Pos Asuransi Desa

Monday, December 04, 2017


Oleh : Itsna Tifani Barokatur Rizqoh

Menurut Kementerian Kesehatan angka bencana alam baik yang disebabkan oleh alam maupun non alam dan bencana sosial terjadi sekitar 1.338 bencana. Sedangkan dari korban bencana yang meninggal menurut perhitungan provinsi dan jenis bencananya pada tahun 2016 terdapat 855 korban jiwa. Sedangkan korban luka beratnya sekitar 3.922 dan luka ringan sekitar 41.034. Dari data tersebut dapat dipastikan tidak seluruhnya memiliki jaminan yang pasti dan terjamin. Dan itu sangat memberatkan masyarakat di kemudian hari.
Pemerintah untuk mengatasi hal tersebut memiliki banyak solusi. Dalam hal ini lebih difokuskan pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (sosial) yang mampu menopang kebutuhan yang tak terduga oleh masyarakat dikemudian hari. Tentu ini sangat membantu.
Asuransi adalah adalah salah satu bentuk usaha kita untuk menopang atau berjaga-jaga apabila dikemudian hari ada hal yang tidak diinginkan. Baik itu berbentuk kesehatan, jiwa, atau harta. Dalam hal ini akan lebih spesifik membahas tentang asuransi jiwa. Dari data yang diketahui bahwa dari 259 juta jiwa penduduk indonesia, hanya ada 87,19 juta jiwa pemilik asuransi jiwa ( data asosiasi asuransi jiwa indonesia (AAJI kwartal -2013)). Menurut survei world bank, hal ini menunjukan data terendah urusan dalam kualitas literasi finansial.  Dibandingkan Malaysia yang sudah mampu mencapai 45% dari jumlah penduduk apalagi Jepang yang dalam satu penduduk mmiliki hingga tiga polis. Bhkan Jepang dinobatkan sebagai negara yang mampu memaksimalkan sistem asuransi dengan sangat baik untuk warganya.
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi ketidakmauan masyarakat untuk mengikuti program asuransi yang mendasari setiap individu.  Faktor pertama adalah faktor pendidikan. Dapat dilihat sendiri secara riil, mereka yang memiliki pendidikan tinggi atau cendikiawan pasti lebih memperhatikan hal seperti ini karena pada dasarnya mereka lebih tahu dampak yang akan didapat dari program asuransi tersebut. Berbeda dengan mereka kaum awam akan lebih tidak tertarik terhadap hal seperti ini karena memang mereka tidak mengetahui secara pasti.
Faktor kedua adalah dari faktor geografis. faktor ini dapat diketahui dari kurang meratanya perhatian pemerintah terhadap setiap daerah di Indonesia.  Bisa dilihat bahwa mereka yang hidup di daerah pedesaan lebih sedikit mendapat perhatian dari pemerintah dari segi apapun.  Bahkan informasi pemerintahpun terkadang datang tidak tepat waktu karna kurang perhatian. Sedangkan mereka yang hidup diperkotaan lebih banyak mendapat simpati dari pemerintah karena relatif dekat. Ini yang menjadikan salah satu hal dari sulitnya asuransi bisa diterima oleh masyarakat.
Faktor selanjutnya adalah faktor sosialis. Dapat dipastikan orang yang sering bargabung atau bersosial dengan masyarakat akan lebih up to date  dengan info terbaru. Dan segala hal yang tersebar baik dari pemerintah atau komunitas lain. Kekurangan disini adalah bagi mereka yang sulit untuk bersosialisasi.  Mereka yang terlalu menutup dirinya dari masyarakat sekitar sehingga tidak memiliki pengetahuan lebih yang menyebabkan cukup sulit untuk diajak bekerja sama.
Faktor yang terakhir adalah faktor ekonomi.  Kebanyakan dari mereka yang tidak ingin bergabung dengan asuransi salah satu alasannya belum dapat menyisihkan uang untuk hal ini. Mereka beranggapan hanya untuk kebutuhan sehari-hari  saja belum terpenuhi apalgi untuk menyisihkan uang untuk asuransi. Berbeda dengan mereka orang kaya yang dapat menggunakan uangnya dengan mudah tanpa memikirkan efek yang lain.
Dari data di atas dapat dilihat bahwa pelitnya partisipasi masyarakat terhadap asuransi Indonesia yang bahkan hal ini sangat membantu masyarakat Indonesia sendiri. Hambatan-hambatan dari kurang berkembangnya asuransi di indonesia antara lain:  pertama, masyarakat berfikir bahwa adanya klaim yng tidak dibayarkan. Padahal sebenarnya  seluruh produk asuransi sudah memiliki syarat dan ketentuan mengenai hal-hal yang akan dibayarkan pada saat klaim. Maka pada saat ini butuhkan ketelitian dalam membeli produk asuransi, pembeli asuransi harus tahu jelas rincian dari segala hal yang berkenanaan dengan asurani tersebut.
Kedua, mereka belum merasa membutuhkan asuransi. padahal mereka sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi diwaktu yang akan datang, apakah mereka akan mendapat hambatan baik dari kesehatan, finansial, dan lain sebagainya.
Ketiga, banyak pula yang berpendapat bahwa menyimpan uang di bank lebih baik daripada berasuransi. Namun sayangnya pada praktiknya bisa saja uang yang disimpan tidak dapat dipakai pada saat itu juga. Sedangkan asuransi dengan membayar premi kecil dapat membantu untuk membayar pengobatan yang tentunya memperingan keuangan bahkan hingga proses kematian.
Dari faktor dan hambatan di atas maka dikeluarkannya gagasan baru yaitu dengan diadakannya pos asuransi desa yang diadakan di setiap pedesaan di Indonesia yang belum termaksimalkan program asuransinya.  Ini adalah inovasi baru yang sama sekali belum di terapkan di Indonesia yang mampu menarik minat masyarakat pada asuransi. Karna faktanya banyak negara maju yang sudah mampu mengimplementasikan untuk warganya.
Beberapa tahap-tahap dari pelaksanaan pos asuransi desa yaitu : yang pertama, analisis situasi praprogram, tahap awal program dimulai dengan analisis praprogram. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali permasalahan di lokasi yang menjadi target intervensi, data pendukungnya dan bagaimana bentuk partisipasi masyarakatnya. 
Kedua, Administrasi perizinan, yaitu pada tahap ini, dilakukan pengurusan hal-hal administratif atau legitimasi kegiatan antara masyarakat dengan pihak-pihak yang akan diajak untuk kerjasama. Ketiga, perekrutan peserta yaitu, perekrutan peserta dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan dan pembicaraan dengan pihak pemuka masyarakat setempat sebagai pihak yang mempunyai kuasa atas lokasi yang menjadi sasaran.
Keempat, Launching yaitu tahap pelaksanaan dimulai dengan launching program atau pembukaan program pengabdian secara resmi. Muatan program yang paling penting dalam acara pembukaan adalah memberikan orientasi dan motivasi kepada para peserta tentang pentingnya upaya pengunaan asuransi. Pada tahap ini dilakukan juga pendataan kembali peserta yang akan mengikuti program ini. Program tersebut dirasa kurang efektif jika tidak ada strategi di dalamnya, untuk itu perlu dibuat strategi agar program dapat berjalan secara terpadu. Strategi yang dimaksud adalah adanya kerjasama antara kader dengan pihak community leader,community organization, community fund, community material, community knowledge, community technology yang dapat terlibat mulai dari awal pembentukan program sampai program ini berakhir; serta perlu adanya modifikasi kegiatan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para kader. 
Kelima, tahap monitoring yaitu tahap monitoring ini dapat dilakukan oleh petugas kesehatan maupun pos yang bertanggung jawab untuk merekap hasil survei dari para kader. Tim monitoring ini dapat berupa kader PKK di tingkat RW dan dapat pula langsung kepada ketua RT/RW tergantung kesepakatan warga. keenam Rencana dan Evaluasi yaitu tahap evaluasi dilaksanakan dengan cara melakukan refleksi terhadap segala tahapan yang telah dilaksanakan.
Dengan dilakukannya evaluasi, diharapkan program yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan dapat berjalan lebih baik di masa depan. Setelah dilaksanakan tahap evaluasi, maka perlu pula dilakukan perencanaan program yang merupakan perbaikan dari program sebelumnya. 
Mitra Untuk  Membantu Mengimplementasikan Gagasan
Pihak-pihak di masyarakat setempat yang dipertimbangkan membantu mengimplementasikan gagasan yaitu community leader (aparat desa, tokoh masyarakat dan pemuka agama), community organization (kelompok dawis dan PKK), community fund (dana kesehatan dari PKK), dan community knowledge (petugas asuransi, petugas kesehatan, dll).
Strategi Pengimplementasian Gagasan
Strategi ini dapat dilakukan dengan bekerjasama pada salah satu perusahaan asuransi ternama yang membuat masyarakat lebih tertarik dan mudah memahaminya. Disini lebih dicenderungkan pada BPJS kesehatan. Karna salah satu usaha BPJS pada pengimplementasian asuransinya adalah mau bergabung dengan badan apapun (CCN 19/1/17)
Kesimpulan
Dari pentingnya berasuransi yang sudah dijelaskan karna begitu tingginya faktor korban bencana alam dan kasus penyakit lainnya. Maka salah satu usaha untuk mengantisipasinya adalah dengan menggunakan asuransi. Dengan faktor penyebab masyarakat yang sudah dijelaskan maka dapat diatasi dengan adanya program baru yaitu pos asuransi desa. Yang dapat dibantu oleh beberapa komunitas yang ada dan pengimplementasian gagasan yang efektif.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »