Pemikiran Ekonomi Al-Ghazali dan Ibn Taimiyah

Friday, May 18, 2018 Add Comment


AL-GHAZALI
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’I Al-Ghazali. Secara singkat dipanggil Al-Ghazali-karena dilahirkan di Ghazlah, suatu kota di Khurasan, Iran, pada tahun 450 H/1058 M. Kita ketahui bersama bahwa Imam al Ghazali hidup pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah, persisnya pada masa dinasti Salajikah (saljuk), yang mana pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah Islam telah mencapai masa puncak keemasannya.
Kemajuan pada bidang politik, ekonomi, dan pengetahuan yang luar biasa bisa dikatakan kemajuannya tidak pernah ada yang menandingi oleh kerajaan manapun di dunia ini. Jadi bisa dikatakan kondisi perekonomi pada masa Imam al Ghazali sangat baik dan seimbang. Dikatakan baik dan seimbang bukan tidak ada celah dan kelemahan dalam perekonomian barter yang mana terjadi ketidaksesuaian keinginan antara dua pihak. Lebih jauh Imam al Ghazali mengatakan bahwa untuk mewujudkan perekonomian barter, seseorang memerlukan usaha yang keras. Pelaku ekonomi barter harus mencari seseorang yang mempunyai keinginan yang sama dengannya. Para pelaku ekonomi barter tersebut juga akan mendapatkan kesukaran dalam menentukan harga, khususnya ketika terjadi keragaman barang dagangan, pertambahan produksi, dan perbedaan kebutuhan. Di sinilah uang dibutuhkan sebagai ukuran nilai suatu barang, sekalipun dalam perekonomian barter. Dengan demikian, dalam pandangan al Ghazali, uang hanya berfungsi sebagai satuan hitung dan alat tukar. Ia mengatakan bahwa zat uang itu sendiri tidak dapat memberikan manfaat. Dan ini berarti bahwa uang bukan merupakan alat penyimpan kekayaan.
Pemikiran ekonomi al-Ghazali didasarkan pada pendekatan tasawuf karena pada masa hidunya, orang-orang kaya berkuasa dan sarat prestise sulit menerima pendekatan fiqh dan filosofis dalam mempercayai hari pembalasan. Corak pemikiran ekonominya dituangkan dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, al-Mustasfa, Mizan Al-a’mal, dan al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk.

IBNU TAIMIYAH
Ibnu Taimiyah memiliki nama lengkap Taqi al-Din Ahmad bin Abd. Al-Halim bin Abd. Salam bin Taimiyah ini lahir di Harran, 22 Januari 1263 M (10 Rabiul Awwal 661 H). Ayahnya bernama Abdal-Halim, pamannya Fakhruddin dan kakeknya bernama Majduddin. Ibnu Taimiyah dibesarkan dalam lingkungan keluarga ulama besar Mazhab Hambali. Ibnu Taimiyah menghasilkan banyak karya ilmiah (diperkirakan berjumlah 300 –500 buah karya ilmiah) yang menguraikan tentang hukum, ekonomi, filsafat dan lain sebagainya.
Pemikiran Ekonomi Ibnu Taimiyah Ibnu Taimiyah memiliki pandangan yang jelas mengenai pasar bebas, dimana suatu harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Jika permintaan naik dan penawaran turun, maka harga naik, begitupun jika yang terjadi sebaliknya.
Pada masa beliau terdapat indikasi bahwa kenaikan harga yang terjadi dianggap sebagai akibat dari kedzaliman para pedagang yang mendorong terciptanya ketidaksempurnaan pasar. Namun, beliau berpendapat bahwa pandangan tersebut tidak selalu benar, karena bisa saja alasan naik turunnya harga disebabkan oleh kekuatan pasar.
Ibnu Taimiyah mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan serta konsekuensinya terhadap harga, yakni : a. Ar- raghabah (keinginan) atas barang-barang berbeda dan seringkali berubah. Hal ini tentu dipengaruhi oleh limpahan atau langkanya suatu barang. Semakin langka semakin ia diminati oleh masyarakat. b. Jumlah orang yang meminta. Semakin banyak orang yang meminta dalam satu jenis barang dagangan, maka semakin mahal harga barang. c. Kuat atau lemahnya permintaan. Kebutuhan tinggi dan kuat, harga akan naik lebih tinggi ketimbang jika peningkatan kebutuhan itu kecil ayau lemah. d. Kualitas pembeli. Jika pembeli adalah orang kaya dan terpercaya dalam membayar utang, harga yang diberikan lebih rendah. e. Jenis uang yang digunakan. Harga akan lebih rendah jika pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang yang umum dipakai (naqd ra’ij) daripada uang yang jarang dipakai. f. Besar kecilnya biaya yang dilakukan oleh produsen (penjual). Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk produksi akan mempengaruhi harga jual barang. g. Tujuan transaksi yang menghendaki adanya kepemilikan resiprokal diantara kedua belah pihak. Harga suatu barang yang telah tersedia dipasaran lebih rendah daripada harga suatu barang yang belum ada di pasaran.

Forshei Berbagi "Menjalin dan Menjaga Ukhuwah"

Wednesday, May 16, 2018 Add Comment

BERINGIN– Rabu (16/05/2018) pukul  20.10 WIB dilaksanakan acara pembagian fidyah yang di berikan oleh Dompet Dhuafa kepada panti asuhan Al-Hikmah Bringin Raya, Ngaliyan, Semarang. Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang sebagai volunteer yang akan membagikan fidyah secara langsung kepada panti asuhan Al-Hikmah. Kegiatan ini di ikuti oleh 15 kader forshei, 45 anak yatim, 9 orangtua lansia, dan beberapa pengurus yayasan panti asuhan Al-Hikmah.

Pada pembukaan pembagian fidyah, kegiatan dibuka dengan membaca surat Al-Fatihah yang dipimpin oleh pembawa acara. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh perwakilan forshei dan perwakilan dari pengurus panti asuhan Al-Hikmah.
Wakil ketua Forum Studi Hukum Ekonomi Islam Saudara Baihaqi menyampaikan tujuan forshei mengunjungi panti asuhan Al-Hikmah yaitu bukan hanya sebagai volunteer  dari Dompet Dhuafa untuk berbagi membagikan fidyah melainkan juga untuk menjalin dan menjaga silaturrahmi ke depannya di luar kegiatan pembagian fidyah ini. 

Sementara itu, di dalam sambutannya Ketua Yayasan panti asuhan Al-Hikmah Bapak Muzammil menyampaikan rasa terimakasih kepada Dompet Dhuafa atas pemberian fidyah kepada anak-anak panti asuhan dan berterimaksih kepada forshei karena sudah mau menyambung tali silaturrahmi. Beliau berharap silaturrahmi ini tetap terjalin dan selalu terjaga. “Panti asuhan Al-Hikmah tidak hanya menampung anak-anak saja, tetapi juga menampung orang tua lansia. Jika teman-teman forshei menemukan anak-anak yang terlantar dijalanan, silahkan serahkan kepada kami. Insyaallah akan kami urus”. Papar Bapak Muzammil.

Setelah pembukaan kegiatan ditutup dengan membaca al-hamdalah, warga panti asuhan dan kader-kader forshei mengambil posisi untuk siap diambil gambarnya sebagai kenang-kenangan. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian fidyah kepada warga panti asuhan dan makan bersama.




Pemikiran Ekonomi Muhammad Bin al-Hasan Asy Syaibani, Yahya bin Umar, Harits bin As'ad al-Mahasibi

Tuesday, May 15, 2018 Add Comment


Muhammad bin al-Hasan bin Asy Syaibani
Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan bin Farqad Al-Syaibani lahir pada tahun 132 H (750 M) di kota Wasith, ibukota Irak pada masa akhir pemerintahan Bani Muawiyyah. Ayahnya berasal dari negeri Syaiban di wilayah jazirah Arab. Bersama orang tuanya, Al-Syaibani pindah ke kota Kuffah yang ketika itu merupakan salah satu pusat kegiatan ilmiah. Di kota tersebut, ia belajar fiqih, sastra, bahasa, dan hadits kepada para ulama setempat, seperti Mus’ar bin Kadam, Sufyan Tsauri, Umar bin Dzar, dan Malik bin Mughul. Dalam mengungkapkan pemikiran ekonomi Syaibani, para ekonom Muslim banyak merujuk pada kitab al-Kasb sebuah kitab yang lahir sebagai respon penulis terhadap sikap zuhud yang tumbuh dan berkembang pada abad ke-2 Hijriyah. Secara keseluruhan, kitab ini mengemukakan kajian mikro ekonomi yang berkisar pada teori kasb (pendapatan) dan sumber-sumbernya serta pedoman perilaku produksi dan konsumsi. Kitab tersebut termasuk kitab pertama di dunia Islam yang membahas permasalahan ini. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Dr. Al-Janidal menyebut Al-Syaibani sebagai salah seorang perintis ilmu ekonomi Islam. Pemikiran ekonomi Al-Syaibani meliputi: Al-Kasb (Kerja), kekayaan dan kefakiran, klasifikasi usaha-usaha perekonomian, kebutuhan-kebutuhan ekonomi, spesialisasi dan distribusi pekerjaan.

Yahya bin Umar
Yahya bin Umar merupakan salah satu fuqaha mazhab Maliki. Ulama yang bernama lengkap Abu Bakar Yahya bin Umar bin Yusuf Al Kannani Al Andalusi ini lahir pada tahun 213 H. dan dibesarkan di Kordova, Spanyol. Seperti para cendekiawan terdahulu, ia berkelana ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu. Semasa hidupnya, disamping aktif mengajar, Yahya bin Umar juga banyak menghasilkan karya tulis hingga mencapai 40 juz. Di antara beberapa karyanya yang terkenal adalah kitab al-Muntakhabah fi Ikhtishar al Mustakhrijah fi al fiqh al Maliki dan kitab Ahkam al Suq. Penekanan pemikiran ekonomi Yahya bin Umar adalah pada masalah penetapan harga (al-tas’ir). Ia berpendapat bahwa penetapan harga tidak boleh dilakukan. Hujjahnya adalah mengenai kisah para sahabat yang meminta Rosulullah untuk menetapkan harga karena melonjaknya harga barang namun ditolak oleh Rasulullah dengan alasan Allah-lah yang mengusai harga. Dalam konteks ini, penetapan harga yang dilarang oleh Yahya bin Umar adalah kenaikan harga karena interaksi permintaan dan penawaran. Namun jika harga melonjak karena human error maka pemerintah mempunyai hak intervensi untuk kesejahteraan masyarakat. Sekalipun tema utama yang diangkat dalam kitabnya, Ahkam al Suq, adalah mengenai hukum-hukum pasar, pada dasarnya, konsep Yahya bin Umar lebih banyak terkait dengan permasalahan ihtikar dan siyasah al ighraq. Dalam ilmu ekonomi kontemporer, kedua hal tersebut masing-masing dikenal dengan istilah monopoly’s rent-seeking dan dumping.

Harits bin As'ad al-Mahasibi
Abu Abdillah Al-Haris ibnu Asad Al-Basri Al-Muhasibi. Lahir pada abad ke-2 Hijriyah (165 H/781 M) di Basrah, Irak. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berada baik secara materi maupun intelektual. Dengan mudah ia pun pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu, dan di sana pula ia berkembang menjadi seorang intelektual. Ia menulis banyak kitab, meliputi berbagai ilmu pengetahuan seperti tafsir, hadis, fikih sampai tasawuf. Buku al-Muhasibi menekankan dalam kejujuran pada setiap aktivitas ekonomi. Penekanan tentang perlunya kejujuran ini merupakan prinsip kegiatan-kegiatan ekonomi. Kemudian dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya, seorang muslim dilarang melakukannya dengan cara yang dilarang atau bathil. Al-Muhasibi juga menekankan pentingnya kerjasama antar sesama muslim. Adapun pemikiran ekonomi Al-Muhasibi bahwa pendapatan diperoleh dengan mata pencaharian contohnya melalui perdagangan yang disyari’atkan oleh agama Islam. Pun pendapatan dan laba harus diperoleh secara baik dan tidak melampaui batas.

Sosialisasi "Menghadapi Investasi Bodong" OJK Goes To Village

Friday, May 11, 2018 Add Comment
Berita


Demak , 11/05 – Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan acara OJK goes to village dengan tema ”Peran OJK dalam Menghadapi Investasi Bodong”, yang berlokasi di Demak tepatnya di Balai Desa Krandon Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Acara ini dihadiri oleh tim KKN UIN Walisongo Semarang, perangkat desa, dan dan masyarakat sekitar Krandon. Acara ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat khususnya warga desa Krandon tentang peran OJK dalam menghadapi investasi bodong, yang kebanyakan dari masyarakat masih mudah tertipu oleh investasi bodong dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda. Pada acara OJK goes to village ini di isi oleh Bapak Nur Satyo Kurniawanselaku perwakilan dari OJK.
Acara dimulai pukul 13.30 WIB dengan membacakan ayat suci al-Quran oleh saudara Ulfi Zulfikar, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh saudari Nisa’ul Hanik, dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh ketua umum forshei saudara Muhammad Firdaus, sambutan kedua dari Bapak Mad Affandi selaku perwakilan kepala desa Krandon. Acara selanjutnya yaitu penyampaian materi yang disampaikan oleh Bapak Nur Satyo Kurniawanselaku perwakilan dari OJK. Beliau mengatakan bahwa akhir-akhir ini banyak sekali kasus penipuan atau investasi bodong mulai dari perusahaan berkedok agribisnis, intan, emas, sampai produk canggih finansial di luar negeri, dan menjelaskan bahwa berdasarkan UU No. 21 Tahun 2011 OJK berfungsi sebagai regulator & pengawas lembaga jasa keuangan yang terintegrasi, dan berperan sebagai regulator & pengawas perbankan serta sebagai regulator dan pengawas pasar modal & IKNB. Beberapa contoh investasi bodong di Indonesia meliputi penipuan penggandaan uang oleh Kanjeng Dimas, UN SWISSINDO, Koperasi Pandawa, dll. Beliau pun menjelaskan secara singkat bahwa penyebab banyaknya korban investasi bodong yaitu karena adanya rasa takut dan ketamakan dari sang investor.
Selanjutnya Bapak Satyo pun memberi tips kepada audients dalam menghindari investasi bodong, pertama sebelum berinvestasi cek dahulu perusahaannya, produknya, dan cara pemasarannya; kedua minta salinan tertulis rencana pemasaran dan penjualan dari perusahaan; ketiga meghindari promoto yang tidak dapat menjelaskan rencana bisnis perusahaan; keempat cek permintaan produk dimasaran; dan kelima yaitu semakin besar keuntungan yang diimingi akan semakin besar risiko kerugiannya.  Lalu bagaimana tindak lanjut OJK? Pertama menghentikan kegiatan penghimpunan dana masyarakat oleh perusahaan investasi bodong, kedua menyatakan segala kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan perusahan tersebut adalah ilegal, ketiga melakukan kerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
Setelah Bapak Nur Satyo Kurniawanmenyampaikan materinya, para audients pun dipersilahkan untuk bertanya terkait materi tadi. Para audients pun antusias dengan silih berganti bertanya, karena dari pihak OJK memberi reward bagi siapapun yang bertanya. Setelah waktu menunjukkan pukul 15.40 akhirnya acara pun ditutup dengan bacaan Hamdalah.

Pemikiran Ekonomi Abu Ubaid dan Abu Yusuf

Tuesday, May 08, 2018 Add Comment

Abu Yusuf merupakan salah satu pemikir ekonomi periode pertama yang hidup pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah pada tahun 112-182 H/731-798 M. Abu Yusuf terkenal sebagai Qadi (hakim). Diantara kitab-kitab Abu Yusuf yang paling terkenal adalah kitab Al-Kharaj. Kitab ini ditulis atas permintaan khalifah Harun Ar-Rasyid untuk pedoman dalam menghimpun pemasukan atau pendapatan negara dari kharaj, ushr, zakat, dan jizyah. Kitab ini dapat digolongkan sebagai public finance dalam pengertian ekonomi modern. Untuk Kharaj (pajak pertanian) Abu Yusuf menganjurkan untuk menetapkan pajak pertanian berdasarkan pada pajak proporsional (muqasamah). Selain itu terkait dengan mekanisme harga Abu Yusuf menentang adanya penetapan harga, karena menyalami hukum permintaan.
      Menurut Abu Yusuf, sistem ekonomi Islam menjelaskan prinsip mekanisme pasar dengan memberikan kebebasan yang optimal bagi para pelaku di dalamnya yaitu produsen dan konsumen. Jika karena suatu hal selain monopoli, penimbunan atau aksi sepihak yang itdak wajar dari produsen terjadi karena kenaikan harga, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi dengan mematok harga. Penentuan harga sepenuhnya diperankan oleh kekuatan permintaan dan penawaran dalam ekonomi.
Selain Al-Kharaj, beliau menulis Al-Jawami, buku yang sengaja ditulis untuk Yahya bin Khalid, selain itu juga menyusun Usul Fiqh Hanafiah (data-data fatwa hukum yang disepakati Imam Hanafiah bersama murid-muridnya). Abu Ubaid  merupakan salah satu pemikir ekonomi periode pertama yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu pada tahun 154-224 H/ 774-738 M. Beliau adalah seorang hakim yang menulis kitab Amwal yang berisi tentang Dikotomi Badui ke Urban, kepemilikan dalam pandangan kebijakan perbaikan pertanian, pertimbangan kepentingan (menolak pembagian yang sama dalam zakat) , dan fungsi uang (standard of exchange value, dan medium of exchange).


Pemikiran Ekonomi  yang diajukan oleh Abu Ubaid adalah sebagai berikut: pertama, Negara memiliki sumber pendapatan yang utama dari fai, khums dan shadaqah serta pendistribusian atas berbagai pendapatan negara tersebut kepada masyarakat. Kedua, kepentingan individu apabila bersentuhan dengan kepentingan publik,  kepentingan publik harus diutamakan. Ketiga, pendistribusian yang berbeda atas kelompok badai dan urban, yaitu kelompok urban mendapatkan hak yang lebih dibandingkan dengan badai karena sumbangsihnya terhadap negara. Keempat, menentang pendapat yang menyatakan bahwa pembagian harta zakat harus dilakukan secara merata diantara delapan kelompok penerima zakat dan cenderung menentukan suatu batas tertinggi terhadap bagian perorangan. Kelima, fungsi uang yang hanya sebagai sarana pertukaran dan sarana penyimpan nilai. Keenam, konsep timbangan dan ukuran dalam transaksi ekonomi.