GEN Z KAYA TEKNOLOGI TAPI KOK TETAP MERASA MISKIN?

 


Ada satu hal yang mungkin sering kita rasakan sebagai anak muda sekarang, “Gaji segini kok rasanya masih kurang ya?”.

Padahal jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, sebenarnya Gen Z hidup dengan banyak kemudahan. Mau makan tinggal buka HP, mau belanja tinggal buka HP, sampai belajarpun tinggal buka HP. Yang gak habis pikir cari uangpun sekaramng bisa lewat HP.

Tapi anehnya dibalik semua kemudahan itu malah banyak yang merasa hidupnya semakin berat, bahkan perdetik ini angka kejahteraan di Indonesia masih tergolong cukup besar. Jadi sebenernya Gen Z itu miskin atau kehidupan sekarang yang semakin mahal?

Kalo ngomongin ekonomi dan gaya hidup Gen Z, jawaban paling sederhananya adalah, karena anak muda sekarang terlalu banyak gaya. Kopi, nongkrong, konser, skincare, traveling sampai belanja online sering dianggap sebagai penyebab kenapa uang cepat habis.

Memang gaya hidup punya pengaruh yang cukup besar. Kita juga tidak bisa mengelak kalau banyak pengeluaran yang sebenarnya gak penting-penting amat. Tapi menyalahkan itu semua untuk harga satu rumah agaknya juga kurang tepat.

Banyak anak muda sekarang sebenarnya masih bisa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tapi ketika mulai bicara masalah tentang masa depang udah beda cerita. Mungkin gajinya cukup untuk kebutuhan sebulan tapi juga belum tentu cukup untuk membeli rumah atau bahkan menyimpan sendiri untuk dana darurat. Bukan tidak punya uang, masalahnya uang yang kita miliki terasa tidak pernah cukup untuk mengejar itu semua.

Kita bisa membelibanyak hal trapi belum tentu kita bisa memiliki aset. Coba lihat kehidupan sekarang?. Dengan uang yang yang tidak begitu banyak kita bisa membeli makan, ngopi, pakain atau barang lainya lewat marketplace. Yang lebih gilanya semua itu bisa dilakunan hanya dengan sekali klik. Tapi coba kita rencankan untuk beli rumah atau aset yang lainnya?. Ceritanya pasti beda. Banyak yang harus di pertimbangin, ada uang muka, cicilan, biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari dan banyak pengeluaran lain yang harus dipikir.

Gen Z mungkin punya akses konsumsi yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Tapi akses untuk memiliki aset belum tentu ikut membesar. Dan mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak anak muda merasa hidupnya tertinggal.

Kemudahan internet dan akses informasi tenyata juga punya dampak buruk terhadap pola konsumsi Gen Z. Setiap hari kita melihat teman atau orang lain di sosial media, ada yang liburan, beli mobil, bangun bisnis, atau sebatas memamerkan kekayaannya. Kelamaan muncul pertanyaan. Ko aku belum bisa kaya dia nyah?.

Padahal kita hanya meliahat apa yang mereka tunjukan, kita gak pernah tau apakah barang yang mereka beli itu dicicil ataupun milik orang lain. Kita juga gak pernah tau seberapa banyak hutang mereka, kita juga gak pernah tau gimana kehidupan mereka sebenarnya dibelakang kamera.

Tapi karena kita terus melihatnya pada akhirnya, kehidupan orang lain menjadi standar bagi kehidupan kita sendiri.

Yang membuat kita merasa miskin bukan isi rekening, tapi karena kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Jadi siapa yang salah?. Kalo ditanya siapa siapa yang salah kita tidak bisa menujuk satu pihak. Gen Z juga perlu untuk belajar mengatur pola hidup dan keuangannya. Jangan sampai penghasilannya habis hanya untuk mengikuti trend belaka.

Tapi kita juga gak bisa menutup mata bawa kondisi ekonomi sekarang juga punya pengaruh besar. Harga rumah, bahan pokok, pendidikan, bahkan biaya hidup yang lain semuanya naik. Jadi jangan selalu mengatakan kurangi ngopi kalo mau punya rumah. Berhemat tetap penting tapi persoalan ekonomi yang membuat anak muda sulit membangun masa depan juga harus dipertimbangkan.

Mungkin Gen Z bukan generasi yang paling miskin. Kita hanya hidup di zaman yang punya lebih banyak pilihan, sekaligus banyak tekanan. Kita dituntut punya karier, haruspunya tabungan, harus produktif, dan harus punya pengalaman. Dan di saat yang sama kita juga melihat orang lain terus berkembang lewat media sosial Padahal hidup kita bukan perlombaan.

Karena pada akhirnya kaya bukan hanya soal berapa banyak barang yang bisa kita beli. Kaya juga berarti punya cukup ruang untuk hidup tanpa terus menerus takut tentang hari esok.

 

 Oleh: Ahmad Saefuddin