BSI Menguat: Jokowi Taruh Harapan Kesejahteraan Rakyat Kecil

Bank syariah indonesia (BSI), salah satu lembaga keuangan syariah yang telah diresmikan oleh presiden joko widodo pada tanggal 21 februari 2021. BSI merupakan hasil merger dari tiga bank syariah yang ada di Indonesia diantaranya BRI syariah, Mandiri syariah, serta BNI syariah. Meskipun BSI tergolong baru dalam lembaga keuangan syariah, namun pada kenyataannya BSI mampu menunjukkan eksistensinya terutama di masa krisis akibat pandemi yang dapat dilihat dari gemuknya aset yang dimiliki sejak kuartal I-2021.

Seperti dilansir dari IDXChannel, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan total aset sebesar Rp 234,4 triliun , naik sebesar 12,65% secara year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun 2020 yakni sebesar Rp 208,1 triliun. BSI juga mencatat kenaikan rasio permodalan atau CAR menjadi 23,1% dikuartal I-2021. Angka ini mengalami peningkatan 12,85% dibanding dengan periode yang sama tahun 2020 hanya sebesar Rp 657 miliar.

Hingga pada kuartal II-2021, BSI mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,48 triliun, naik 34,29% dari periode yang sama di tahun sebelumnya atau secara year on year (yoy). Kenaikan laba pada semester I tahun ini dipicu oleh pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) yang berkualitas. 

Dengan kinerja tersebut, BSI berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp247,3 triliun hingga Juni 2021, naik sekitar 15,16% secara yoy. Untuk pembiayaan, BSI menyalurkan Rp161,5 triliun, naik 11,73% secara yoy. Dengan angka tersebut, BSI menguasai pangsa pasar industri perbankan Syariah di Indonesia saat ini.

Semua pertumbuhan aset syariah BSI berasal dari berbagai segmen. Adapun segmen korporasi sebesar Rp 36,7 triliun atau sekitar 22,8%. Kemudian segmen UMKM yang mencapai Rp 36,8 triliun setara 22,9% dan sisanya segmen komersial Rp 10 triliun atau sekitar 6,2%. Sedangkan dari sisi liabilitas, penghimpunan DPK BSI sampai semester I 2021 mencapai Rp 216,36 triliun, naik 16,03% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020 yang sebesar Rp 186,49triliun.

Pertumbuhan tersebut didominasi oleh peningkatan dana murah melalui layanan jasa keuangan giro dan tabungan yang sebesar 54,81% dari total DPK. Hal itu menurunkan biaya dana atau cost of fund dari 2,78% pada semester I 2020 menjadi 2,14% pada paruh pertama tahun ini.

BSI juga ambil alih dalam program Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sampai 27 Agustus 2021, realisasi program PEN tahap kedua BSI sebesar Rp 3,35 triliun kepada 26,15 ribu nasabah dengan realisasi sebesar 72,3% dari target.

Dengan kinerja tersebut BSI berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp 247,3 triliun hingga Juni 2021. Torehan itu naik sekitar 15,16% secara yoy. Pada periode yang sama tahun 2020 total aset BSI mencapai Rp 214,7 triliun.

Dari dana jumbo ini, Jokowi berharap BSI akan memberi manfaat besar kepada masyarakat. Tidak hanya kepada sektor syariah, namun juga ekonomi masyarakat secara nyata. Seperti yang diberitakan CNNIndonesia, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengamini harapan Jokowi. Menurutnya, secara nyata memang seharusnya pembentukan BSI akan bisa memberi manfaat langsung ke masyarakat. 

Khususnya para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) alias rakyat kecil. Sebab, menurut riset yang pernah dilakukannya, nilai pembiayaan dari bank syariah ke sektor UMKM jauh lebih besar daripada bank konvensional. Menurutnya, bank konvensional umumnya lebih mengalokasikan dana yang dimiliki untuk penyaluran kredit korporasi dan komersial. Maklum saja, ini sejalan dengan prinsip bank yang mengutamakan bisnis dan profit. Sementara bank syariah umumnya lebih mengedepankan penggerakan ekonomi dan keuangan umat. 

Untuk itu, ia melihat BSI bisa menjadi harapan baru bagi akses dan sumber pembiayaan yang lebih besar dan luas kepada para rakyat kecil. Apalagi, penggabungan ketiga bank syariah BUMN membuat aset, modal inti, dan kemampuan pembiayaan semakin kuat.

Dampak lebih lanjutnya, kebangkitan UMKM tentu akan memberi kontribusi juga ke perekonomian nasional. Sudah jadi rahasia umum bahwa usaha kecil merupakan penopang ekonomi tanah air. Tak hanya itu, secara riil BSI juga memungkinkan perluasan produk keuangan syariah di masyarakat. Ini tentu akan memperkaya produk keuangan di Indonesia yang saat ini masih didominasi oleh produk keuangan konvensional. 


Sumber gambar: medcom.id

Penulis: Anggi Nofita Sari