Sosialisasi "Gerakan Cinta Rupiah" BI Goes to Village

Thursday, February 15, 2018 Add Comment
  
Getasan, 14/10 – Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) beserta Tim KKN MIT 5 Posko 65 UIN Walisongo Semarang mengadakan acara BI Goes to Village Tahun 2018 yang bertemakan “Gerakan Cinta Rupiah” di Aula balai desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa dan segenap jajaran perangkat desa Sumogawe, perwakilan Ibu-ibu PKK, perwakilan Kapolsek dan Koramil Kecamatan Getasan serta masyarakat sekitar desa Sumogawe. Tujuan dari terselenggaranya acara ini ialah untuk mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat desa Sumogawe dan sekitarnya tentang ciri keaslian uang emisi baru dan mengantisipasi adanya peredaran uang palsu, yang sebagian dari masyarakat Sumogawe sendiri telah menjumpai adanya uang palsu dalam bertransaksi. Acara BI Goes to Village kali ini diisi oleh pembicara dari BI Kantor Perwakilan Wilayah Jawa Tengah yaitu Bapak Octa Agus Setiawan.

Acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh saudari Riayatul Masruroh (tim KKN),  kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ketua Umum Forum Studi Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang yang diwakili oleh saudara Muhammad Ikhsanudin, sambutan yang ketiga yaitu sambutan oleh koordinator Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang disampaikan oleh saudara Fuad Sofi Anam dan sambutan yang terakhir yaitu sambutan Kepala Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang disampaikan oleh bapak H. Marsudi Mulyo Utomo ,S.E  yang sekaligus membuka acara BI Goes to Village Tahun 2018. Acara selanjutnya yaitu penyampaian materi Gerakan Cinta Rupiah oleh Bapak Octa Agus Setiawan. Pertama, Beliau menjelaskan mengenai ciri keaslian uang rupiah emisi baru yang diterbitkan pada bulan Desember 2017 dengam 7 uang kertas dan 4 uang logam. Adapun tahapan didalam uang rupiah diantaranya perencanaan (desain dan jumlah), percetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan serta tahap yang terakhir yaitu pemusnahan. Pada tahun 1999 nominal uang rupiah paling tinggi yaitu Rp. 50.000, tahun 2009 muncul uang Rp. 2000 dan akhirnya muncul pecahan uang rupiah senilai Rp. 100.000 yang pada dasarnya utuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Bank Indonesia dalam mencetak uang bekerjasama dengan PERURI, setelah itu dikeluarkan oleh BI dengan bekerjasama dengan pemerintah dalam pengedaran yaitu melalui cabang-cabang BI (perbankan) diseluruh Indonesia. Dalam bertransaksi dengan masyarakat BI hanya bisa melayani untuk pertukaran uang yang rusak. Selanjutnya,tahapan penarikan terjadi setelah 15 tahun pengedaran uang rupiah dan ada faktor-faktor lainnya seperti banyaknya pemalsuan uang rupiah. Kemudian, untuk uang yang sudah beredar lama bisa ditukarkan diperbankan sesuai dengan nominal tanpa ada pembayaran. Uang-uang rupiah yang telah dalam kondisi rusak akan masuk ditahap pemusnahan, begitu pula dengan uang rupiah yang cacat cetak dari PERURI yang masuk dalam kategori tidak layak edar. Pemusnahan uang rupiah di Semarang sendiri mencapai 3 M. 

Kedua, pemateri menjelaskan cara mudah untuk mengenali uang rupiah yang asli yaitu dengan menggunakan alat indera kita yang dikenal dengan 3D. Dilihat, uang rupiah asli warnanya akan terlihat terang dan jelas yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Kemudian, terdapat benang pengaman dan gambar tersembunyi multiwarna yang dapat dilihat dari sudut pandang tertentu. Selanjutnya untuk mengenali uang rupiah asli yaitu dengan cara Diraba dengan menggunakan tangan akan nampak gambar burung garuda, tulisan NKRI dan terdapat pula 2 garis sejajar di sebelah kanan dan kiri yang digunakan tunanetra dalam membedakan nomial uang rupiah, semakin kecil nilai uang rupiah semakin banyak garis sejajarnya. Dan yang terakhir untuk mengenalinya yaitu dengan Diterawang, jika uang diterawang makan akan muncul tanda air berupa gambar pahlawan dan ornamen pada pecahan rupiah, gambar saling isi dari logo BI (rectoverso) yang dapat dilihat secara utuh apabila diterawang ke arah cahaya dan inilah dari tanda yang paling sulit dipalsukan.
Selain itu, pemateri juga menjelaskan mengenai unsur pengaman yang terdapat pada bahan uang diantaranya watermark (tanda air), electrotype dan benang pengaman. Unsur pengamanan terdapat pula pada teknik cetak uang rupiah yang diantaranya meliputi intagilio, rectoverso, multi colour latent image, latent image, blind code, clour setting, uv features, dan mikroteks.

Setelah bapak Octa Agus Setiawan menyampaikan materi, beberapa kali audiens menyela bertanya dalam peyamapian beliau. Bagi 5 penanya yang beruntung mendapatkan kenang-kenangan yang diberikan oleh BI. Setelah hari beranjak siang, kemudian acara ditutup dengan acara makan bersama.

Oleh : Fitriana (kader forshei 2017) 


Produktifkan Dana ZIS untuk Pengentasan Kemiskinan, Melalui Pendanaan UKM Berbasis Financial Technology

Produktifkan Dana ZIS untuk Pengentasan Kemiskinan, Melalui Pendanaan UKM Berbasis Financial Technology

Monday, February 12, 2018 Add Comment
Hasil gambar untuk zakat


Manusia adalah mahkluk sosial. Mahkluk sosial berarti membuat manusia mau tidak mau harus berinteraksi dengan manusia yang lain. ketika kita menjamah hal–hal yang berada pada sub sosial, maka akan banyak fenomena dan problematika yang membutuhkan perhatian khusus, salah satunya adalah kemiskinan.

Kemiskinan adalah salah satu penyakit sosial yang memiliki efek domino bagi semua sektoral di setiap negara berkembang. Isu-isu pengangguran, tindak kriminalitas, kelaparan yang merajalela, serta rasisme berbau foedalisme lahir dari rahim yang sama, yaitu kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyakit kronis bagi setiap negara. Di Indonesia sendiri, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin mencapai 22,77 pada tahun 2017 (tribunnews.com) yang diakibatkan oleh lesunya pertumbuhan ekonomi, sehingga tidak mampu dalam menyerap tenaga kerja yang berkualitas dan memicu pengangguran,kemudian berefek pada tingkat kemiskinan yang sedemikian besaranya. Tentu hal ini menandakan bahwa indonesia belum mampu memenuhi tingkat kesejahteraan yang telah ditargetkan. Tidak heran jika pembahasan mengenai pengentasan kemiskinanmerupakan sebuah elementer penting,dalam tatanan mengenai pencapaian kesejahteraan sebuah negara khususnya di Indonesia.

Sejak era pemerintahan orde lama hingga awal reformasi yang ditandai dengan krisis moneter, hampir semua sepakat bahwa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan faktor fundamental dalam menghapus garis kemiskinan.Banyak indikator yang membuktikan hal itu. Pertama, secara tidak langsung dengan adanya UKM akan membuka  lapangan pekerjaan meski dalam skala kecil, kedua dengan peningkatan UKM maka akan berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor Produk Domestik Bruto (PDB), dan selanjutnya akan berefek pada peningkatan devisa negara.  Selain itu, pada krisis moneter UKM mampu membuktikan kekuatannya dengan tetap stabil diantara banyaknya industri koorporasi yang mengalami pailit.Oleh karenanya, perlu adanya upaya untuk meningkatkan semangat ber–UKM pada setiap masyarakat. Dengan adanya semangat ber–UKM otomatis kemandirian masyarakat juga meningkat dan tidak hanya bergantung pada upaya mengemis lapangan pekerjaan yang semakin menipis.

Untuk memobilisasi UKM menjadi sektor tumpuan dalam pengentasan kemiskinan, diperlukan pendanaan secara berkesinambungan kepada masyarakat. Pemerintah sebenarnya telah banyak mengeluarkan program berbasis pendanaan untuk UKM seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR),  Kredit Tanpa Anggunan (KTA), dan yang terbaru adalah Ultra micro Finance. Disisi lain, berbagai lembaga keuangan juga ikut menerbitkan jenis layanan atau produk pembiayaan guna usaha untuk UKM. Namun keseluruhan program tersebut terhambat pada segmen administrasi yang begitu rumit, adanya persyaratan khusus berupa skala waktu usaha yang berjalan dalam kurun waktu tertentu saja yang akan dipinjamkan dan yang paling disorot adalah pinjaman tersebut berbasis pada bunga yang tentunya akan memberatkan pelaku UKM di kemudian hari. Tidak berhenti sampai di sisi permodalan, kurangnya literasi masyarakat perihal tata kelola keuangan yang baikmenjadikan mereka lebih nyaman menjadi seorang pencari kerja ketimbang menyediakan lapangan pekerjaan.

Dana ZIS, solusi pendanaan yang berkesinambungan
            Dalam ajaran islam, terdapat ibadah filantropi yang menunjukan bahwa islam adalah agama yang memberikan perhatian khusus mengenai pengentasan kemiskinan. “Pada harta – harta mereka terdapat hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bagian”.(QS. Adz – Dzariyat :19). Ayat tersebut menjadi sihir dogmatis bagi kaum muslimin agar tetap sadar bahwa ada hak orang lain atas harta yang dimiliki untuk disalurkan kepada meraka yang berada dalam jurang kemiskinan. Penyaluran harta tersebut selanjutnya dikenal dengan istilah Zakat, Infaq dan Sedakah (ZIS).

Pada zaman Rasulullah dana ZIS dihimpun dalam satu lembaga yaitu Baitul Maal, yang kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di era sekarang, lembaga yang bertugas menghimpun dana ZIS adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang merupakan badan bentukan pemerintah, adapun badan yang serupa namun bentukan masyarakat disebut Lembaga Amil Zakat (LAZ). Keduanya merupakan sebuah lembaga yang bertugas untuk menghimpun dan menyalurkan dana ZIS secara lebih modern berupa bantuan sosial, bantuan bencana alam, pemberian beasiswa dan lain – lain. Namun penyaluran – penyaluran tersebut banyak yang bersifat konsumtif dan masih sedikit yang bersifat produktif. Tercatat pada tahun 2017 potensi dana ZIS mencapai 217 triliun (tempo.com). Dengan angka yang begitu besar tentunya sangat disayangkan apabila dana ZIS hanya beruputar pada siklus konsumtif.

Dengan melihat potensi dana ZIS yang begitu besar, BAZNAS maupun LAZ seharusnya sudah mulai merambah pada sektor produktif berupa pendanaan kepada UKM. Skema yang dilakukan bisa berupa akad Qardhul Hasanyaitu pinjaman lunak yang sifatnya berupa dana bergulir. Dalam skema tersebut para pelaku UKM tetap dibebani tanggung jawab untuk mengembalikan dana tersebut tanpa ada beban bungasehingga tidak membebani pelaku UKM dan kemudian dana yang dikembalikan bisa disalurkan kepada pelaku UKM lainnya.  Tentunya dalam skema tersebut pendampingan oleh pihak BAZNAS dan LAZ tetap dibutuhkan.

Hubungan yang akan di bentuk antara pelaku UKM dengan lembaga BAZNAS/ LAZ adalah kemitraan dan bukan sebagai kreditur dan debitur. Lembaga BAZNAS dan LAZ harus mamberikan sinergi postif berupa pendampingan mengenai tata kelola keuangan yang baik bagi pelaku UKM. Karena permasalahan yang dialami pelaku UKMselanjutnya adalah berupa minimnya pengetahuan perihal tata kelola  keuangan yang baik bagi sebuah usaha.Banyak dari UKM yang mengalami kegagalan usaha karena menejemen keuangan yang buruk. Maka dari itu dibutuhkan pendampingan perihal tersebut.

Tata kelola keuangan berbasis fintech adalah solusi untuk memberikan kemudahan pada pelaku UKM. Fintech adalah singkatan dari Financial Technology, merupakan sebuah terobosan baru dalam layanan keuangan berbasis pada jaringan digital. Pertumbuhan fintech pada tahun 2017 menunjukan angka kenaikan yang positif. Melihat fenomena tersebut BAZNAS maupun LAZ harus memaksa pelaku UKM untuk melekteknologi dengan memanfaatkan layanan fintech.
Salah satu jenis layanan fintech yang cocok untuk UKM adalah Mandiri Capital Indonesiayang menerbitkan perusahaan rintisan dengan nama StartupBerbagi.com. Dalam layanan tersebut terdapat berbagai macam aplikasi seperti aplikasi Atom, yang berfungsi untuk penjualan produk UKM, ERZAP yang digunakan sebagaipembuatan laporan keuangan yang komprehensif, aplikasi PickPack sebagai layanan distribusi produk UKM, serta DS–Go yang memberikan layanan berupa tips–tips keuangan berdasarkan data – data keuangan UKM. Tentunya dengan adanya layanan tersebut akan memudahkan pelaku UKM dari segi menejemen keuangan dan juga pemasaran.

Ketika semua komponen tersebut bisa bersinergi dan berintegrasi dengan baik maka akan melahirkan pelaku UKM yang memiliki basis pendanaan yang kuat sehingga mampu memberikan feedbackpada lembaga BAZNAS dan LAZ barupa dana ZIS yang berasal dari kegiatan usaha mereka, selain itu UKM juga akan memicu pertumbuhan ekonomi dengan cara membuka lapangan pekerjaan sehingga angka pengangguran menjadi semakin menurun.


Muhamad Iqbal haqiqimaramis (kader forshei 2016)


