Mengenal Lebih Dekat dengan Cash Waqf Linked Sukuk

Wednesday, November 27, 2019 Add Comment
Sumber: sarjanaekonomi.co.id

1.      Pengertian Cash Waqf Linked Sukuk
Merupakan salah satu bentuk investasi sosial di Indonesia dimana wakaf uang yang dikumpulkan oleh Badan Wakaf Indonesia selaku Nazhir melalui BNI Syariah dan Bank Muamalat Indonesia sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) akan dikelola dan ditempatkan pada instrumen Sukuk Negara atau SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) yang diterbitkan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu).

2.      Pihak yang terlibat di dalam Cash Waqf Linked Sukuk
Cash Waqf Linked Sukuk melibatkan lima stakeholders yaitu:
a.      Bank Indonesia sebagai akselerator dalam mendorong implementasi Cash Waqf Linked Sukuk  dan Bank Kustodian.
b.     Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai regulator, leader dan Nazhir yang mengelola Cash Waqf Linked Sukuk.
c.       Kementerian Keuangan sebagai issuer SBSN dan pengelola dana di sektor riil.
d.       Nazhir Wakaf Produktif sebagai Mitra BWI yang melakukan penghimpunan dana wakaf.
e.     Bank Syariah (Bank Muamalat Indonesia dan BNI Syariah) sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dan Bank Operasional BWI.

3.      Skema Cash Waqf Linked Sukuk
BWI selaku pengelola dana wakaf menginvestasikan dana wakaf dalam sukuk negara, selanjutnya return dari imbal hasil sukuk negara tersebut disalurkan oleh BWI melalui mitra nazhir penyaluran untuk pembiayaan kegiatan sosial dan untuk pembiayaan pembangunan proyek sarana dan prasarana sosiala yang akan menjadi aset wakaf. Pada saat jatuh tempo sukuk tempo negara, dana tunai pelunasan dikembalikan oleh BWI kepada para pewakaf 100%.

4.      Kriteria dan Fitur Cash Waqf Linked Sukuk
a.      Jangka waktu (tenor) pembayaran sukuk kurang dari 5 tahun.
b.     Sukuk tersebut tidak dapat diperdagangkan di pasar bebas (nontradable).
c.    Pembayaran imbalan sukuk secara diskonto dan tingkat imbalan tetap yang dibayarkan secara periodik.
d.     Hasil penerbitan Sukuk Negara seri SW dimanfaatkan untuk pembiayaan APBN, termasuk untuk membiayai pembangunan proyekproyek layanan umum masyarakat seperti pembangunan infrastruktur pendidikan dan layanan keagamaan.
e.    Imbal hasil atau kupon dari wakaf uang yang ditempatkan pada Sukuk Negara seri SW akan disalurkan untuk mauquf ’alaih.
Proses pembelian sukuk bisa dilakukan kapanpun selama jumlah dana yang disepakati dengan Kementerian Keuangan sudah terkumpul. Khusus untuk sukuk wakaf, Kemenkeu tidak menerapkan periode penawaran dan proses tender. Jadi kapan saja uang terkumpul sebesar Rp50 miliar di bank operasinal yang ditunjuk BWI (BNI Syariah dan Muammalat) maka akan diterbitkan sukuknya. Masyarakat yang mau mewakafkan uangnya melalui Cash Waqf Linked Sukuk saat sudah difasilitasi melalui akses langsung di Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU).
LKS-PWU yang telah menekan kerjasama dengan BWI adalah Bank BNI Syariah, Bank Muamalat, Amanah Fintech, Baitul Maal Hidayatullah , Mandiri Amal Insani Foundation, Wakaf Daarut Tauhid, Dompet Dhuafa, Global Wakaf, Rumah Wakaf, Sinergi Foundation, Yayasan Wakaf Bangun Burani Bangsa, Wakaf Al-Azhar.

