Akad Musaqah, Muzara'ah, dan Mukhabarah

Thursday, November 30, 2017
Semarang-30/11 - Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei), mengadakan agenda rutinan, yaitu diskusi primer yang dilaksanakan setiap hari senin dan kamis, diskusi ini dihadiri oleh kader 2016 dan 2017. Acara ini dimulai pukul 16.00 WIB, pembukaan dilakukan dengan bacaan surat al-Fatihah dan membaca ayat ekonomi. Pembahasan yang diangakat tentang ‘akad Musaqah, Muzara’ah dan Mukhabarah’.

            Musaqah merupakan kerjasama antara pemilik kebun atau tanaman dengan pengelola atau pengarap untuk memelihara dan merawat kebun atau tanaman dengan perrjanjian bagi hasil yang jumlahnya menurut kesepakatan bersama dan perjanjian itu disebutkan dalam akad. Muzara’ah menurut hanafiyah ialah akad untuk bercocok tanam dengan sebagian apa-apa yang keluar dari bumi, pengertian yang lain Muzara’ah yaitu kerjasama antara pemilik tanah dengan pemilik benih untuk mengelolah tanah pertanian atau ladang atau sawah, sedangkan benihnya dari petani yang bekerja sama kemudian diadakan persetujuan bersama yang diatur dalam bagi hasil. Selanjutnya, pengertian dari Mukhabaroh ialah memperkerjakan seseorang pada tanahnya dengan memberi upah tertentu (seperti setengah, seperempat atau seperdelapan) dari penghasilan pertanianya kelak, serta bibit dari yang mengerjakan tanah (penggarap).

            Rukun dan syarat akad tersebut lebih dominan sama, seperti adannya tempat/lahan yang mau dikerjakan, adanya penggarap atau butuh pekerjaan, adanya alat penunjang pekerjaan, adanya ijab dan qabul dan adanya kesepakatan yang jelas mengenai pembagian hasil. Dasar hukum dari akad ini bisa dilihat dalam surat Waqiah: 63-64. Untuk  membedakan antara muzaro’ah dengan mukhabaroh dilihat dari benihnya, sedangakan musakhah itu lebih identik dengan perawatan tanaman itu sudah tumbuh tidak dengan bibit.

            Berakhirnya 3 akad dapat dilihat dari waktu perjanjiannya, terjadinya miskomunikasi antara pengarap dan pemilik tanah. Tanaman sudah tidak berproduksi lagi, salah satu meniggal dunia dan lain sebagainya. Hikmah yang dapat di ambil antara lain: dapat memperkerjakan orang yang butuh pekerjaan, mendidik seorang untuk kerja yang profesional dalam pertanian, saling menghargai antara pemilik tanah dan penggarap dan melatih berkerja sama antar manusia agar saling percaya.

            Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.45, dan diskusi yang semakin seru harus diakhiri, notulensi membacakan kesimpulan hasil diskusi. Diskusipun ditutup dengan bacaan al-Hamdalah bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan tos forshei bersama-sama sebagai jargon penutup diskusi hari ini.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »