Akad Musaqah, Muzara'ah, dan Mukhabarah

Thursday, November 30, 2017 Add Comment
Semarang-30/11 - Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei), mengadakan agenda rutinan, yaitu diskusi primer yang dilaksanakan setiap hari senin dan kamis, diskusi ini dihadiri oleh kader 2016 dan 2017. Acara ini dimulai pukul 16.00 WIB, pembukaan dilakukan dengan bacaan surat al-Fatihah dan membaca ayat ekonomi. Pembahasan yang diangakat tentang ‘akad Musaqah, Muzara’ah dan Mukhabarah’.

            Musaqah merupakan kerjasama antara pemilik kebun atau tanaman dengan pengelola atau pengarap untuk memelihara dan merawat kebun atau tanaman dengan perrjanjian bagi hasil yang jumlahnya menurut kesepakatan bersama dan perjanjian itu disebutkan dalam akad. Muzara’ah menurut hanafiyah ialah akad untuk bercocok tanam dengan sebagian apa-apa yang keluar dari bumi, pengertian yang lain Muzara’ah yaitu kerjasama antara pemilik tanah dengan pemilik benih untuk mengelolah tanah pertanian atau ladang atau sawah, sedangkan benihnya dari petani yang bekerja sama kemudian diadakan persetujuan bersama yang diatur dalam bagi hasil. Selanjutnya, pengertian dari Mukhabaroh ialah memperkerjakan seseorang pada tanahnya dengan memberi upah tertentu (seperti setengah, seperempat atau seperdelapan) dari penghasilan pertanianya kelak, serta bibit dari yang mengerjakan tanah (penggarap).

            Rukun dan syarat akad tersebut lebih dominan sama, seperti adannya tempat/lahan yang mau dikerjakan, adanya penggarap atau butuh pekerjaan, adanya alat penunjang pekerjaan, adanya ijab dan qabul dan adanya kesepakatan yang jelas mengenai pembagian hasil. Dasar hukum dari akad ini bisa dilihat dalam surat Waqiah: 63-64. Untuk  membedakan antara muzaro’ah dengan mukhabaroh dilihat dari benihnya, sedangakan musakhah itu lebih identik dengan perawatan tanaman itu sudah tumbuh tidak dengan bibit.

            Berakhirnya 3 akad dapat dilihat dari waktu perjanjiannya, terjadinya miskomunikasi antara pengarap dan pemilik tanah. Tanaman sudah tidak berproduksi lagi, salah satu meniggal dunia dan lain sebagainya. Hikmah yang dapat di ambil antara lain: dapat memperkerjakan orang yang butuh pekerjaan, mendidik seorang untuk kerja yang profesional dalam pertanian, saling menghargai antara pemilik tanah dan penggarap dan melatih berkerja sama antar manusia agar saling percaya.

            Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.45, dan diskusi yang semakin seru harus diakhiri, notulensi membacakan kesimpulan hasil diskusi. Diskusipun ditutup dengan bacaan al-Hamdalah bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan tos forshei bersama-sama sebagai jargon penutup diskusi hari ini.

Roadshow KSEI se-Komisariat Semarang 'Akad al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah'

Monday, November 27, 2017 Add Comment
Sabtu, 27/11-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan Roadshow Kajian KSEI se-Komisariat Semarang. Roadshow ini dilaksanakan mulai pukul 16.00-17.45 WIB, dan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Syariah dan Hukum Kampus III UIN Walisongo Semarang. Roadshow ini dihadiri oleh KSEI se-Komisariat Semarang baik dari KSEI forshei, KSEI UNNES dan KSEI lainnya. Seiring dengan perkembangan praktik bisnis yang memiliki banyak kebutuhan transaksi terhadap objek yang sedang atau akan dibangun sehingga membuat DSN MUI mengeluarkan fatwa terkait hal-hal kontemporer. Untuk roadshow kali ini bertemakan “Akad al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah” merupakan fatwa yang dikeluarkan DSN MUI No.102.

Roadshow dipandu oleh saudari Mita Kurnia Rizki selaku moderator. Materi disampaikan oleh Ibu Nur Huda. Beliau menjelaskan  bahwa IMFD (Ijarah Al-Maushufah Fi Al-Dzimmah) ini bisa disebut dengan sewa yang dipesan. Al-Ijarah Al-Maushufah Fi Al-Dzimmah adalah akad sewa menyewa atas manfaat suatu barang (manfaat ‘ain) dan jasa (‘amal) yang pada saat akad hanya disebutkan sifat-sifat dan spesifikasinya (kuantitas dan kualitas). Badr al Hasan al-Qasimi menjelaskan bahwa akad IMFD bersifat ke depan (forward ijarah), boleh dilakukan dengan syarat dan kriteria objeknya dapat digambarkan secara terukur dan diserahkan pada waktu tertentu sesuai kesepakatan saat akad. Ekonomi Islam berkembang dan akad ini pada zaman Rasulullah SAW belum ada sehingga akad ini sifatnya gairu musamma. Akad IMFD membantu lembaga syariah pada zaman online seperti sekarang ini, sebagian besar masyarakat lebih menyukai sesuatu yang menggunakan online, tanpa harus datang ke sebuah toko atau perusahaan masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan barang yang diinginkan hanya dengan memesan lewat online.

Terdapat banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama terkait pembayaran ujrah dalam akad IMFD. Menurut Ulama Malikiyah bahwa ujrah dalam akad IMFD wajib dibayar diawal pada saat akad (majlis akad) agar terhindar dari jual beli piutang dengan piutang. Pandangan Ulama Syafi’iyyah bahwa ujrah dalam akad IMFD wajib dibayar diawal pada saat akad sebagaimana wajibnya membayar harga dalam akad jual beli salam. Pendapat Ulama Hanabilah mremiliki dua pendapat terkait waktu pembayaran ujrah dalam akad IMFD, yang pertama ujrah boleh dibayar diakhir akad sebagaimana dibolehkan mengakhirkan pembayaran ujrah dalam akad ijarah atas barang atas dasar kesepakatan; yang kedua ujrah harus dibayar dimuka dalam majlis akad sebagaimana harusnya membayar harga diawal dalam jual beli salam. Sehingga ketentuan terkait pembayaran ujrah dapat diambil pertama, bahwa ujrah boleh dalam bentuk uang dan selain uang, kedua, jumlah ujrah dan mekanisme perubahannya harus ditentukan berdasarkan kesepakatan, ketiga, ujrah boleh dibayar secara tunai, tangguh, atau bertahap (angsur) sesuai kesepakatan, dan keempat, ujrah yang dibayar oleh penyewa setelah akad, diakui sebagai milik pemberi sewa.

Terkait ketentuan barang sewa yang pertama, barang sewa yang dideskripsikan harus jelas dan terukur spesifikasinya, kedua, barang sewa yang di deskripsikan boleh belum menjadi milik pemberi sewa pada saat akad dilakukan, ketiga, pemberi sewa harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mewujudkan dan menyerahkan barang sewa, kempat, barang sewa di duga kuat dapat diwujudkan dan diserahkan pada waktu yg disepakati, kelima, para pihak harus sepakat terkait waktu serah-terima barang sewa, keenam, apabila barang yang diterima penyewa tidak sesuai dengan kriteria pada saat akad dilakukan, penyewa berhak menolaknya dan meminta ganti sesuai kriteria atau spesifikasi yang disepakati.