5.      Kelebihan Cash Waqf Linked Sukuk
a.       Aman, karena CWLS dijamin oleh Negara.
b.      Produktif, karena memberikan imbal hasil yang bisa diperuntukkan bagi mauquf ’alaih.
c.       Berkah, karena imbal hasilnya dipergunakan untuk kepentingan public dan sosial.
d.   Longlasting, memiliki manfaat tak terputus karena asset wakaf bersifat abadi dan terus dimanfaatkan selamanya.



Sumber:

Sharia Economic Event (SHEVENT) 2019

Saturday, November 23, 2019 Add Comment

Semarang, 22/11 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan SHEVENT (Sharia Economic Event) 2019. Acara ini  bertemakan “Aktualisasi Sumber Daya Insani dalam Pengembangan Mutu Local Wisdom” yang terdiri dari beberapa lomba yaitu lomba Essay, Infografis, dan Olimpiade Ekonomi Islam. Lomba Olimpiade  Ekonomi Islam berlangsung selama dua hari pada hari Kamis-Jum’at, 21-22 November 2019 bertempat di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang.

Lomba ini diikuti oleh 36 perserta dari 12 KSEI Se-Komisariat Semarang. Masing-masing tim yang beranggotakan 3 orang ini mengikuti serangkaian tahap perlombaan yaitu babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final.

Babak penyisihan dilaksanakan pada hari Kamis dengan masing-masing tim mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh panitia. Dari babak penyisihan ini terdapat 6 tim dengan poin tertinggi untuk mengikuti babak selanjutnya, yaitu babak semifinal. Adapun 6 tim yang lolos untuk mengikuti babak semifinal adalah 3 tim dari KSEI FE UNNES dan 3 tim dari KSEI FEB UNDIP.

Babak semifinal dilaksanakan pada hari Jum’at mulai pukul 09.00 WIB. Babak semi final ini terdiri dari beberapa sesi yaitu sesi pertanyaan wajib dengan 10 soal berketentuan 10 poin untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah, sesi rebutan dengan 10 soal berketentuan 10 poin untuk jawaban benar dan -5 poin untuk jawaban salah, dan sesi trivial dengan 10 soal berketentuan 10-100 poin untuk jawaban benar dan dikurangi setengah poin benar untuk jawaban salah. Dari babak semifinal tersebut diambil 4 tim dengan poin tertinggi untuk mengikuti babak final yaitu, tim E (KSEI FE UNNES) dengan 85 poin, tim D (KSEI FEB UNDIP) dengan 40 poin, tim C (KSEI FE UNNES) dengan 25 poin, dan tim F (KSEI FEB UNDIP) dengan 25 poin.

Pada babak final, 4 tim yang lolos diberikan jeda waktu 10 menit untuk mempersiapkan diri, terhitung dari selesainya babak semifinal. Masing-masing tim diberikan kesempatan untuk mengambil undian nomor tampil dan studi kasus yang akan mereka pecahkan untuk dipresentasikan. Para tim diberikan waktu 10 menit untuk menganalisis dan memecahkan sebuah studi kasus yang selanjutnya dipresentasikan selama 5 menit. Para tim juga mendapatkan 1 pertanyaan dari juri dan 1 pertanyaan dari lawan dengan waktu 3 menit. Dari babak final diperoleh tim dari Saudari Rizka Ulya (KSEI FEB UNDIP) sebagai juara 1 dengan 77,1 poin, tim dari Saudara Kurniawan (KSEI FE UNNES) sebagai juara 2 dengan 76,5 poin, tim dari Saudari Erna Fatmawati (KSEI FEB UNDIP) sebagai juara 3 dengan 76,2 poin, dan tim dari Saudari Ari Hapsari (KSEI FE UNNES) sebagai juara harapan dengan 73,8 poin.

Lomba essay berlangsung pada hari Jum’at, 22 November 2019 bertempat di Auditorium I  kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Lomba ini diikuti oleh 21 peserta yang terdiri dari 7 tim. Masing-masing tim beranggotakan 3 orang. Lomba dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan presentasi dari masing-masing tim dan sesi tanya jawab. Presentasi dilakukan sesuai dengan nomor undi yang telah didapat. Presentasi pertama disampaikan oleh KSEI FEB UNDIP. Kedua, disampaikan oleh KSEI UNISSULA dan dilanjutkan oleh KSEI FE UNNES. Lalu presentasi keempat disampaikan oleh KSEI FE UNNES dilanjutkan oleh KSEI FEB UNDIP. Dilanjutkan presentasi oleh KSEI COMES STIE BPD JATENG dan yang terakhir sebagai penutup oleh KSEI FE UNNES. Dari perlombaan ini diperoleh tim dari Saudari Dinda Ayu (KSEI FE UNNES) sebagai juara 1 dengan  164,375 poin, tim dari Saudari Nanda Lestari (KSEI FE UNNES) sebagai juara 2 dengan 146,75 poin, dan tim dari Saudari Ananda Genta Tribuana (KSEI COMES STIE BPD JATENG) sebagai juara 3 dengan 145,75 poin.

Lomba infografis mengangkat tema “Sejarah Awal Masuknya Agama Islam di Indonesia” yang bertempat di Auditorium I kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Presentasi yang pertama disampaikan oleh Saudari Nurhayati Al Ismi Arif (KSEI JAZIRAH POLINES), kedua disampaikan oleh Saudara Falah Hikamudin Arby (KSEI UNISBANK), ketiga disampaikan oleh Saudari Wahyu Lia Wulandari (KSEI FE UNNES),  keempat disampaikan oleh Bambang Nurdiansyah (KSEI HIMMAH UNISSULA), kelima disampaikan oleh Saudari Rizqi Purwaningrum (KSEI UNIMUS), keenam oleh Saudari Yuwanisa Maulana Primayanti (KSEI FEB UNDIP), ketujuh disampaikan oleh Saudari Melia Rizki Fitriana (KSEI COMES STIE BPD JATENG). Yang terakhir disampaikan oleh Saudari Annisa Indah Febriana (KSEI FE UNNES).

Dari lomba Infografis ini Saudari Yuwanisa Maulina Primayanti (KSEI FEB UNDIP) sebagai juara 1 dengan 82,5 poin, Saudara Falah Hikamudin Arby (KSEI UNISBANK) sebagai juara 2 dengan 79 poin, dan Saudari Wahyu Lia Wulandari (KSEI FE UNNES) dengan 72,25 poin.

Acara berlangsung lancar dan diharapkan dengan acara ini, semua KSEI dapat ikut andil dalam membumikan ekonomi Islam dan dapat terus mendalami serta memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan tentang ekonomi Islam. Selain itu, diharapkan dengan acara ini, aktualisasi sumber daya insani dalam pengembangan mutu local wisdom seperti tema yang diusung dalam acara SHEVENT ini dapat terlaksana.


Sosialisasi OJK To Millennial

Friday, November 22, 2019 Add Comment


Semarang, 21/11/2019 – Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan OJK To Millennial. Kegiatan ini mengangkat tema “Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Meningkatkan Perekonomian Jawa Tengah melalui Pengembangan Keuangan Syariah” yang bertempat di Auditorium I lantai 2 Kampus I UIN Walisongo Semarang. Pembukaan OJK To Millennial dipandu oleh Saudara Maulana Ajalun Natiq dan Saudari Seila Rasya Rizkia. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an serta menyanyikan Indonesia Raya dan Mars FoSSEI, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh ketua umum forshei Saudara Nur Ma’arif, sambutan kedua oleh Bapak Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag selaku Dekan III Fakultas Syari’ah dan Hukum.

Selanjutnya memasuki acara inti yaitu sosialisasi OJK To Millennial. Dalam sosialisasi ini disampaikan oleh Bapak Supriyatno, S.H., M.H. selaku perwakilan dari Pemprov Jawa Tengah. Beliau menyampaikan mengenai bagaimana strategi Pemerintah Jawa Tengah dalam mendongkrak perekonomian provinsi Jawa Tengah khususnya melalui UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Jumlah usaha di Jawa Tengah saat ini sudah mencapai 4.174.210 unit. Tetapi dalam pelaksanaannya, ada beberapa permasalahan yang ditemui dalam pengembangan UMKM. Salah satunya adalah adanya inovasi dan potensi yang bagus tetapi terhambat dalam hal pemasaran. Pentingnya peran UMKM dalam perekonomian Jawa Tengah sehingga dengan optimalisasi UMKM dapat meminimalisir banyaknya pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan. Jadi, sebenarnya Pemprov Jawa Tengah sudah menyediakan fasilitas yang banyak tetapi kurang dalam mensosialisasikan kepada masyarakat. Untuk itu, peran kita sebagai generasi milenial adalah sebagai intermediasi antara pemerintah kepada masyarakat.

Lalu penyampaian oleh Bapak Fanny Hanadi Arbi  selaku perwakilan dari OJK. Beliau menyampaikan mengenai bagaimana peran OJK dalam perekonomian Jawa Tengah melalui pengembangan keuangan syari’ah. Pertumbuhan ekonomi syari’ah di Indonesia menunjukkan peningkatan secara bertahap dalam Perbankan Syari’ah, Pasar Modal Syari’ah, dan sektor Industri Keuangan Non-Bank Syariah. Misalnya dalam pasar modal syari’ah yang  menunjukkan jumlah emiten syari’ah semakin banyak. Perbankan Syari’ah secara nasional dari tahun 2018-2019 menunjukkan peningkatan dari aset dana pihak ketiga maupun pembiayaan. Lalu bagaimanakah program OJK dalam pengembangan keuangan syari’ah? di dalam OJK terdapat 3 program yang dilakukan yaitu Perbankan Syari’ah, Pasar Modal Syari’ah dan Industri Keuangan Non-Bank Syariah dengan cara peningkatan kualitas kelembagaan, kesediaan produk dan inklusi produk. Beliau juga menyampaikan bahwa era sekarang bukanlah era kompetisi yang menyebabkan ketertinggalan  tetapi merupakan era kolaborasi untuk maju bersama-sama.

OJK To Millennial merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam Sharia Economic Event 2019 (SHEVENT 2019). Sharia Economic Event (SHEVENT) yaitu program kerja tahunan FoSSEI Komisariat Semarang yang berisi kegiatan lomba bagi seluruh KSEI se-Komisariat Semarang, tujuannya untuk menggali potensi mahasiswa KSEI dalam keilmuan ekonomi Islam melalui rangkaian lomba. Tahun 2019 UIN Walisongo Semarang berkesempatan menjadi tuan rumah SHEVENT dengan mengangkat tema “Aktualisasi Sumberdaya Insani dalam Pengembangan Mutu Local Wisdom”. Rangkaian lomba SHEVENT 2019 ada tiga macam yaitu lomba olimpiade ekonomi Islam, lomba essay, dan lomba infografis. Sedangkan jumlah peserta yang mengikuti lomba berjumlah 95 peserta yang terdiri dari 12 KSEI se-Komisariat Semarang.

Harapan diadakannya acara Sosialisasi OJK To Millennial ini agar kegiatan sosialisasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua dalam mengetahui peran dari Otoritas Jasa Keuangan dalam meningkatkan perekonomian Jawa Tengah melalui pengembangan keuangan syari’ah dan peran Pemprov dalam pengembangan UMKM di Jawa Tengah. Acara ini selesai pada pukul 11.30 WIB. Selanjutnya acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada perwakilan OJK serta foto bersama.


Oleh :
Umi Qonita Mahmudah (kader 2018)
Fitra Istianah Turahman (kader 2019)

E-Magazine Falah Edisi XI "Startup Penggerak Ekonomi Indonesia Ala Milenial"

Thursday, November 21, 2019 Add Comment


Startup adalah semua perusahaan yang belum lama beroperasi atau perusahaan rintisan. Startup menjadi salah satu stategi bisnis di era revolusi industri 4.0 dimana kegiatan dalam perusahaan menggunakan teknologi digital. Selain itu startup dapat melahirkan perusahaan yang berkualitas dan memberikan dampak positif dalam mengatasi permasalahan- permasalahan yang terjadi dimasyarakat salah satunya dalam menyediakan lapangan pekerjaan. sehingga dapat menjadi senjata baru bagi penggerak ekonomi suatu negara. Bahkan, di Indonesia kabarnya tahun 2020 diprediksi area digital ini mampu menyumbang 11 persen Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp 1.831 triliun (Republika.co.id).

Dengan adanya hal tersebut banyak para pemuda millenial mencoba menuangkan ide-ide kreatifnya yang bermunculan dari permasalahan kehidupan yang ada disekitar kita menjadi sebuah Startup atau perusahaan rintisan. Kita perlu anak muda talenta di bidang teknologi, agar lebih banyak lahir perusahaan rintisan, startup yang berbasis teknologi" kata Jokowi. Startup Indonesia telah mendapatkan peringkat pertama di ASEAN. Tercatat sudah ada 5 startup unicorn di Indonesia dan salah satunya sudah masuk dalam startup decacorn. 992 startup Indonesia telah tercatat dalam Mapping & Database Startup Indonesia 2018 oleh BEKRAF.

Ekonomi Islam juga ikut berperan aktif dalam peningkatan perekonomian masyarakat melalui startup berbasis syariah seperti SyarQ dan GoHalalGo. Paradigma yang ada di ekonomi Islam menempatkan keadilan ekonomi sosial menjadi tujuan utama yang membantu mewujudkan kesejahteraan manusia melalui usaha bisnis yang sesuai dengan Maqasid Syariah yang mencakup perlindungan iman, kehidupan, keturunan, intelektual dan kekayaan.

Berangkat dari realita tersebut, kader forshei tertarik untuk menuangkan pemikiran dan pendapatnya ke dalam Majalah Falah edisi 11, dengan tema "Startup Penggerak Ekonomi Indonesia Ala Milenial"

Baca E-Magazine Falah edisi X disini


Teori Produksi dan Konsumsi Menurut Konvensional dan Islam

Sunday, November 17, 2019 Add Comment
 
Sumber: blog.xendit.co

A.    TEORI PRODUKSI
·         Teori Produksi Konvensional.
Produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa, untuk kegiatan mana dibutuhkan faktor-faktor produksi dalam ilmu ekonomi berupa tanah, tenaga kerja, dan skill (organization, managerial, dan skills). Tujuan produksi dalam konvensional adalah untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya.
·         Teori Produksi Islam
Produksi menurut Kahf dalam prespektif Islam sebagai usaha manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materilnya, tetapi juga moralitasnya, sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup dalam agama Islam, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Perintah produksi dalam Islam terdapat dalam QS. Yasin ayat 33-35. Tujuan utama produksi dalam Islam adalah memaksimalkan maslahah. Produsen tidak hanya mengejar keuntungan maksimum saja, tetapi juga mengejar tujuan yang lebih luas yaitu falah dunia dan akhirat.

B.     TEORI KONSUMSI
·         Teori Konsumsi Konvensional
Konsumsi adalah kegiatan manusia menggunakan atau memakai barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Mutu dan jumlah barang atau jasa dapat mencerminkan kemakmuran konsumen tersebut, semakin tinggi mutu dan jumlahnya berarti semakin tinggi pula tingkat kemakmurannya, dan sebaliknya. Tujuan konsumsi adalah untuk mencapai kepuasan maksimum dari kombinasi barang dan jasa yang digunakan.
·         Teori Konsumsi Islam
Konsumsi dalam prespektif Islam, adalah pemenuhan kebutuhan barang dan jasa yang memberikan maslahah/ kebaikan dunia dan akhirat bagi konsumen itu sendri. Pola konsumsi dalam islam yaitu: mengutamakan akhirat dari pada dunia, konsisten dalam prioritas dan pemenuhannya, serta memperhatikan etika dan norma.
Prinsip-prinsip konsumsi dalam Islam yaitu:
1)      Prinsip Keadilan
2)      Prinsip Kebersihan
3)      Prinsip Kesederhanaan
4)      Prinsip Kemurahan Hati
5)      Prinsip Moralitas
Dalam berkonsumsi, Islam mengajarkan untuk memastikan barang atau jasa tersebut dijamin kehalalannya, toyyib yakni bermanfaat lebih dan terhindar dari kemudharatan, serta larangan berlebih-lebihan (israf) yang mengakibatkan mubadzir dan menghambur-hamburkan uang.


Sumber:
Karim, Adiwarman A. 2002. Ekonomi Mikro Islam. Edisi ke III. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Muhammad. 2014. Ekonomi Mikro dalam Prespektif Islam. Yogyakarta: BPFE

Diolah oleh Tim forshei materi

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah)

Wednesday, November 13, 2019 Add Comment
 
Sumber: bernas.id
UMKM adalah sektor yang sangat penting dan mempunyai peran strategis bagi pembangunan ekonomi nasional. UMKM tidak hanya berperan dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menyerap tenaga kerja. Ini dibuktikan pada saat krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 jumlah UMKM mengalami peningkatan dan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 85 juta sampai 107 juta sampai tahun 2012. Dan jumlah pengusaha di Indonesia pada tahun 2012 mencapai angka 56.539.560 unit, yang terdiri dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 56.534.592 unit atau 99.99%. Sisanya, sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah usaha besar (Badan Pusat Statistik).
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 UMKM diibagi menjadi 3 dengan pembagian bidang usaha, Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah yaitu:
1.     Usaha Mikro adalah usaha produktif milik perorangan dan atau badan usaha yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang.
2.     Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.
3.      Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang Undang ini.
Dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 pasal 6 mendefinisikan UMKM adalah nilai kekayaan bersih atau nilai aset, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau hasil penjualan tahunan dengan kriteria yaitu:
1.    UMI (Usaha Mikro) adalah unit usaha yang memiliki nilai aset paling banyak Rp 50 juta, atau dengan hasil penjualan tahunan paling besar Rp 300 juta.
2.    UK (Usaha Kecil) adalah unit usaha yang memiliki aset lebih dari Rp 50 juta sampai paling banyak Rp 500 juta, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta hingga maksimum Rp 2.500.000.000.
3.   UM (Usaha Menengah) adalah perusahaan dengan nilai kekayaan bersih lebih dari Rp 500 Juta hingga paling banyak Rp 10 milyar, atau memiliki hasil penjualan tahunan diatas Rp 2.500.000.000 sampai paling tinggi Rp 50 milyar.
UMKM juga dikelompokan dalam prespektif usaha yang dibedakan menjadi empat kelompok yaitu:
1.     UMKM sektor informal, contohnya pedagang kaki lima.
2.   UMKM Mikro adalah para UMKM dengan kemampuan sifat pengrajin namun kurang memiliki jiwa kewirausahaan untuk mengembangkan usahanya.
3.    Usaha Kecil Dinamis adalah kelompok UMKM yang mampu berwirausaha dengan menjalin kerjasama (menerima pekerjaan sub kontrak) dan ekspor.
4.     Fast Moving Enterprise adalah UMKM yang mempunyai kewirausahaan yang cakap dan telah siap bertransformasi menjadi usaha besar.

Sumber:
Bank Indonesia dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Profil Bisnis Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM).
Tulus Tambunan, Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Indonesia ,LP3ES Jakarta: 2012, hlm 12.

Diolah oleh Tim forshei materi