Pemikiran Ekonomi Menurut Ulama Fase Awal

Pemikiran Ekonomi Menurut Ulama Fase Awal

Wednesday, September 28, 2016 Add Comment

Senin (28/9), ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB dan 16.00 WIB yang bertempat di samping audit II kampus 3. Diskusi dihadiri oleh kader ForSHEI baik angkatan 2014 maupun 2015 dan didampingi oleh Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF).
Diskusi dibuka dengan pembacaan Surah Fatihah dilanjutkan pembacaan tema tentang “Pemikiran Ekonomi Zaid bin Ali, Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas dan Al-Awza’i”. Setelah itu, para kader ForSHEI yang mengikuti diskusi sangat berpartisipasi dalam menyampaikan pendapatnya masing-masing. 
Bahasan pertama mengenai pemikiran ekonomi Zaid bin Ali (80 H-120 H/ 699 M-738M). Zaid bin Ali mrupakan putra Imam Syi’ah ke-4, yaitu Ali Zaynal Abidin dan cucu dari Husain Bin Ali. Beliau adalah penggagas awal komoditi secara kredit serta membolehkan  menetapkan kelebihan harga yang lebih tinggi pada jual beli secara tunai. Jual beli kredit diperbolehkan karena sebagai kompensasi untuk mempermudah pembeli. Jual beli kredit itu sah, apabila antara penjual dan pembeli menerapkan prinsip suka sama suka, namun beliau tidak membolehkan harga yang ditangguhkan pembayarannya lebih tinggi dari pembayaran tunai sebagaimana halnya penambahan terhadap penundaan pembayaran disebut riba. Selain itu, Zaid juga menyatakan bahwa “Uang tidak dapat menghasilkan sesuatu dengan sendirinya. Uang bisa menghasilkan apabila melalui perniagaan atau transaksi. 
Tokoh pemikiran ekonomi yang kedua adalah Abu Hanifah (80-150H/699-767M). Beliau adalah seorang Imam Madzhab yang mengedepankan logika (Ahlu Ra’yu). Abu Hanifah menggagas keabsahan dan keshahihan hukum jual beli Salam dan Murabahah. Dalam gagasannya, sistem Salam harus jelas dan rinci dalam pemesanannya dan tidak ada unsur gharar. Beliau juga melarang sistem muzara’ah ketika lahan tidak produktif lagi, dikarenakan bisa merugikan salah satu pihak yang bersangkutan.
Dilanjutkan pembahsan mengenai pemikiran Imam Malik bin Anas (93-179H/712-796M). Imam Malik adalah pendiri Islam dan pakar tradisi kehidupan kota Madinah. Sistem pemikiran ekonominya adalah raja atau penguasa harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Menurut beliau menerapkan konsep mashlahah atau nilai kegunaan yang merupakan akar dari syariah serta memperbolehkan menaikkan pajak untuk kepentingan rakyat.
Pembahasan terakhir mengenai pemikiran ekonomi Al-Awza’i ( 88-157 H/707-774 M). Al-Awza’i adalah ulama yang tingal di daerah Damaskus. Beliau disegani karena selalu memberikan nasehat atau pendapat kepada orang disekitarnya. Pemikirannya mengenai kebolehan dan keshahihan sistem muzara’ah sebagai bagian dari bentuk murabahah dan membolehkan peminjaman modal, baik dalam bentuk tunai atau sejenis.
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI. Setelah itu, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos ForSHEI yang dilakukan secara bersama-sama.

Oleh: Astri Fadila Nurulita


Pengumuman Kelulusan

Sunday, September 25, 2016 Add Comment
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayahnya kepada kita semua.
Berdasarkan berbagai hasil pertimbangan Tim Penguji dan Pengurus Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) UIN Walisongo. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim kami mengumumkan nama-nama yang lolos menjadi anggota ForSHEI tahun 2016 sebagai berikut : 

NO  NAMA LENGKAP JURUSAN
1 A. Siddiq Al Faqih                         S1 Perbankan Syariah
2 Abiyyu Ibnu Rakha Ekonomi Syariah
3 Ahmad Afifudin Ekonomi Syariah
4 Ahmad Ali Badawi Ekonomi Syariah
5 Ahmad Turmudzi Hukum Perdata Islam
6 Ali Syafii Hukum Perdata Islam
7 Arafat Ikhza M Ekonomi Syariah
8 Ari Yuwono Saputro Akuntansi Syariah
9 Asfihan Makin Hukum Perdata Islam
10 Azah Falasifa Hukum Ekonomi Syariah
11 Celvita Anggraeni Akutansi Syariah
12 Desydia Mamba'ul Ulum Akuntansi Syariah
13 Eva Nurul Anisa Ekonomi Syariah
14 Faizul Mamduh Akuntansi Syariah
15 Faris Haidi Anwar Hukum Ekonomi Syariah
16 Fera Ihda Rahmawati Akuntansi Syariah
17 Fibaroina Nida Fatkhiyah Akuntansi Syariah
18 Fifin Savitri S1 Perbankan Syariah
19 Firda Izdiana Akuntansi Syariah
20 Ganang Ade Sucipto Hukum Ekonomi Syariah
21 Ghina Alhani D3 Perbankan Syariah
22 Hanik Suciati Akuntansi syariah
23 Hibrah Raisah Ekonomi Syariah
24 Hidayaturrosyida S1 Perbankan Syariah
25 Hikmah Enjang Amalia Ekonomi Syariah
26 Ida Safitri Akuntansi Syariah
27 Ilham Wahyudi S Hukum Ekonomi Syariah
28 Irva Suci Wulandari Hukum Ekonomi Syariah
29 Isfa'iyah Ekonomi syariah
30 Khiyaratul Fajriyah Hukum Ekonomi Syariah
31 Laely Roshyda Ekonomi Syariah
32 Livia Ambarsari Akuntansi syariah
33 M. Agung Nasirudin Hukum Ekonomi Syariah
34 M. Fariz Bactiar Hukum Ekonomi Syariah
35 M. Ikhsanudin Hukum Ekonomi Syariah
36 M. Miftahul Munir Ekonomi Syariah
37 M. Rifqi A Hukum Ekonomi Syariah
38 Mariana Ulinnikmah Akuntansi Syariah
39 Marina Junianti Hukum Ekonomi Syariah
40 Masruroh S1 perbankan Syariah
41 Maya Robiatul Adawiyah Akuntansi Syariah
42 M. Zulfikar Nasirudin Akuntansi Syariah
43 M. Baqiyyatus Salafis S. Hukum Ekonomi Syariah
44 Muftikhah Mj Akutansi Syariah
45 Munfarizatussayyaroh Akuntansi Syariah
49 Nadiyah Ekonomi Syariah
50 Noor Linda Arova Akuntansi Syariah
51 Nor Lailatul Yulia Akuntansi Syariah
52 Pandunata Rakasiwi Akuntansi Syariah
53 Rezky Kurniawan S1 Perbankan Syariah
54 Ridho Kusumo Basuki Hukum Ekonomi Syariah
55 Siti Alfinatin Nur Faizah Hukum Ekonomi Syariah
56 Siti Rohmah Hukum Ekonomi Syariah
57 Tutiul Amroini Hukum Ekonomi Syariah
58 Ulul Fahmi Akuntansi Syariah
59 Uyun Sumdari Akuntansi Syariah
60 Vanila Hapsari Akuntansi Syariah

NB. 1. Seluruh kader yang telah dinyatakan lolos, wajib mengikuti Sharia Economist Training (SET 1) pada 15-16 Oktober 2016.
2. bagi peserta yang tidak lolos, boleh tetap mengikuti diskusi dengan catatan serius dan rajin. konfirmasi lebih lanjut hubungi Sdr. Arief Mahmudi ( 0896-2416-1414 )

Kebijakan Ekonomi Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Saturday, September 24, 2016 Add Comment

Senin (24/9) ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB di samping audit II sebelah timur dan 16.00 WIB di depan perpustakaan pusat UIN Walisongo. Diskusi dihadiri oleh kader ForSHEI baik angkatan 2014 dan 2015 serta didampingi oleh MPF (Majelis Pertimbangan ForSHEI).
Diskusi dibuka dengan bacaan Surah Fatihah serta diikuti pembacaan ayat ekonomi QS. Al-Baqarah:275 yang menjelaskan tentang halalnya jual beli dan haramnya riba. Tema hari ini tentang “kebijakan ekonomi pada masa Khulafaur Rasyidin”. Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat sahabat Nabi SAW., yaitu: Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Abu Bakar merupakan sahabat Nabi SAW. yang pertama kali masuk Islam. Abu Bakar memerintah selama dua tahun. Banyak kebijakan yang diterapkan Abu Bakar dalam pemerintahannya seperti adanya perhatian yang besar atas keakuratan zakat. Pada masa itu terdapat orang yang enggan membayar zakat, murtad, dan nabi palsu. Selain keakuratan zakat, beliau juga melaksanakan pembagian tanah hasil tahlukan. Pembagian ini sesuai dengan Surah Al-Anfal: 41 yang menjelaskan pembagian harta rampasan ditujukan untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, Anak Yatim dan Ibnu Sabil. Tanah-tanah dari orang murtad juga diambil alih guna kepentingan umat Islam, dan distribusi harta baitul mal menggunakan prinsip pemerataan, yakni penerimaan yang didapatkan oleh baitul mal semuanya didistribusikan (balance budget policy). Jadi baitul mal tidak mempunyai cadangan dana. Abu Bakar juga merupakan pelopor adanya sistem penggajian aparat negara.
Umar bin Khattab yang merupakan sahabat Nabi SAW. juga mertua Nabi. Umar bin Khattab memerintah selama sepuluh tahun. Umar banyak melakukan inovasi pada kebijakan sebelumnya. Semakin luas wilayah kekuasaan, Umar mulai memberlakukan administrasi negara dan membentuk jawatan kepolisian. Dalam bidang perdagangan, Umar menyempurnakan hukum dagang tentang pajak dan mendirikan pasar-pasar sebagai penggerak roda perekonomian rakyat. Pada masa Umar juga terjadi kenaikan harga yang terlalu tinggi pada barang-barang, sehingga beliau menerapkan kebijakan untuk tidak melakukan transaksi selama tiga hari berturut-turut terhadap barang tersebut. Mengenai pendistribusian harta baitul mal, Umar menerapkan prinsip keutamaan dimana penerimaan yang didapat dikumpulkan di baitu mal, ketika pendistribusiaan dilakukan pada saat negara membutuhkan, sehingga baitul mal mempunyai persediaan dana. Selain itu, Umar mendirikan Diwan ( sebuah kantor yang bertugas untuk memberikan tunjangan kepada pensiun, perang, dan tunjangan lain).
Utsman bin Affan merupakan khalifah ketiga yang memerintah selama 12 tahun. Enam tahun pertama, beliau melakukan penataan administrasi seperti khalifah Umar. Karena kekuasaan islam semakin luas, sumber penerimaan negara juga semakin besar. Dalam pengembangan SDA, Ustman membuat saluran air, membangun jalan, dan membentuk organisasi kepolisian. Selama pemerintahannya, Utsman melakukan administrasi tingkat atas dan mengganti beberapa gubernur. Dalam pengelolaan tanah negara, beliau membagikannya kepada delapan asnaf. Utsman menggunakan prinsip keutamaan seperti Umar dalam pendistribusian harta baitul mal. Memasuki enam tahun kedua tidak terdapat perubahan dalam hal pekonomian.
Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat Nabi SAW dan keponakan Nabi. Kebijakan yang dilaksanakan pada masa Ali bin Abi Thalib yaitu: mengedepankan prinsip pemerataan dalam pendistribusian kekayaan negara seperti halnya yang diterapkan pada masa Abu Bakar, menetapkan pajak terhadap para pemilik kebun dan mengijinkan pemungutan zakat terhadap sayuran segar, melakukan kontrol pasar dan memberantas pedagang licik, menimbunan barang , dan pasar gelap, membentuk petugas keamanan yang disebut dengan ''Syurthah'' (Polisi) yang dipimpin oleh Shahibus-Syurthah, serta ketat dalam menangani keuangan negara dan melanjutkan kebijakan umar.
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh Lailatus Sholihah dan Aziz Santoso. Setelah itu, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos ForSHEI yang dilakukan secara bersama-sama.




Open Recruitment " Mencetak Generasi Emas "

Tuesday, September 20, 2016 Add Comment
Semarang, ( 20/9) Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Studi Hukum Ekonomi Islam ( ForSHEI ) UIN Walisongo Semarang kembali hadir memberikan kesempatan bagi Mahasiwa fakultas ekonomi bisnis islam dan fakultas syariah yang ingin bergabung dan belajar ekonomi islam melalui seleksi yang diadakan di gedung pusat kegiatan mahasiswa ( PKM ). Acara yang dilaksanakan pukul 08.00 – 16.00 ini dihadiri oleh majlis pertimbangan ForSHEI selaku penguji.
Seleksi diadakan sebagai standar profesionalitas ForSHEI dalam merekrut anggota yang dirasa sungguh-sungguh ingin mendakwahkan ekonomi islam. Tahap ini menjadi salah satu syarat yang harus dilampaui oleh calon kader ForSHEI untuk mendapatkan sertifikat LULUS.


“Memang program interview diarahkan untuk melahirkan kader yang siap dan cakap, sehingga mewujudkan kontribusi dalam gerakan ekonomi syariah yang ada di Indonesia saat ini, yang mana masih banyak orang berasumsi bahwa ekonomi syariah dan konvensional adalah sama,” Kata Mila saat berkunjung ke PKM. 
“Kita harapkan, open recruitmen ini bisa melahirkan lulusan kader ForSHEI yang unggul dan menjadi gerbang awal kemajuan ekonomi syariah tentunya bagi masyarakat. Karena dengan sumber daya yang andal dapat menjadi jembatan atau sumber pengetahuan bagi masyarakat awam untuk menghindari adanya keterbelakangan atau shock terhadap perubahan kondisi ekonomi saat ini yang menawarkan begitu banyak inovasi di zaman teknologi yang kian pesat’’ ujarnya.
Hal yang mendasar dari program ini adalah mengetahui seberapa serius minat mahasiswa dalam memilih suatu organisasi studi ekonomi islam dan mengenal output apa yang dapat dimanfaatkan untuk khalayak. Menanggapi hal tersebut Ahmad fauzi  mengungkapkan, bahwa dalam mencapai tujuan organisasi dibutuhkan kesamaan pendapat dan pemikiran dari setiap individu, jika seluruh anggota dapat melangkah sesuai dengan tujuan maka tingkat keberhasilan sebuah organisasi dapat dikatakan sukses dengan gemilang.

