Muzara'ah, Mukhabarah, dan Musaqah

Monday, November 19, 2018



       MUZARA’AH
       Muzara’ah disyariatkan Islam dengan tujuan memberi kesempatan kepada orang lain, agar dapat menikmati kekayaan yang ada pada orang lainnya dengan ketentuan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan antara dua belah pihak.
        Muzara’ah barasal dari bahasa Arab yang berarti menumbuhkan. Secara istilah dapat disimpulkan bahwa muzara’ah adalah pemilik tanah menerahkan tanahnya kepada orang lain untuk dikelola dengan bagi hasil, yakni seperdua, sepertiga, atau ebih yang benihnya dari petani.
       Dasar hukum diperbolehkannya muzara’ah adalah adits Nabi yang artinya: “Sesungguhnya Nabi saw. menyatakan tidak mengharamkan bermuzara’ah, bahkan beliau menyuruhnya, supaya yang sebagian menyayangi sebagia yang lain, dengan katanya, ‘barang siapa yang memiliki tanah maka hendakalah ditanami atau diberikan’.”
            Ada perbedaan pendapat mengenai rukun muzara’ah di antara para ulama: Ulama Hanabilah berpendapat rukun muzara’ah yaitu ijab dan kabul. Boleh dilakukan dengan lafal apa saja yang menunjukkan adanya ijab dan kabul. Bahkan muzara’ah sah dilafalkan dengan ijarah. Ulama Hanafiah berpendapat rukun muzara’ah ada empat, yaitu tanah, perbuatan pekerja, modal, dan alat-alat ntuk menanam.
       Setiap muslim yang akan melaksanakan akad muzara’ah, harus mengetahui syarat-syarat muzara’ah, antara lain: Pertama, ‘Aqidain, yakni harus berakal. Kedua, tanaman, yakni disyaratkan adanya penentuan macam apa saja yang akan ditanam. Ketiga, perolehan dari hasil tanaman, yaitu: bagian masing-masing harus disebutkan jumlahnya (prosentase ketika akad), hasil adalah milik bersama, bagain antara amil dan malik adalah dari satu jenis barang yang sama, bagian kedua belah pihak sudah dapat diketahui, tidak disyaratkan bagi salah satunya penambahan yang maklum.
       Keempat, tanah yang akan ditanami, yaitu tanah tersebut dapat ditanami dan diketahui batas-batasnya. Kelima, waktu, syaratnya adalah: waktunya telah ditentukan, waktu itu telah memungkinkan untuk menanam tanaman dimaksud, seperti menanam padi waktunya kurang lebih 4 bulan (tergantung teknologi yang dipakainya) atau menurut kebiasaan setempat, dan waktu tersebut memungkinkan kedua belah pihak hidup menurut kebiasaan. Keenam, alat-alat muzara’ah disyaratkan berupa hewan atau yang lainnya dibebankan kepada pemilik tanah.

       MUKHABARAH
       Mukhabarah adalah akad yang sama dengan muzara’ah baik dalam dasar hukum, sarat, dan rukunnya. Keduanya masih sama-sama dalam perdebatan para ulama. Ada sebagian yang membolehkan dan ada sebagian yang tidak membolehkan. Namun, dilihat dari manfaat yang diambil dari kedua akad tersebutmakasecara syarak boleh dilakukan sepanjang tidak ada maksud mencari keuntungan untuk diri sendiri dan mempekerjakan orang lain tanpa diberi upah sedikitpun dari hasil kerjanya.
       Perbedaan antara mukhabarah dan muzara’ah terletak dalam hal benih yang akan ditanam apakah benih menjadi tanggungan pemilik tanah atau menjadi tanggungan penggarap. Daam akad muzara’ah, pihak penggarap adalah yang menyediakan benih, sedangkan pada akad mukhabarah, pemilik tanah adalah pihak yang menyediakan benih.
            Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam akad mukhabarah, antara lain: Para akid adalah mereka yang sudah cukup dewasa.  Usahakan penggarap adalah seagama. Tanah garapan betul-betul dapat menghasilkan dan menguntungkan. Akad  harus jelas, tidak ada keraguan dan kecurangan. Kesepakatan penggunaan alat untuk kerja, memakai alat tradisional atau memakai alat modern. Hal itu perlu disebutkan karena menyangkut biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing adalah berbeda.

  MUSAQAH

       Akad musaqah merupakan peluang bagi orang lain untuk bekerja dan mendapatkan hasil dari pekerjaannya dengan cara yang halal dan diridai Allah swt.. Sedangkan bagi majikan juga merasa sangat terbantu. Islam sangat menganjurkan musaqah karena memberi manfaat sosial yang sangat tinggi.
        Musaqah berasal dari kata al-saqa, yaitu seseorang yang bekerja mengurus pohon anggur, tamar, atau lainnya supaya mendatangkan kemaslahatan dan mendapatkan bagian tertentu dari hasil yang diurus sebagai imbalannya.
        Secara istilah, musaqah adalah mempekerjakan manusia untuk mengurus pohon dengan menyiram dan memeliharanya serta hasil yang direzekikan Allah swt. dari pohon itu untuk mereka berdua (pendapat Syekh Syihab ad-Din al-Qalyubi dan Syekh Umarah).
        Dasar hukumnya dalah hadits Nabi saw. riwayat Imam Muslim dari Ibnu Amr, r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Memberikan tanah khaibar dengan separoh dari penghasilan, baik buah-buahan maupun pertanian (tanaman).” Pada riwayat lain dinyatakan bahwa Rasul menyerahkan tanah khaibar itu kepada Yahudi, untuk diolah dan modal dari hartanya, penghasilan separohnya untuk Nabi.
            Rukun musaqah meliputi beberapa hal: Pertama, antara pemilik kebun dan tukang kebun (penggarap) hendaknya orang yang sama-sama berhak bertasaruf (membelanjakan harta keduanya). Kedua,   kebun dan semua pohon yang berbuah boleh diparokan (bagi hasil), baik yang berbuah tahunan (satu kali dalam satu tahun) maupun yang berbuah hanya satu kali kemudian mati, seperti jagung dan padi.
            Syarat musaqah adalah sebagai berikut:  Ahli dalam akad, menjelaskan bagian penggarap, membebaskan pemilik dari pohon, hasil dari pohon dibagi dua antara pihak-pihak yang melangsungkan akad sampai batas akhir, yakni menyeluruh sampai akhir. Tidak disyaratkan untuk menjelaskan mengenai jenis benih, pemilik benih, kelayakan kebun, serta ketetapan waktu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »