MMQ (Musyarakah Mutanaqishah) sebagai Alternatif Baru dalam Dunia Perbankan Syari'ah

Friday, May 31, 2019 Add Comment
Sumber gambar : Altundo.com

Nasabah di perbankan syari’ah telah dikenalkan dengan adanya alternatif atau solusi baru yang digunakan untuk mempermudah transaksi, apa yang di butuhkan oleh nasabah sehingga memudahkan nasabah dalam melakukan sebuah trnsaksi dan tepat dalam memilih setiap transaksinya, karena terdapat banyak akad yang berbeda-beda, nah pengembangan akad-akad baru ini merambah akad yang bernama Akad MMQ (Musyarakah Mutanaqishoh), Akad MMQ mungkin masih asing dalam telinga nasabah, karena itu ? apa itu akad MMQ (musyarakah mutanaqishah), bagaimana penerapan dalam dunia Perbankan ?
Menurut Dr. Nur Fathoni M.Ag kepala pusat Pengembangan Standar Mutu dan sekaligus Dosen UIN Walisongo Semarang. MMQ (Musyarakah Mutanaqisah)Adalah Akad syirkah milik yang dilanjutkan dengan perpindahan kepemilikan,dari hishoh / bagian salah satu dari antara lembaga keuangan syari’ah dan nasabah.

Musyarakah mutanaqishah basis atau dasarnya adalah syirkah milik. Syirkah dibagi menjadi dua yaitu syrikah milik dan syirkah akad. Syirkah akad terdiri dari : syirkah abdan, syirkah wujuh, syirkah mufawadhah, syirkah inan. Syirkah akad  berbeda dengan syirkah milik, sedangkan syirkah milik adalah dua orang atau lebih memilki satu objek yang sama dan memang didesain untuk menjadi kepemilikan bersama antara lembaga keuangan syari’ah dan nasabah, akad musyarakah mutanaqishoh dilanjutkan proses perpindahan hishoh (bagian) dari lks (Lembaga Keuangan Syari’ah)  untuk dimiliki oleh nasabah, itu yang membedakan syirkah milik biasa.

 Rukun Musyarakah Mutanaqishoh adalah
Aqidain (Kedua Belah Pihak Yang Berakad), objek (Benda), shighat (Ijab Qabul). Implementasi atau penerapan akad Musyarakah Mutanaqishoh diPerbankan syari’ahsebagai alternatif untuk nasabah yang ingin memiliki objek (benda). Sedangkansebelumnya dalam lembaga keuangan syariah akad yang digunakan biasanya adalah Murabahah,yaitu perjanjian jual-beli antara bank dengan nasabah. Bank syariah membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan nasabah.

Kekurangan dari akad Murabahah adalah harga tidak bisa dirubah dan masa pembayaran lama, sehingga muncul alternatif lagi yaitu IMBT (Ijarah Muntahiya bit Tamlik)adalah sewa yang diakhir terjadi perpindahan kepemilikan.  Dan alterantifyang terakhir adalah menggunakan akad MMQ (Musyarakah Mutanaqishoh) yaituakad dengan dasar syirkah milik yang digunakan untukmembeli sebuah objek misalnya apartemen atau ruko dengan masa pembayaran lama sehingga  musyarakah mutanaqishah sangat fleksibel untuk digunakan,antara lembaga keuangan syari’ah dan nasabah, yang ingin melakukan bisnis bersama dan arahnya tidak untuk disewakansaja.