Dalam akad IMFD ini digunakan untuk produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR)-inden. Secara konvensional dapat dikenal dengan sebutan KPR (Kredit Prmilikan Rumah). Selain PPR ada juga yang menggunakan akad IMFD ini yaitu transport haji dan umrah. Di Indonesia akad IMFD ini belum pernah diterapkan untuk skema pembiayaan proyek yang besar, sedangkan di luar negeri IMFD sudah diterapkan untuk pembiayaan proyek yang membutuhkan dana besar (seperti proyek infrastruktur). Beberapa contoh penerapan akad IMFD untuk pembiayaan proyek infrastruktur adalah proyek pembangunan Doraleh Container Port di Djibouti. Proyek ini melibatkan sindikasi dua sistem perbankan yang berbeda yaitu antara lembaga keuangan syariah dan lembaga keuangan konvensional (skema ini sering disebut dengan multi-tranche transaction). Skema pembiayaan syariah yang digunakan dalam proyek tersebut adalah kombinasi antara akad musyarakah, istishna, dan IMFD.

Penyelesaian sengketa di antara para pihak dapat dilakukan melalui musyawarah mufakat. Apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, maka penyelesaian sengketa dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada intinya akad (IMFD) sama halnya dengan akad wakalah yang menjadi pelengkap akad murabahah pada dunia perbankan. Maka IMFD muncul sebagai sebuah relasi baru pada dunia ekonomi islam karena akad ini menjadi problem solving  atau pelengkap dari akad Musyrakah Mutanaqishah (MMQ) dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT) yang masih mengalami pro/kontra dalam penerapannya dikalangan masyarakat.

Sampai pada pukul 17.45 roadshow berjalan dengan lancar. Banyak pertanyaan yang dilontarkan terkait akad IMFD. Pertanyaan tidak hanya muncul dari kader KSEI forshei tetapi dilontarkan juga dari KSEI-KSEI lain se-Komisariat Semarang. Setelah tanya jawab, forshei memberi sertifikat kepada Ibu Nur Huda selaku pemateri sebagai kenang-kenangan. Sebelum meninggalkan tempat roadshow, seluruh peserta melakukan foto bersama.

Mustata (Musyawarah Tengah Tahun)

Sunday, November 26, 2017 Add Comment
Sabtu, 25/11-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang melaksanakan  mustata (muyawarah tengah tahun) periode 2017-2018 yang merupakan kegiatan wajib dari kepengurusan forshei dan dilakukan setelah 6 bulan kepengurusan. Mustata dilaksanakan mulai pukul 08.00-15.30 WIB dan dilaksanakan di gedung G5 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. Pengurus forshei yakni kader 2015 dan 2016 wajib mengikuti musyawarah tengah tahun ini, karena mustata ini penyampaian hasil dan pertanggungjawaban kinerja setiap bidang selama 6 bulan terakhir juga diikuti kader forshei 2017 selaku kader baru dengan tujuan agar kiranya dengan adanya mustata ini menjadi gambaran bagi kader baru 2017 ketika menjadi pengurus.
Sebelum masuk ke acara inti moderator memimpin do’a dengan membaca surat Al-Fatihah demi kelancaran berlangsungnya mustata. Acara mustata dibuka dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh saudara Lizammudin selaku ketua panitia, sambutan kedua disampaikan oleh saudara M Firdaus selaku ketua umum forshei, dan sambutan terakhir disampaikan oleh saudara Ahmad Fauzi selaku majlis pertimbangan forshei.
Penyampaian kinerja selama 6 bulan terakhir yang pertama disampaikan oleh bidang keorganisasian. Adapun masukan untuk bidang keorganisasian dari peserta mustata yang hadir agar kiranya ketika akan melaksanakan acara harus mensurvei tempat terlebih dahulu dan harus dapat mementoring seluruh kader baik yang aktif ataupun tidak aktif. Presentasi kedua disampaikan oleh bidang pelatihan dan pendidikan, dalam bidang ini terdapat masukan bahwa program kerja yang belum terealisasi agar dilaksanakan baik pada semester ini ataupun semester selanjutnya. Bidang kerjasama hubungan luar mendapat masukan agar melakukan kegiatan berbagi dengan masyarakat seperti membagikan ta’jil dan juga kunjungan ke industri-industri. Untuk bidang keagamaan, salah satu program kerjanya yaitu forji yang kegiatnnya bisa dilakukan diluar basecamp. Ruhnya forshei yaitu bidang kajian dan penelitian, yang mendapat masukan ketika diskusi dilaksanakan hp dijauhkan dan diwajibkan membawa buku. Terakhir bidang yang mengoperasikan sosial media yaitu bidang media dan jurnalistik mendapat masukan agar bisa menarik warga net untuk memberi like pada setiap postingan dan dalam memosting harus sesuai waktu yang ditentukan. Puncak dari penyampaian masing-masing bidang yaitu penyampaian kinerja BPH (Badan Pengurus Harian). Masukan dari peserta yang hadir agar kiranya BPH lebih bisa mengayomi dan merangkul anggotanya dengan lebih baik. Kekeluargaan yang tercipta diforshei dimulai dari Badan Pengurus Harian.
Dari setiap bidang mengambil masukan dan komentar guna kemajuan forshei kedepan. Mustata sebagai pembelajaran bagi kader berikutnya yang akan mendapat giliran memegang estafeta kepengurusan. Serangakaian acara berlangsung dengan baik dan lancar. Untuk menutup mustata forshei membuat video penyemangat dengan mengucapkan “forshei bisa” dan foto bersama sebagai kenang-kenangan. 

Permainan Stocklab dalam Puncak Peringatan HUT OJK ke-6

Sunday, November 26, 2017 Add Comment
Sabtu25/11-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengikuti kegiatan yang diadakan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Kegiatan yang berupa perlombaan, yaitu lomba Stocklab, yang dilaksanakan pada pukul 08.00-12.00 WIB. Perlombaan dilaksanakan di kantor OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, tepatnya di Jalan Kyai Saleh No 12-14, SemarangGame ini merupakan salah satu dari berbagai perlombaan yang dilaksanakan dalam peringatan puncak HUT OJK ke-6 dan diikuti oleh berbagai instansi, termasuk kader forshei yang berjumlah lima orang, yaitu: An’im Jalal (MPF), Muhammad Iqbal Hakiki Maramis (kader forshei 2016), Arri Yuwono (kader forshei 2016), Hibrah Raisah (kader forshei 2016), dan Milhatun Nisa’ (kader forshei 2017) sebagai delegasi dari UIN Walisongo Semarang.

