak yang lain, yang didalamnya terdapat                      penggantian dari hak-hak allah dan hak-hak manusia. 
 
Berdasarkan definisi-definisi diatas, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan al-wakalah ialah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu, perwakilan berlaku selama yang mewakilkan masih hidup. Wakalah dalam kompilasi hukum islam diatur dalam pasal 457- 474 dan dalam Dewan Syariah Nasional diatur dalam NO: 10/DSN-MUI/IV/2000 
 
Dasar hukum  QS Al-Baqarah :283 yang artinya “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang 
tanggungan yang dipegang[1] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
 
Hadits yang dapat dipergunakan sebagai dasar akad Wakalah, diantaranya: “Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al Harits”. HR. Malik dalam al-Muwaththa’). 
 
Rukun dan Syarat  Rukun-rukun wakalah adalah sebagai berikut: 
1.      Orang yang mewakilkan,  
2.      Wakil (yang mewakili),  
3.      Muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan),  
 
Syarat- syarat wakalh adalah sebagai berikut : 
1. orang yang mewakilkan  
     Berakal  
     Pemilik barang atau di bawah kekuasaannya dan dapat bertindak pada harta tersebut.  
2. Orang mewakili  
      berakal.  
     Baligh 
3. Sesuatu yang diwakilkan  
     Menerima penggantian, maksudnya boleh diwakilkan pada orang lain untuk mengerjakannya,              maka tidaklah sah mewakilkan untuk mengerjakan shalat, puasa, dan membaca ayat Alquran,              karena hal ini tidak bisa diwakilkan. 
     Dimiliki oleh yang berwakil ketika ia berwakil itu, maka batal mewakilkan sesuatu yang akan              dibeli. 
     Diketahui dengan jelas, maka batal mewakilkan sesuatu yang masih samar, seperti seseorang              berkata; ‘Aku jadikan engkau sebagai wakilku untuk mengawinkan salah seorang anakku’. 
     Shigat, yaitu lafaz mewakilkan, shigat diucapkan dari yang berwakil sebagai simbol                            keridhaannya untuk mewakilkan, dan wakil menerimanya. 
 
KAFALAH Pengertian  
 
Kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan), hamalah (beban) dan zama’ah (tanggungan).Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan al-kafalahatau al-dhamman sebagai man dijelaskan oleh para ulama adalah sebgai berikut. 
1. Menurut Mazhab Hanafi al-kafalah memiliki dua pengertian, yang pertama arti alkafalah ialah            “Menggabungkan dzimah kepada dzimah yang lain dalam penagihan, dengan jiwa, utang, atau zat      benda”. 
2. Menurut Mazhab Maliki al-kafalah ialah “Orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan        pemberi beban serta bebannya sendiri yang disatukan, baik menanggung pekerjaan yang sesuai (        sama ) meupun pekerjaan yang berbeda”. 
3. Menurut Mazhab Hanbali bahwa yang dimaksud dengan al-kafalah adalah “Iltizam sesuatu yang        diwajibkan kepada orang lain serta kekekalan benda tersebut yang dibebankan atau iltizam orang        yang mempunyai hak menghadirkan dua harta ( pemiliknya ) kepada orang yang mempunyai              hak”. 
4. Menurut Mazhab Syafi’i yang dimaksud dengan al-kafalah ialah “Akad yang menetapkan iltizam        hak tetap pada tanggungan ( beban ) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau      menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya”. 
 
            Setelah diketahui definisi-definisi al-kafalah atau al-dhaman menurut para ulama diatas, kiranya dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan al-kafalah atau al-dhaman ialah menggabungkan dua beban ( tanggungan ) dalam permintaan dan utang. Dalam kompilasi Hukum Ekonomi Islam kafalah diatur dalam pasal 291 – 317. Sedangkan dalam Dewan Syariah Nasional kafalah diatur di NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 
 
 
 
 
Dasar Hukum 
Q.S Yusuf : 72 
  مْيِعَ ز ِهِ ب ْاَنَاَ و ٍرْيِعَ ب ُلْمِ ح ِهِ ب َ اء َ ج ْنَمِلَ و 
Artinya: “Barang siapa yang dapat mnengembalikannya piala raja, maka ia akan  memperoleh bahan makanan seberat beban unta dan aku yang menjamin terhadapnya”. (Q.S Yusuf: 72 ) 
 
Hadis Nabi riwayat Bukhari: “Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab, ‘Tidak’. Maka, beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab. ‘Ya’. Rasulullah berkata, ‘Salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah’. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari dari Salamah bin Akwa’). 
 
Rukun dan Syarat Berdasarkan Fatwa Dewan Nasional tentang kafalah adalah sebagai berikut. Rukun dan Syarat Kafalah adalah sebagai beriku. 
1. Pihak Penjamin (Kafiil) 
    Baligh (dewasa) dan berakal sehat. 
    Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanyaan rela (ridha) dengan             tanggungan kafalah tersebut. 
2. Pihak Orang yang berhutang (Ashiil, Makfuul ‘anhu) 
    Sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin 
    Dikenal oleh penjamin. 
3. Pihak Orang yang Berpiutang (Makfuul Lahu) 
    Diketahui identitasnya. 
    Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa. 
    Berakal sehat. 
4. Obyek Penjaminan (Makful Bihi) 
    Merupakan tanggungan pihak/orang yang berhutang, baik berupa uang, benda, maupun                       pekerjaan. 
    Bisa dilaksanakan oleh penjamin. 
    Harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar           atau dibebaskan. 
    Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya. 
    Tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan). 
 
Jenis - Jenis Kafalah  
 
1. Kafalah bil mal yaitu jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang. Contohnya kasus hadits      Rosul riwayat Bukhari di mana Qatadah menjamin hutan seorang sahabat, Surat Jaminan (bank          garansi) yang diberikan bank kepada nasabah untuk keperluan seperti pembayaran atas pembelian      barang, untuk keperluan pembayaran hutang kpd pihak ketiga, pembayaran suatu jual beli dengan       batas waktu yang telah diperjanjikan. 
2. Kafalah bit Taslim yaitu jaminan yang diberikan dalam rangka menjamin penyerahan atas barang        yang disewa pada saat berakhirnya masa sewa 
3. Kafalah Munjazah yaitu jaminan yang diberikan secara mutlak tanpa adanya pembatasan waktu          tertentu.
4. Kafalah Muqayyadah/muallaqah, yaitu kafalah yang dibatasi waktunya, sebulan, setahun, dsb 
 
 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »