Pengaruh Revolusi Industri 4.0 terhadap Ekonomi Indonesia

Monday, January 28, 2019



Sumber: www.innovateexpo.com
 
Kata Revolusi Industri sungguh sudah tidak asing lagi di telinga kita bukan, saat ini Indonesia dalam hal perekonomiannya sering kali mengaitkan dengan adanya Revolusi Industri. Apa itu sebenarnya Revolusi Industri? Revolusi Industri sendiri memiliki pengertian dimana  Revolusi  yang memiliki arti  suatu perubahan secara cepat dan menyangkut dasar kehidupan masyarakat, dan Industri sendiri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku atau bahan setengah jadi menjadi barang yang bermutu dalam penggunaan nya untuk khalayak umum. Sedangkan Revolusi Industri adalah suatu perubahan yang terjadi secara cepat dalam pelaksanaan proses produksi atau cara pembuatan atau meningkatkan nilai guna suatu barang yang semula menggunakan tenaga manusia (tradisional) beralih dengan menggunakan peralatan mesin (modern).

Dunia kini telah memasuki Revolusi Industri ke-4 (Industry 4.0) dan dari perjalanan revolusi dunia, tentunya Indonesia harus siap dalam menghadapi kemajuan yang sama dengan negara lain yaitu dengan hadirnya Revolusi Industri ke-4 ini. Salah satu kemajuan yang sangat terlihat dari berbagai aspek ditinjau dari seberapa sering masyarakat gunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah internet.

Internet sangatlah penting dalam hal mendorong adanya revolusi industri yang akan berjalan dengan baik, tanpa bantuan internet, tentunya revolusi industri tidak dapat berjalan bukan? Menyinggung sedikit mengenai internet di Indonesia, internet sendiri masuk di Indonesia pada era tahun 1990-an. Saat itu, jaringan internet di  Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network, di mana semangat kerjasama dan gotong royong sangat hangat diantara para penggunanya. Setelah beberapa tahun internet masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hingga saat ini diperkirakan ada kurang lebih 143 juta pengguna internet di seluruh Indonesia, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Berbeda dengan suasana internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial dan individual disebagian aktivitasnya, terutama perdagangan internet yang tidak lain tidak bukan sangat erat kaitannya dengan sistem industri dan jalannya perekonomian di Indonesia.

Perkembangan ekonomi digital dilihat dari salah satu jasa online disini adalah dari penggemar jasa Go-Jek, dengan fitur-fitur yang ada pada aplikasi ini, banyak masyarakat yang mengapresiasi bahkan merasa setiap kegiatannya dapat terbantu dengan adanya jasa ini, menunjukkan kontribusi Go-Jek sebesar Rp 9,9 triliun per tahun terhadap perekonomian Indonesia. Nilai tersebut didapatkan dari kontribusi penghasilan mitra pengemudi Go-Jek sebesar Rp 8,2 triliun dan melalui mitra UMKM sebesar Rp 1,7 triliun setiap tahunnya.  Tidak hanya itu, satu dari sekian macam fitur online di Indonesia yang bisa memudahkan setiap aktivitas masyarakat di Indonesia, fitur online ini secara tidak sengaja mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia dan memunculkan banyak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) yang secara perlahan akan membuat yang tadinya hanya UMKM akan bisa jadi perusahaan besar bahkan membawa nama Industri Indonesia semakin besar kearah Internasional.

Indonesia semakin serius dalam persiapan masuk kedalam Revolusi Industri ke-4 ini,dan Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa “Industri ke-4 ini bahkan di proyeksikan bisa membawa Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara ekonomi terbesar didunia”, disampaikan dalam acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit tahun 2018 dan peluncuran Making Indonesia 4.0.

Hal-hal tersebut menggambarkan bahwa Indonesia telah masuk kedalam ekonomi digital secara tidak langsung, dan membuka pintu gerbang Revolusi Industri yang mana adalah agen perubahan pada segmen perindustrian yang semua di dasarkan dengan perubahan dengan aspek teknologi dan informasi.