MMQ (Musyarakah Mutanaqishah)juga sebagai solusi, dan memberikan alternatif kepadanasabah yang tidak hanya sekedar memiliki objek tetapi juga ingin melakukan bisnis bersama, begitu akad MMQ dilakukan, barang atau benda menjadi milik berdua ( Bank dan Nasabah). Kalau objek atau benda ingin digunakan sendiri oleh nasabah akan terjadi akad lagi dan dilanjutkan perpindahan kepemilikan dari Bank ke Nasabah, cara pemindahan kepemilikannya adalah dengan cara dibeli oleh nasabah cara pembeliannya  tidak harus dengan uang nasabah tetapi dibayar dengan uang sewa, uang sewa itu berasal dari kedua belah pihak antara nasabah dan Bank yang melakukan kesepekatan terkait objek yang disewakan dengan pihak lain, dan hasil dari uang sewa itu dibagi antara bank dan nasabah, uang sewa bagian nasabah itu digunakan untuk membayar ke bank jika nasabah ingin memiliki objek itu sendiri.

Rona kader 2018



Tasyakuran Harlah Forshei ke-11

Tuesday, May 28, 2019 Add Comment



Semarang, 27/5/2019- Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan tasyakuran dalam rangka harlah forshei ke-11. Acara berlangsung dari pukul 16.00 - 18.00 WIB bertempat di masjid Baitul Huda kampus 1. Tasyakuran ini diikuti oleh kader 2016 - 2018 serta Majelis Pertimbangan Forshei (MPF) dan KA forshei. Tasyakuran merupakan salah satu rangkaian acara yang diadakan forshei dalam rangka harlah forshei ke-11.

Tasyakuran diawali dengan pembacaan tahlil oleh Saudara Mochammad Adhi Cahyo Bagaskoro lalu dibuka dengan membaca basmalah bersama. Lalu pembacaan ayat-ayat suci Al-quran oleh Saudari Sindi Maulita. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh M. Iqbal Haqiqi Maramis selaku wakil ketua forshei, sambutan yang kedua disampaikan oleh Saudari Ismi Ulil Chasanah sebagai perwakilan MPF. Dalam sambutannya, Saudari Ismi Ulil Chasanah berharap semoga kedepannya forshei menjadi lebih baik lagi. Sambutan yang terakhir disampaikan oleh Saudara Sofa Hasan, S.H.I.

Setelah itu dilanjutkan dengan kultum oleh Bapak Drs. H. Wahab Zainuri selaku pembina forshei UIN Walisongo Semarang. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah telah meninggalkan dua hal kepada umatnya, yakni Al-quran dan Sunnahnya. Dalam kehidupan semua masalah dapat diselesaikan dengan dua pedoman tersebut. Hal-hal didalamnya juga dapat diterapkan dalam ekonomi. Misalnya, dalam perkembangan ekonomi islam dibutuhkan kreativitas dan inovasi yang dimulai dengan dukungan kita terhadap produk ekonomi Islam. Bank syariah misalnya.

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan Sharing Section I oleh Saudara Sofa Hasan, H.S.I yang menyampaikan tentang sejarah berdirinya forshei yang bisa dibilang tidaklah mudah. Ibaratnya sebuah tanaman, tidak tahu nanti hasilnya akan memanen atau tidak. Kemudian Sharing Section II  oleh Bapak H. Moh. Arifin, S.Ag,M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. Beliau menyampaikan bagaimana forshei berproses dari awal berdirinya hingga bisa seperti sekarang. Beliau juga berharap semoga kader forshei selalu memiliki semangat besar dalam berproses dan dapat melanjutkan prestasi-prestasi yang telah didapat forshei sebelumnya.

Acara terakhir yaitu berbuka bersama diawali dengan doa yang dipimpin oleh Bapak  H. Moh. Arifin, S.Ag, M.Hum. Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Saudara Sofa Hasan, S.H.I yang merupakan acara puncak dari tasyakuran ini. Tidak lupa berfoto bersama yang merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan setelah acara selesai. Semoga dengan diadakannya tasyakuran ini membuat kader-kader forshei lebih bersemangat lagi untuk menuju forshei yang lebih baik.


Qonita kader 2018

Kajian Roadshow FoSSEI Komisariat Semarang dan Penutupan Diskusi Primer

Saturday, May 04, 2019 Add Comment

Jumat, 03 Mei 2019 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan acara Kajian Roadshow Fossei Semarang sekaligus Penutupan Diskusi Primer sebagai ajang silaturahim dan belajar bersama forshei dan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang ada di Semarang. Acara ini bertempat di Laboratorium Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. Acara ini mengusung tema “Wajah Baru Ekonomi Islam 2019 di Indonesia”.
Acara dimulai pukul 16.00 WIB dimoderatori oleh Saudari Devi Nur Havifah selaku kader forshei 2017. Dilanjutkan penyampaian materi oleh narasuber Saudara An’im Jalal, S.H, beliau salah satu peneliti INDIFES (Institute Development Of Islamic Financial and Business). Acara ini diikuti oleh kader forshei serta kader Ksei yang ada di Semarang.  
Dalam berjalannya diskusi, Saudara An’im Jalal menyampaikan roadmap ekonomi islam pada tahun 2019 oleh KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) yakni: penguatan value chain, penguatan keuangan syariah, penguatan ekonomi digital, penguatan UMKM syariah. Selain itu, narasumber juga memberikan saran dan solusi untuk mengatasi perkembangan ekonomi islam di tahun 2019 ini yakni: peningkatan regulasi, pengefektufan kelembagaan dan SDM ekonomi syariah, edukasi publik, kajian dan riset yang aplikatif.
Dari poin-poin di atas disampaikan lebih jauh oleh narasumber dan mendapat tanggapan dari peserta diskusi. Di tengah-tengah diskusi, para peserta diberikan jamuan berupa snack dan minuman ringan agar lebih nyaman saat diskusi berlangsung. Setelah penyampaian materi selesai, acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama disampaikan oleh Saudari Mita Kurniasari yang bertanya : “Jika sebuah produk yang sudah ada label halalnya masih belum dapat dipastikan benar-benar sesuai syariat dalam pembuatan bahan kemasannya, bagaimana kita bisa yakin dan menyikapi hal tersebut?”
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Saudara Moh. Ihsanuddin bahwa, “Label halal tersebut sudah ditetapkan oleh Pemerintah yang dalam hal ini MUI, maka sebagai orang awam yang juga beum paham betul, dianjurkan untuk mengikuti pemimpin saja.
Kemudian Saudara Wiwin Dwi Wahyudi memberikan tanggapannya bahwa “Tantangan terbesar yang dimiliki oleh perbankan syariah adalah memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang keuntungan atau benefit apa saja yang dapat diraih ketika mereka bergabung bersama bank syariah. Karena fakta di lapangan, akses terhadap bank konvensional lebih mudah didapatkan dibanding bank syariah itu sendiri.”
Selanjutnya perwakilan dari anggota Fossei Komisariat Semarang memberikan pertanyaan, “Edukasi apa yang seharusnya dilakukan oleh para penggiat atau praktisi ekonomi syariah agar masyarakat dapat bergabung dalam perbankan syariah?”
Pertanyaan ini dijawab oleh Saudara An’im Jalal bahwa “Tokoh masyarakat atau ulama setempat sangat efektif digunakan sebagai penyampai edukasi untuk masyarakat desa, karena budaya sosial masyarakat desa yang sangat menghormati dan patuh terhadap ulamanya. Sedangkan untuk masyarakat perkotaan, peran media informasi dan komunikasi juga efektif untuk menyebarkan info-info tentang perbankan syariah. Setelah pertanyaan-pertanyaan terjawab dan tanggapan sudah cukup, sesi tanya jawab ditutup dan diakhiri dengan membaca doa yang dipimpin oleh Saudara Nur Ma’arif.
Acara Kajian Roadshow ini selesai pada pukul 18.00 WIB. Diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber diskusi. Semoga acara ini memperluas pengetahuan serta menjadi wadah untuk menjalin silaturrahim satu sama lain.

Oleh: Muhammad Idchonul Khakim (Kader 2018)