LUKUTUKE BERSATU SALING MELINDUNGI

LUKUTUKE BERSATU SALING MELINDUNGI

Wednesday, March 06, 2013 Add Comment
Siang yang redup ditemani dengan awan kabut dan rintik hujan di pegunungan Rinjani tidak selalu menjadi indah, tak terkecuali bagi Ibu Rusty. Cuaca yang sejuk dengan hadirnya kabut dan pemandangan yang indah dengan hamparan hehijauan serta gagahnya Gunung Rinjani justru bertolak belakang dengan isi hati Ibu Rusty. Siang itu Ibu Rusty sedang berkunjung ke rumah saudara di desa Lukutuke yang terletak di lereng Gunung Rinjani. Pemandangan yang indah dan suasana pegunungan yang mempesona justru bukan menjadi perhatian ibu Rusty melainkan sederetan panjang orang yang sedang mengantri untuk mendapatkan sejerigen air di tepi sungai.
“Bagaimana bisa, daerah pegunungan yang kaya akan sumber daya alam bisa kekurangan air” batin ibu Rusty. Hamparan kabut yang semula berwarna putih bak baju kebesaran bagi kegagahan Gunung Rinjani seolah berubah menjadi kabut hitam tebal. Hati ibu Rusty miris melihat fakta di depan mata, fakta bahwa ternyata masih ada orang-orang yang kekurangan air bersih di tengah-tengah pegunungan yang seharusnya mempunyai sumber air yang melimpah, fakta bahwa sederetan orang sedang mengantri mendapatkan air, fakta bahwa saudaranya ikut mengantri di antara deretan orang-orang tersebut dan fakta bahwa krisis moneter pada tahun 98 ternyata masih di susul krisis air di daerah yang mungkin kurang terkenal namanya.
Dalam batinnya terlintas “salah siapakah ini?, salahkah alam yang tidak memberikan air?, salahkan Tuhan yang hanya memberikan sedikit air? Salahkah orang-orang yang mengantri atau salahkah wakil rakyat yang sedang duduk-duduk dikursi kebanggaan dengan suguhan air mineral bermutu tinggi?. Waallah hu aa’lam. Yang jelas lamunan ibu Rusty harus bersambung sebentar karena sapaan seseorang yang tak lain adalah saudaranya Ibu Fatimah. Mereka lekas berjalan menuju rumah ibu Fatimah menyusuri jalan setapak dengan belahan-belahan batu yang disusun secara manual. Senyum, canda, tawa dan saling bercerita menghiasi perjalanan mereka menuju rumah Bu Fatimah.
Sesampainya di rumah ibu Fatimah, mereka melanjutkan obrolan untuk hanya melepas rindu karena sudah hampir 3 tahun mereka tidak bertemu. “kenapa sampai harus mengantri hanya untuk mendapatkan air, bukankah di sini begitu banyak sumber air bersih?” Tanya ibu Rusty kepada ibu Fatimah. “itu dulu, sebelum Rinjani marah dan memuntahkan semua isi perutnya sehingga matrial yang dikeluarkan oleh Gunung Rinjani menutupi sumber-sumber mata air di desa kami, dulu sumber mata air begitu melimpah, tanah kami subur dan desa kami merupakan salah satu objek wisata yang digemari para pencinta alam yang ingin menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Namun kini semuanya telah sirna sejak letusan Gunung Rinjani pada tahun 2008 silam, muntahan larfa dan material fulkanik menutupi anak sungai yang dulu mengaliri kebutuhan air untuk pemukiman warga, airnya begitu jernih bahkan menurut penelitian, air yang mengalir kepumikiman kami layak untuk langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Entah apa salah kami sehingga Allah murka dan memerintahkan Rinjani untuk memuntahkan isi perutnya. ” terang dari ibu Fatimah.
Setelah bercerita panjang lebar akhirnya Ibu Rusty berniat untuk membantu masyarakat desa lakatuke untuk mencari solusi jalan keluar dari krisis air. Jiwanya merasa terpanggil dengan setiap jeritan masyaraat Lukutuke, merasa miris ketika harus melihat masyarakat mengantri memperoleh air dan merasa miris karena di antara mereka yang mengantri adalah saudaranya sendiri ibu Fatimah. Malam itu ditutup dengan secangkir teh panas dan sepiring ubi rebus sebelum mereka semua beranjak tidur.
Malam bermandikan bulan. Cahaya berbintang berpendar-pendar menyibak awan dan kabut yang berarak bagai lukisan. Seekor kelalawar terbang sendirian seakan-akan membawa pesan tentang sunyi dan kesepian, menari berkelebat berputar-putar dan melesat cepat beberapa senti di atas kepala. Ibu Rusty berkali-kali mencoba memejamkan matanya namun tak kunjung bisa. Bayangan akan penderitaan dan jeritan warga Lukutuke seakan-akan berada di depan mata dan melengking berada di telinga. Ia mencoba menepiskan semua itu namun tak bisa. Lalu ia ambil air wudhu dan shlat da rakaat.
Setelah sholat Ia coba buka laptopnya. Ia kirim beberapa e-mail keteman dan beberapa LSM yang ia kenal, menyampaikan bahwa ada daerah pegunungan yang membutuhkan banyak bantuan untuk mengentaskan diri dari krisis air. Selain sebagai ibu rumah tangga Ibu Rusty adalah seorang aktifis perempuan di LSM yang ada di Nusa Tenggara Barat.
***
Hampir semua khalayak berkumpul di balai kelurahan Lukutuke, pagi itu ada pengumuman dari kelurahan lewat cerobong masjid bahwa Warga diminta untuk berkumpul di balai desa. Kebingungan, penasaran dan takut menyelimuti hati semua warga, karena tak biasanya Pak Lurah mengumpulkan semua elemen masyarakat dari yang muda, tua, laki-laki, perempuan semuanya merapat kebalai desa. Apakah gunung Rinjani akan menununjukan kegagahanya? Masih teringat di benak mereka betapa menakutkannya ketika Gunung Rinjani menguap, awan hitam tebal membumbung tinggi, cuaca begitu panas, lahar dan material fulkanik mengalir menutupi semua area perkebunan, persawahan dan rumah mereka atau ada bantuan apa lagi dari pemerintah kota yang akhir-akhir ini memang agak sering bantuan datang dari pemerintah kabupaten karena sebentar lagi akan ada pemilihan bupati baru. Yang jelas kemungkinan ini amat penting karena tak biasanya pak lurah sendiri yang mengumumkan.
***
Dengan wajah penuh semangat dan tata bahasa yang santun dan halus, perlahan namun pasti Ibu Rusty mencoba menyampaikan apa yang dia maksud, bahwa harusnya masyarakat tidak hanya bisa diam berpangku tangan dengan kondisi yang demikian. Ibu Rusty mencoba memberikan semangat kepada warga agar dapat bersatu memecahkan masalah ini. “tidak ada jalan keluar lain, kecuali kita harus membelah lereng Gunung Rinjani dan membuat saluran pipa air ke desa ini, saya sudah mengecek langsung lokasi sumber mata air terdekat dari desa ini, kita harus bertekad dan bersatu demi kelangsungan hidup kita sendiri, kita tidak akan berubah kalau kita tidak berusaha untuk merubahnya sendiri”, terang ibu Rusty dengan penuh semangat. Pernyataan tersebut bukan dikeluarkan Ibu Rusty tanpa dasar, ia mengutip salah satu ayat Al-Quran yang menerangkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya.
Sementara itu di hati masyarakat telah berkecambuk dan berkobar semangat untuk segera bisa mengentaskan desa tempat mereka tinggal dari krisis air. Desa yang dahulu begitu subur, desa yang dahulu begitu elok, desa yang dahulu begitu bersahaja, namun kini semuanya bak lukisan tempoe doeloe yang catnya sudah mulai mengelupas. Tidak ada cara lain, memang ini jalan satu-satunya, masyarakat harus bersatu padu membentuk kekuatan, kekuatan untuk saling tolong-menolong untuk bisa merubah keadaan yang ada. Masyarakat tidak bisa dengan hanya diam menunggu dan mengandalkan pemerintah yang hanya sibuk mengurusi perut mereka sendiri. Entah apa yang terjadi pada negeri antah berantah ini, dengan kekayaan alam yang ada dan SDM yang luar biasa berpotensi, pemerintah justru menjadi tikus-tikus berdasi memanfaatkan kucing-kucing yang melongo menunggu ikan asin dari sang majikan. Akankah kita hanya ingin menjadi kucing yang menunggu belas kasihan berupa ikan asin dari majikan atau kita yang akan berubah menjadi kucing yang gagah dan mencoba memakan tikus-tikus berdasi tanpa harus menunggu majikan memberi ikan asin, sehingga ketika majikan datang membawa ikan asin kita sudah kenyang dengan menggigit seekor tikus berdasi yang sukanya mencuri jatah ikan asin majikan kita.
***
Pagi itu balai desa Lukutuke begitu ramai, masyarakat berkumpul dengan perlengkapan pendakian. Matahari yang cerah, kabut awan yang mulai turun dari puncak Rinjani sehingga udara begitu hangat sehangat semangat penduduk Lukutuke yang siap untuk berjuang menaklukan gagahnya Gunung Rinjani. Ibu Rusty telah siap dengan celana training berwarna hitam dan jaket tebal dengan lapisan parasit menutupi tubuhnya. Dia sedang memberikan pengarahan kepada warga untuk perjalanan mencari sumber mata air kali ini. Ibu Rusty tidak menyangka karena ternyata yang berniat untuk ikut bergabung untuk membantuya di luar dugaanya, karena ternyata penduduk enam desa disekitar desa Lukutuke juga ikut bergabung.
Rombongan dipimpin langsung oleh Ibu Rusty menuju ketinggian 2500 m dpl untuk menemukan sumber mata air yang dituju. Saat itu Ibu Rusty , warga dan serombongan LSM yang telah dihubungi ibu Rusty sebelumnya melakukan perjalanan dengan penuh optimisme dan semangat yang membahana. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan untuk sampai dilokasi. Walau ini pertama kalinya bagi Ibu Rusty mendaki gunung, rasa khawatir telah hilang karena semangat para warga. Perjalanan 4 jam dengan medan yang luar biasa terjal dan bebatuan licin karena memang perjalanan harus membuka jalur baru dengan membelah kedua lereng gunung Rinjani dirasa sangat
singkat karena dalam perjalanan Ibu Rusty selalu disuguhi oleh semangat para warga yang ingin segera mengentaskan masalah krisis air.
Gunung berapi yang terletak di Nusa Tenggara Barat ini memang terkenal dengan keindahanya. Dengan ketinggian mencapai 3700 m dpl Rinjani bak selimut yang menutupi bumi. Namun dibalik keindahanya Rinjani menyimpan sisi yang lain. Gunung yang terakhir meletus pada tahun 2008 ini sulit untuk ditaklukan karena medan yang amat terjal dengan bebatuan cadas dan pasir mutahan gunung.
***
Ibu Rusty mengambil komando warga dan memberikan tugas kepada masing-masing warga dengan dibantu oleh Pak Sunaryo yang mempunyai keahlian dalam bidang topografi dan pegunungan. Warga dibagi menjadi dua kelompok, yang separuh tetap tinggal di puncak gunung dan sisanya harus turun untuk mengambil bekal makanan dan mengangkut pipa air ke atas gunung. Sementara itu Ibu Rusty sebagai penanggung jawab harus tetap tinggal di atas gunung untuk memantau perkembangan pembuatan jalur pipa yang akan disalurkan ke pemukiman, hal tersebut dilakukan dengan cara bergantian.
Ibu Rusty mencoba melibatkan semua pihak untuk proyek kemanusiaan ini, dia menghubungi semua relasinya bahwa ada misi kemanusiaan yang harus dibiayai. Tak khayal lebih dari 15 LSM dan Organisasi Masyarakat yang ikut andil menyumbangkan dananya untuk misi ini. Dia bersyukur ternyata masih ada orang yang peduli akan hal semacam ini. Di zaman yang serba Loe-Loe Gue-Gue ternyata masih ada hamba Allah yang peduli nasib sesama.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu tak terasa sudah lebih dari satu bulan ibu Rusty berada di ketinggian 2000 m dpl. Ibu Rusty memang sengaja tidak turun karena dalam benaknya proyek ini harus segera rampung. Tanpa memperdulikan staminanya yang semakin hari semakin berkurang karena dingin di atas gunung begitu menusuk tulang. Untuk masalah logistik dan peralatan pribadi sehari-hari Ibu Rusty menerapkan sistem ganti job kepada warga. Warga yang turun mukim harus membawakan bekal logistik yang ada di atas begitu sebaliknya, secara bergantian. Prinsip ini mirip dengan prinsip asuransi syariah yang sudah sejak lama Ia menjadi nasabahnya, prinsip yang di mana peserta bersinergi dan bersatu untuk membangun kekuatan untuk saling melindungi satu sama lain.
Usaha untuk membelah bukit lereng Gunung Rinjani sudah selesai, tinggal memasang pipa dan membuat bak penampung air di pemukiman. Namun inilah yang dilupakan Ibu Rusty, walau bagaimanapun Ibu Rusty hanyalah seorang perempuan. Dengan kondisi cuaca pegunungan yang serba extrem ditambah dia harus berjalan mendaki melewati tebing-tebing curam yang tentu banyak menguras tenaga. Ibu Rusty merasakan begitu letih badannya, bahkan persendian di lutut seakan-akan bagaikan engsel pintu yang sudah rusak, wajahnya pucat, pandanganya kabur dan Ia merasakan dingin yang luar biasa. “ibu Rusty kenapa, kalau capek ibu turunlah dulu biar nanti saya yang mengawasi warga bu” Tanya pak Sunaryo. “Oh tidak apa pak, ini hanya kesemutan saja” jawab ibu Rusty.
Dengan kondisi tubuh yang semakin lemas disusul hujan rintik yang mengguyur kawasan pendakian membuat ibu rusty semakin kuwalahan. Dia mencoba menepiskan rasa capeknya kepada semangat warga yang berkobar memasang pipa saluran air. Namun itu semua gagal, lama-kelamaan pandanganya semakin kabur, kepalanya pusing dan dia merasakan dingin yang sangat luar biasa. Tak khayal akhirnya ibu rusty tak sadarkan diri. Dengan sigap Pak Sunaryo dan beberapa warga membopong tubuh ibu Rusty ke tenda.
Ibu rusty kenapa, bangun bu, bangun!” ungkap salah seorang warga. Setelah diperiksa pak sunaryo baru bisa diketahui bahwa Bu Rusty terkena hetermonia atau kedinginan luar biasa. Untuk itu ini harus segera dibawa turun dan dibawa kerumah sakit “ungkap Pak Sunaryo. Kepanikan terjadi dimana-mana warga merasa malaikat penolongnya jatuh di saat terbang karena sayapnya patah.
Dengan tandu seadanya dan belum sadarkan diri bu rusty dibopong sejumlah warga turun untuk segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Dengan susah payah, warga berjuang mengangkat malaikat yang sudah menumbuhkan semangat mereka terhadap keterpurukan krisis air Selama ini, malaikat yang rela berkorban demi desa mereka, malaikat yang rela selama lebih dari satu bulan harus di atas gunung hanya untuk memperjuangkan air.
Akhirnya warga sampai di pemukiman dan segera melarikan Ibu Rusty ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil Pak Lurah untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara komando diambil alih oleh pak sunaryo.
“Kalian lihat, betapa besar perjuangan Ibu Rusty untuk desa ini, dia rela selama satu bulan di atas gunung tanpa turun, dia rela meninggalkan keluarganya di kota hanya untuk desa ini, apakah dia orang sini? Bukan. Dia hanyalah pahlawan yang ingin membangkitkan semangat kita untuk bangkit dan bersatu bahwa krisis air ini tidak bisa di biarkan memanjang.” Ungkap Pak Sunaryo dengan penuh semangat, kerutan di dahinya menunjukan bahwa ia sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.


Melihat pahlawan pengairan yang jatuh dan tak sadarkan diri dan mendengar perkataan dari pak sunaryo, kini masyarakat semakin bersemangat untuk segera merampungkan proyek ini. Mereka bahu membahu bekerjasama untuk segera bisa menikmati air bersih dan membuat pahlawanya tersenyum. Kini pemasangan pipa air sudah selesai tinggal membuat bak penampungan air di dekat pemukiman warga.
***
Matanya berkaca-kaca, berlahan ia buka matanya. Yang ada dalam pandangan pertamanya hanyalah plafon berwarna putih dan lampu terang dengan ukuran kira-kira 20 what. Ia bingung berada di mana, dia mencoba mengulang kembali memori ingatan yang tersimpan di otaknya. Dia ingat bahwa terakhir kali dia berada di pegunungan Rinjani bersam Pak Sunaryo dan puluhan warga Lakatuke dan warga desa sebelah.
Ingin rasanya bangun dan menjumpai warga yang begitu bersemangat, namun kondisi tubuhnya masih belum bisa diajak bergerak. “mbak rusty kamu sudah siuman, syukurlah” ungkap Ibu Fatimah. Aku di mana Mah? Tanya Ibu Rusty. Kamu di rumah sakit mbak, semua mengkhawatirkanmu, kenapa kamu ngotot berada di atas dengan kondisi tubuhmu yang seperti ini, kalau terjadi apa-apa kan bahaya mbak? Ungkapan kekhawatiran dari adik yang mengkhawatirkan kakanya.
Tak lama dokter datang dan memberikan penjelasan, bahwa untunglah Ibu Rusty tidak terlambat di bawa kerumah sakit. Karena kondisi tubuh Ibu Rusty memang sudah tidak memungkinkan lagi, dokter merekomendasikan paling tidak Ibu Rusty harus dirawat di rumah sakit kira-kira satu minggu hingga kondisi tubuhnya benar-benar fit. Ingin rasanya segera bangkit dan bergabung kembali bersama warga yang sedang berjuang mengentaskan krisis air. Namun ia harus menuruti kata dokter dan suaminya. Karena setelah mendapat kabar dari Ibu Fatimah suami dari Ibu Rusty langsung menyusul ke rumah sakit.
***
Semua warga berkumpul di lereng bukit di mana bak penampungan air dibuat. Mereka menghiasi tempat dengan mendirikan panggung kecil yang dibuat dari bambu dan beratap terpal, agar kelihatan lebih tinggi mereka menggunakan meja belajar siswa SD yang disusun rapat rapi. Tanpa terkecuali semuanya berkumpul, acara ini ditujukan untuk peresmian bak penampungan Rusty Winangun. Nama itu diambil dari bahasa jawa Rusty diambil dari nama ibu Rusty yang telah berjasa memotifasi semangat warga dan winangun yang artinya membangun, yang menerangkan bahwa Ibu Rustylah yang telah membangun semangat warga untuk segera bergerak dan berubah dari krisis air.
Semuanya berkumpul, buah-buahan hasil bumi, makanan-makanan tradisional khas Lukutuke dan hiasan janur kelapa menghiasi tempat warga berkumpul. Senyum kegembiraan menghiasi setiap wajah mereka karena sekarang mereka sudah dengan mudah mendapatkan air tanpa mengantri. Kegembiraan warga juga dikarenakan bahwa sebentar lagi mereka akan bertemu pahlawan yang telah membangkitkan semangat mereka.
***
Mobil mini bus berwarna hitam berhenti tak jauh di bawah lereng bukit. Dua orang, yang satu laki-laki yang satu perempuan. Mereka berdua berjalan menuju kerumunan warga yang sedang punya hajat. Semua warga menyambut hangat kedatangan Ibu Rusty dan Suaminya, mereka bak pangeran dan ratu yang disanjung-sanjung semua warga.
Acara dimulai dengan dibuka langsung oleh Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat disusul dengan sambutan-sambutan. Mereka semua bersuka cita dan mereka berjanji akan lebih ramah lagi dengan alam dan akan senantiasa saling melindungi satu sama lain untuk kelangsungan hidup mereka sendiri.