Kebijakan Ekonomi pada Masa Rasulullah SAW

Tuesday, September 20, 2016 Add Comment
Semarang, ( 19/9)  ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin  pada pukul 16.00 WIB di samping audit II sebelah timur dengan suguhan tema “Kebijakan Ekonomi pada Masa Rasulullah SAW”. Diskusi ini dihadiri oleh kader ForSHEI dan didampingi oleh Muhammad Labib Fahmi Arif. Diskusi diawali dengan membaca Surah Fatihah dan dilanjutkan pemaparan tentang kebijakan ekonomi pada masa Rasulullah SAW.
Sebelum membahas tentang kebijakan ekonomi pada masa Rasulullah SAW, kita perlu tahu mengenai prinsip dalam kebijakan ekonomi islam. Prinsip dalam kebijakan ekonomi Islam meliputi: Allah SWT  sebagai penguasa tertinggi serta pemilik absolut seluruh alam semesta sedangkan manusia hanyalah khalifah, menghilangkan unsur riba, kekayaan harus diputar dan tidak boleh ditimbun, serta menetapkan sistem warisan sebagai media redistribusi kekayaan yang dapat melegimitasi berbagai konflik individu.
Terdapat beberapa kebijakan yang diterapkan pada masa Nabi SAW, diantaranya: pertama, Baitul Mal yang berfungsi sebagai tempat penghimpunan uang Negara. Uang rakyat yang telah terhimpun dalam Baitul Mal dapat digunakan kepala Negara serta pemerintah yang lain sebagai upah atau gaji. Kedua, Masjid yang mempunyai multifungsi karena berbagai permasalahan dapat dituntaskan di dalam masjid. Ketiga, Pasar yang berfungsi untuk menyatukan hubungan kaum Muhajirin dan kaum Anshor agar  menjadi lebih erat. Kaum Muhajirin sangat ahli dalam bidang perdagangan atau perniagaan, begitu pula dengan kaum Anshor yang ahli dalam bidang pertanian.
Sumber pendapatan Negara pada masa Rasulullah SAW diperoleh dari zakat, jizyah, ghanimah, ‘ushr, dan kharaj sedangkan pengeluaran Negara digunakan untuk pembiayaan pertahanan, seperti persenjataan, unta, kuda dan persediaan, pembiayaan gaji untuk wali, qadhi, guru, imam, muadzin dan pejabat Negara lainnya, pembayaran utang Negara, serta pembiayaan bagi musafir.
Rasulullah SAW  sering memerintahkan untuk mencatat perzakatan serta mengecek barang yang telah didapatkan Negara dan barang yang telah dikeluarkan oleh Negara. Pada masa Rasulullah telah dikenal yang namanya ekspor dan impor dinar atau dirham. Maksud dari impor dan ekpor dinar atau dirham adalah ketika Negara Arab tidak memiliki uang dan memiliki barang, maka barang tersebut dapat diekspor untuk ditukar dengan uang. Begitu pun sebaliknya, dinar atau dirham itu tidak dapat ditransaksikan bila dinar atau dirham itu belum ditempa. 
Pada masa Rasulullah SAW juga sudah ada lembaga pengawas pasar yang bernama Hisbah. Hisbah berfungsi sebagai lembaga pengawasan pasar untuk menjamin keadilan dan tata niaga supaya tidak terjadi penyelewengan dan kecurangan di dalam pasar. Hisbah dalam pasar bertujuan mengawasi timbangan, jual beli barang terlarang, kehalalan dan kebersihan makanan, harga pasar, serta barang impor. Diskusi ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan pembacaan hamdalah secara bersama-sama.
Oleh : ismi ulil chasanah


Temu Awal, ForSHEI Adakan Sarasehan

Friday, September 16, 2016 Add Comment

Kamis (16/9), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan sarasehan di depan Gedung Serbaguna UIN Walisongo Semarang sebelah timur dengan dimulainya acara pada pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh calon kader ForSHEI, Anggota Kepengurusan, Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF), dan Perwakilan dari Keluarga Alumni ForSHEI (KA). Tujuan diadakannya sarasehan untuk menyambut calon kader ForSHEI dan memperkenalkan ForSHEI secara lebih intens.
Acara pertama dibuka dengan Sambutan ketua umum ForSHEI 2016-2017 oleh Fuad Shofi Anam dengan ucapan selamat datang bagi semua calon kader ForSHEI. Selanjutnya sambutan mengenai sejarah ForSHEI yang disampaikan oleh saudara Ahmad Ulin Nuha (MPF). Yang paling ditunggu di penghujung acara inti adalah sharing bersama Saudara Shofa Hasan ( KA ForSHEI ) dengan tema "apa itu organisasi dan apa saja pengalaman yang dapat ditemui dalam organisasi ForSHEI?".

Sikap antusias terlihat dalam sesi tanya jawab, terbukti banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh calon kader ForSHEI. Salah satunya pertanyaan menarik dari saudari Firda “Kenapa diadakanya seleksi dalam penerimaan kader ?”.
“Diadakannya seleksi itu supaya ForSHEI kedepannya bisa berkembang lebih baik, karena ForSHEI mencari kader yang benar-benar berniat untuk bergabung dan aktif didalamnya”, ujar Sofa. "Setelah mengikuti kegiatan sarasehan, saya semakin mantap untuk bergelut dan berdakwah mengenai ekonomi islam secara lebih intens dan ingin bergabung menjadi kader ForSHEI" , komentar arif mulyadi usai acara.

What Do You Know About Tax Amnesty ?

Thursday, September 15, 2016 Add Comment

Semarang, 15 September 2016, Forum Studi Hukum Ekonomi Islam ForSHEI UIN Walisongo Semarang mengadakan diskusi pedana di semester ganjil 2016/2017 pukul 08.40 WIB di depan gedung M Fakultas Syariah (stand ForSHEI) dengan tema "Tax Amnesty". Para kader ForSHEI sangat antusias mengenai bahasan topik ini. Hal ini terbukti dengan aktif dan responnya kader ForSHEI selama diskusi berlangsung. Diskusi diawali dengan membaca Surah Alfatihah dilanjutkan pemaparan tentang apa itu Tax Amnesy?.

Tax Amnesty adalah program pengampunan yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak. Indonesia merupakan negara yang pengeluarannya lebih besar dari pada pendapatan atau istilahnya besar pasak daripada tiang. Dana APBN sebenarnya tidak cukup untuk menutupi belanja negara dan akhirnya Indonesia harus berhutang dengan negara lain. Sebagian besar dana APBN berasal dari pajak. Namun, penerimaan pajak tak pernah mencapai 100% atau belum optimal. maka dari itu perlu adanya kebijakan yang diharapkan mampu menutupi permasalahan tersebut.

Tujuan diadakan kebijakan Tax Amnesty adalah repratiasi  (menarik dana warga negara Indonesia yang ada di luar negeri), meningkatkan pertumbuhan nasional yakni menunjang pertumbuhan ekonomi agar arah pembangunan dapat lebih terarah dan tertata, meningkatkan basis perpajakan nasional, dan meningkatkan penerimaan pajak tahun ini melalui adanya uang tebusan yang dibayarkan oleh wajib pajak sesuai dengan regulasi program tersebut.

Selain itu, terdapat beberapa manfaat dari adanya Tax Amnesty ini, terutama bagi pemerintah, pengembang dan investor. Untuk pemerintah, Tax Amnesty akan menambah penghasilan penerimaan baru dimana penambahan dirasa cukup efektif dalam menambah penerimaan negara dan juga secara otomatis akan menarik dana yang terdapat di luar negeri ke Indonesia dan akan masuk ke dalam pencatatan sumber pajak baru. Untuk pengembang, Tax Amnesty ini akan membuat sektor properti mengalami pertumbuhan untuk tahun berikutnya, karena selama ini para investor merasa tidak mau menanamkan modal di Indonesia karena pajak propertinya sangat tinggi. Untuk investor, Tax Amnesty akan memberikan keuntungan terhadap kegiatan bisnis dan rasa berani untuk melakukan pembelian properti.
Diskusi perdana ini diakhiri dengan penyampaian kesimpulan dan ditutup dengan bacaan kafarotul majlis.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1437 H

Monday, September 12, 2016 Add Comment

Idul Adha adalah hari raya terbesar kedua yang sangat dinanti-nanti oleh umat islam di seluruh belahan dunia. Karena pada hari tersebut umat islam akan melakukan berbagai kegiatan diantaranya adalah puasa Tarwiyah dan Arafah yang dilakukan 2 hari sebelum hari raya idul Adha, shalat sunah dua rakaat berjamaah di masjid maupun di tanah lapang, menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Hal tersebut dilakukan umat islam semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. 
Idul Adha tidak terlepas dengan sejarah yang sudah sering kita dengar, cerita yang sejak kecil sudah ditanamkan oleh kedua orang tua bahkan guru kita yaitu tentang sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail, perintah ini di dapatnya melalui mimpi yang sama selama tiga kali berturut-turut. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakan perintah tersebut tanpa ada keraguan. Sesuai yang terdapat dalam Al-Qur’an surat As Shaffat ayat 102-107,dalam cerita tersebut nabi Ismail ditebus(diganti) oleh Allah dengan seekor sembelihan yang besar. 
Dari sejarah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Idul Adha sangat erat hubungannya dengan berkurban. Sesuai firman Allah dalam surat Al-kausar ayat 1 dan 2 yang berbunyi :
 انا اعطينك الكوثر(1) فصل لربك وانحر(2) 
yang artinya “sesungguhnya kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berkurbanlah”.
 Serta dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. : “ Siapa yg memiliki kelapangan tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati masjid dan mushalla kami” (Riwayat Ahmad Ibnu Majah Ad-Daruquthni Al-Hakim dan dan sanadnya Hasan).
Sedangkan hikmah idul Adha (Berkurban) adalah pertama, Keimanan yang dapat kita ambil dari keteguhan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan harta berharganya yaitu anak terkasihnya. Kedua, ketaqwaan dapat kita ambil dari Nabi Ismail yang rela atau ridho menjalankan perintah Allah SWT, sekalipun nyawa yang menjadi taruhanya. Selain itu ada  makna sosial yaitu memberikan kegembiraan kepada saudara muslim kita yang kurang mampu yaitu dengan pemberian daging kurban yang dapat memperbaiki gizi dan kesehatan bagi masyarakat. Dan juga rasa syukur kita kepada Allah SWT karena telah memberi nikmat kepada semua makhluknya, khususnya manusia.
Kami segenap keluarga Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H

