“Ternyata Jargon-Jargon Kapitalis Itu Tidak Terwujud”

“Ternyata Jargon-Jargon Kapitalis Itu Tidak Terwujud”

Wednesday, April 03, 2013 Add Comment




Nama                           : PROF. DR. H. MUHAMAD, MAG
Tempat/Tgl Lahir        : PATI/10 APRIL 1966
Alamat                        : PERUM TAMAN SISWA INDAH E-16 YOGYAKARTA
Pendidikan                  : S1 IKIP Negeri Yogyakarta
                                      S2 Magister Studi Islam UII  (Konst. EKONOMI ISLAM)          
                                      S3 Program Doktor Ilmu Ekonomi UII (Konst. KEUANGAN ISLAM)
Pekerjaan                     : DOSEN TETAP STEI YOGYAKARTA
                                      DOSEN TIDAK TETAP:
                                      - PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA
                                      - PASCASARJANA UGM
                                      - PASCASARJANA UII
                                      - PASCASARJANA STAIN TULUNGAGUNG
Karya Ilmiah               : TELAH MENERBITKAN 40 JUDUL BUKU –BUKU EKONOMI ISLAM DAN TELAH MENULIS 15 JUDULLAGU EKONOMI ISLAM
Aktivitas Lain             : KETUA DEWAN MASJID INDONESIA DIY                                                                KETUA FORUM DPS BPRS DIY
                                    DEWAN PAKAR MASYARAKAT EKONOMI SYARIAH DIY
KETUA DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA KOTA YOGYAKARTA.
 
Lembaga keuangan yang berlandaskan syariah tumbuh subur di Indonesia. Perkembangan yang cukup apik ini, tak lepas dari peran para akademisi, salah satunya Prof. Muhammad. Beliau adalah cendekiawan muslim yang bergelut dalam bidang ekonomi islam. Berbagai pemikiran beliau dikontribusikan untuk perkembangan ekonomi islam. Sosok Prof Muhammad yang lahir di Pati pada tanggal 10 april 1966 tumbuh bersama keluarga yang teguh menjalankan ajaran agama non islam.
Keinginan seorang Prof Muhammad untuk mendapatkan kebenaran yang sejati, kembali bergejolak di hati Muhammad. Pada saat Prof Muhammad beranjak dewasa, beliau dengan tegas dan mantap berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Ilmu-ilmu agama dipelajari dengan semangat yang melebihi mayoritas masyarakat yang Islam karena keturunan. Semangat yang tinggi ini, menghantarkan Muhammad sebagai salah satu cendikiawan muslim yang diperhitungkan.
Kepewaiannya dalam mencermati masalah dan mencari solusi terhadap masalah yang terjadi di sekitar, sudah tidak diragukan lagi.  Tak heran, saat tim buletin falah mewawancarai prof Muhammad, beliau menanggapi setiap pertanyaan kami dengan penuh saksama. Dalam obrolan ringan ini, beliau menceritakan bahwa di Indonesia masih banyak terjadi kekeliruan penerapan sistem. Penerapan sistem yang mengedepankan pada bunga masih banyak dijumpai. Penerapan sistem yang seperti itu memancing terjadinya krisis. “Apapun namanya ketika masih menggunakan itu pasti akan krisis sampai kapanpun,” tegas Prof Muhammad.
Prof Muhammad juga menjabarkan bahwa Islam memberikan solusi kehidupan bisnis dengan dijalankan sesuai dengan sunnatulloh bisnis. Seperti yang disampaikan Prof  Muhammad, bahwa bisnis bisa untung dan rugi, yang keduanya harus terjadi keadilan antara kedua belah pihak.
Pembahasan tentang kesejahteraan juga disinggung oleh Prof Muhammad, beliau mengatakan bahwa sejahtera  ukurannya bukan hanya material, akan tetapi materi dan non materi.  “Jargon-jargon kapitalis itu tidak pernah terwujud”, tambah Prof Muhammad. Dicontohkan oleh Prof Muhammad tentang pemerataan yang sebenarnya tidak merata karena yang memiliki modal akan menguasai, sementara pelaku atau pekerja selalu menjadi bagian dari biaya. Pada saat pelaku sebagai bagian dari biaya, di sisi lain pemilik modal ketika menginginkan laba yang besar maka cara yang dilakukan adalah memperkecil biaya, dan SDM harus diperlakukan dengan murah. Hal ini terjadi dalam mekanisme kapitalisme, karena dalam mekanisme tersebut selalu mengeksploitasi sesuatu yang bisa meningkatkan pendapatan dan memberikan biaya yang efisien (menurut bahasa mereka). Efisien konotasinya adalah kecil.
Untuk mendongkrak pendapatannya maka jika dibuat rumus akuntansinya, biaya yang kecil itu akan menghasilkan biaya yang besar. Prof  Muhammad berkata, “Ini sebetulnya bertentangan dengan prinsip yang aslinya di dalam ekonomi kapitalis itu mengatakan pengorbanan minimum untuk mendapatkan hasil tertentu dan pengorbanan tertentu untuk mendapatkan hasil yang optimum.” Tetapi hal tersebut diputar dengan mengatakan pengorbanan yang sekecil-kecilnya dengan mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Hal Ini menunjukkan ketidak konsistenan.  (ica/falah)
Why We Choose Islamic Banking?

Why We Choose Islamic Banking?

Wednesday, April 03, 2013 Add Comment
Oleh: Muhammad Saddam 
(Presidium Nasional V FoSSEI Universitas Brawijaya)
Make a choice, atau membuat pilihan, adalah hal tersulit tapi kadangkala menjadi hal mudah yang selalu dihadapi manusia. Hal tersebut adalah problem utama dari seorang manusia. Sehingga untuk membahas panjang masalah pilihan ini, para filsuf Yunani membuat suatu ilmu yang dinamakan oikonomea atau bahasa modernnya disebut ekonomi. Ekonomi berasal dari kata oikos dan nomos yang mewakili kata pengaturan dan tumah tangga. Mengapa kiranya para filsuf yunani klasik membuat suatu ilmu yang isinya adalah tentang pengaturan rumah tangga?. Menurut saya adalah agar tiap-tiap pilihan dan potensi yang ada atau yang menimpa manusia bisa diatur sehingga mendatangkan maslahat bagi dirinya dan tidak menimbulkan kerugian bagi dirinya.
Zaman terus berlanjut, Manusia dengan segala kemampuannya semakin menciptakan pilihan-pilihan atau peluang-peluang yang akan memberikan kemasalahatan bagi dirinya. Sehingga perjalanan ilmu ekonomi pun semakin berkembang mengikuti zaman dan ego manusia itu sendiri. Ekonomi yang saat ini kita fahami dengan berbagai macam kaidahnya adalah bentuk dari proses perenungan manusia itu sendiri untuk memenuhi dan memaksimalkan pilihan yang dipilih. Doktrinnya adalah pilih yang paling menguntungkan untuk diri sendiri atau dalam prinsip ekonomi modern bunyinya adalah sebagai berikut ” dengan modal tertentu mendapatkan keuntungan yang maksimal atau sebesar-besarnya”.
Pertanyaannya adalah, tepatkah prinsip dan doktrin di atas?. Hemat penulis ini bukan masalah tepat atau tidak tepat,  Tapi bagaimana memaknai doktrin itulah yang kiranya kita perlu kaji lebih mendalam. Karena ini sekali lagi menyangkut tentang pengaturan rumah tangga Individu yang simple pada zaman dahulu kepada pengaturan rumah tangga individu yang menjadi kompleks. Apalagi status individu itu adalah sebagai manusia yang oleh filsuf yunani disebut sebagai zoon politicon. Individu yang tidak akan pernah sendiri dan akan selalu tergantung dengan individu lainnya.
Saya akan ajak anda untuk melihat bagaimana individu yang kemudian berhimpun menjadi kelompok dan berhimpun lagi menjadi suatu negara memaknai doktrin tersebut dengan cara yang berbeda dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan. Saya akan memaparkan tiga periode zaman pada suatu sistem yang sama.
Periode pertama adalah periode Nabi Muhammad dan empat khalifah sesudahnya, dalam keyakinan Agama Islam seorang muslim tidak boleh menjadi orang yang merugi dan harus selalu untung. Bisa dilihat dalam surah Al Ashr, periode pertama memaknai untung rugi berdasarkan surah Al Ashr yang secara jelas menggambarkan seperti apa individu yang untung itu. Sehingga pada periode pertama ini, pengaturan rumah tangga relatif cukup stabil utamanya pada saat dipimpin oleh dua khilafah yang pertama. Adapun pada dua khilafah yang terakhir juga stabil namun mengalami banyak fitnah yang digencarkan oleh musuh negara. Walaupun demikian, kestabilan rumah tangga atau ekonomi secara internal tetap stabil.
Periode kedua adalah zaman Umayyah, fase kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Pada periode ini yang berjalan sangat singkat namun memberikan kestabilan ekonomi yang sangat baik. Para sejarawan mengatakan bahwa tidak ada individu yang mau menerima zakat dan kondisi keuangan negara naik hampir 200% dibanding periode sebelumnya.
Nah anda sudah melihat bagaimana doktrin yang sama namun beda hasilnya bukan?coba kita renungi mengapa dokrin itu bisa mengakibatkan hasil yang berbeda?. Lantas bagaimana dengan kondisi modern saat ini?
Sistem ekonomi yang ada dalam kurun waktu tahun 1900-2000 ini relatif menggunakan asumsi yang sama namun memasukkan varibel-variabel yang berbeda. Sebagai contoh kurun waktu 1900-1920an variable pemerintah sebagai bagian dari ekonomi hanya sebatas sebagai pengawas tanpa intervensi, kemudian terjadilah krisis yang hebat sehingga kurun waktu 1920-1999 menjadikan pemerintah sebagai variable penting dalam intervensi perekonomian. Dalam kurun waktu itu pula terjadi naik turun kondisi ekonomi, atau yang biasa disebut siklus krisis ekonomi pun demikian yang terjadi di Indonesia.
         Krisis hebat pada Tahun 1998 seakan menjadi saksi bagi munculnya doktrin ekonomi yang telah lama terpendam. Ada lembaga keuangan yang tidak ikut terlibas oleh krisis karena bank tersebut memakai pemaknaan doktrin ekonomi sebagaimana yang dilakukan pada periode pertama dan ketiga dalam cerita saya diatas, atau secara gamblang dikatakan inilah lahirnya era ekonomi Islam jilid II. Kajian-kajian pada decade terakhir melahirkan suatu kesimpulan bahwa sistem ekonomi Islam yang saat ini banyak disebut ekonomi syariah adalah sistem yang mampu menyelamatkan manusia dari segala kondisi keterpurukan.
        Kondisi ini diperkuat dengan bank yang mampu bertahan disaat krisis tersebut. Temuan ini kemudian menginspirasi banyak pihak yang akhirnya berdampak pada pesatnya kemajuan aplikasi ekonomi Islam, yang saat ini banyak diwakili oleh Lembaga keuangan syariah baik bank maupun Non bank. Namun yang sekali lagi yang perlu diperhatikan adalah, pemaknaan terhadap doktrin itu sendiri.
           Bank syariah atau Bank Islam hadir sebagai bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan pemaknaan ekonomi sebagaimana yang terjadi pada periode I dan III. Ikhtiar itu tidak “simsalabim” langsung terwujud. Dibutuhkan sokongan dari individu yang juga memaknai ekonomi sebagaimana yang diharapkan. Karena, jika tidak dimaknai dengan sempurna, ikhtiar ini akan berhenti di tengah jalan. Hanya menyandang nama saja tapi hakikatnya jauh sekali. Ini sebagaimana yang terjadi pada periode ketiga.
Maka, kehadiran bank Islam ini dengan segala maksud dan hakikat utamanya harus difahami secara menyeluruh, tidak parsial sebatas akad saja atau hitung-hitungan keuntungan. Tapi jiwa dan ruh individu yang terlibat, baik manajemen maupun nasabah adalah memang ingin menyelamatkan kehidupan. Jika ini mampu dijalankan, maka ekonomi Islam melalui Bank Islam akan menjadi trend dan menjadi new lifestyle.
So, why you choose Islamic banking?
SUBSTANSI HUKUM MELALUI SEJARAH TANTANG RIBA

