Fintech Sebuah Inovasi Atau Solusi

Saturday, January 20, 2018 Add Comment

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini dunia diwarnai dengan berbagai teknologi informasi  yang memudahkan  manusia untuk melakukan aktivitasnya. Teknologi tersebut merambah berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah dalam bidang finansial atau keuangan. Dengan berkembangnya era digital yang semakin pesat kegiatan yang berkaitan dengan keuangan dapat dilakukan dengan mudah. Salah satunya yang sedang gencar diperbincangkan di Indonesia adalah fintech atau financial technologi.  

Menurut Wikipedia fintech adalah  the new technology and innovation that aims to compete with traditional financial methods in the delivery of financial services yang artinya sebuah teknologi dan inovasi baru yang bertujuan untuk bersaing dengan cara pembayaran  tradisional dalam  hal layanan keuangan. Fintech adalah  sebuah inovasi yang memanfaatkan teknologi informasi dari sektor keuangan untuk memudahkan masyarakat melakukan berbagai hal yang menyangkut tentang keuangan. Inovasi yang berkembang di sini adalah dengan mengadopsi prinsip jaringan komputer yang diterapkan pada bidang keuangan.

Inovasi yang ditawarkan fintech sangat luas dan dalam berbagai segmen, baik itu B2B (Business to Business) hingga B2C (Business to Consumer). Beberapa contoh bisnis yang tergabung di dalam Fintech adalah proses jual beli saham, pembayaran, peminjaman uang (lending) secara peer to peer, transfer dana, investasi ritel, perencanaan keuangan (personal finance). Keberadaan fintech di Indonesia yang terus berkembang selalu diawasi oleh lembaga keuangan seperti Bank Indonesia yang merupakan pemegang otoritas sistem pembayaran keuangan Indonesia  dan juga oleh OJK. BI menerbitkan beberapa kepentingan mengenai fintech melalui tiga hal yaitu promosi sistem pembayaran yang kondusif, mengarahkan industri untuk bergerak secara efisien, dan memperkuat perlindungan konsumen.
Peran aktif Bank Indonesia di sektor fintech juga ditunjukkan dengan terbentuknya Bank Indonesia Fintech Office yang kerap membuat peraturan atau regulasi untuk mengatur jalannya sektor baru ini dengan aman dan nyaman. Salah satunya adalah dengan membuat klasifikasi fintech di Indonesia agar jelas dan mudah dikenali masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengatur jalannya fintech di Indonesia terutama dalam hal layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang tercantum dalam Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Selain itu OJK juga menyarankan lembaga keuangan mempunnyai layanan digital seperti fintech agar mempermudah dalam proses transaksi dan layanan keuangan atau lebih dikenal dengan fintech strartup, yaitu perusahaan teknologi informasi yang memberikan layanan keuangan dengan model bisnis yang bervariasi. Menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida, setidaknya telah hadir lebih dari 150 fintech startup di Indonesia. Hal tersebut menunjukan bahwa fintech mudah diterima oleh masyarakat.
Fintech terbagi menjadi beberapa bentuk. Bank Indonesia mengklasifikasikan Fintech menjadi 4 macam yaitu Crowdfunding (pembiayaan masal atau berbasis patungan) dan Peer to Peer Lending atau P2P; Market Aggregator; Risk and Investment Management; dan Payment, Settlement, Clearing.

Crowdfunding (pembiayaan masal atau berbasis patungan) dan Peer to Peer Lending atau P2P adalah media yang mempertemukan investor dengan pencari modal atau dalam e-commers dikenal dengan Marketplace. Seperti artinya Crowdfunding  berguna untuk penggalangan dana seperti penggalangan dana untuk korban bencana atau mendanai sebuah karya. Salah satu contoh startup fintech pada bentuk ini adalah kitabisa.com untuk penggalangan dana dan Danadidik.com untuk contoh Peer to Peer Lending.

Market Aggregator adalah sebuah media yang digunakan sebagai pembanding produk keuangan dengan cara mengumpulkan data-data finansial yang nantinya akan dijadikan referensi bagi pengguna, sehingga bentuk ini bisa disebut dengan comparison site atau tempat perbandingan. Contoh pada bentuk ini pada pembanding produk keuangan secara umum adalah Kreditgogo.com.

Risk and Investment Management adalah tempat dimana pengguna bisa mendapatkan produk investasi yang dinginkan pengguna sesuai dengan keinginan yang telah diberikan. Dalam bentuk fintech satu ini memiliki fungsi yang sama seperti financial Planner yang berbentuk digital. Selain itu perencanaan keuangan juga termasuk dalam fintech ini. Salah satu contohnya adalah fiannsialku.com yang fokus pada perencanaan keuangan.

Payment, Settlement dan Clearing adalah fintech yang fokus pada sistem pembayaran. Fintech jenis ini memudahkan penggunanya untuk dapat melakukan transaksi pembayaran dengan berbagai cara yang di sediakan. Contoh dari jenis ini adalah uang elektronik atau e-money. 

Melihat kecenderungan masyarakat Indonesia yang aktif dalam penggunaan teknologi digital dan penggunaan internet serta smartphone yang tinggi, fintech sangat berpotensi besar untuk berkembang dengan pesat di Indonesia. Dari hal tersebut memungkinkan fintech akan menguasai pasar digital Indonesia yang pastinya akan meningkatkan tingkat perekonomian Indonesia yang siap bersaing di era digital ini. 


Oleh : Uyun Sundari (Kader forshei 2016)

Ada Apa dengan Regional Training for Trainer 2018 ?

Tuesday, January 16, 2018 Add Comment
KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) sebagai salah satu organisasi tingkat mahasiswa yang gencar mengembangkan ilmu ekonomi Islam, dan diharapkan mampu untuk melahirkan generasi-generasi yang paham mengenai ekonomi Islam. Tidak hanya paham bagi dirinya sendiri, tapi paham bagaimana cara memahamkan dan menanamkan ilmu ekonomi Islam secara mendasar kepada rekan sebaya hingga masyarakat, supaya tercipta regenerasi dan kemandirian keilmuan ditingkat masing-masing kelompok studi.

RTT (Regional Training for Trainer) merupakan salah satu agenda penting yang diselenggarakan oleh Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam Regional Jawa Tengah. Kegiatan ini diinisiasikan untuk dapat melahirkan kader/anggota KSEI yang paham bagaimana memahami sekaligus memahamkan ekonomi Islam di lingkup KSEInya. Sehingga diharapkan KSEI bisa secara mandiri memiliki kemampuan untuk mengenalkan ilmu ekonomi Islam, tentunya dari sumber daya insani yang mereka miliki.

Sejarah RTT itu sendiri dulunya berawal dari NTT (National Training for Trainer), yaitu pembentukan kader FoSSEI di tingkat nasional. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dirasa pembentukan kader atau anggota KSEI juga perlu dilaksanakan di ranah regional. Maka dari itu, perlu diadakannya RTT pada tahun ini, untuk membekali para kader KSEI sedari dini. Dengan diadakannya RTT ini selain untuk melahirkan kader/anggota KSEI paham tentang ekonomi Islam, juga untuk memperbaiki kualitas kajian KSEI di lingkungan FoSSEI di regional Jawa Tengah.

Karena RTT ini merupakan agenda regional, jadi pelaksanaan dipusatkan pada satu KSEI sebagai tuan rumah. Pada tahun ini kegiatan ini akan dilaksanakan di KSEI forshei UIN Walisongo Semarang, dan akan diikuti seluruh KSEI se-Jawa Tengah. Kegiatan ini selih berganti dilaksanakan di masing-masing KSEI tiap Perguruan Tinggi di wilayah Jawa Tengah.  

Nah, menjadi amat penting rasanya untuk diperhatikan bagi seluruh KSEI se-Jawa Tengah untuk dapat mengikuti agenda ini. Karena agenda RTT ini merupakan agenda yang dirancang guna melahirkan keberlangsungan keilmuan yang setingkat, mulai dari segi SDI mentor yang dimiliki masing-masing KSEI. Dan diharapkan pula akan membentuk keilmuan yang setara dari KSEI se-Jawa Tengah, sehingga bisa menaikkan level keilmuannya bersama-sama dan dapat memperjuangkan visi dan misi FoSSEI secara bergerilya.

Disamping itu, output dari terselenggaranya RTT ini diharapkan dapat menjadikan kader/anggota KSEI seorang ahli dan paham akan dunia ekonomi Islam. Karena akhir-akhir ini system ekonomi Islam di Indonesia sudah semakin Nampak, berbagai system perbankan ataupun hal lainnya sudah menerapkan prinsip ekonomi Islam dibandingkan dengan prinsip konvensional. Dan juga supaya menjadikan masyarakat untuk berpaling menggunakan jasa ekonomi Islam dalam berbagai hal.

Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat mempererat ataupun menjaga tali silaturrahim antar kader/anggota FoSSEI. Selanjutnya, dapat menjadikan masing-masing kader untuk bertukar pikiran dalam membahas dan mengembangkan perihal ekonomi Islam serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Agung Nurdiansyah Firdaus (Koordinator Regional Jawa Tengah)

Perbendaharaan Menyapa

Tuesday, January 16, 2018 Add Comment
Selasa, 16 Januari 2018, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) II Semarang bekerjasama dengan Kepala Suku Bagian Akademik (Kasubag) UIN Walisongo Semarang mengadakan sosialisasi bersama terkait dengan pengelolaan keuangan negara dan pembangunan.

Kegiatan ini dilaksanakan di gedung Kopertais lantai 3 UIN Walisongo.  Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mensosialisasikan bagaimana keuangan negara dikelola, mulai dari uang pajak hingga APBN.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor III UIN Walisongo Semarang, Prof Suparman M.Ag. Yang diikuti oleh para wakil dekan III UIN Walisongo bersama Kasubag dan perwakilan mahasiswa  Bidik Misi.

Dendi Andrian salah satu perwakilan dari KPPN menjelaskan tentang siklus anggaran diantaranya yaitu, perencanaan dan penganggaran, pembahasan APBN yang dilakukan oleh Kementerian Negara atau lembaga beserta Kementerian Kauangan. Pembuatan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang ditetapkan oleh pemerintah dan DPR, Penetapan APBN dalam Undang-Undang, Pelaksanaan APBN oleh BPK, Gubernur, Direktorat jendral anggaran, Rektor dan lembaga lain, pelaporan penggunaan anggaran belanja kepada menteri keuangan, dan pemeriksaan dan pertanggungjawaban.

Dendi juga menjelaskan bahwa anggaran negara digunakan untuk pembayaran gaji PNS, TNI, POLRI, belanja barang pemerintah, belanja kontraktual pemerintah, bantuan sosial, bantuan bencana alam, pencairan dana dan sebagainya yang bersumber dari APBN.

Diakhir penyampaian materi, ditutup dengan menjawab beberapa pertanyaan dari mahasiswa, diantaranya mengenai alasan mengapa dana dari universitas baru bisa dicairkan setelah adanya kegiatan. Dendi menjelaskan bahwa seluruh kegiatan yang direncanakan baik untuk pembangunan infrastruktur maupun BLU belum memiliki anggaran.  Sebagai contoh, pemerintah ketika membuat jalan tol dia belum memiliki anggaran, jalan tol itu dibuat dengan cara berhutang baru kemudian setelah jadi akan dibayar melalui anggaran pajak”, ujar Dendi. Dendi juga menambahkan bahwa anggaran pembangunan negara itu didapatkan dari hasil pajak dan penerimaan bukan pajak. Setelah tanya jawab kemudian mahasiswa dan para dosen  diajak untuk berfoto bersama.

Lailatus Sholihah (Forshei 15)

KONSEP ISLAMIC GREEN ECONOMY UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI JAWA TENGAH (Studi Kasus : Proyek PLTPB di Gunung Slamet)

Wednesday, January 03, 2018 Add Comment

Oleh : Khiyaratul Fajriyah
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kepulauan dari Sabang hingga Merauke. Banyaknya pulau menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah sumber daya alam yang melimpah. Tidak hanya kepulauan yang di miliki Indonesia, perairan yang begitu luas dengan beraneka ragam hewan dan tumbuhan hidup di dalam perairan tersebut menjadikan Indonesia semakin kaya. Namun begitu disayangkan perilaku buruk masyarakat setiap hari justru menjadikan ancaman kelestarian lingkungan hidup. Seperti penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dengan  penebangan pohon secara liar, penambangan secara ilegal serta tindakan lain yang merusak alam.
Tidak hanya hal-hal yang bersifat proyek ekonomi maupun pembangunan nasional, tindakan seperti membuang sampah di sembarang tempat, penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan juga menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Bisa kita bayangkan jika sampah produk dari pabrik tidak bisa di uraikan oleh alam dengan waktu yang pendek, maka akan terjadi penumpukan sampah yang menjadi lingkungan sampah baru.
Saat ini Indonesia sedang melaksanakan proses pembangunan infrastruktur dan  pembangunan ekomomi yang besar. Salah satu kemungkinan terbesar adanya pembangunan ini adalah sebagai upaya menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Seperti di wilayah Jawa Tengah, pembangunan yang bersifat nasional terus berlangsung. Pembangunan Nasional merupakan usaha peningkatan kualitas masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global [Tap.MPR NO.IV/MPR/1999]. Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang sering kali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita [Irawan,2002;5].
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang dilakukan di sekitar lereng Gunung Slamet Baturraden Banyumas Jawa Tengah dan pengambilan batu kapur di Pegunungan Kendeng Rembang-Pati Jawa Tengah termasuk dalam pembangunan ekonomi. Kerusakan lingkungan alam yang terjadi akibat dari pembangunan dapat kita lihat dari pembangunan PLTPB di lereng Gunung Slamet. Menurut Marsha Azka mahasiswa yang melakukan demonstrasi dalam wawancara oleh liptan6.com, proyek PLTPB sudah cacat sejak disusun oleh pemerintah. Air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat yang paling utama sudah tercemari karena adanya pembangunan. Koordinator Aliansi Selamatkan Slamet Muflih fuadi mengatakan bahwa ada potensi longsor dan banjir bandang, karena sebagian besar lereng selatan Gunung Slamet termasuk dalam zona merah atau wilayah rentan gerakan tanah.  Hal seperti ini yang dikhawatirkan oleh masyarakat sekitar.  Sebanyak 136 sungai di  Jawa Tengah tercemar, pengamat lingkungan hidup Prof Sudharto Hadi mengatakan pencemaran sungai terjadi akibat sampah domestik dari rumah tangga dan limbah industri.
Berikut data mengenai pencemaran  lingkungan di Jawa Tengah, Debu : 666 057,71, Sulfur Dioksida 3821 738,57,  Nitrogen Dioksida 2 930 820,12, Hidro Carbon 2 881 482,02, Carbon Monoksida 185 100 513,12, Carbon Ditoksida 1 923 417,94. Luas penggunaan lahan menurut provinsi  Jawa Tengah tahun 2014 :  lahan sawah 991 524, bukan lahan sawah 2 262 888. Frekuensi terjadinya bencana dan jenis bencana menurut kabupaten provinsi Jawa Tengah tahun 2014 : banjir 182, tanah longsor 239,  angin topan 203, kebakaran 336, gempa bumi 27[Badan Pusat Statistik Prov. Jateng,2014]. Dari hasil data tersebut bahwa Jawa tengah masih memiliki masalah dalam menjaga lingkungan hidup.
Pembangunan di lereng Gunung Slamet sebagai PLTPB harus diperhatikan dampak kedepan bukan hanya keuntungan yang akan didapat dari pembangunan tersebut, melainkan dapat melestarikan keindahan alam yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam Islam tindakan seperti ini memiliki konsep teologis hakikat yaitu pembangunan yang utuh menyeluruh (holistik integralistik). Adapun maksud pembangunan utuh menyeluruh (holistik integralistik) adalah pembangunan yang berkesinambungan, berkelanjutan dan terpadu [Mujiyono,2005]. Sehingga terjaga keseimbangan lingkungan alam dan pembangunan.
Kenyataan yang terjadi, pembangunan PLTPB memicu masalah terhadap warga setempat seperti tercemarnya air dan berkurang sumber air di masyarakat, udara panas yang bercampur dengan debu yang berterbangan menjadi pandangan masyarakat di sekitar. Tidak hanya masyarakat yang dirugikan ekosistem hewani dan hayati juga terancam punah. Pembangunan PLTPB di lereng Gunung Slamet merupakan wilayah yang seharusnya sebagai cagar alam atau hutan lindung sudah berubah menjadi hamparan tanah yang gundul. Bila hujan turun akan berpotensi terjadi tanah longsor yang menghantui penduduk setempat. Solusi yang di lakukan oleh pemilik proyek hanyalah memberikan penutup terpal pada tanah yang berpotensi longsor jika hujan. Namun masalah yang lain seperti udara dan air masih simpang-siur yang belum tersolusikan.
Permasalahan yang dijelaskan diatas haruslah menjadi sebuah pertimbangan bagi pemerintah, agar tujuan pengembangan ekonomi negara serta kesejahteraan rakyat sama-sama terwujud. Salah satu solusi dari adanya permasalahan tersebut ialah dengan adanya Islamic green economy.
 Menurut United Nations Environment Programme, Green Economy adalah perekonomian yang rendah karbon (Low carbon economy) atau menghasilkan emisi dan polusi lingkungan, efisiensi sumber daya alam (Resource efficient), dan berkeadilan sosial yang berkaitan dengan income per capita dan kemiskinan (socially inclusive) (UNEP,2011). Penggunaan teknologi dan sains harus  menerapkan ramah lingkungan.
Green economy bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia dan pertumbuhan ekonomi yang beriringan dengan pembangunan manusia dan lingkungan hidup. UNEP menyatakan bahwa penerapan green economy dapat terlihat melalui : (i) peningkatan investasi public dan private  di sektor green, (ii) peningkatan dalam kuantitas dan kualitas lapangan kerja di sektor green, (iii) peningkatan GDP dari sektor green, (iv) penurunan penggunaan energi/ sumber daya per unit produksi, (v) penurunan level CO2 dan polusi/ GDP, (vi) penurunan komsumsi yang banyak menghasilkan limbah.
Islamic green economy dalam lingkup fiqih lingkungan dicetuskan oleh Profesor Mujiyono Abdillah. Salah satu dosen di UIN Walisongo Semarang khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Fokus pandangan dalam pembahasan jurnalnya adalah “Agama Ramah Lingkungan : Perseptif Al-Qur’an”. Dalam jurnal tersebut pembahasan mengenai agama merupakan hal yang juga mendukung adanya perekonomian yang memelihara lingkungan. Salah satu pembahasan yang menarik yaitu teologi lingkungan dimana manusia merupakan bagian dari sistem lingkungan hidup yang melengkapi. Secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi- keadaan dan pengaruh dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal-hal yang hidup, termasuk manusia.
Sehingga antara makhluk hidup harus saling seimbang untuk melindungi. Pembahasan selanjutnya adalah teologi energi, energi temasuk sumber daya alam yang diperlukan, keyakinan bahwa energi itu terbatas didasarkan luas, volume dan massa bumi terbatas. Dalam Islam agar energi yang terbatas itu tetap kekal abadi maka harus dimanfaatkan secara lestari.  Teologi pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayaguna sumber manusia dengan manfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Islam merupakan agama yang menjaga lingkungan, dalil keyakinan untuk ini tidak dapat diragukan karena sudah banyak dibuktikan. Manusia adalah makhluk pembangun, yang ditugaskan untuk mengelola dan memakmurkan bumi yang dijelaskan dalam Firman Allah SWT dalam surat al Hud ayat 61:

هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها
“Dialah Allah yang menciptakan kamu dari unsur tanah dan memerintahkan kalian untuk memakmurkan, mengelola, lingkungan

Maksud dari manusia pembangun ini tidak serta membangun terus hingga melupakan makhluk lain dan merusak alam. Islamic green economy memiliki konsep dimana dalam pembangunan terlebih dahulu di ukur dengan madharat dan maslahah yang akan terjadi ke depan dan tidak mengexplore sumber alam yang ada secara berlebihan. Selain itu karakteristik dari Islamic green economy cenderung pelindungan terhadap lingkungan sebagai kekayaan yang diturunkan untuk generasi ke depan. Penggunaan teknologi dan sains yang diterapkan harus harmonis dengan lingkungan hidup. Manfaat yang diberikan dalam penerapan Islamic green economy yaitu lingkungan hidup masih terjaga hingga generasi selanjutnya dan pembangunan terlaksana tanpa atau sedikit dampak buruk kedepannya.
Jawa Tengah mayoritas penduduknya beragama muslim. Penerapan Islamic green economy seharusnya mudah diterapkan. Namun pada kenyataan penerapan konsep Islamic green economy cenderung tidak terlihat. Hal tersebut dikarenakan perilaku dilingkungan Islam masih bervariasi antara tinggi, sedang dan rendah. Perilaku yang seharusnya memikirkan rasa syukur atas pemberian lingkungan yang asri dari Allah SWT  tidak banyak di terapkan dalam kehidupan.
Menurut pendapat penulis Islamic green economy merupakan contoh yang harus di terapkan dalam pembangunan-pembangunan di Jawa Tengah. Karena memiliki tujuan yang lebih baik dari pada pembangunan yang biasa dilakukan. Seperti Islamic Green Economy melindungi sumber daya alam agar tetap terjaga dan lestari hingga generasi selanjutnya. Penggunaan alat teknologi dan sains di utamakan yang ramah lingkungan hidup. Pembangunan memang selalu bertentangan dengan melestarikan lingkungan namun ada tindakan-tindakan yang harus dilakukan agar pembangunan berkelanjutan (SDGs) berjalan disertai dengan terjaganya lingkungan hidup. 

Konsepsi Makna Al-Kasb (Pekerjaan) Layak Menurut Al-Syaibani

Monday, January 01, 2018 Add Comment

Oleh : Nor Lailatul Yulia
Study Kitab Klasik Karya Al-Syaibani

Setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa terlepas dari yang namanya aktifitas, baik itu aktifitas fisik maupun aktifitas non-fisik. Salah satu aktifitas fisik yaitu berupa gerakan-gerakan atau yang sering disebut dengan kerja. Bekerja mengandung makna melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan hasil atau buah karya yang dapat digunakan sebagai pemenuh kebutuhan yang dapat dinikmati oleh manusia yang bersangkutan (As’ad, 2002: 46).
Banyak faktor yang memengaruhi manusia untuk bekerja. Faktor yang utama yaitu untuk memenuhi kebutuhan primer. Dalam bekerja tentu tujuan utama yang diharapkan adalah upah atau gaji. Aktifitas bekerja selain untuk mendapatkan upah juga mengandung unsur sosial, menghasilkan sesuatu produk yang pada akhirnya akan menjadi pemenuh kebutuhan manusia lain. Dengan demikian, bekerja merupakan upaya memertahankan kelangsungan hidup dan juga mencapai taraf hidup yang lebih baik (As’ad, 2002: 46).
Menurut DR. Payaman Simanjuntak, dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia” mendefinisikan tenaga kerja sebagai penduduk yang sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan, untuk menghasilkan sesuatu yang sudah memenuhi persyaratan ataupun batas usia yang telah ditetapkan Undang-Undang. Secara praktis DR. Payaman Simanjuntak mendefinisikan pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya dibedakan menurut faktor umur belaka.
Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia dengan populasi penduduk sekitar 237,6 juta jiwa (sensus penduduk tahun 2010). Dengan jumlah penduduk yang sebanyak itu, tentu setiap penduduk Indonesia yang tengah memasuki usia kerja saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi di Indonesia jumlah tenaga kerja produktif semakin meningkat setiap tahunnya.
Meningkatnya produktifitas tenaga kerja di Indonesia tidak diimbangi dengan jumlah lapangan kerja yang memadai, dengan pusat perekonomian Indonesia hanya berada di Jawa, khusunya terpusat di Jakarta dan kawasan penyangga. Banyak penduduk Indonesia yang mengadu nasib ke Jakarta, dengan harapan dapat memerbaiki taraf kehidupannya di desa agar menjadi lebih baik.
Problematika yang sering kita jumpai dari zaman dahulu sampai sekarang adalah banyaknya angka pengangguran dan minimnya jumlah lapangan pekerjaan. Disamping itu, rata-rata penduduk Indonesia bekerja dibawah garis layak dan sedikit yang bekerja di tempat yang memadai. Upaya yang ditempuh pemerintah dalam menangani problematika tersebut dari waktu ke waktu belum teratasi, dikarenakan semakin sempitnya lapangan pekerjaan dan Indonesia sendiri tengah memasuki masyarakat ekonomi asean (MEA), sehingga banyak berdatangan tenaga kerja asing ke Indonesia.
Dalam Islam, semua urusan duniawi sudah diatur semuanya, begitupun soal pekerjaan. Konsep pekerjaan atau kerja dalam Islam sering disebut dengan al-Kasb, salah satu tokoh yang menjelaskan tentang konsep ini adalah Al-Syaibani atau Abu Abdillah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad al-Syaibani. Al-Syaibani lahir pada tahun 132 H (750 M) di kota Wasit ibukota Irak pada akhir pemerintah Bani Umayyah.
Al-Syaibani merupakan murid dari Abu Hanifah dan merupakan sebagai tokoh penyebar madzhab hanafi, dan merupakan salah satu murid yang sangat genius. Salah satu pemikiran Al-Syaibani dalam hal ekonomi adalah dapat dilihat dalam kitab al-Kasb, yaitu kitab yang mengkaji masalah mikro ekonomi yang berkisar pada teori al-Kasb serta sumber-sumber pedoman perilaku produksi dan konsumsi.
Al-Kasb (kerja) menurut Al-Syaibani merupakan upaya mencari harta melalui berbagai hal dengan cara yang tidak dilarang dalam Islam, manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi dan diperintahkan bekerja keras untuk kebutuhan hidup guna mencari ridha allah SWT. Dalam ilmu ekonomi, biasanya disebut dengan aktifitas produksi. Aktifitas produksi secara Islam dan konvensional berbeda, perbedaan dalam ekonomi Islam adalah tidak semua aktifitas akan menghasilkan barang atau jasa, karena erat kaitannya dengan halal dan haram sesuatu barang dalam cara memeroleh.
 Dalam memroduksi, harus mengetahui unsur apa, bagaimana, cara, apa tujuan dari yang diproduksi serta kepada siapa objek produksi tersebut. Sebab dalam Islam, barang atau jasa mempunyai nilai guna jika mengandung objektifitas terhadap produsen karena didasarkan pada tujuan (maqasid) syari’ah untuk memelihara kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Imam Al-Syaitibi menjelaskan, kemaslahatan dapat dituju dengan melestarikan lima pokok unsur kehidupan yaitu, agama, akal, jiwa, keturunan dan harta.
Konsep ekonomi konvensional menganggap suatu barang atau jasa mamiliki nilai guna apabila barang tersebut masih diperlukan. Maksudnya, nilai guna suatu barang akan ditentukan oleh keinginan dari setiap konsumen ke konsumen lain dan bersifat objektif. Secara umum, produksi konvensional hanya menyematkan unsur duniawi belaka, tanpa memertimbangkan halal atau haram.
Aktifitas produksi merupakan bagian wajib dari ‘Imarul Kaum atau menciptakan kemaslahatan untuk manusia. Al-Syaibani menegaskan, kerja merupakan bagian utama produksi dan mempunyai kedudukan sangat penting dalam kehidupan, karena menunjang pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT. Kerja mempunyai peranan penting dalam menunaikan suatu kewajiban karena hukum dari bekerja itu wajib. Al-Syaibani pernah menyatakan bahwa, bekerja merupakan ajaran Rasul terdahulu untuk diteladani para kaumnya sebagai cara berlangsung hidup.
Salah satu implementasi dari kemaslahatan bekerja yang layak adalah menciptakan usaha-usaha perekonomian. Al-Syaibani membagi usaha perekonomian menjadi empat macam, yaitu sewa-menyewa, perdagangan, pertanian dan perindustrian, diantara keempat  usaha perekonomian, Al-Syaibani mengutamakan pertanian dari usaha lain. Sebab, pertanian memproduksi berbagai macam kebutuhan pokok manusia, baik itu primer maupun sekunder.
Dari sisi hukum, usaha perekonomian dibagi menjadi dua, yaitu fardu kifayah dan fardu ‘ain. Di hukum fardu kifayah apabila roda perekonomian terus berjalan untuk mencukupi kebutuhan sesama manusia, dan mengakibatkan krisis apabila roda perekonomian itu berhenti, sedangkan di hukum fardu ‘ain apabila usaha perekonomian hanya untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan tanggungannya, tanpa mengurusi kebutuhan kemaslahatan manusia.
Dalam kodratnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan manusia lain untuk berlangsung hidup. Al-Syaibani menyatakan bahwa seseorang yang kaya akan selalu membutuhkan tenaga orang fakir, sedangkan orang fakir akan membutuhkan orang kaya dalam memenuhi kebutuhannya. Manusia juga dituntut untuk hidup berkecukupan, menggunakan harta benda untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia, tidak dipergunakan untuk memperkaya diri untuk kebutuhan pribadi.
Kerja juga merupakan salah satu implikasi untuk kemajuan suatu negara, termasuk proses produksi, konsumsi, distribusi dari suatu barang atau jasa akan berimplikasi secara menyeluruh untuk meningkatkan taraf hidup dan kemaslahatan dan perekonomian suatu Negara.
Esensi makna bekerja (al-Kasb) menurut Al-Syaibani ini selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menciptakan pekerjaan yang layak, juga untuk menciptakan kemaslahatan kepada sesama. Karena dengan menciptakan kemaslahatan kepada sesama manusia akan menciptakan masyarakat yang sejahtera, tidak hanya satu atau dua orang yang mendapatkan hidup layak, tetapi juga kehidupan layak setiap orang.
Dengan pekerjaan yang layak, secara otomatis akan mengantarkan ketaatan kepada Allah SWT dalam beribadah. Karena dengan kita mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, passion, dan juga pekerjaan yang layak, secara otomatis tidak akan pernah berpikiran tentang hal duniawi.
Al-Syaibani mendefinisikan pekerjaan sebagai aktifitas produksi, bisa disebut dengan ‘Imarul Kaum atau menciptakan kemaslahatan kepada sesama manusia. Kerja merupakan bagian yang penting dalam produksi, kehidupan, dan merupakan kewajiban. Al-Syaibani menjelaskan implementasi pekerjaan yang kayak adalah menciptakan usaha-usaha perekonomian, dan sebaik-baik usaha-usaha perekonomian adalah bertani. Karena jerih payah tenaga yang dikeluarkan petani akan berguna bagi sesama, dan pemenuh kebutuhan primer setiap orang tak hanya dinikmati petani sendiri.
Di Indonesia sendiri, yang notabene negara agraris masih mengesampingkan pekerjaan bertani, masyarakat yang bekerja sebagai petani malah hidup dibawah garis layak dan rata-rata masyarakat Indonesia lebih memilih untuk bekerja industrial ataupun di perkantoran. Seharusnya, pemerintah harus memerhatikan seorang petani, karena usaha yang dikeluarkan seorang petani dalam bercocok tanam sebagai kebutuhan pokok semua orang.