Workshop Pasar Modal Syariah 2016

Sunday, September 11, 2016 Add Comment


11september 2016, Masyarakat Ekonomi Syariah bekerja sama dengan Forum studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan WorkShop Pasar Modal Syariah dengan tema "Memiliki perusahaan bukan sekedar impian". Acara dimulai pukul 08.30 pagi di hotel siliwangi, Diadakan workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengajak masyarakat awam untuk mengenal dan mengajak masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal syariah (saham syariah)dengan pemateri dari berbagai instansi.
Acara dimulai dengan sambutan dari ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah yaitu Bapak Hasan Toha. Selanjutnya yaitu penyampaian materi. Materi pertama di sampaikan oleh Bapak Erwan Abdallah (BEI) membahas mengenai investasi sama dengan dagang dan yang di cari adalah keuntungan. 
Beliau mengatakan menjadi investor atau saham yang handal ini mengetahui kapan beli dan kapan menjual. 
Pemateri kedua di sampaikan bapak Muhammad Bagus Teguh (DSN-MUI) yang menyampaikan mengenai Landasan Fiqh investasi dalam pasar modal syariah lebih spesifiknya beliau membahas mengenai saham. Dalam penyampaian materi, salahsatu peserta bertanya "apakah ada ketentuan khusus mengenai besar presentase keuntungan dalam pasar modal syariah?", ujar aziz.
"Pada dasarnya tidak ada ketentuan khusus mengenai berapa besar presentase keuntungan, namun sistem tentunya sudah diatur seberapa besar keuntungan maksimal", ujar bapak Bagus.
Kemudian untuk Pemateri ketiga di sampaikan bapak Deni (AB SOTS) yang menyampaikan mengenai Sharia Online Trading System. Beliau mengatakan untuk mendapat label syariah pada sistem tentunya bukan perusahaan sendiri yang menamainya, akan tetapi harus megikuti ujian tersendiri. Tiba pada acara penutupan, yakni diisi dengan foto dan makan siang bersama. 


Tour The Bank "CIMB NIAGA Syariah"

Wednesday, September 07, 2016 Add Comment

Semarang, 7 September Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan kunjungan ke Lembaga keuangan Syariah tepatnya di Bank CIMB NIAGA Syariah. Kunjungan ini merupakan salah satu program dari bidang kajian dan pelatihan. Acara dimulai pukul 10.15 pagi dan diawali dengan pembukaan oleh ibu Endang. Acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh ibu Devi dan bapak Doni dengan 
Isi materi sebagai berikut
1. Profile CIMB NIAGA Syariah , product knowledge ( akad, mekanisme, dan simulasi)
2. Job desk pegawai dan operasionalnya
3. Personality class
Tujuan dari kunjungan LKS ini adalah  Untuk menambah pengetahuan tentang lembaga keuangan khususnya perbankan syariah dan Untuk mengetahui praktek perbankan syariah/ untuk memadukan antara praktik dan teori tentang perbankan syariah serta merupakan program kerja sama untuk kader2 forSHEI supaya ikut gerakan bertransaksi di bank syariah,hal ini terbukti dengan dibukanya 18 rekening oleh kader2 ForSHEI. Kunjungan kali ini dihadiri oleh MPF,BPH dan  kader ForSHEI angkatan 2015 dan 2014. 
Acara selesai pukul 15.00 dilanjut dengan foto bersama didepan kantor Bank CIMB NIAGA.