SUBSTANSI HUKUM MELALUI SEJARAH TANTANG RIBA

Wednesday, April 03, 2013 Add Comment

Riba merupakan praktek ekonomi yang di kecam jauh sebelum islam datang seperti dalam pandangan perjanjian lama dan undang-undang Talmud kitab keluaran 22:25 manyatakan bahwa:
jika engkau meminjamkan uang pada salah seorang umatku,orang miskin di antaramu maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang terhadap dia, janganlah engkau bebankan barang terhadapnya”
Dalam kitab ulangan juga menyatakan :
“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan “
 Dalam ajaran kristenpun melarang peraktik riba atau bunga sebagaimana yang terdapat dalam kitab Lukas 6:4-5
dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya. Apakah jasamu ? orang berdosapun meminjamkan kepada orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.”
Dalam islam sendiri larangan riba yang  dituturkan dalam al-qur’an penekanannya berangsur-angsur. Ini menarik karena Penekanan yang dituturkan dalam surat Ali imran :

ياَايُّهَا اللَّذِيْنَ أمَنُوْا لَاتَأْكُلُوْا الرِّبَا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.
Walaupun Dari ayat diatas dapat kita lihat penggunaan Nahi (larangan) yang pada substansinya menunjukan keharaman tapi masih kurang jelas, artinya apakah larangan tersebut haram atau makruh. Kemudian ayat diatas diperjelas dengan turunya surat Al baqarah ayat 275-277 yang secara jelas mengharamkan riba. Dalam surat albaqarah juga lebih dipaparkan mengenai alasan dan solusi bagi masyarakat mengenai riba.
1. اَلَّلذِيْنَ يأكلون الِربوا لا يقومون إلا كما يقوم اللذي يَتَخَبَّطُهُ الشيطان من المسِّ, ذلك بأنهم قالوا إنما البيعُ مثل الربا,واحل اللهُ البيع وحرّم الربا,فمن جاءه موعظةٌ من ربه فانتهي فله ما سلف,وأمره الي الله ومن عاد فاؤلئك اصحاب النار هم فيها خالدون.
ayat 275 menjelaskan rasa ketidak tenangan orang yang memakan harta riba, karena akan memicu timbulnya  prilaku spekulatif dan juga keresahan itu timbul disebabkan karena bunga (riba nasi’ah) tidak bisa menjamin kelancaran tabungan dan investasi dalam lembaga keuangan.
ذلك بأنهم قالوا إنما البيعُ مثل الربا
Serta pada permasalahan kedua dari ayat diatas dipaparkan dalih mereka bahwa  bunga (riba) itu sama saja dengan jual beli (karena mereka memandang uang sebagai komonditi jadi bisa diperjualbelikan dan mengambil keuntungan atau kelebihan).
Kemudian kalimat selanjutnya mengenai jawaban atas dalih yang orang-orang lontarkan prihal riba Allah secara tegas menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
واحل اللهُ البيع وحرّم الربا
Begitu juga penekanan mengenai keharaman riba itu diperkuat dengan alasan ketika dakwah tentang keharaman riba maka mereka harus meninggalkan kebiasaan dimasa yang lalu (masih menggunakan sistem bunga pada lembaga keuangan konvensional). Dan barang siapa yang kembali menjalankan riba maka akan mengalami kebankrutan atau kolaps.
Kemudian dilanjutkan ayat yang menerangkan tantang efek negatif bunga dan efek positif dari sistem syariah pada ayat 276-277
يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِيْ الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لَايُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ آثِيْمٍ َ اِنَّ الَّلذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَاَقَمُوْا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ  َ
Dari ayat diatas Allah akan meniadakan keberkahan pada harta riba dikarenakan harta yang disimpan dibank yang berbasis bunga nilainya pada hakikatnya turun sebab pertumbuhan inflasi tidak seimbang dengan suku bunga tabungan yang ditawarkan. Kemudia Allah akan meningkatkan harta yang disedekahkan (mencakup zakat, infaq dan sedekah) dikarenakan dari harta yang disedekahkan tadi ikut menjaga stabilitas ekonomi pada daerah tersebut sehingga produksi, investasi maupun konsumsi pasar lancar. disamping itu sedekah juga tidak berpengaruh pada grafik permintaan pasar. Jadi pada dasarnya orang yang berzakat, infaq dan sedekah menjaga kelangsungan usahannya.
Dibalik semua ajaran agama islam pasti terdapat kebaikan dari Allah tidak lain untuk umat manusia yang merupakan khalifah dibumi ini.