Euforia Regional Training for Trainer (RTT) 2018

Thursday, February 08, 2018 Add Comment

              
            Semarang (08/02)-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) berkerjasama dengan FoSSEI Regional Jawa Tengah mengadakan RTT (Regional Training for Trainer). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja FoSSEI Regional Jawa Tengah yang bertujuan untuk mengasah skill di bidang keilmuan guna  mencetak mentor-mentor  yang nantinya dapat membantu meningkatkan keilmuan di masing-masing KSEI. RTT kali ini dilaksanakan di gedung A UIN Walisogo Semarang. Diikuti oleh 69 peserta dari KSEI se-Jawa Tengah. Acara berlangsung selama 2 hari tanggal 07-08 Februari 2018. Hari pertama  RTT dimulai pada pukul 13.25 dengan materi pertama disampaikan oleh Bapak Dr. Abdul Ghofur membahas mengenai “Fiqh Muamalah”. Beliau mengatakan bahwa untuk mengatur urusan transaksi agar mendatangkan segala kemaslahatan dan menghilangkan kemudhorotan, mengharamkan riba karena banyak kemudhorotan didalamnya, bahkan untuk aspek makro ekonomi dapat menyebabkan kehancuran.
Materi kedua “Mikro Ekonomi Syariah” disampaikan oleh Bapak Warno, S.E. Beliau mengatakan bahwa mikro ekonomi itu berkaitan tentang permintaan, penawaran, produksi, distribusi, pertukaran atau perolehan barang dan jasa. Sedangkan pengertian ilmu ekonomi mikro syariah yaitu ilmu yang mengantar upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan sumber daya yang bertujuan mencapai falah atau sesuai ajaran Al-Qur’an dan as-sunnah.
            Materi ketiga “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam” oleh Bapak Tholkhah. Beliau mengatakan bahwa pemikiran ekonomi Islam itu dibagi menjadi 3 fase, yaitu fase pertama (fase abad awal -11 M) dirintis oleh para fuqoha, diikuti sufi, kemudian para filsuf. Para tokoh pemikir Islam pada masa tersebut adalah Zaid bin Ali (80-120 H/699-738 M), Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M), Abu Yusuf (113-182 H/731-798 M), Muhammad bin Al-Syaibani (132-189H/750-804 M), Ibnu Miskawaih (421/1030 M). Fase kedua (abad 11-15 M) oleh para pemikir ekonomi yang dikenal pada saat ini, yaitu Al-Ghozali (451-505 H/105-1111 M), Ibnu Taimiyah (w.728 H/1328 M), Al-Maqrizi (845 H/1441 M). Fase ketiga merupakan fase tertutupnya pintu ijtihad yang mengakibatkan fase ini dikenal juga fase stagnase.
Hari kedua pada pukul 07.30 dilanjutkan materi keempat disampaikan oleh Bapak Dr. Muchlis Yahya, M.Si mengenai “Ilmu Ekonomi Makro Syariah”. Beliau mengatakan bahwa ekonomi syariah dijalankan atas dasar filosofi religiositas dan landasan keadilan yang melahirkan basis teori Profit Loss Sharing (PLS) yang berorientasi falah. Ada 3 teori ilmu ekonomi yaitu ekonomi mikro yang membahas ekonomi individual, ekonomi makro membahas keputusan ekonomi agregatif, dan ekonomi terapan yang menggunakan teori hasil perpaduan ekonomi makro dan mikro. Pelaku ekonomi yaitu rumah tangga, perusahaan, pemerintah, luar negeri. Pengertian ekonomi makro menurut mainstream yaitu mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan (agregat) berupa pengelolahan dan pengendalian umum perekonomian secara nasional sehingga dapat tumbuh secara seimbang.
Materi kelima disampaikan oleh Bapak Wasyith tentang “Micro Teaching” yakni bagaimana cara mengembangkan diri. Beliau mengatakan bahwa saat ini terdapat beberapa isu ekonomi baik berupa bahan pangan, pengangguran, perubahan iklim ekonomi global, keuangan global, internet, ekspor impor, dan investasi yang menjadi tantangan ekonomi di generasi ekonomi islam abad ke-21. Namun mereka kurang menguasai materi, bergantung pada internet, dan membanyak kegiatan yang kurang bermanfaat, sehingga lupa dengan ekspansinya. Disisi lain mereka cenderung lebih menguasai skill dan lebih canggih dalam mengaplikasikan teknologi. Siklus dari proses pembelajaran dapat membangun sebuah pemahaman yang lebih luas dan mendalam. Teknik pembelajaran yang lebih mudah yaitu mencari sebuah konsep, kemudian diterangkan dengan bahasa komunikatif dan menggunakan analogi. "Dibikin lebih simpel", ujar beliau. Dilanjutkan dengan Focus Grup Discussion (FGD) yang dibagi menjadi 7 kelompok  untuk mendiskusikan studi kasus ekonomi makro syariah dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS).
Materi keenam “Lembaga Keuangan Syariah” yang disampaikan oleh Ibu Nur Huda, beliau mengatakan bahwa lembaga keuangan adalah semua badan yang kegiatannya dibidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat guna membiayai investasi perusahaan. Bertujuan mempromosikan dan mengembangkan  penerapan prinsip-prinsip syariah Islam dan tradisinya kedalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan dan keuangan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang Syariah.
Materi terakhir “Public Speaking” yang disampaikan oleh Bapak Johan Arifin. Beliau mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia yang lahir kedunia itu mampu untuk berbicara dihadapan umum. Bakat itu biasanya sudah dari kecil, akan tetapi faktanya tidak semua orang yang  dilahirkan mempunyai kemampuan public speaking . Faktor pembentuk speaker yaitu lahir (bakat), lingkungan, dan latihan. Untuk menjadi orang yang mampu dan berani berbicara didepan umum  harus melakukan latihan karena orang yang berhasil yaitu orang yang berani mencoba pekerjaan. Konsep dasar komunikasi adalah teknik komunikasi, sama halnya seni menyampaikan pesan secara efektif. Permasalah sering muncul akibat kesalahan berkomunikasi. Misalnya dalam menghadapi suasana baru, seseorang merasa grogi, namun itu merupakan hal biasa. Cara menghadapinya dengan mengenali lingkungan dan membuat nyaman diri terhadap lingkungan yang dihadapi. Public speaking merupakan penyampaian berupa gagasan secara tulisan atau lisan. Tujuan nya untuk menyampaikan informasi kepada audien, menghibur audien ,mempengaruhi audien
Acara dilanjutkan dengan post test calon mentor yang dipandu oleh BPH FoSSEI Regional Jawa Tengah. Peserta di berikan lembar soal yang terdiri pilihan ganda dan esai dengan waktu pengerjaan 90 menit. Selesai post test peserta diarahkan untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah sembari istirahat dan makan malam. Tepat pada pukul 19.30, usai melaksanakan sholat isya seluruh peserta RTT dan panitia berkumpul di gedung G untuk melaksanakan penutupan acara RTT. Penutupan tersebut disertai penyerahan award kepada saudari izzatul laili dari KSEI Imes Surakarta dan saudara Wahyu dari KSEI Jazirah Unnes sebagai peserta terbaik dan pengumuman mentor yang lulus post test.

Rifqana Ridha (Kader forshei 2017)







 










Sarasehan bareng KA-FoSSEI Regional Jawa Tengah

Wednesday, February 07, 2018 Add Comment

Semarang – 07/02, Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) mengadakan sarasehan sebagai rangkaian acara RTT FoSSEI Regional Jawa Tengah bersama KA-FoSSEI Regional Jawa Tengah yang betempat di Joglo Coffee dengansuasana kejawen. Acara dibuka pukul 20.15 WIB, dipandu oleh saudari Firda. Seluruh peserta RTT, pengurus FoSSEI Regional Jawa Tengah, dan Keluarga Alumni (KA) FoSSEI Jawa Tengah turut hadir dalam acara tersebut.
Acara dibuka dengan bacaan ummul kitab yang dipimpin oleh moderator, kemudian dilanjutkan sharing bersama. Penyampaian pertama dari Saudara Agung Nurdiansyah Firdaus selaku koordinator FoSSEI Regional Jawa Tengah. “Kegiatan kali ini merupakan kumpul bersama KA dan pengurus FoSSEI Regional Jawa Tengah, seluruh KSEI se-Jawa Tengah. Tujuannya untuk sharing pengalaman”, ujar Agung. Dengan adanya sarasehan ini, diharapkan setiap KSEI saling berbagi pengalaman selama menjalankan roda kepenurusan. Sehingga permasalahan yang belum menemukan solusi dapat terpecahkan dalam forum sarasehan.
Penyampaian kedua oleh Saudara Fatchurrahman, S.H.I. beliau berpesan untuk selalu berkorban di majelis pertimbangan. Ketiga, penyampaian dari Saudara Shofa Hasan, S.E. Dia berpesan bahwa peluru nyasar itu harus diambil hikmahnya. Dan yang terakhir penyampaian dari Saudara Iwan. “Sesuatu yang baik pasti dipersulit, tetapi ada jalan keluarnya. Dan sifat manusia itu belajar, karena manusia tidak ada yang sempurna”, kata Iwan.
          Seusai acara ditutup, dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dibagi menjadi 7 kelompok yaitu kelompok pertama tediri dari Ari, Nisfa, M. Taufiqur, Septian, Tat, M. Khusnul, Endi, Ajeng, Izzatus, Lita. Kelompok kedua terdiri dari Dian, Ririn, Danang, Endi, Slamet, Rufaida, Dwi, Devi, Milati, Wahyu. Kelompok ketiga terdiri dari Ria, Nurul, M. Riyanatta,  Halifah, Anwar, Ahmad, M. Faiq, Indah, Ulfah, Priscali. Kelompok keempat yaitu Ilham, Fauzan, Malikhatul, Nur, Sri, Alfian, As'ad, Abdul, Ahmad Syaiful. Kelompok kelima yaitu Jihad, Adimas, Roifatul, Rifa, Aisyah, Bayu, Hasbi, Syafwan, David, Nover. Kelompok keenam terdiri dari Deri, Jamaludin, Ratna, Riswati, Rimis, Mulki, Eva, Syahrizan, Rizki. Dan yang terakhir kelompok tujuh yaitu Nailal, M. Zakariya, Dwi Priyo, Nakila, Wahyu, Rokhiman, Dwi Ayya, Hesti Dini. Setiap kelompok diacak dari berbagai KSEI yang hadir.
Kelompok yang telah dibagi tersebut diskusi bersama mengangkat permasalahan ekonomi Islam. Lalu salah satu dari anggota kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Presentasi pertama perwakilan kelompok 2 yang membahas transaksi yang dilakukan oleh penjual dan pembeli dengan sikap saling rela. Kedua diwakilkan dari kelompok 1 yang membahas mengenai hal halal haramnya go pay dengan akad salam. Kemudian FGD ditutup dan peserta kembali ke kampus 3 UIN Walisongo menggunakan motor dengan panitia.



Seminar Financial Technology dan Transformasi Industri Keuangan Syariah di Indonesia

Wednesday, February 07, 2018 Add Comment


Semarang (07/02) - Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) mengadakan seminar  dengan tema “Financial Technology dan Transformasi Industri Keuangan Syariah di Indonesia. Acara ini bertempat di auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Diikuti oleh 413 peserta baik peserta RTT (Regional Training for Trainer) dari KSEI se-Jawa Tengah, akademisi, mahasiswa, tamu undangan, dan masyarakat umum. Seminar kali ini mengundang tiga pembicara yaitu saudara Muhammad Fuad Hasbi selaku Co-Founder tumbas.in, Bapak Bondan Suryatmojo selaku Business Analyt Manager PT Pegadaian (Persero) Kanwil XI Jateng dan DIY, dan Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, M.A selaku akademisi UIN Walisongo. Acara dimulai pukul 08.45 WIB, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Eko Nur Coliludin. Selanjutnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars FoSSEI yang dipandu oleh saudari Ulya Salsabila.
Dilanjutkan acara sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh saudara Muhammad Firdaus selaku ketua umum forshei. Sambutan kedua oleh saudara Agung Nurdiansyah Firdaus selaku koordinator FoSSEI regional Jawa Tengah. Dilanjutkan sambutan yang ketiga oleh Bapak M. Arifin S.Ag, M.Hum selaku wakil dekan III Fakultas Syariah dan Hukum. Acara di buka dengan pemukulan gong sebanyak 9 kali pukulan dan launching Majalah Falah edisi ke 8 dengan tema Bank Wakaf Ventura”dilanjutkan pembacaan doa oleh saudara M. An’im Jalal.
Seminar nasioanal financiay Technology dan Regional Training for Trainer (RTT) ini mengusung tema adat Jawa Tengah. Seminar nasional ini merupakan serangkaian acara RTT. RTT merupakan program kerja FoSSEI Regional Jawa Tengah yang bekerjasama dengan KSEI forshei UIN Walisongo Semarang.
Tiba pada acara inti yaitu Seminar Nasional dengan penyampaian materi-materi oleh para pembicara. Penyampaian materi pertama mengenai Start up Indonesia” oleh saudara Muhammad Fuad Hasbi selaku Co-Founder tumbas.in. menurut beliau start up merupakan aplikasi yang digunakan untuk usaha saja. Start up bermula dari sebuah masalah, berawal dari kejadian yang sering berulang, lalu dicatat. Pastikan terdapat user yang digunakan. Start up itu bisnis dilakukan dengan berulang, lebih fokus ke penggunanya. Pengguna internet di Indonesia ada 132,7 juta, ada 17000 start up di Indonesia, begitu banyak yang teracuni oleh start up. Kemungkinan sekarang bisa kita lihat perkembangannya.”, ujar fuad. Dari pernyataan tersebut dapat kita pahami bahwa bisnis start up di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Materi kedua mengenai “Strategi Industri Keuangan Syariah dalam Menghadapi Perkembangan Financial Technology” oleh Bapak Bondan Suryatmojo Manager Businness Analyt PT Pegadaian (Persero) Kanwil XI Jateng dan DIY. Beliau mengatakan, saat ini pegadaian memiliki beberapa pelayanan  berupa pembiayaan emas, pembiayaan, dan aneka jasa. Pegadaian harus berkembang dan saat ini kebutuhan masyarakat semakin menambah. Nasabah semakin lama semakin berkurang apabila dibandingkan dengan bank yang melakukan pembiayaan di  pegadaian. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya start up. Sampai sekarang dengan adanya aplikasi pegadaian, nasabah dapat memasukkan data barang jaminan. Terdapat proses pendaftaran agen menggunakan aplikasi.
Materi ketiga “Financial Technology dalam Perspektif Islam oleh Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, M.A selaku akademisi UIN Walisongo. Beliau mengatakan bahwa sudah ada konsentrasi syariah. Financial technology adalah kegiatan bisnis yang bertujuan menyediakan jasa keuangan. Di Indonesian Financial technology sudah mulai berkembang mulai dari tahun 1866-1967 sampai sekarang. Seperti adanya ATM dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan tersebut, hukum adanya financial technology sama halnya dengan hukum muamalah yang menyebutkan bahwa bermumalah (bertansaksi) diperbolehkan apabila tidak ada dalil yang melarangnya.
Acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Terlihat antusiasme para peserta untuk bertanya, salah satunya pertanyaan dari saudara Arwan Bukhori (KSEI UNNES) yaitu “seseorang itu mempunyai jalan kesuksesan sendiri-sendiri. Menurut  Saudara Fuad kendala apa yang dihadapi seorang founder tumbas.in dalam menjalankan bisnis ini? Bagaimana cara mempertahankan bisnis tersebut? Karena biasanya start up susah dipertahankan dari dalam negeri maupun luar negeri”.
“Sudah mulai usaha, berjalan beberapa bulan, jangan takut gagal, kendalanya jika sampai titik gagal itu sudah biasa., UNDIP,UNNES kedua hacher kami mas Auzi angkatan 2014, dari UDINUS 2012. Ketika tumbasin ini pengalaman yang seru 5 jalan ke pasar ibu-ibu  penasaran kenapa cowo belanja kepasar, mereka tarik perhatiannya. Kemudian kami membantu ibu buat belanja akhirnya dibikin aplikasinya”, jawab saudara Fuad selaku Co-founder tumbas.in Semarang. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan untuk para narasumber, moderator, dan pembagian doorpize kepada peserta kemudian foto bersama.  Acara selesai dan ditutup pada pukul 11.45 WIB.


Rifqana Ridha (Kader forshei 2017)