Acara puncak peringatan HUT OJK ke-6 ini dibuka oleh Bapak Indra Yuheri selaku Direktur Pengawas Lembaga Jasa Keuangan. Sebelum memulai perlombaan-perlombaan seluruh peserta mengawalinya dengan senam bersama. Dalam perlombaan Stocklab tidak hanya sekadar perlombaan belaka, namun bertujuan agar menarik masyarakat untuk menanam saham, Stocklab adalah permainan simulasi pasar modal untuk masyarakat awam. Stocklab ini sebuah permainan yang menggunakan kartu seperti domino maupun uno yang dimainkan oleh dua hingga lima orang pemain. Namun perbedaannya, dalam kartu Stocklab ada perkenalan tentang pasar modal. Stocklab terdiri dari beberapa kartu, diantaranya kartu saham, kartu emiten, dan kartu aksi. Game ini pun mengenalkan para pesertanya ke rumor yang bisa jadi sentimen pergerakan suatu saham dan trading fee. Singkatnya permainan berakhir saat kartu ekonomi terakhir dibuka, dan etiap pemain menghitung nominal koin yang mereka miliki ditambah aset yang mereka miliki baik dari kartu saham ataupun reksa dana, pemain yang memiliki total nilai paling tinggi dinyatakan sebagai investor terbaik maka investor terbaik itu pemenangnya. Dengan adanya permainan ini pasar modal diperkenalkan secara menyenangkan.

Pemenang game Stocklab mendapatkan hadiah berupa uang. Juara pertama akan mendapatkan hadiah uang dengan nominal Rp 1.000.000, untuk juara kedua akan mendapatkan hadiah uang dengan nominal Rp 750.000, dan juara ketiga akan mendapatkan hadiah uang dengan nominal Rp 500.000. Untuk kader forshei belum berkesempatan menjadi pemenang di perlombaan ini. Namun, tetap tidak melunturkan semangat dan keceriaan kader forshei. Diperlombaan berikutnya forshei akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan juara, selanjutnya kader forshei yang mengikuti perlombaan melakukan foto bersama sebelum meninggalkan kantor OJK.

Akad Wadiah, Hibah dan Wakaf

Friday, November 24, 2017 Add Comment
Semarang, 23/11-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei), mengadakan acara rutinan setiap minggu yaitu pertemuan pada sore hari. Rutinan tersebut dilakukan 2x dalam seminggunya, acara ini diisi dengan diskusi bersama. Kader-kader yang ikut dalam diskusi terdiri dari kader 2015, 2016 dan 2017. Diskusi tersebut memberikan wawasan bagi kader-kader yang mengikuti. Dengan adanya diskusi ini melatih kepercayaan diri bagaimana untuk menyampaikan pendapat di dalam forum yang baik serta melatih menghargai pendapat-pendapa
t orang lain. Untuk tema diskusi “Akad  Wadiah, Hibah dan Wakaf”.

Pukul 16.00 WIB, dalam diskusi ini  dimulai dengan bacaan Al-fatihah bersama-sama di lanjutkan dengan membaca ayat ekonomi. Akad Wadiah menurut bahasa adalah menginggalkan, menurut istilah yaitu akad yang intinya meminta tolong kepada seseorang  atau badan hukum untuk memelihara harta penitipan dan hatra itu boleh diambil kembali. Dasar hukum akad wadiah: QS. An-Nisa’ ayat 58, QS. Al-Baqarah ayat 283 dan DSN NO. 01/dsn-mui/4/IV Tahun 2000 tentang Tabungan, Giro dan Deposito.

Rukun wadiah terdiri dari: Muwaddi’ (orang yang menitipkan), Wadi’i (orang yang dititpi). Wadi’ah(barang ang dititpkan) Shighot( ijab dan qabul). Syarat wadiah  yaitu: Wadi’ah dan wadi’i harus balig, berakal, dan dewasa. Sedangkan Wadi’ah harus berupa suatu barang yang berharga, berada kekuasaaannya dan nyata. Wandiah dibagi menjadi dua jenis yaitu: Wadiah yad amanah, yaitu dimana penitip hanya memberikan amanah tidak ada kewajiban untuk menanggung kerusakan kecuali karena kelalaianya. Wadiah yad dhomanah, dimana wadi’i boleh memanfaatkan wadiah dengan izin Muwaddi’ dan haus menanggung kerusakan.

Pengertian dari Hibah, secara bahasa diartikan pemberian. Sedangkan menurut istilah diartikan pemberian yang dilakukan seseorang kepada pihak lainya tanpa adanya sebab. Dasar hukum hubah yaitu: QS. Al-Baqarah ayat 177. Sedangkan rukun dan syarat hubah ialah: wahid (pemberi hibah) harus memiliki barang yang akan dihibahkan, balig, berakal, atas kemauan sendiri, dan dibenarkan melakukan hukum. Mauhun Lahu (orang yang diberi hibah) ketentuannya wajib hadir saat hibbah diberikan atau dilaksanakan. Mauhub (barang yang di hibahkan) tertentuannya harus nyata, barang yang bernilai, harus dapat dimiliki, dan dapat diambil alih. Sighot (ijab dan qabul) diucapkan saat pelaksanaan. Hibah menurut hukumnya ada Wajib, Makruh dan Haram. Macam-macam Hibah, hibah barang yaitu memberikan barang sepenuhnya tanpa menharapkan imbalan, hibah manfaat yaitu hanya memberikan manfaat saja yang dihibahka, barangnya tetap menjadi milik wahid.

Wakaf menurut bahasa menahan / berhenti. Menurt istilah yaitu memisahkan harta / menyerahkan sebagian harta miliknya untuk orang lain dan tidak bisa diambil kembali. Rukun wakaf terdiri dari wakif (orang yang berwakaf) harus balig, berakal dan cakap hukum, maukuf alaih (penerima wakaf),  maukuf bih (baran yang diwakafkan) harus berupa benda, dapat diserahkan, milik sendiri dan dapat dimanfaatkan. Dasar hukum wakaf terdapat dalam QS. Al-Hajj: 77, QS. Al-Imaran: 92 dan UU No. 41 tahun 2004. Jenis wakaf ada dua wakaf kepada anak cucu dan wakaf kepada masyarakat atau umum.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dalam diskusi hari ini, waktu telah menunjukkan 17.15 WIB pertanda bahwa diskusi harus di akhiri. Pembacaan kesimpulan oleh notulensi merupakan sebagai penutup diskusi di lakukan. Penutupan diskusi ini dilakukan dengan tos bersama sebagai tanda kebersamaan dalam forshei.

Mendulang Keterampilan Melalui Pelatihan Handicraft

Wednesday, November 22, 2017 Add Comment

Semarang, Rabu 22/11 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan pelatihan handicraft (kreasi bunga) tepat pada pukul 09.00 – 12.00 WIB yang diselenggarakan di Lobi Audit 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Pelatihan tersebut dipandu oleh Saudari Mamik Noor Hidayati. Peserta yang hadir sebanyak 15 orang, yang terdiri dari kader forshei dan beberapa peserta lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka untuk memeriahkan acara FEBI EXPO yang merupakan ajang kreasi bagi mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang berkesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, keterampilan, dan menciptakan sebuah inovasi.
Pelatihan handicraft yang berbentuk kreasi bunga ini merupakan kerajinan tangan yang menggunakan bahan dasar dari benang dan kain flanel. Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan dalam kerajinan tangan ini ialah, gunting, lem, solasi, benang, jarum, kain flanel, pita, dan plastik khusus pembungkus bunga. Bahan tersebut kemudian dijahit menggunakan jarum dan benang untuk dirangkai menjadi berbagai macam bentuk bunga seperti bunga mawar, matahari, dan sebagainya dengan berbagai macam warna, yaitu warna merah, kuning, putih, dan hijau. Selain membuat bunga, Saudari Mamik juga mengajarkan bagaimana cara membuat dan menyusun bucket bunga. Masing-masing peserta membuat 1 macam bunga dari kreasi bunga ini. Beruntungnya, peserta dapat membawa pulang 1 macam kreasi bunga dari hasil yang telah dibuatnya tadi.
“Mengingat prosesnya yang membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan fokus yang cukup tinggi. Kerajinan tangan ini ternyata juga terdapat banyak manfaat yang diperoleh. Beberapa diantaranya adalah dapat melatih kesabaran, mengasah kreatifitas, mengisi waktu yang bermanfaat, mengembangkan keterampilan serta dapat menciptakan peluang bisnis dengan bekal apa yang dipelajari saat mengikuti pelatihan”, ujar saudari Mamik (si pemandu).
Dengan pelatihan handicraft ini, diharapkan mahasiswa-mahasiswi khususnya kader forshei, dapat menjadi mandiri dan terampil, serta dapat menciptakan sebuah usaha kecil dalam pembuatan kreasi bunga untuk dijadikan barang yang mempunyai nilai jual tinggi.

Desydia Mamba’ul Ulum (Kader 2016)

Rujak Party, Pengakraban Kader Forshei 2017

Tuesday, November 21, 2017 Add Comment
Semarang-21/11-Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan rujak party. Acara ini dilaksanakan pukul 15.30-17.30 WIB. Rujak party yang bertempat di taman kecil tepatnya samping Auditorium II kampus III UIN Walisongo Semarang. Rujak party yang diagendakan oleh forshei yang diikuti khusus kader baru forshei angkatan 2017 guna mempererat tali silaturahmi antar anggota forshei dari tahun ke tahun. Rujak party dihadiri oleh seluruh kader forshei. Acara rujak party dilakukan disela-sela waktu luang kuliah. Sehubungan akan diadakannya kegiatan TEMILKOM (Temu Ilmiah Komisariat) yang akan diadakan minggu depan tepatnya di UNNES tentu acara rujak party ditunggu oleh setiap kader, karena dalam acara ini akan diumumkan kader yang terpilih mengikuti TEMILKOM.

Dari acara rujak party sendiri, selain mempererat kekerabatan antar kader forshei, manfaat lainnya adalah terlihat beberapa kader forshei 2017 memiliki skill dalam  tips membuat rujak yang enak dan sehat. Rujak  dibuat sesuai dengan resep yang baik dan benar. Dengan adanya rujak party ini memungkinkan bagi kader 2017 ketika terjun ke masyarakat mampu mempraktikan hasil rujak buatan sendiri dengan membuat bisnis rujak dengan memperhatikan kualitas rujak baik dari pembuatannya maupun bahan-bahannya.

Sambil menyantap rujak yang telah dibuat, obrolan-obrolan santai dilontarkan oleh setiap kader hingga membuat suasana semakin seru diselimuti kekeluargaan yang semakin hangat. Diharapkan dengan diadakannya acara rujak party oleh forshei ini dapat lebih mempererat persaudaraan antar kader 2017 dan membuat kader forshei 2017 lebih berkembang lagi dalam segala bidang forshei. “Rujak party sangat membantu dalam proses perkenalan yang belum begitu erat diantara kader baru forshei. Sebelumnya belum saling mengenal dan rujak party ini adalah waktu yang tepat untuk saling mengenal satu sama lain. Diharapkan ini bisa lebih intensif sehingga keakraban lebih terasa di forshei”. Ucap Fanarati Arda, salah satu kader forshei 2017.

Sepanjang perbincangan santai, semakin sore suasana semakin asik dan seru. Tak terasa waktu telah petang dan itu pertanda bahwa acara rujak party akan dicukupkan. Sebelum meninggalkan tempat seluruh kader melakukan tos bersama sebagai salam semangat. Terlihat seluruh kader forshei setelah mengikuti acara rujak party memperlihatkan raut wajah bahagia karena telah saling mengenal satu sama lain. Bukan hanya saling mengenal, tetapi juga menumbuhkan rasa kekeluargaan. 

Halal Lifestyle

Tuesday, November 21, 2017 Add Comment
   
       Halal lifestyle atau sering kita dengar dengan sebutan cermin gaya hidup halal. Apa sih lifestyle itu? Lifestyle adalah suatu hal yang menunjukkan bagaimana gaya hidup orang baik dilihat dari seseorang  bekerja, pola tingkah lakunya, bagaimana memanfaatkan uang. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan karakteristik seseorang.

     Saat ini Indonesia diketahui sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka sangat mudah untuk menjadikan halal sebagai gaya hidup. Halal lifestyle bukan hanya seputar makanan tetapi pakaian, kosmetik, pariwisata juga perlu diperhatikan. Kita akan membahas dari seputar makanan. Di Indonesia makanan dengan logo halal banyak sekali ditemukan, namun perlu pantauan yang pasti dari MUI (Majlis Ulama Indonesia) karena masih banyak makanan yang berlogo halal yang ternyata belum tersertifikasi oleh MUI. Oleh karena itu, baiknya kita memeriksa dan memilih makanan dengan logo halal yang sudah tersertifikasi halal oleh MUI. Dalam mecari rumah makan halal lumrahnya mereka menempelkan logo halal yang tersertifikasi MUI di kaca atau dinding rumah makan. Halal lifestyle ini sudah semakin dikenal hingga produksi luar negeri yang notabene nonmuslim, sehingga mereka lebih memilih memproduksi produk halal karena konsumen mereka kebanyakan seorang muslim. Apalagi Indonesia, salah satu negara mayoritas muslim yang banyak mengkonsumsi dibanding memproduksi. Dengan demikian maka produk luar negeri agar bisa masuk ke dalam negeri harus mempunyai sertifikasi halal oleh MUI. Begitu juga dengan kosmetik, masyarakat di Indonesia mayoritas lebih memilih kosmetik yang sudah pasti halal bahan-bahan pembuatannya. Sehingga banyak produk kosmetik yang menawarkan dengan kehalalannya.

     Seorang muslim sangat memperhatikan pakaian yang di pakai, tentu pakaian yang dipilih adalah pakaian syar’i yang menutup aurat sesuai perintah Islam. Halal lifestyle dalam hal pakaian menjadi gaya halal yang terlihat jelas. Dengan berpakaian sesuai ajaran Islam maka itu menggambarkan keseluruhan pribadi gaya hidup halal sesorang.

     Muslim ketika berpariwisata maka akan memilah dan memilih tempat yang cocok dan nyaman tanpa melanggar aturan syari’at. Artinya, banyak pariwisata yang tour guidenya  tidak berpakaian sesuai syari’at yang mana itu mengurangi minat para wisatawan muslim. Dalam hal ini perlu adanya penggabungan konsep wisata dan nilai-nilai keIslaman. Maka, pariwisata halal dapat menjadi jawaban dari kondisi seperti ini. Banyak wisatawan luar negeri yang datang ke Indonesia karena ingin mengetahui budaya Islam di Indonesia. Oleh sebab itu perlu adanya kajian pengembangan wisata syariah di Indonesia dengan memperhatikan wisatawan Timur Tengah sebagai pasar sasaran utama wisatawan manca negara sehingga strategi pemasaran lebih fokus. Dalam kegiatan wisata tentunya menyediakan tempat penginapan meliputi pelayanannya, maksudnya dari penampilan pelayan yang sesuai syari’at; ramah; sopan; yang jelas memberikan kesan yang baik bagi wisatawan.  Makanan yang disediakan hotel harus halal dan tidak menyajikan minuman beralkohol. Hiburan yang disajikan adalah sesuatu yang berbau Islam seperti rebana atau nasyid. Kolam renang yang membedakan laki-laki dan perempuan. Hotel juga melarang yang bukan mahram untuk menginap.

      Etos kerja dalam Islam tentu yang pertama adalah melihat jenis pekerjaan tersebut halal atau tidak. Setelah mengetahui halal maka harus mewanti-wanti bahwa perusahaan tidak memaksa karyawannya untuk berpakaian yang melanggar syari’at. Setelah mendapat pekerjaan kiranya seorang muslim dengan halal lifestylenya tidak akan menghabiskan hasil kerjanya hanya untuk berfoya-foya, melainkan sebagian dari hasil kerjanya di berikan kepada yang membutuhkan.

     Dapat disimpulkan bahwa halal lifestyle merupakan cermin gaya hidup halal sesorang dengan memperhatikan aturan ajaran Islam tanpa melanggar. Halal lifestyle yang idak hanya memperhatikan halal makanan saja tetapi seluruh aspek kegiatan atau sesuatu yang dimiliki atau dipakai harus sesuai syari’at ajaran Islam.

Hiwalah, Wakalah dan Kafalah

Tuesday, November 21, 2017 Add Comment
pengertian 
Menurut bahasa, yang dimaksud dengan hiwalah ialah al-intiqal dan al-tahwil, artinya ialah memindahkan atau mengoperkan.Sedangkan pengertian hiwalah menurut istilah, para ulama berbeda-beda dalam mendefenisikannya, antara lain sebagai berikut : Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah ialah “Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab kewajiban pula. “ Menurut istilah ahli fikih artinya “Pindahnya utang dari tanggungan seseorang kepada orang lain.” Jadi dapat disimpulkan bahwa hawalah adalah akad pengalihan hutang atau piutang dari pihak yang berhutang atau berpiutang kepada pihak lain yang wajib menanggung atau menerimanya. Dalam kompilasi hukum islam hawalah diatur daam pasal 318-328, sedangkan dalam Fatwwa Dewan Syari’ah Nasional diatur dalam NO: 12/DSN-MUI/IV/2000. 
 
Dasar Hukum Dalil yang dipergunakan, antara lain : Q.S. Al-Kahfi : 19 
 
  ۚ  لِ ائ َ ق َ ال َ ق ۚ ْمُهَنْيَ وا ب ُلَ اء َسَتَيِ ل ْمُ اه َنْثَعَ ب َكِلََٰذَكَو   ٍمْوَ ي َضْعَ ب ْوَ ا أ ًمْوَ ا ي َنْثِبَ وا ل ُ ال َ ق ۖ ْمُتْثِبَ ل ْمَ ك ْمُهْنِم وا ُ ال َق ْ َٰ مُكَدَحَ وا أ ُثَعْ اب َ ف ْمُتْثِبَ ا ل َمِ ب ُمَلْعَ أ ْمُكُّبَر ْ ىَكْزَ ا أ َهُّيَ أ ْرُظْنَيْلَ ف ِةَ ين ِدَمْ ى ال َلِ إ ِهِذََٰ ه ْمُكِقِرَوِب مُكِتْأَيْلَ ا ف ً ام َعَط ْ َ لَ و ُهْنِ م ٍقْزِرِب اً لَ و ْفَّطَلَتَي دَحَ أ ْمُكِ ب َّنَرِعْشُ ي
 
Artinya : “ Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (Q.S Al-Kahfi :19) 
 
 
Hadist  
ُ لْطَ  م ُيِنَغْ  ال ُظ ،ٌمْ ا ل َذِإَ ف َُ عِبْ أ ت ُْ د آ م َحَ ى أ َلَ  ع ُيِلَ م ُْ عِبَّتَيْلَ ف
“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah” (HR. Bukhari). 
 
Rukun dan Syarat  
Rukun hiwalah itu ada empat, sebagai berikut : 
1. Muhil, yaitu orang yang menghiwalahkan atau orang memindahkan utang. 
2. Muhtal, yaitu orang yang dihiwalahkan, yaitu orang yang mempunyai itang kepadamuhil. 
3. Muhal alaih, yaitu orang menerima hiwalah 
4. Shigat , yaitu hijab dari muhil dengan kata-katanya; “ aku hiwalahkan utangku yang hak bagi              engkau kepada anu “ dan kabul dari muhtal dengan kata-katanya. “ Aku terima hiwalah engkau. “ Syarat Hiwalah adalah sebagai berikut : 
1. pihak pertama (muhil)  
     Cakap dalam melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal. 
     Ada pernyataan persetujuan (ridha). 
 
2. Menanggung Utang Syarat sah menanggung utang ada empat yaitu : 
     Orang yang menanggung harus memberitahu kepada orang yang mengutangi (yang berpiutang).       Waktu menanggungnya harus positif. 
     Hutangnya yang lazim.
     Keadaan hutang diketahui ( pasti ) 
 
Jenis – Jenis Hiwalah  Hawalah dapat di bagi menjadi beberapa jenis yang diantaranya yaitu : 
1. Hawalah haqq (pemindahan hak) terjadi apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menuntut          uang atau dengan kata lain pemindahan piutang. 
2. Hawalah dayn (pemindahan hutang) terjadi jika yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar      hutang. 
3. Hawalah muqayyadah (pemindahan bersyarat) adalah pemindahan sebagai ganti dari pembayaran      hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal). 
4. Hawalah mutlaqah (pemindahan mutlak) adalah pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai      ganti pembayaran hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal). 
 
WAKALAH 
 
Pengertian Menurut bahasa wakalah artinya adalah al-hifdz, al-kifayah, al-dhaman dan al-tafwid (penyerahan, pengdelegasian dan pemberian mandat). Sedangkan menurut para ulama adalah sebagai berikut. 
1. Malikiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah eseorang menggantikan (menempati) tempat yang      lain dalam hak (kewajiban), dia yang mengelola pada posisi itu.’ 
2. Hanafiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah ‘Seseorang menempati diri orang lain dalam                tasharuf (pengelolaan).’ 
3. Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah ‘Suatu ibarah seorang menyerahkan                sesuatu kepada yang lain untuk dikerjakan ketika hidupnya’. 
4. Al-Hanabillah berpendapat bahwa al-wakalah ialah permintaan ‘ganti seseorang yang                          membolehkan tasharruf yang seimbang pada pihak yang lain, yang didalamnya terdapat                      penggantian dari hak-hak allah dan hak-hak manusia. 
 
Berdasarkan definisi-definisi diatas, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan al-wakalah ialah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu, perwakilan berlaku selama yang mewakilkan masih hidup. Wakalah dalam kompilasi hukum islam diatur dalam pasal 457- 474 dan dalam Dewan Syariah Nasional diatur dalam NO: 10/DSN-MUI/IV/2000 
 
Dasar hukum  QS Al-Baqarah :283 yang artinya “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang 
tanggungan yang dipegang[1] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
 
Hadits yang dapat dipergunakan sebagai dasar akad Wakalah, diantaranya: “Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al Harits”. HR. Malik dalam al-Muwaththa’). 
 
Rukun dan Syarat  Rukun-rukun wakalah adalah sebagai berikut: 
1.      Orang yang mewakilkan,  
2.      Wakil (yang mewakili),  
3.      Muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan),  
 
Syarat- syarat wakalh adalah sebagai berikut : 
1. orang yang mewakilkan  
     Berakal  
     Pemilik barang atau di bawah kekuasaannya dan dapat bertindak pada harta tersebut.  
2. Orang mewakili  
      berakal.  
     Baligh 
3. Sesuatu yang diwakilkan  
     Menerima penggantian, maksudnya boleh diwakilkan pada orang lain untuk mengerjakannya,              maka tidaklah sah mewakilkan untuk mengerjakan shalat, puasa, dan membaca ayat Alquran,              karena hal ini tidak bisa diwakilkan. 
     Dimiliki oleh yang berwakil ketika ia berwakil itu, maka batal mewakilkan sesuatu yang akan              dibeli. 
     Diketahui dengan jelas, maka batal mewakilkan sesuatu yang masih samar, seperti seseorang              berkata; ‘Aku jadikan engkau sebagai wakilku untuk mengawinkan salah seorang anakku’. 
     Shigat, yaitu lafaz mewakilkan, shigat diucapkan dari yang berwakil sebagai simbol                            keridhaannya untuk mewakilkan, dan wakil menerimanya. 
 
KAFALAH Pengertian  
 
Kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan), hamalah (beban) dan zama’ah (tanggungan).Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan al-kafalahatau al-dhamman sebagai man dijelaskan oleh para ulama adalah sebgai berikut. 
1. Menurut Mazhab Hanafi al-kafalah memiliki dua pengertian, yang pertama arti alkafalah ialah            “Menggabungkan dzimah kepada dzimah yang lain dalam penagihan, dengan jiwa, utang, atau zat      benda”. 
2. Menurut Mazhab Maliki al-kafalah ialah “Orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan        pemberi beban serta bebannya sendiri yang disatukan, baik menanggung pekerjaan yang sesuai (        sama ) meupun pekerjaan yang berbeda”. 
3. Menurut Mazhab Hanbali bahwa yang dimaksud dengan al-kafalah adalah “Iltizam sesuatu yang        diwajibkan kepada orang lain serta kekekalan benda tersebut yang dibebankan atau iltizam orang        yang mempunyai hak menghadirkan dua harta ( pemiliknya ) kepada orang yang mempunyai              hak”. 
4. Menurut Mazhab Syafi’i yang dimaksud dengan al-kafalah ialah “Akad yang menetapkan iltizam        hak tetap pada tanggungan ( beban ) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau      menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya”. 
 
            Setelah diketahui definisi-definisi al-kafalah atau al-dhaman menurut para ulama diatas, kiranya dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan al-kafalah atau al-dhaman ialah menggabungkan dua beban ( tanggungan ) dalam permintaan dan utang. Dalam kompilasi Hukum Ekonomi Islam kafalah diatur dalam pasal 291 – 317. Sedangkan dalam Dewan Syariah Nasional kafalah diatur di NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 
 
 
 
 
Dasar Hukum 
Q.S Yusuf : 72 
  مْيِعَ ز ِهِ ب ْاَنَاَ و ٍرْيِعَ ب ُلْمِ ح ِهِ ب َ اء َ ج ْنَمِلَ و 
Artinya: “Barang siapa yang dapat mnengembalikannya piala raja, maka ia akan  memperoleh bahan makanan seberat beban unta dan aku yang menjamin terhadapnya”. (Q.S Yusuf: 72 ) 
 
Hadis Nabi riwayat Bukhari: “Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab, ‘Tidak’. Maka, beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab. ‘Ya’. Rasulullah berkata, ‘Salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah’. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari dari Salamah bin Akwa’). 
 
Rukun dan Syarat Berdasarkan Fatwa Dewan Nasional tentang kafalah adalah sebagai berikut. Rukun dan Syarat Kafalah adalah sebagai beriku. 
1. Pihak Penjamin (Kafiil) 
    Baligh (dewasa) dan berakal sehat. 
    Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanyaan rela (ridha) dengan             tanggungan kafalah tersebut. 
2. Pihak Orang yang berhutang (Ashiil, Makfuul ‘anhu) 
    Sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin 
    Dikenal oleh penjamin. 
3. Pihak Orang yang Berpiutang (Makfuul Lahu) 
    Diketahui identitasnya. 
    Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa. 
    Berakal sehat. 
4. Obyek Penjaminan (Makful Bihi) 
    Merupakan tanggungan pihak/orang yang berhutang, baik berupa uang, benda, maupun                       pekerjaan. 
    Bisa dilaksanakan oleh penjamin. 
    Harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar           atau dibebaskan. 
    Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya. 
    Tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan). 
 
Jenis - Jenis Kafalah  
 
1. Kafalah bil mal yaitu jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang. Contohnya kasus hadits      Rosul riwayat Bukhari di mana Qatadah menjamin hutan seorang sahabat, Surat Jaminan (bank          garansi) yang diberikan bank kepada nasabah untuk keperluan seperti pembayaran atas pembelian      barang, untuk keperluan pembayaran hutang kpd pihak ketiga, pembayaran suatu jual beli dengan       batas waktu yang telah diperjanjikan. 
2. Kafalah bit Taslim yaitu jaminan yang diberikan dalam rangka menjamin penyerahan atas barang        yang disewa pada saat berakhirnya masa sewa 
3. Kafalah Munjazah yaitu jaminan yang diberikan secara mutlak tanpa adanya pembatasan waktu          tertentu.
4. Kafalah Muqayyadah/muallaqah, yaitu kafalah yang dibatasi waktunya, sebulan, setahun, dsb 
 
 

Mengasah keterampilan kader forshei lewat jurnalistik

Saturday, November 18, 2017 Add Comment
Semarang, Sabtu 18/11 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan tahunan yaitu pelatihan jurnalistik tepatnya dari jam 08.00 WIB - selesai, di gedung M2 UIN Walisongo Semarang. Pelatihan ini berlangsung dengan lancar yang dipandu oleh MPF Ahmad Arief Widodo dan diikuti 30-an kader forshei angkatan 2017 dan 2016. Pelatihan tersebut diisi dengan pengertian jurnalistik juga mengulas pengertian berita, macam berita, nilai berita, anatomi, unsur dan sumber berita, serta seputar opini dan dilanjut dengan latihan menganalisa berita lewat koran Kompas. Sesi analisa terbagi menjadi empat kelompok, yakni kelompok penganalisa "Para Pelari Elite Perketat Persaingan", kelompok penganalisa " Waspadai Diabetes pada Masa Kehamilan", kelompok penganalisa "Proses berkurang 24 hari (fasilitas fiskal)", dan kelompok penganalisa "Peru Akhiri Penantian 35 Tahun ke Piala Dunia". Setiap kelompok akan mempertanggungjawabkan analisa mereka dengan presentasi, dan dilanjutkan dengan tanya jawab dari kader forshei kepada pemateri.

          "Tentu pelatihan jurnalistik ini sangat bermanfaat dan berpengaruh bagi kita sebagai pemuda dalam bidang tulis menulis, apalagi kader forshei yang sudah seharusnya mempunyai ketrampilan tersebut", ucap Fitriana (forshei 2017).

         Pelatihan dini diadakan sesuai dengan Visi dan Misi forshei untuk menciptakan kader intelektual muslim dalam bidang ekonomi dan memberikan bekal ketrampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri agama, bangsa dan negara.

Milhatun Nisa' (forshei 2017)

Forread (Forshei Membaca)

Saturday, November 18, 2017 Add Comment

Forread merupakan salah satu agenda rutin forshei yang diadakan setiap hari ahad malam senin dan hari rabu malam kamis tepatnya pada pukul 19.00 WIB sampai pukul 20.30 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh kader forshei khususnya kader 2016 dan 2017, juga terdapat kader 2015 dan MPF sebagai pendamping dan penengah ketika terdapat perdebatan selama berjalannya diskusi.

Kegiatan ini dilaksanakan di basecamp forshei yang beralamat di Jl. Ranggawoso, Tugu Ringin, Kelurahan Purwoyoso. Kegiatan dimulai dengan semua peserta yang hadir nembaca buku terlebih dahulu tebtang suatu hal yang akan didiskusikan. Para kader diberi waktu 30 menit untuk membaca dan persiapan penyampaian meteri. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai materi yang telah dibaca dan dilanjutkan dengan tanya jawab antar kader. Kegiatan berakhir ketika semua peserta forread sudah mempresentasikan materi yang telah dibacanya.

Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan para kader forshei diluar diskusi rutin yaitu hari senin dan kamis sore. Tak hanya itu, melalui kegiatan ini menambah keakraban, karena diskusi yang dilakukan berjalan dengan menyenangkan badan terkadang saling sharing atau berbagi cerita dan pengalaman antar kader forshei.

By : verry bahal haqiqi

Adu Aksi Kader Forshei

Saturday, November 18, 2017 Add Comment

Rabu (15/11) Forum Study Hukum Ekonomi Islam (forshei), mengadakan sebuah agenda keolahragaan yang disebut "forsport" yang mana agenda ini dikhususkan untuk kader-kader forshei baik angkatan lama 2014 sampai angkatan baru yaitu angkatan 2017 dengan tujuan  untuk mempererat kekeluargaan antar anggota forshei dan sebagai ajang untuk saling mengenal satu sama lain. Agenda ini dikhususkan untuk kader-kader forshei baik itu anggota baru angkatan 2017 bahkan sampai anggota lama 2014an . Agenda forsport kagi ini mengambil cabang olah raga volly dimana dilaksanakan di lapangan dakwah kampus 3 UIN Walisongo  tepat pukul 16.00 sampai selesai (maghrib) .
Pseudo Five Days School dan Eksistensi Pondok Pesantren

Pseudo Five Days School dan Eksistensi Pondok Pesantren

Saturday, November 18, 2017 Add Comment
Gambar terkait

“Pendidikan mengubah manusia, manusia akan mengubah dunia”. Kutipan dari seorang Paulo Freire mungkin sangat relevan dengan urgensi pendidikan untuk sebuah perubahan dalam suatu peradaban. Pendidikan saat ini menjadi sebuah indikator kemajuan sebuah negara. Pendidikan adalah faktor fundamental dalam menyokong semua aspek yang dibutuhkan masyarakat saat ini, baik sacara sosial humanis ataupun sains humanis.
Menyoal perihal pendidikan, masyarakat saat ini mengalami “aporia” semenjak dirilisnya Permendikbud No. 23/2017 tentang lima hari sekolah (Five Days School). Tanggapan yang plural dari berbagai segmen masyarakat membuat kebijakan ini sama halnya dengan bola panas yang membuat telinga gerah. Pro – kontra mulai bergulir dari para pelaku dalam dunia pendidikan itu sendiri. Mulai dari praktisi pendidikan yang menyangsikan kesiapan sarana prasarana yang ada di setiap sekolah hingga persoalan kualitas pendidik yang belum bisa diamanahi sistem pendidikan yang sedemikian menyortir para anak. Bila ditelaah dengan seksama, apa yang disangsikan para praktisi pendidikan selaras dengan fakta bahwa sekitar 75% sekolah di indonesia masih belum memenuhi standar minimum, baik dari segi infrastruktur maupun sumber daya manusianya.
Infrastruktur yang belum merata, akomodasi dana pendidikan yang tidak tepat sasaran menjadikan sistem Five Days School menurut hemat penulis hanya sebuah kebijkan yang “gagap” dan hanya menggunakan sudut pandang “kaca mata kuda”.
Mengapa ”gagap”? Kemendikbud dalam argumennya menyatakan bahwa keluarnya kebijakan ini yang pertama adalah dilandasi oleh liarnya kondisi luar sekolah yang dapat mempengaruhi  moral dan karakter anak. Pertanyaannya, bukankah dengan cara mengurung anak – anak selama 40 jam dalam sebuah sangkar yang disebut sekolah hanya akan membuat anak akan merasa terkurung dan terpasung? Dengan kualitas pendidik yang masih rendah akan sangat rasional bila ketidakpahaman para guru hanya akan membunuh karakter dan semangat belajar anak. Menurut hemat penulis, definisi salah kaprah tentang sebuah pendidikan adalah menganggap pendidikan hanya tentang sekolah, padahal lebih dari itu, seluruh alam raya ini adalah sebuah pendidikan yang perlu untuk dimaknai, dan sekolah hanya medium untuk memaknai alam raya ini. Selain itu pendidikan adalah proses untuk melahirkan manusia yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya, secara logika sederhana dengan waktu yang sudah habis digunakan saat di sekolah, bagaimana caranya anak memahami lingkungan sekitar sehingga mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekitar mereka? Memaksa mereka untuk belajar di ruang yang sama selama 40 jam hanya akan memunculkan rasa lelah dan jenuh yang akhirnya menumbuhkan mindseat horor dalam benak anak – anak tentang sekolah.
Perihal liarnya lingkungan luar sekolah yang dapat mengancam perilaku anak, sebenarnya bisa difilter oleh peran serta orang tua dan keluarga dengan cara menanamkan nilai – nilai agama.
Yang kedua, menurut Bapak kemendikbud dalam salah satu wawancaranya kebijakan ini dilandasi oleh lembeknya mental dan fisik anak sekarang sehingga perlu dikeluarkannya sistem pendidikan yang agak keras guna membentuk mereka. Inilah yang dimaksud dengan sudut pandang “kaca mata kuda”. Yang dilihat hanyalah satu sudut pandang saja, yaitu sudut pandang kaum metropolis. Coba mulailah peka dengan kondisi pendidikan di pelosok - pelosok negeri, Indonesia adalah sebuah negara heterogen dengan keberagaman kondisi di semua sektoral. Banyak anak di daerah – daerah yang terisolasi dari hiruk pikuk kehidupan metropolis harus bergegas di pagi hari, menempuh ribuan meter untuk mencapai sekolah. Sebagian dari mereka harus melewati medan – medan yang terjal, jembatan yang ala kadarnya, perahu sungai yang berbentuk rakit sederhana. Kurang kuat apa mereka? Argumen yang sangatlah metroposentris apabila menyamakan semua kondisi anak – anak yang kebanyakan berada di pedesaan dengan anak – anak  yang berada di perkotaan.
Statement terakhir yang diucapkan oleh Bapak kemendikbud tentang landasan penerapan kebijkan Five Days School adalah tentang penguatan pendidikan karakter pada anak. Namun anehnya tidak ada penjelasan secara eksplisit dalam Permendikbud No 23/2017 tentang seperti apa pendidikan penguatan karakter yang ingin diproyeksikan. Selain itu, penguatan pendidikan karakter dengan cara menambah jam belajar adalah sebuah korelasi yang tidak memiliki dampak secara signifikan kedepannya. Karakter menurut ahli psikologi adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang  individu. Karakter yang kuat dan baik muncul karena proses aktualisasi diri dengan lingkungan serta penanaman nilai – nilai agama yang diajarkan secara menyenangkan. Proses aktualisasi diri yang baik dengan berbagai jenis lingkungan akan melahirkan pengalaman dan pengenalan nilai – nilai agama yang dilakukan secara bertahap dan berkala yang akan membentuk karakter diri seorang anak. Sekarang, apabila waktu anak dihabiskan secara penuh di lingkungan sekolah maka referensi pengalaman hidup yang didapat sangatlahh minim, selain itu pengenalan nilai – nilai agama yang dilakukan di sekolah biasanya sangatlah monoton dan teoritis sehingga ekspektasi tentang penguatan karakter menjadi hal yang pseudo.

Solusi bagi para orangtua metropolitan
            Penguatan karakter menjadi hal yang wajib dalam pembahasan seputar pendidikan. Anak – anak yang pembentukan karakternya gagal khususnya di daerah perkotaan bisa disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah perihal kurangnya pengajaran tentang nilai – nilai agama dalam lingkungan keluarga, interaksi lingkungan perkotaan yang begitu pragmatis dan kurangnya pengawasan keluarga  terhadap setiap aktivitas anak yang dapat menarik anak kepada jurang kehidupan yang hedonis dan anarkis.
            Mungkin bagi kalangan metropolitan, sistem Five Days School sangat sesuai dengan kondisi mereka yang super sibuk, menjadikan sekolah sebagai pengganti mereka dalam memprotekasi anak dari hal – hal negatif di lingkungan metropolitan. Dengan lima hari sekolah, para orang tua berasumsi akan ada akhir pekan yang bisa digunakan untuk berlibur dan bersenang – senang dengan anak. Padahal asumsi seperti ini hanya akan menumbuhkan sifat hedonis  dan matrealis pada diri anak di masa yang akan datang.
            Terlepas dari itu semua, sistem Five Days school sangat minim dalam pembelajaran perihal nilai – nilai agama. Pelajaran keagamaan yang diajarkan di sekolah – sekolah lebih banyak membehas perihal teori dan kurang ada inovasi dalam teknik pembelajaran, sehingga ilmu agama bagi anak – anak sangatlah membosankan. Padahal agama adalah sebuah sistem hidup untuk mengontrol kehidupan manusia, apa yang di dalamnya adalah sebuah keluhuran dan estestika dalam menciptakan karakter manusia yang kuat dan baik. Bahkan Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Campassionate Life menempatkan agama sebagai posisi penting dalam berkehidupan. Dengan demikian, sistem Five Days School belum bisa dijadikan solusi atas kekhawatiran orang tua terhadap pengaruh negatif yang ada di lingkungan metropolitan.
            Lalu apa solusinya? Pondok pesantren adalah jawaban bagi kekhawatiran para orangtua terhadap liarnya lingkungan metropolitan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pondok pesantren sama halnya dengan sistem Five Days School, anak – anak akan dikarantina hingga akhirnya terpasung. Secara dhohir  mungkin sama, namun secara esensi dan penerapan sangtlah berbeda. Dalam karantina itu para anak tidak menanggung beban belajar selama 40 jam. Selain itu, rata – rata pondok pesantren berada di lokasi yang tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan metropolitan yang hedonis.
Ada kutipan menarik dari Socrates, dia mengatakan, “pendidikan adalah untuk menyalakan obor, bukan mengisi bejana”. Pondok pesantren memposisikan para anak persis seperti apa yang dikatakan Socrates, yaitu sebagai obor sehingga anak dituntut untuk menjaga api semangat dalam belajar, menguatkan kobaran kreatifitas, menyalakan akhlak mulia yang cerdas sesuai yang diajarkan oleh agama. Pondok pesantren juga menanamkan pemahaman pada anak bahwa pendidikan ditempuh bukan untuk meraih kemewahan, melainkan menghapus kebodohan.
Di pondok pesantren banyak diajarkan cara untuk mengaktualisasi diri dengan lingkungan yang beragam disekitar pondok, bertani, berinteraksi dengan lingkungan pedesaan yang asri sehingga pembentukan karakter anak akan lebih cepat terbentuk. Gotong royong, kesederhanaan dan kebersamaan adalah hal yang sangat akrab disetiap pendidikan yang diajarkan dalam pondok pesantren. Anak akan dituntut untuk saling berbagi, mulai dari pesoalan kamar tidur, makanan, hingga air mandi sekalipun.
Dengan senjata andalannya dalam pendidikan berupa kitab kuning yang di dalamnya terdapat berbagai literatur perihal spiritulitas, pondok pesantren menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu memahami esensi dari hidup. Hidup mandiri, jauh dari orang tua dengan fasilitas apa adanya akan membentuk anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mampu memotivasi diri sendiri untuk lebih baik.
Perkembangan pondok pesantren saat ini pun semakin pesat, dengan sistem pndidikan yang mengikuti perkembangan zaman, para orangtua tidak perlu khawatir anak – anak mereka akan lulus sebagai orang ndeso yang kuper dan buta akan arus globalisasi. Selain itu, banyak pondok pesantren yang berelasi dengan pihak luar negeri untuk pendidikan bagi anak – anak yang berpotensi.
Pondok pesantren merupakan basis pendidikan karakter yang sudah ada sejak dahulu, sebelum Five Days School diperkenalkan. Pondok pesantren menciptakan pribadi universal yang luhur karena kental dengan nilai – nilai berkehidupan yang dianjurkan agama dan bukan hanya sebuah aturan tertulis yang teoritis.
Barkaca dari sistem pondok pesantren, sejatinya kita harusnya sadar bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang menyeimbangkan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual. Ketika dua komponen tersebut mampu terpadukan maka akan melahirkan generasi yang berkarakter yang mampu mengaktualisasi apa yang dipelajarinya kepada alam raya ini.



Muhamad iqbal haqiqi (Kader Forshei 2016)