Sedangkan Indonesia saat ini berada di urutan ke-10 perindustrian didunia dan berikut adalah perjalanan Revolusi Industri didunia:
  • Revolusi Industri yang pertama (Industry 1.0) ada pada tahun 1784 yaitu dengan ditemukannya mesin uap,penggunaan mesin uap dalam perindustrian.
  • Revolusi Industri yang ke-2 (Industry 2.0) dimulai tahun 1870 yaitu dengan ditemukannya listrik dan penggunaan mesin produksi massal bertenaga listrik/minyak.
  • Revolusi Industri yang ke-3 (Industry 3.0) dimulai tahun 1969 yaitu dengan adanya teknologi informasi dan di temukannya panel panel elektronik sehingga pekerjaan pabrik itu bisa di lakukan sistem otomatisasi.
  • Revolusi Industri yang ke-4 (Industry 4.0) yang saat itu diperkenalkan di mata dunia pada tahun 2011 dan berjalan hingga sekarang,yaitu dimana mesin mesin dapat terintegrasi dengan jaringan internet (internet of things).

 Pemerintah telah membuat Making Indonesia 4.0 sebagai roadmap untuk persiapan memasuki ranah Revolusi Industri ke-4 ini, selain potensi mendukung sektor Industri serta ekonomi nasional secara keseluruhan, beberapa kemungkinan dan berkembangnya teknologi dan digitalisasi sempat menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian kalangan. Penerapan industry 4.0 dapat meningkatkan produktifitas, penyerapan tenaga kerja dan perluasan pasar bagi seluruh aspek industri. Dengan penerapan Industry 4.0 ini dapat meningkatkan produktivitas, penyerapan tenaga kerja dan perluasan pasar bagi industri.

  Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa “Revolusi Industri merupakan era baru suatu industri yang berbasiskan teknologi informasi dimana sektor manufaktur harus siap menuju perubahan besar dalam menghadapi Revolusi Industri ke-4 atau industri 4.0. Pendekatan dan kemampuan baru di perlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan”. Terkait hal tersebut, Kementrian Perindustrian memfokuskan beberapa sektor industri yang di yakini dapat berkembang pesat baik dilingkup nasional maupun internasional. Berikut adalah Sektor industri yang siap menerapkan Industry 4.0, diantaranya:
  1. Industri Makanan dan Minuman.
  2. Industri Otomotif.
  3. Industri Tekstil dan Pakaian Jadi.
  4. Industri Elektronik.
  5. Industri Kimia
     Menteri Perindustrian (Kemenperin) Airlangga Hartarto menyampaikanDengan Industry 4.0 kita optimis industri manufaktur  semakin produktif dan berdaya saing sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional”.

         Beberapa sektor industri yang menjadi fokus utama  dalam revolusi industri 4.0 ini seperti yang telah disampaikan di awal tadi yaitu  industri makanan dan minuman, otomotif, elektronik, tekstil serta industri kimia. Dari kelima industri tersebut, yang diunggulkan dan dapat menembus pasar ASEAN diperkirakan adalah industri makanan dan minuman, di mana industri ini dikembangkan dan akan berpotensi lebih dengan pengembangan makanan dan minuman yang halal dan Indonesia mencoba membangun standarisasi untuk food safety pada tiap makanan yang disajikan. Bila industri makanan dan minuman ini berjalan dengan baik di dunia digital, maka Indonesia dapat masuk dipasar ekspor ASEAN dan dapat bekerja sama dengan negara-negara lain didunia.

      Terkait perihal di atas, disampaikan juga oleh Kementrian Perindustrian, ada beberapa kunci penguatan kebijakan dalam Revolusi Industri ke-4 ini yang di antaranya:
  • Pelaksanaan pendidikan vokasi dan penyelenggaraan pelatihan industri.
  • Pemanfaatan teknologi digital untuk membantu UKM dalam menembus pasar Internasional.
  • Adanya kolaborasi riset dan pengembangan.
  
   Ditemui dalam acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit tahun 2018 dan peluncuran Making Indonesia 4.0. Pada April lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan dalam pidatonya yaitu beliau yakin akan adanya kesuksesan yang dapat diraih dalam penerapan Industry 4.0 ini. “Saya yakin, industry 4.0 ini sebagai langkah awal agar berpotensi mendorong Indonesia untuk masuk ke 10 besar negara ekonomi terbesar di dunia, dan kelima industri itu sebagai acuan yang diharapkan membawa efek ungkit yang besar dalam daya saing dan kontribusi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia ditahun 2030 dan Saya yakin bahwa akan ada pembukaan 7 hingga 19 juta lapangan pekerjaan baru di tahun 2030. Dan Revolusi Industri 4.0 ini akan melahirkan jauh lebih banyak lapangan pekerjaan yang akan timbul dari pada lapangan pekerjaan yang akan hilang, jika kita semua sama sama bisa memanfaatkan peluang besar ini dengan persiapan dan perencanaan yang baik”.

        Saat ini Indonesia ada di 10% pekerjaan yang tergantikan oleh robot, dan kemungkinannya nanti akan meningkat di dalam proses manufakturing itu akan terjadi peningkatan penyerapan bahkan penurunan ketenagakerjaan, namun disisi lain dalam segmen pendukung sistem manufakturing itu akan terjadi peningkatan tenaga kerja, maka dari itu para tenaga kerja perlu di kembangkan lagi baik dalam skill ataupun yang lainnya untuk menyambut era revolusi industri itu sendiri.

         Pemerintah menghimbau bahwa adanya jalan yang seiring antara dunia pendidikan dan dunia ketenagakerjaan, di mana telah dikatakan di atas dengan diadakannya program pendidikan vokasi industri dan pemagangan pada dunia pendidikan dan akan timbul satu sisi baik antara SMK dengan politeknik dimana SMK mengajarkan pendidikan lebih ke bidang skill atau terjun langsung ke praktek dari pendidikan itu sendiri dan tentu sesuai dengan kurikulum pengajarannya juga perangkat kerjanya dapat disesuaikan dengan kerjasama pada industri yang ada di sekitarnya yang kiranya membutuhkan hal itu. Dalam hal ini peningkatan skill akan menjadi kunci dalam bonus demgrafi yang akan dialami di tahun 2030 dapat dimanfaatkan dengan maksimum untuk meningkatkan pertumbuhan.

    Persiapan yang di lakukan pemerintah untuk menyiapkan sektor  nasional dalam memasuki era revolusi industri ini memerlukan beberapa strategi diantaranya:
  • Memperkuat rantai suplai.
  • Membangun kawasan industri.
  • Menerapkan pembangunan berkelanjutan.
  • Mengembangkan industri kecil dan menengah dengan digital ekonomi.
  • Menyiapkan infrastruktur digital.
  • Menyiapkan ekosistem inovasi.
  • Menyiapkan intensif fiskal untuk inovasi.
  • Mengembangkan kemampuan SDM industri.
  • Menyiapkan kebijakan industri.
  • Mendorong peningkatan investasi.
             
         Pemerintah menargetkan bahwa Making Indonesia mendorong Industry 4.0 akan menumbuhkan PDB antara 1-2% per-tahun. Industri manufaktur sendiri diproyeksi memberikan kontribusi 26% dari total PDB pada tahun 2030. Indonesia harus optimis terhadap ketertinggalannya dalam revolusi industri ini dari negara-negara lain. Ditahun 2017 lalu memang kontribusi industri manufaktur itu ada di 20%. Target Industry 4.0 di Indonesia sendiri meliputi :
  • 10 besar ekonomi dunia.
  • Kontribusi ekspor 10% pada PDB.
  • Rasio produktifitas terhadap biaya (productifity to cost) naik 2 kali lipat (memimpin asia pasifik).
  • Revolusi teknologi industri manufaktur (anggaran R&D naik menjadi 2% dari PDB).
  
   “Pemerintah yakin dan akan menargetkan kontribusi Indonesia di 2030 akan naik 1-2% per-tahun. Jadi, ditahun 2030 paling tidak sudah di atas 25%, dan semua itu bisa terjadi apabila di lakukan hal terkait dengan aliran bahan baku hingga ekosistem, peningkatan kualitas tenaga kerja atau SDM, kemudian diberi inovasi sampai kemudahan regulasi yang nantinya akan mendukung proses produksi. Jika semua itu dilakukan dengan baik, pemerintah yakin target dan perubahan akan tercapai. Dan untuk kedepannya, pemerintah bersama presiden akan membuat suatu wadah yang di dalamnya berbagai lembaga kementrian dapat mengusulkan pendapat terbaiknya dan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan dan tentunya ini adalah suatu agenda nasional, bukan hanya agenda Kementerian Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin”. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin-Ngakan Timur Antara.

        Indonesia masih memiliki waktu 12 tahun untuk merealisasikan target 10 besar PDB di dunia pada tahun 2030. Pengembangan R&D, Indonesia pada PDB berada di tingkat 16 di dunia, dan pengeluaran R&D untuk Indonesia sendiri berada di tingkat 7 dengan 0,3%. Dalam penerapan Industry 4.0 ini pemerintah Kemenperin akan bekerjasama dengan Kemkominfo untuk mempersipkan jaringan internet 5G terutama di daerah-daerah perindustrian terlebih dahulu, dengan tujuan agar segala aspek yang dibutuhkan dalam komunikasi perindustrian berjalan dengan baik.


           Dalam sistem Industry 4.0 terdapat beberapa cara yang diterapkan oleh Kementerian Perindustrian agar dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi antara 12%-15% dan berikut cara yang di sampaikan oleh Menteri Perindustrian-Airlangga Hartarto diantaranya:

1. Mendukung E-SMART. Kementerian Perindustrian mendorong adanya E-Smart dan melakukan pelatihan agar dapat mendisplay agar akses industri dilakukan dengan online dan terbuka.
2. Memberikan Fasilitas KUR. Bekerja sama dengan Kementerian Perekonomian Indonesia, Kementerian Industri akan memberikan fasilitas KUR kepada usaha-usaha mikro, menengah , dan koperasi agar mereka memiliki prospek bisnis yang baik yang dapat diberikan perusahaan perorangan/kelompok usaha bersama. Dengan demikian, fasilitas modal kerja dan investasi dapat didorong.
3. Melakukan Inkobasi Pengetahuan. Pertukaran pengetahuan (dalam konteks pemikiran) dengan negara lain yang memberikan program yang akan didesain untuk membina dan mempercepat pengembangan inovasi di Indonesia.
4. Transformasi Link and Match


Dapat di tarik kesimpulan bahwa adanya Revolusi Industri akan membawa kita pada perubahan yang baik jika kita terus berjaga-jaga akan perkembangan dan pengaruh yang masuk kedalam bangsa kita ini. Dan target Indonesia dalam waktu dekat yaitu mempersiapkan sektor manufaktur nasional untuk siap menuju perubahan besar dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, kemampuan baru diperlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan. Karena perkembangan teknologi dan digitalisasi sempat menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa kalangan dimana akan tergantikannya lapangan pekerjaan oleh tenaga mesin, robot, maupun kecerdasan buatan. Meski demikian, Presiden dan Menteri Perindustrian Optimis bahwa akan ada banyak peluang kerja baru yang muncul seiring dengan perkembangan inovasi. Dalam dunia perindustrian akan ada teknis yang dilakukan dimana sekolah vokasi ataupun SMK dengan transformasi program link and match itu perlu dipersiapkan untuk pelatihan skill dan menghasilkan inovasi yang tinggi.
            Selain beberapa hal diatas, ada hal lain yang harus di fokuskan dala mengejar revolusi ini, Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain yaitu pada Infrastruktur Digital, karena dalam pengembangan ini membutuhkan anggaran yang tidak sedikit dan anggaran ini cukup besar juga cukup memakan waktu dan hal ini memerlukan dukungan dari tenaga kerja yang terampil terkait dengan masalah Infrastruktur Digital ini.
 
 

Oleh: Widyaningsih (Kader 2018)





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »