ForSHEI Kembali Menjuarai TEMILKOM Semarang 2016

Sunday, December 25, 2016 Add Comment

Semarang,(24-25/12) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengikuti serangkaian penuh Sharia Economic Competition 2016 pada Temu Ilmiah Komisariat Semarang yang diadakan di KSEI Jazirah POLINES, dengan tema “Maqashid Syariah dalam Ekonomi Islam sebagai Tonggak Perekonomian di Indonesia”. Perlombaan yang diikuti oleh 13 KSEI se-komisariat Semarang ini berjalan dengan lancar. Semangat yang menggebu-nggebu para delegasi ForSHEI  pada Temilkom Semarang 2016 kali ini mengantarkan ForSHEI meraih juara. Kemenangan tim ForSHEI ini merupakan kemenangan dua kali berturut-turut dari Kompetisi sebelumnya. Dengan menyabet juara 2 LCC oleh tim pertama yang diwakili saudari Lailatus Sholihah, Ismi Ulil Chasanah dan Mita KurniaRizki, ForSHEI juga menjuarai cabang perlombaan MTQ oleh Eva Nur Musdalifah (juara 2) dan Eko Nur Choliludin (juara 3). Semoga dengan ini menjadikan pelajaran bagi kader-kader ForSHEI untuk terus berproses. Selalu bersyukur dan jangan cepat puas, selamat dan sukses selalu untuk ForSHEI.


Oleh : Muhayyama Rusdhita Jana (ForSHEI 2015)

Kunjungan ForSHEI ke BAPEDA Jateng (Strategi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah)

Wednesday, December 14, 2016 Add Comment
Semarang,(14/12) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan kunjungan ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jawa Tengah, yang beralamat di Jl.Pemuda No.148 Semarang. Kunjungan ini diisi dengan diskusi bersama antara ForSHEI dan BAPPEDA Jateng mengenai Strategi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah yang menjadi salah satu program BAPPEDA itu sendiri.
Diskusi yang didampingi oleh bpk Moh. Arifin S.Ag, MM., (Wadek 3 fak.Syariah UIN WS), bpk. Ibnu Kuncoro (KABID PEM & DUK BAPPEDA Jateng), bpk Wisnu (Staff BAPPEDA bagian Perekonomian) dan juga dihadiri oleh staff-staff BAPPEDA yang lain.
Acara yang dimulai jam 08.00 diawali dengan sambutan dari bpk. Moh. Arifin selaku pendamping dari ForSHEI menyampaikan agar BAPPEDA bersedia mendampingi dan membimbing mahasiswa-mahasiswi ForSHEI dalam acara diskusi kali ini. Diharapkan agar mahasiswa mengetahui mengenai BAPPEDA selaku Badan Perencanaan Pembangunan Jawa Tengah, khususnya penanggulanngan kemiskinan  di Jawa Tengah.
Memasuki acara inti yaitu presentasi dan penjelasan materi dari BAPPEDA, yang pertama disampaikan oleh bpk Ibnu Kuncoro mengenai kemiskinan di Jawa tengah, dan materi yang kedua disampaikanoleh bpk.Wisnu mengenai Kebijakan Ekonomi dalam Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah.
Salah satu pertanyaan dari saudari Lailatus Sholihah yaitu apa strategi Gubernur/BAPPEDA mengenai desanya di kab.Pati yaitu desa Keburomo yang termasuk cukup tertinggal. Disampaikan bahwa ada anggaran dana masuk ke UMKM dalam pengelolaan ikan lele, namun programnya tersebut tidak berjalan dengan semestinya sehingga belum mendapatkan hasil yang diinginkan.
Kemudian dijawab oleh bpk Ibnu dan bpk Wisnu bahwa mungkin dalam pengelolaan lele tersebut belum ada motivasi dari pada penduduknya, jenis bibit tidak termasuk bibit yang bagus dan berbagai alasa yang lainnya. BAPPEDA menyarankan UMKM yang dibina di desa tersebut adalah UMKM yang berbadan hukum, sehingga dari pihak BAPPEDA sendiri bisa menyalurkan bantuannya dalam rangka penanggulangan kemiskinan.
Acara diskusi berakhir pada pukul 12.00 ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada masing-masing pihak ForSHEI dan BAPPEDA, dan diakhiri dengan foto brsama sebagai simbol silaturaahmi antar kedua belah pihak.


Oleh : Muhayyama Rusdhita Jana (Kader ForSHEI 2015)

ForSHEI Hadiri Semarak Milad OJK ke-5 (Regional Jateng-DIY)

Sunday, November 20, 2016 Add Comment
Semarang (19-20/11), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mendapat kesempatan menghadiri penyelenggaraan milad Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang ke-5. Salah satu acara yang diadakan OJK pada hari sabtu yaitu Pembukaan Pasar Rakyat Syariah 2016, bertempat di kantor OJK Regional 3 Jateng-DIY. Berbagai kegiatan diadakan untuk menyemarakkan milad OJK tersebut, diantaranya lomba menggambar oleh anak-anak setingkat Taman Kanak-kanak, pameran foto, dan Pasar Rakyat Syariah yang diikuti oleh Lembaga Keuangan dan instansi-instansi lainnya. Acara resmi dibuka dengan penabuhan beduk sebagai simbol diiringi riuh tepuk tangan para hadirin.

Dewan Komisioner OJK bagian IKNB Edy Setiadi dalam sambutan Pasar Rakyat Syariah menyampaikan bahwa kegiatan ini diadakan sebagai gerakan kampanye Nasional Aku (anak muda) Cinta Keuangan Syariah. Ekonomi syariah tidak hanya terbatas pada keuangan syariah saja, tetapi juga terdapat Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah. Keuangan syariah bukan hanya untuk orang-orang kecil, tetapi juga sebagai progam kemajuan yang harus dicapai sebagai kontribusi pembangunan bangsa. 3 Oktober 2016 Bank Aceh beralih menjadi Bank Syariah, fakta menyebutkan bahwa lembaga keuangan syariah naik menjadi 4,7 persen. Kontribusi terbesar yaitu diantaranya pada asuransi, multi finance, dan pegadaian syariah, kata Edy.

Pada dasarnya  perkembangan industri keuangan baik bank maupun non bank butuh inovasi kreatifitas dari kalangan muda. Sehingga seluruh masyarakat dapat menggunakan jasa keuangan syariah sebagai budaya hidupnya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. karena kedepan jiwa muda muslim lah yang akan memegang dan menggerakkan ekonomi syariah.

Dalam wawancara Siti Khaulifah A. (kader ForSHEI 2015) kepada bapak Mulyadi (Deputi Direktur Pengawas LJK- Kantor OJK Regional 3 Jateng dan DIY) selaku ketua panitia dalam acara ini memaparkan bahwa tema Pasar Rakyat Syariah diambil karena pada dasarnya perbankan syariah dan pasar syariah lahir belum lama dan didaulahi oleh konvensional, pertumbuhannya memang meningkat tetapi porsinya belum menggembirakan. Produk-produk dari jasa keuangan syariah sudah cukup beragam bahkan sama seperti produk yang dimunculkan oleh keuangan konvensional, tetapi pada satu sisi keuangan syariah masih belum banyak diterima. Oleh karena itu acara ini diadakan untuk mengenalkan dan mensosialisasikan produk-produk dari pasar syariah.

Dalam Pasar Rakyat Syariah ini, OJK lebih mengenalkan pada perbankan, keuangan non-bank dan pasar modal nya. Disini artinya pada pegadaian, finance, Bpjs Syariah dikenalkan bahwa sisi ekonomi itu ada syariahnya. Acara ini juga diadakan sebagai tolak ukur perkembangan keuangan syariah itu sendiri.

Harapan diadakannya Pasar Rakyat Syariah ini yaitu agar masyarakat mengenal produk syariah secara  lebih baik lagi, dengan dibuktikan seberapa besar mereka berpartisipasi dari produk syariah ini. Baik itu membuka tabungan syariah, bertransaksi di pegadaian syariah maupun asuransi syariah.

Pesan bapak Mulyadi untuk mahasiswa yang fokus diskusi Ekonomi Islam khususnya di Jawa Tengah yaitu supaya tidak boleh kecil hati bahwa produk syariah itu produk yang masih baru. Justru itu pemuda lah yang akan mensyi’arkan syariah dengan cara membuka rekening syariah sehingga akan menimbulkan ketentraman baru. Jangan takut untuk berbisnis secara syariah, karena itu peluangnya sangat besar sekali. Jika ada forum atau bimbingan ke arah sana jangan segan-segan untuk mengikutinya, OJK siap untuk mendampinginya bersama Masyarakat Ekonomi Syariah.

Pada hari kedua, (20/11) acara dilanjut dengan Fun Walk, dengan start pemberangkatan dari halaman kantor OJK Regional 3 Jateng-DIY menuju jl.Pemuda dan kembali lagi ke kantor. Dengan menyuguhkan pertunjukan Band musik dan doorprize yang menarik, membuat para peserta semakin semangat. Acara ditutup dengan foto bersama seluruh panitia penyelenggara milad OJK.


 Oleh : Muhayyama Rusdhita Jana (Kader ForSHEI 2015)

Tes Potensi Akademik ForSHEI 2016

Monday, October 31, 2016 Add Comment

Semarang,  31/10 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan TPA (Tes Potensi Akademik) online pada pukul 16.00-17.00 WIB, di sebelah timur audit II.
TPA ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan para kader ForSHEI dalam memahami ekonomi islam. serta mempersiapkan para kader yang akan ikut dalam ajang termileg.
Acara ini di tujukan kepada seluruh kader ForSHEI 2014, 2015 dan 2016. Terlihat para kader yang sangat serius dalam menjawab soal dan sesekali terlihat kesulitan dalam menjawab soal TPA. acara ini berakhir pada pukul 17.00, dan di tutup dengan bacaan hamdalah serta tos bersama-sama.


Oleh : Siti Khaulifah A. (Kader ForSHEI 2015)



Pemikiran Ekonomi Shah Waliyullah, Muhammad Iqbal dan Baqir as Sadr

Monday, October 24, 2016 Add Comment



Senin (24/10), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) melakukan diskusi rutin pada pukul 08.30 WIB, kemudian dilanjutkan pukul 16.10 WIB di sebelah Timur Audit kampus 3UIN Walisongo Semarang. Diskusi dihadiri oleh angkatan 2014, 2015 dan 2016. Diskusi kali ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu diskusi angkatan 2016 yang merupakan “diskusi perdana” dan angkatan 2014, 2015. Diskusi oleh angkatan 2016 diisi dengan perkenalan anggota terlebih dahulu, dengan tujuan agar para kader bisa lebih mengenal satu sama lain. Sedangkan diskusi angkatan 2014, 2015 membahas materi  tentang pemikiran Shah Waliyullah, Muhammad Iqbal dan Baqir as Sadr.
 
Shah Waliyullah nama lengkapnya adalah Qutb al-din Ahmad bin Abd al-Rahim bin Wajih al- Din al- Syahid bin Mu’azam bin Mansur bin Ahmad bin Mahmud bin Qiwam al- Din al- Dihlawi. Ia lahir pada tanggal 21 Februari 1703 M atau 1114 H di Delhi, India dan wafat pada tahun 1762 M atau 1176 H. Karyanya yang sangat terkenal yaitu Hujjatullah al- Baligha. Menurutnya, manusia secara alamiah adalah makhluk sosial sehingga harus melakukan kerja sama antara satu orang dengan orang lainnya, seperti kerja sama usaha ( mudharabah, musyarakah).
Selanjutnya yaitu membahas tentang pemikiran Muhammad iqbal. Beliau lahir pada tanggal 9 November 1877 di Sialkot, India dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Pemikiran ekonominya yaitu mengkritisi sistem kapitalis dan komunis menjadi zakat, sebab kita mengetahui dasar  sistem kapitalis yaitu yang kaya semakin kaya begitupun sebaliknya, sedangkan pada sistem komunis pemerintah menjadi penguasa satu-satunya, sehingga adanya pemikiran beliau mengenai penerapan zakat bertujuan agar terjadi pemerataan ekonomi.
Kemudian diskusi dilanjut membahas mengenai pemikiran Baqir as Sadr, nama lengkapnya asy-Syahid Muhammad Baqir as-Sadr. Beliau lahir di Kadhimiyeh, Baghdad pada tahun 1935. Pemikiran ekonominya yaitu, menurut Sadr masalah-masalah ekonomi lahir bukan disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber material ataupun terbatasnya kekayaan alam, didukung dengan dalil al-Qur’an surah al-Qomar ayat 49 yang menyatakan, “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya”. Sadr berpendapat bahwa permasalahan ekonomi muncul karena disebabkan karena perilaku manusia itu sendiri seperti melakukan kezaliman dan karena mengingkari nikmat Allah SWT.
Terlihat sangat antusias para kader mengikuti diskusi. Kemudian diskusi ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI dan dilanjut dengan bacaan hamdalah , diskusi dibubarkan dengan tos bersama-sama.

Kamis (20/10), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) melakukan diskusi rutin pada pukul 08.30 WIB, kemudian dilanjutkan pukul 16.10 WIB di sebelah Timur Audit kampus 3UIN Walisongo Semarang. Diskusi dihadiri oleh angkatan 2014, 2015 dan 2016. Diskusi kali ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu diskusi angkatan 2016 yang merupakan “diskusi perdana” dan angkatan 2014, 2015. Diskusi oleh angkatan 2016 diisi dengan perkenalan anggota terlebih dahulu, dengan tujuan agar para kader bisa lebih mengenal satu sama lain. Sedangkan diskusi angkatan 2014, 2015 membahas materi  tentang pemikiran Shah Waliyullah, Muhammad Iqbal dan Baqir as Sadr.
Shah Waliyullah nama lengkapnya adalah Qutb al-din Ahmad bin Abd al-Rahim bin Wajih al- Din al- Syahid bin Mu’azam bin Mansur bin Ahmad bin Mahmud bin Qiwam al- Din al- Dihlawi. Ia lahir pada tanggal 21 Februari 1703 M atau 1114 H di Delhi, India dan wafat pada tahun 1762 M atau 1176 H. Karyanya yang sangat terkenal yaitu Hujjatullah al- Baligha. Menurutnya, manusia secara alamiah adalah makhluk sosial sehingga harus melakukan kerja sama antara satu orang dengan orang lainnya, seperti kerja sama usaha ( mudharabah, musyarakah).
Selanjutnya yaitu membahas tentang pemikiran Muhammad iqbal. Beliau lahir pada tanggal 9 November 1877 di Sialkot, India dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Pemikiran ekonominya yaitu mengkritisi sistem kapitalis dan komunis menjadi zakat, sebab kita mengetahui dasar  sistem kapitalis yaitu yang kaya semakin kaya begitupun sebaliknya, sedangkan pada sistem komunis pemerintah menjadi penguasa satu-satunya, sehingga adanya pemikiran beliau mengenai penerapan zakat bertujuan agar terjadi pemerataan ekonomi.
Kemudian diskusi dilanjut membahas mengenai pemikiran Baqir as Sadr, nama lengkapnya asy-Syahid Muhammad Baqir as-Sadr. Beliau lahir di Kadhimiyeh, Baghdad pada tahun 1935. Pemikiran ekonominya yaitu, menurut Sadr masalah-masalah ekonomi lahir bukan disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber material ataupun terbatasnya kekayaan alam, didukung dengan dalil al-Qur’an surah al-Qomar ayat 49 yang menyatakan, “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya”. Sadr berpendapat bahwa permasalahan ekonomi muncul karena disebabkan karena perilaku manusia itu sendiri seperti melakukan kezaliman dan karena mengingkari nikmat Allah SWT.
Terlihat sangat antusias para kader mengikuti diskusi. Kemudian diskusi ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI dan dilanjut dengan bacaan hamdalah , diskusi dibubarkan dengan tos bersama-sama.

ForSHEI Genggam Generasi Emas

Monday, October 17, 2016 Add Comment

Sharia Economits Training 1st ForSHEI, “Be a great Economist with Loyalty and Integrity”
Semarang (17/10) - Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) UIN Walisongo Semarang telah mengadakan kegiatan Sharia Economist Training (SET) yang pertama di Gedung Muslimat Nahdatul Ulama Kendal yang mana  tujuan dari SET 1 agar tercipta jenjang kaderisasi yang berkelanjutan. Acara dihadiri oleh Keluarga Alumni ForSHEI (KA- ForSHEI), Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF), Pengurus ForSHEI, dan diikuti oleh 45 peserta yang telah lolos seleksi.
Acara berlangsung selama dua hari yaitu tanggal 15-16 Oktober 2016. Hari pertama dimulai pada hari sabtu pukul 13.00 WIB yang dibuka oleh Baehaqi selaku ketua panitia SET   kemudian dilanjut oleh ketua ForSHEI periode 2016-2017 saudara Fuad Shofi Anam, serta perwakilan dari MPF, saudara Ahmad Ulin Nuha. Kegiatan kali ini berisikan 4 materi yang disuguhkan yaitu, KeFoSSEIan oleh saudara Fathur, KeForSHEIan dan Keorganisasian oleh saudara Sofa Hasan, Ekonomi Islam vs Ekonomi Konvensional oleh Ibu Nur Huda, dan Personality Identity oleh Bapak Ali Murtadlo.
 
Kegiatan kaderisasi tahap satu dalam ForSHEI tidak hanya pengenalan tentang ekonomi islam saja, akan tetapi banyak yang disampaikan seperti keorganisasian ForSHEI meliputi bidang-bidang yang ada, tentang personality identity yaitu para kader diajak memahami karakter diri sendiri dan bagaimana untuk menyikapi karakter dengan baik.  “Meskipun karakter para kader berbeda-beda tidak menjadi masalah, karena hubungan satu orang dengan yang lainnya yang terpenting adalah didasari dengan rasa persamaan melalui prinsip 5T, Tawashul (komunikasi antar anggota), Ta’aruf (saling mengenal), Tarohum (saling memiliki) dan Ta’awun (saling berkorban)”, ujar saudara Abid selaku pemateri personality identity.
Kegiatan SET 1 tentunya sangat bermanfaat, karena bisa dikatakan inilah cikal bakal yang utama bagi kader ForSHEI 2016 untuk memasuki jenjang berikutnya. “Acara berjalan dengan lancar dan sukses, insyaallah adanya kegiatan ini mampu mencetak kader yang amanah dalam kerja tim”, ujar Baehaqi selaku ketua panitia. Kegiatan berlangsung hingga Minggu pukul 14.30, kemudian acara ditutup dengan foto bersama.




Hadapi Investasi Bodong, Pemerintah Bentuk Tim Satgas Waspada Investasi Daerah

Saturday, October 08, 2016 Add Comment

Berdasarkan data pada 18 Agustus 2016 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terdapat 34 perusahaan investai abal-abal. Hal tersebut berawal dari laporan masyarakat sebanyak 430 aduan terkait dengan atas investasi bodong. Tingginya jumlah korban dari investasi bodong disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Maka dari itu diperlukan Sosialisasi dan Edukasi kepada pelaku industri jasa keuangan dan masyarakat tentang praktik-praktik penghimpunan dana dan pengelolaan investasi sangat diperlukan.

Dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran dan melakukan pencegahan atas keterlibatan masyarakat dengan kegiatan investasi bodong yang terjadi di daerah-daerah. Pada 21 juni 2016 telah terjadi nota kesepakatan tentang koordinasi pencegahan dan penanganan dugaan tindakan melawan hukum dibidang penghimpunan dana masyarakat dan investasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan , Kementerian Koperasi dan UKM, Kepolisian Negeri Republik Indonesia, Kejaksaan Republik Indonesia dan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Tugas pokok dari Tim Satgas Waspada Investasi (SWI) adalah melakukan pendataan atas kasus-kasus dugaan investasi bodong yang terjadi di tingkat daerah serta melakukan analisis dan koordinasi instansi terkait yang sesuai dengan bidang tugasnya.
Pengukuhan Tim Satgas Waspada Investasi Provinsi Jawa Tengah sendiri telah dibentuk pada jum’at (7/10). Tim Satgas Waspada Investasi Provinsi Jawa Tengah dibentuk atas kerjasama dari Kantor Perwakilan OJK Regional 3 Jateng – DIY, Kepolisian Daerah Provinsi Jawa Tengah, Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Tengah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah. Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah serta Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Tengah.
Acara pengukuhan ini berlangsung di Crowne Plaza Hotel Semarang yang dihadiri oleh Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), perwakilan instansi terkait Tim Satgas Waspad Investasi, praktisi lembaga keuangan dan akademisi perguruan tinggi. (Ahmad Arief Widodo)

Fondasi Pemikiran Ekonomi Islam

Friday, October 07, 2016 Add Comment

Kamis (7/10), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) kembali melakukan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB dan pukul 16.10 WIB di sebelah timur Audit II Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Diskusi pada hari ini dihadiri oleh kader-kader ForSHEI angkatan 2014 dan 2015 dengan tema “Pemikiran Ekonomi Muhammad bin Al-hasan Asy-syaibani, Yahya bin Umar dan Harits bin Asad Al-muhasibi”.
Diskusi dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan materi pertama yaitu pemikiran ekonomi dari Muhammad bin al-hasan asy-syaibani, nama lengkap beliau yakni Abu Abdullah Muhammad bin al-hasan bin al-farqad Jazariya asy-syaibani, lahir di Wasith 132 H/ 748 M dan wafat pada tahun 189 H/ 804 M. Beliau terkenal sebagai penyebar mazhab hanafi bersama Abu Yusuf. Pemikirannya mengenai ekonomi yaitu merujuk dalam kitab al-kasb (pendapatan). Sumber pemikirannya dikelompokan menjadi lima bahasan yaitu al-kasb (kerja), kekayaan dan kefakiran, klasifikasi usaha-usaha perekonomian, kebutuhan-kebutuhan ekonomi, spesialisasi dan distribusi pekerjaan.
Pembahasan berikutnya mengenai pemikiran ekonomi oleh Yahya bin Umar, beliau merupakan seorang fuqaha mazhab maliki yang memiliki nama lengkap Abu bakar yahya bin umar bin yusuf al-kanni al-andalusi. Beliau lahir pada tahun 213 H dan dibesarkan di Kordova, Spanyol. Pemikiran ekonominya terdapat dalam kitab Ahkam al-suq yang isinya mengenai tiga pokok bahasan yang berkaitan dengan peran pemerintah yaitu, Ikhtikar (Monopoly’s rent- seaking), Siyasah al-ighraq (Dumping policy) dan Tas’ir (Penetapan harga).
Selanjutnya pembahasan mengenai pemikiran ekonomi dari Harits bin asad al-muhasibi, nama lengkapnya yaitu Abu abdullah al-harits bin asad al-muhasibi. Beliau merupakan seorang sufi besar dalam sejarah tasawuf yang lahir di Basrah pada tahun 781 M. Pemikirannya tercantum didalam bukunya yang berjudul Al-makasib yaitu membahas mengenai cara-cara memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri dan kegiatan ekonomi lainnya. Dan mengenai cara memperoleh Pendapatan,  menurutnya pendapatan harus diperoleh secara baik dan tidak melampaui batas atau berlebihan. Laba dan upah tidak boleh dipungut atau dibayar secara dzalim, sementara menarik diri dari kegiatan ekonomi bukanlah sikap muslim yang benar-benar Islami. Harits menganjurkan masyarakat harus saling bekerjasama dan mengutuk sikap pedagang yang melanggar hukum (demi mencari keuntungan).
Terlihat antusias para kader dalam mengikuti diskusi, berbagai pendapat diajukan. Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI. Kemudian, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos bersama-sama.

Pemikiran Ekonomi Abu Ubaid dan Abu Yusuf

Tuesday, October 04, 2016 Add Comment


Senin (4/9) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) melakukan diskusi rutin pada pukul 08.30 WIB, kemudian dilanjutkan pukul 16.00 WIB di sebelah Timur Audit II kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Diskusi dihadiri oleh kader-kader ForSHEI angkatan 2014 dan 2015 dengan tema pemikiran ekonomi Abu Ubaid dan Abu Yusuf. 
Abu Ubaid lahir pada tahun 154 H di kota Bahra (Harat), propinsi Khurasan, sebelah barat laut Afghanistan. Abu Ubaid menekankan keadilan sebagai prinsip utama. Salah satu karya beliau yang terkenal berkaitan dengan keuangan publik adalah kitab al-Amwal. Al-Amwal tidak menyinggung kelemahan pemerintah, tetapi lebih pada efisiensi pengelolaannya serta penditeksian sistem perekonomian berdasarkan Alquran dan Hadis. Kitab ini merupakan kumpulan hadis yang seluruhnya berkaitan dengan sumber-sumber pemasukan, pos-pos pengeluaran, dan penggunaan keuangan publik. Empat batang tubuh terdapat di al Amwal, yaitu: baitul mal dan diwan-diwannya, harta kekayaan negara khilafah, harta-harta zakat, dan mata uang. Pemikiran Abu Ubaid merupakan rujukan dalam pengembangan ekonomi modern, bahkan berdasarkan analisis para The Wealth of Nation pemikir ekonomi muslim kotemporer, Adam Smith dengan karyanya sangat dipengaruhi oleh kitab al Amwal.
Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim ibn Habib Al-Ansari al-Kufi al-Baghdadi, dilahirkan tahun 113 H. Al-Kufi keturunan Arab, dibesarkan di kota Kufah dan Baghdad. Dan wafat pada  182 H/798 M. Karya yang sangat fenomenal adalah al Kharaj. Penamaan kitab kharaj berarti keluar atau mengeluarkan dari tempatnya/upaya untuk mengeluarkan. Pada bagian inti pembahasan judul berkenaan dengan pembagian harta rampasan perang, dan fai’ dan kharaj. Kharaj juga dikembangkan kearah pengertian yang lebih luas, yaitu hasil karya ilmu ekonomi yang meliputi sumber kekayaan umum. 
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI. Kemudian ditutup bersama-sama membaca hamdallah an dibubarkan dengan tos. 

ForSHEI dan Forkes Gerakan Ekonomi Syariah

Saturday, October 01, 2016 Add Comment

Semarang (1/10), mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam Forum studi hukum ekonomi islam (ForSHEI) kedatangan tamu dari mahasiswa IAIN Pekalongan yang berkelut di bidang ekonomi syariah (Forkes), tepatnya kamis sore pukul 17.15 dimasjid kampus 1 Uin Walisongo semarang. Acaranya dilaksanakan pada jam 18.15-20.30 yang dihadiri oleh Majlis pertimbangan ForSHEI untuk memberi masukkan kepada kader ForSHEI dan mahasiswa IAIN Pekalongan (Forkes).
Jalannya acara dituntun oleh Dzuriyatun Nafi’ (kordinator bidang kajian ForSHEI) yang menjadi MC pada Acara tersebut. Dan Dilanjutkan Pembicara yang diisi oleh Ulin Nuha sebagai Majlis pertimbangan ForSHEI (MPF) dan Ahmad Rijalun Ghifary Nafis Sebagai kordinator regional ksei jawa tengah. Selanjutnya Acara di buat Kelompok dan dikumpulkan perbidang . Misal, BPH dari ForSHEI gabung sama BPH Forkes sharing permasalahan dibagiannya, salah satu pengurus BPH forkes menanyakan tentang tugas  manager progaming di ForSHEI dan dijawab oleh ketua ForSHEI umum bahwa tugas manager progaming untuk mamastikan semua acara berjalan dengan sukses dan setiap kegiatan selalu di pantau. 

Pada kelompok kajian itu mendiskusikan tentang agendanya seperti agenda dari forkes ada 8 proker yaitu kaian yang dilaksanakan 1 tahun 3 kali, buletin satu kali untuk maba, skripsi ditunjukan untuk semester 6, temilreg, penelitian dan mading yang kerjasama dengan bidang infokom. Dan proker kajian ForSHEI yaitu diskusi rutinan,kunjungan bank syariah, bedah skripsi, tes potensi akademik yangmana kegiatan kajian itu ditunjukan untuk mengetahui kemampuan para kader ForSHEI yang disiapkan untuk even-even seperti temilkom, temilreg dan temilnas. Bagian bidang infokom/media dan jurnalistik mendiskusikan tentang permasalahan proses pembuatan majalah dan persiapan untuk pembuatan majalah disetiap rapatnya selalu ada peningkatan karena untuk mengejar deadlinenya. 

Dari forkes sumber daya insani dan biswira dan ForSHEI Bagian keorganisasian yang lebih sharing ke masalah keorganisasian dan perwakilan dari forkes menanyakan tentang progam unggulan dibidang keorganisasian sperti tasyakuran wisuda, pembuatan seragam, outbound, dan set 1 yang mana anggota dari forkes lebih tertarik kepada tasyakuran wisuda karena disana belum pernah diadain. Dan disela acara mau ditutup ada sesi penyerahan majalah untuk ksei forkes dan penyerahan plakat untuk ksei ForSHEI. 

Acara ditutup pukul 20.30 WIB dilanjutkan sesi foto bersama dari ksei forkes dan ksei ForSHEI.

Pemikiran Ekonomi Menurut Ulama Fase Awal

Pemikiran Ekonomi Menurut Ulama Fase Awal

Wednesday, September 28, 2016 Add Comment

Senin (28/9), ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB dan 16.00 WIB yang bertempat di samping audit II kampus 3. Diskusi dihadiri oleh kader ForSHEI baik angkatan 2014 maupun 2015 dan didampingi oleh Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF).
Diskusi dibuka dengan pembacaan Surah Fatihah dilanjutkan pembacaan tema tentang “Pemikiran Ekonomi Zaid bin Ali, Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas dan Al-Awza’i”. Setelah itu, para kader ForSHEI yang mengikuti diskusi sangat berpartisipasi dalam menyampaikan pendapatnya masing-masing. 
Bahasan pertama mengenai pemikiran ekonomi Zaid bin Ali (80 H-120 H/ 699 M-738M). Zaid bin Ali mrupakan putra Imam Syi’ah ke-4, yaitu Ali Zaynal Abidin dan cucu dari Husain Bin Ali. Beliau adalah penggagas awal komoditi secara kredit serta membolehkan  menetapkan kelebihan harga yang lebih tinggi pada jual beli secara tunai. Jual beli kredit diperbolehkan karena sebagai kompensasi untuk mempermudah pembeli. Jual beli kredit itu sah, apabila antara penjual dan pembeli menerapkan prinsip suka sama suka, namun beliau tidak membolehkan harga yang ditangguhkan pembayarannya lebih tinggi dari pembayaran tunai sebagaimana halnya penambahan terhadap penundaan pembayaran disebut riba. Selain itu, Zaid juga menyatakan bahwa “Uang tidak dapat menghasilkan sesuatu dengan sendirinya. Uang bisa menghasilkan apabila melalui perniagaan atau transaksi. 
Tokoh pemikiran ekonomi yang kedua adalah Abu Hanifah (80-150H/699-767M). Beliau adalah seorang Imam Madzhab yang mengedepankan logika (Ahlu Ra’yu). Abu Hanifah menggagas keabsahan dan keshahihan hukum jual beli Salam dan Murabahah. Dalam gagasannya, sistem Salam harus jelas dan rinci dalam pemesanannya dan tidak ada unsur gharar. Beliau juga melarang sistem muzara’ah ketika lahan tidak produktif lagi, dikarenakan bisa merugikan salah satu pihak yang bersangkutan.
Dilanjutkan pembahsan mengenai pemikiran Imam Malik bin Anas (93-179H/712-796M). Imam Malik adalah pendiri Islam dan pakar tradisi kehidupan kota Madinah. Sistem pemikiran ekonominya adalah raja atau penguasa harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Menurut beliau menerapkan konsep mashlahah atau nilai kegunaan yang merupakan akar dari syariah serta memperbolehkan menaikkan pajak untuk kepentingan rakyat.
Pembahasan terakhir mengenai pemikiran ekonomi Al-Awza’i ( 88-157 H/707-774 M). Al-Awza’i adalah ulama yang tingal di daerah Damaskus. Beliau disegani karena selalu memberikan nasehat atau pendapat kepada orang disekitarnya. Pemikirannya mengenai kebolehan dan keshahihan sistem muzara’ah sebagai bagian dari bentuk murabahah dan membolehkan peminjaman modal, baik dalam bentuk tunai atau sejenis.
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh salah satu kader ForSHEI. Setelah itu, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos ForSHEI yang dilakukan secara bersama-sama.

Oleh: Astri Fadila Nurulita


Pengumuman Kelulusan

Sunday, September 25, 2016 Add Comment
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayahnya kepada kita semua.
Berdasarkan berbagai hasil pertimbangan Tim Penguji dan Pengurus Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) UIN Walisongo. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim kami mengumumkan nama-nama yang lolos menjadi anggota ForSHEI tahun 2016 sebagai berikut : 

NO  NAMA LENGKAP JURUSAN
1 A. Siddiq Al Faqih                         S1 Perbankan Syariah
2 Abiyyu Ibnu Rakha Ekonomi Syariah
3 Ahmad Afifudin Ekonomi Syariah
4 Ahmad Ali Badawi Ekonomi Syariah
5 Ahmad Turmudzi Hukum Perdata Islam
6 Ali Syafii Hukum Perdata Islam
7 Arafat Ikhza M Ekonomi Syariah
8 Ari Yuwono Saputro Akuntansi Syariah
9 Asfihan Makin Hukum Perdata Islam
10 Azah Falasifa Hukum Ekonomi Syariah
11 Celvita Anggraeni Akutansi Syariah
12 Desydia Mamba'ul Ulum Akuntansi Syariah
13 Eva Nurul Anisa Ekonomi Syariah
14 Faizul Mamduh Akuntansi Syariah
15 Faris Haidi Anwar Hukum Ekonomi Syariah
16 Fera Ihda Rahmawati Akuntansi Syariah
17 Fibaroina Nida Fatkhiyah Akuntansi Syariah
18 Fifin Savitri S1 Perbankan Syariah
19 Firda Izdiana Akuntansi Syariah
20 Ganang Ade Sucipto Hukum Ekonomi Syariah
21 Ghina Alhani D3 Perbankan Syariah
22 Hanik Suciati Akuntansi syariah
23 Hibrah Raisah Ekonomi Syariah
24 Hidayaturrosyida S1 Perbankan Syariah
25 Hikmah Enjang Amalia Ekonomi Syariah
26 Ida Safitri Akuntansi Syariah
27 Ilham Wahyudi S Hukum Ekonomi Syariah
28 Irva Suci Wulandari Hukum Ekonomi Syariah
29 Isfa'iyah Ekonomi syariah
30 Khiyaratul Fajriyah Hukum Ekonomi Syariah
31 Laely Roshyda Ekonomi Syariah
32 Livia Ambarsari Akuntansi syariah
33 M. Agung Nasirudin Hukum Ekonomi Syariah
34 M. Fariz Bactiar Hukum Ekonomi Syariah
35 M. Ikhsanudin Hukum Ekonomi Syariah
36 M. Miftahul Munir Ekonomi Syariah
37 M. Rifqi A Hukum Ekonomi Syariah
38 Mariana Ulinnikmah Akuntansi Syariah
39 Marina Junianti Hukum Ekonomi Syariah
40 Masruroh S1 perbankan Syariah
41 Maya Robiatul Adawiyah Akuntansi Syariah
42 M. Zulfikar Nasirudin Akuntansi Syariah
43 M. Baqiyyatus Salafis S. Hukum Ekonomi Syariah
44 Muftikhah Mj Akutansi Syariah
45 Munfarizatussayyaroh Akuntansi Syariah
49 Nadiyah Ekonomi Syariah
50 Noor Linda Arova Akuntansi Syariah
51 Nor Lailatul Yulia Akuntansi Syariah
52 Pandunata Rakasiwi Akuntansi Syariah
53 Rezky Kurniawan S1 Perbankan Syariah
54 Ridho Kusumo Basuki Hukum Ekonomi Syariah
55 Siti Alfinatin Nur Faizah Hukum Ekonomi Syariah
56 Siti Rohmah Hukum Ekonomi Syariah
57 Tutiul Amroini Hukum Ekonomi Syariah
58 Ulul Fahmi Akuntansi Syariah
59 Uyun Sumdari Akuntansi Syariah
60 Vanila Hapsari Akuntansi Syariah

NB. 1. Seluruh kader yang telah dinyatakan lolos, wajib mengikuti Sharia Economist Training (SET 1) pada 15-16 Oktober 2016.
2. bagi peserta yang tidak lolos, boleh tetap mengikuti diskusi dengan catatan serius dan rajin. konfirmasi lebih lanjut hubungi Sdr. Arief Mahmudi ( 0896-2416-1414 )

Kebijakan Ekonomi Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Saturday, September 24, 2016 Add Comment

Senin (24/9) ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin pada pukul 08.40 WIB di samping audit II sebelah timur dan 16.00 WIB di depan perpustakaan pusat UIN Walisongo. Diskusi dihadiri oleh kader ForSHEI baik angkatan 2014 dan 2015 serta didampingi oleh MPF (Majelis Pertimbangan ForSHEI).
Diskusi dibuka dengan bacaan Surah Fatihah serta diikuti pembacaan ayat ekonomi QS. Al-Baqarah:275 yang menjelaskan tentang halalnya jual beli dan haramnya riba. Tema hari ini tentang “kebijakan ekonomi pada masa Khulafaur Rasyidin”. Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat sahabat Nabi SAW., yaitu: Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Abu Bakar merupakan sahabat Nabi SAW. yang pertama kali masuk Islam. Abu Bakar memerintah selama dua tahun. Banyak kebijakan yang diterapkan Abu Bakar dalam pemerintahannya seperti adanya perhatian yang besar atas keakuratan zakat. Pada masa itu terdapat orang yang enggan membayar zakat, murtad, dan nabi palsu. Selain keakuratan zakat, beliau juga melaksanakan pembagian tanah hasil tahlukan. Pembagian ini sesuai dengan Surah Al-Anfal: 41 yang menjelaskan pembagian harta rampasan ditujukan untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, Anak Yatim dan Ibnu Sabil. Tanah-tanah dari orang murtad juga diambil alih guna kepentingan umat Islam, dan distribusi harta baitul mal menggunakan prinsip pemerataan, yakni penerimaan yang didapatkan oleh baitul mal semuanya didistribusikan (balance budget policy). Jadi baitul mal tidak mempunyai cadangan dana. Abu Bakar juga merupakan pelopor adanya sistem penggajian aparat negara.
Umar bin Khattab yang merupakan sahabat Nabi SAW. juga mertua Nabi. Umar bin Khattab memerintah selama sepuluh tahun. Umar banyak melakukan inovasi pada kebijakan sebelumnya. Semakin luas wilayah kekuasaan, Umar mulai memberlakukan administrasi negara dan membentuk jawatan kepolisian. Dalam bidang perdagangan, Umar menyempurnakan hukum dagang tentang pajak dan mendirikan pasar-pasar sebagai penggerak roda perekonomian rakyat. Pada masa Umar juga terjadi kenaikan harga yang terlalu tinggi pada barang-barang, sehingga beliau menerapkan kebijakan untuk tidak melakukan transaksi selama tiga hari berturut-turut terhadap barang tersebut. Mengenai pendistribusian harta baitul mal, Umar menerapkan prinsip keutamaan dimana penerimaan yang didapat dikumpulkan di baitu mal, ketika pendistribusiaan dilakukan pada saat negara membutuhkan, sehingga baitul mal mempunyai persediaan dana. Selain itu, Umar mendirikan Diwan ( sebuah kantor yang bertugas untuk memberikan tunjangan kepada pensiun, perang, dan tunjangan lain).
Utsman bin Affan merupakan khalifah ketiga yang memerintah selama 12 tahun. Enam tahun pertama, beliau melakukan penataan administrasi seperti khalifah Umar. Karena kekuasaan islam semakin luas, sumber penerimaan negara juga semakin besar. Dalam pengembangan SDA, Ustman membuat saluran air, membangun jalan, dan membentuk organisasi kepolisian. Selama pemerintahannya, Utsman melakukan administrasi tingkat atas dan mengganti beberapa gubernur. Dalam pengelolaan tanah negara, beliau membagikannya kepada delapan asnaf. Utsman menggunakan prinsip keutamaan seperti Umar dalam pendistribusian harta baitul mal. Memasuki enam tahun kedua tidak terdapat perubahan dalam hal pekonomian.
Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat Nabi SAW dan keponakan Nabi. Kebijakan yang dilaksanakan pada masa Ali bin Abi Thalib yaitu: mengedepankan prinsip pemerataan dalam pendistribusian kekayaan negara seperti halnya yang diterapkan pada masa Abu Bakar, menetapkan pajak terhadap para pemilik kebun dan mengijinkan pemungutan zakat terhadap sayuran segar, melakukan kontrol pasar dan memberantas pedagang licik, menimbunan barang , dan pasar gelap, membentuk petugas keamanan yang disebut dengan ''Syurthah'' (Polisi) yang dipimpin oleh Shahibus-Syurthah, serta ketat dalam menangani keuangan negara dan melanjutkan kebijakan umar.
Diskusi diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh Lailatus Sholihah dan Aziz Santoso. Setelah itu, diskusi ditutup dengan bacaan hamdalah dan dibubarkan dengan tos ForSHEI yang dilakukan secara bersama-sama.




Open Recruitment " Mencetak Generasi Emas "

Tuesday, September 20, 2016 Add Comment
Semarang, ( 20/9) Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Studi Hukum Ekonomi Islam ( ForSHEI ) UIN Walisongo Semarang kembali hadir memberikan kesempatan bagi Mahasiwa fakultas ekonomi bisnis islam dan fakultas syariah yang ingin bergabung dan belajar ekonomi islam melalui seleksi yang diadakan di gedung pusat kegiatan mahasiswa ( PKM ). Acara yang dilaksanakan pukul 08.00 – 16.00 ini dihadiri oleh majlis pertimbangan ForSHEI selaku penguji.
Seleksi diadakan sebagai standar profesionalitas ForSHEI dalam merekrut anggota yang dirasa sungguh-sungguh ingin mendakwahkan ekonomi islam. Tahap ini menjadi salah satu syarat yang harus dilampaui oleh calon kader ForSHEI untuk mendapatkan sertifikat LULUS.


“Memang program interview diarahkan untuk melahirkan kader yang siap dan cakap, sehingga mewujudkan kontribusi dalam gerakan ekonomi syariah yang ada di Indonesia saat ini, yang mana masih banyak orang berasumsi bahwa ekonomi syariah dan konvensional adalah sama,” Kata Mila saat berkunjung ke PKM. 
“Kita harapkan, open recruitmen ini bisa melahirkan lulusan kader ForSHEI yang unggul dan menjadi gerbang awal kemajuan ekonomi syariah tentunya bagi masyarakat. Karena dengan sumber daya yang andal dapat menjadi jembatan atau sumber pengetahuan bagi masyarakat awam untuk menghindari adanya keterbelakangan atau shock terhadap perubahan kondisi ekonomi saat ini yang menawarkan begitu banyak inovasi di zaman teknologi yang kian pesat’’ ujarnya.
Hal yang mendasar dari program ini adalah mengetahui seberapa serius minat mahasiswa dalam memilih suatu organisasi studi ekonomi islam dan mengenal output apa yang dapat dimanfaatkan untuk khalayak. Menanggapi hal tersebut Ahmad fauzi  mengungkapkan, bahwa dalam mencapai tujuan organisasi dibutuhkan kesamaan pendapat dan pemikiran dari setiap individu, jika seluruh anggota dapat melangkah sesuai dengan tujuan maka tingkat keberhasilan sebuah organisasi dapat dikatakan sukses dengan gemilang.

Kebijakan Ekonomi pada Masa Rasulullah SAW

Tuesday, September 20, 2016 Add Comment
Semarang, ( 19/9)  ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam) mengadakan diskusi rutin  pada pukul 16.00 WIB di samping audit II sebelah timur dengan suguhan tema “Kebijakan Ekonomi pada Masa Rasulullah SAW”. Diskusi ini dihadiri oleh kader ForSHEI dan didampingi oleh Muhammad Labib Fahmi Arif. Diskusi diawali dengan membaca Surah Fatihah dan dilanjutkan pemaparan tentang kebijakan ekonomi pada masa Rasulullah SAW.
Sebelum membahas tentang kebijakan ekonomi pada masa Rasulullah SAW, kita perlu tahu mengenai prinsip dalam kebijakan ekonomi islam. Prinsip dalam kebijakan ekonomi Islam meliputi: Allah SWT  sebagai penguasa tertinggi serta pemilik absolut seluruh alam semesta sedangkan manusia hanyalah khalifah, menghilangkan unsur riba, kekayaan harus diputar dan tidak boleh ditimbun, serta menetapkan sistem warisan sebagai media redistribusi kekayaan yang dapat melegimitasi berbagai konflik individu.
Terdapat beberapa kebijakan yang diterapkan pada masa Nabi SAW, diantaranya: pertama, Baitul Mal yang berfungsi sebagai tempat penghimpunan uang Negara. Uang rakyat yang telah terhimpun dalam Baitul Mal dapat digunakan kepala Negara serta pemerintah yang lain sebagai upah atau gaji. Kedua, Masjid yang mempunyai multifungsi karena berbagai permasalahan dapat dituntaskan di dalam masjid. Ketiga, Pasar yang berfungsi untuk menyatukan hubungan kaum Muhajirin dan kaum Anshor agar  menjadi lebih erat. Kaum Muhajirin sangat ahli dalam bidang perdagangan atau perniagaan, begitu pula dengan kaum Anshor yang ahli dalam bidang pertanian.
Sumber pendapatan Negara pada masa Rasulullah SAW diperoleh dari zakat, jizyah, ghanimah, ‘ushr, dan kharaj sedangkan pengeluaran Negara digunakan untuk pembiayaan pertahanan, seperti persenjataan, unta, kuda dan persediaan, pembiayaan gaji untuk wali, qadhi, guru, imam, muadzin dan pejabat Negara lainnya, pembayaran utang Negara, serta pembiayaan bagi musafir.
Rasulullah SAW  sering memerintahkan untuk mencatat perzakatan serta mengecek barang yang telah didapatkan Negara dan barang yang telah dikeluarkan oleh Negara. Pada masa Rasulullah telah dikenal yang namanya ekspor dan impor dinar atau dirham. Maksud dari impor dan ekpor dinar atau dirham adalah ketika Negara Arab tidak memiliki uang dan memiliki barang, maka barang tersebut dapat diekspor untuk ditukar dengan uang. Begitu pun sebaliknya, dinar atau dirham itu tidak dapat ditransaksikan bila dinar atau dirham itu belum ditempa. 
Pada masa Rasulullah SAW juga sudah ada lembaga pengawas pasar yang bernama Hisbah. Hisbah berfungsi sebagai lembaga pengawasan pasar untuk menjamin keadilan dan tata niaga supaya tidak terjadi penyelewengan dan kecurangan di dalam pasar. Hisbah dalam pasar bertujuan mengawasi timbangan, jual beli barang terlarang, kehalalan dan kebersihan makanan, harga pasar, serta barang impor. Diskusi ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan pembacaan hamdalah secara bersama-sama.
Oleh : ismi ulil chasanah


Temu Awal, ForSHEI Adakan Sarasehan

Friday, September 16, 2016 Add Comment

Kamis (16/9), Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan sarasehan di depan Gedung Serbaguna UIN Walisongo Semarang sebelah timur dengan dimulainya acara pada pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh calon kader ForSHEI, Anggota Kepengurusan, Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF), dan Perwakilan dari Keluarga Alumni ForSHEI (KA). Tujuan diadakannya sarasehan untuk menyambut calon kader ForSHEI dan memperkenalkan ForSHEI secara lebih intens.
Acara pertama dibuka dengan Sambutan ketua umum ForSHEI 2016-2017 oleh Fuad Shofi Anam dengan ucapan selamat datang bagi semua calon kader ForSHEI. Selanjutnya sambutan mengenai sejarah ForSHEI yang disampaikan oleh saudara Ahmad Ulin Nuha (MPF). Yang paling ditunggu di penghujung acara inti adalah sharing bersama Saudara Shofa Hasan ( KA ForSHEI ) dengan tema "apa itu organisasi dan apa saja pengalaman yang dapat ditemui dalam organisasi ForSHEI?".

Sikap antusias terlihat dalam sesi tanya jawab, terbukti banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh calon kader ForSHEI. Salah satunya pertanyaan menarik dari saudari Firda “Kenapa diadakanya seleksi dalam penerimaan kader ?”.
“Diadakannya seleksi itu supaya ForSHEI kedepannya bisa berkembang lebih baik, karena ForSHEI mencari kader yang benar-benar berniat untuk bergabung dan aktif didalamnya”, ujar Sofa. "Setelah mengikuti kegiatan sarasehan, saya semakin mantap untuk bergelut dan berdakwah mengenai ekonomi islam secara lebih intens dan ingin bergabung menjadi kader ForSHEI" , komentar arif mulyadi usai acara.

What Do You Know About Tax Amnesty ?

Thursday, September 15, 2016 Add Comment

Semarang, 15 September 2016, Forum Studi Hukum Ekonomi Islam ForSHEI UIN Walisongo Semarang mengadakan diskusi pedana di semester ganjil 2016/2017 pukul 08.40 WIB di depan gedung M Fakultas Syariah (stand ForSHEI) dengan tema "Tax Amnesty". Para kader ForSHEI sangat antusias mengenai bahasan topik ini. Hal ini terbukti dengan aktif dan responnya kader ForSHEI selama diskusi berlangsung. Diskusi diawali dengan membaca Surah Alfatihah dilanjutkan pemaparan tentang apa itu Tax Amnesy?.

Tax Amnesty adalah program pengampunan yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak. Indonesia merupakan negara yang pengeluarannya lebih besar dari pada pendapatan atau istilahnya besar pasak daripada tiang. Dana APBN sebenarnya tidak cukup untuk menutupi belanja negara dan akhirnya Indonesia harus berhutang dengan negara lain. Sebagian besar dana APBN berasal dari pajak. Namun, penerimaan pajak tak pernah mencapai 100% atau belum optimal. maka dari itu perlu adanya kebijakan yang diharapkan mampu menutupi permasalahan tersebut.

Tujuan diadakan kebijakan Tax Amnesty adalah repratiasi  (menarik dana warga negara Indonesia yang ada di luar negeri), meningkatkan pertumbuhan nasional yakni menunjang pertumbuhan ekonomi agar arah pembangunan dapat lebih terarah dan tertata, meningkatkan basis perpajakan nasional, dan meningkatkan penerimaan pajak tahun ini melalui adanya uang tebusan yang dibayarkan oleh wajib pajak sesuai dengan regulasi program tersebut.

Selain itu, terdapat beberapa manfaat dari adanya Tax Amnesty ini, terutama bagi pemerintah, pengembang dan investor. Untuk pemerintah, Tax Amnesty akan menambah penghasilan penerimaan baru dimana penambahan dirasa cukup efektif dalam menambah penerimaan negara dan juga secara otomatis akan menarik dana yang terdapat di luar negeri ke Indonesia dan akan masuk ke dalam pencatatan sumber pajak baru. Untuk pengembang, Tax Amnesty ini akan membuat sektor properti mengalami pertumbuhan untuk tahun berikutnya, karena selama ini para investor merasa tidak mau menanamkan modal di Indonesia karena pajak propertinya sangat tinggi. Untuk investor, Tax Amnesty akan memberikan keuntungan terhadap kegiatan bisnis dan rasa berani untuk melakukan pembelian properti.
Diskusi perdana ini diakhiri dengan penyampaian kesimpulan dan ditutup dengan bacaan kafarotul majlis.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1437 H

Monday, September 12, 2016 Add Comment

Idul Adha adalah hari raya terbesar kedua yang sangat dinanti-nanti oleh umat islam di seluruh belahan dunia. Karena pada hari tersebut umat islam akan melakukan berbagai kegiatan diantaranya adalah puasa Tarwiyah dan Arafah yang dilakukan 2 hari sebelum hari raya idul Adha, shalat sunah dua rakaat berjamaah di masjid maupun di tanah lapang, menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Hal tersebut dilakukan umat islam semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. 
Idul Adha tidak terlepas dengan sejarah yang sudah sering kita dengar, cerita yang sejak kecil sudah ditanamkan oleh kedua orang tua bahkan guru kita yaitu tentang sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail, perintah ini di dapatnya melalui mimpi yang sama selama tiga kali berturut-turut. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakan perintah tersebut tanpa ada keraguan. Sesuai yang terdapat dalam Al-Qur’an surat As Shaffat ayat 102-107,dalam cerita tersebut nabi Ismail ditebus(diganti) oleh Allah dengan seekor sembelihan yang besar. 
Dari sejarah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Idul Adha sangat erat hubungannya dengan berkurban. Sesuai firman Allah dalam surat Al-kausar ayat 1 dan 2 yang berbunyi :
 انا اعطينك الكوثر(1) فصل لربك وانحر(2) 
yang artinya “sesungguhnya kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berkurbanlah”.
 Serta dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. : “ Siapa yg memiliki kelapangan tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati masjid dan mushalla kami” (Riwayat Ahmad Ibnu Majah Ad-Daruquthni Al-Hakim dan dan sanadnya Hasan).
Sedangkan hikmah idul Adha (Berkurban) adalah pertama, Keimanan yang dapat kita ambil dari keteguhan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan harta berharganya yaitu anak terkasihnya. Kedua, ketaqwaan dapat kita ambil dari Nabi Ismail yang rela atau ridho menjalankan perintah Allah SWT, sekalipun nyawa yang menjadi taruhanya. Selain itu ada  makna sosial yaitu memberikan kegembiraan kepada saudara muslim kita yang kurang mampu yaitu dengan pemberian daging kurban yang dapat memperbaiki gizi dan kesehatan bagi masyarakat. Dan juga rasa syukur kita kepada Allah SWT karena telah memberi nikmat kepada semua makhluknya, khususnya manusia.
Kami segenap keluarga Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H

Workshop Pasar Modal Syariah 2016

Sunday, September 11, 2016 Add Comment


11september 2016, Masyarakat Ekonomi Syariah bekerja sama dengan Forum studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan WorkShop Pasar Modal Syariah dengan tema "Memiliki perusahaan bukan sekedar impian". Acara dimulai pukul 08.30 pagi di hotel siliwangi, Diadakan workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengajak masyarakat awam untuk mengenal dan mengajak masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal syariah (saham syariah)dengan pemateri dari berbagai instansi.
Acara dimulai dengan sambutan dari ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah yaitu Bapak Hasan Toha. Selanjutnya yaitu penyampaian materi. Materi pertama di sampaikan oleh Bapak Erwan Abdallah (BEI) membahas mengenai investasi sama dengan dagang dan yang di cari adalah keuntungan. 
Beliau mengatakan menjadi investor atau saham yang handal ini mengetahui kapan beli dan kapan menjual. 
Pemateri kedua di sampaikan bapak Muhammad Bagus Teguh (DSN-MUI) yang menyampaikan mengenai Landasan Fiqh investasi dalam pasar modal syariah lebih spesifiknya beliau membahas mengenai saham. Dalam penyampaian materi, salahsatu peserta bertanya "apakah ada ketentuan khusus mengenai besar presentase keuntungan dalam pasar modal syariah?", ujar aziz.
"Pada dasarnya tidak ada ketentuan khusus mengenai berapa besar presentase keuntungan, namun sistem tentunya sudah diatur seberapa besar keuntungan maksimal", ujar bapak Bagus.
Kemudian untuk Pemateri ketiga di sampaikan bapak Deni (AB SOTS) yang menyampaikan mengenai Sharia Online Trading System. Beliau mengatakan untuk mendapat label syariah pada sistem tentunya bukan perusahaan sendiri yang menamainya, akan tetapi harus megikuti ujian tersendiri. Tiba pada acara penutupan, yakni diisi dengan foto dan makan siang bersama. 


Tour The Bank "CIMB NIAGA Syariah"

Wednesday, September 07, 2016 Add Comment

Semarang, 7 September Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan kunjungan ke Lembaga keuangan Syariah tepatnya di Bank CIMB NIAGA Syariah. Kunjungan ini merupakan salah satu program dari bidang kajian dan pelatihan. Acara dimulai pukul 10.15 pagi dan diawali dengan pembukaan oleh ibu Endang. Acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh ibu Devi dan bapak Doni dengan 
Isi materi sebagai berikut
1. Profile CIMB NIAGA Syariah , product knowledge ( akad, mekanisme, dan simulasi)
2. Job desk pegawai dan operasionalnya
3. Personality class
Tujuan dari kunjungan LKS ini adalah  Untuk menambah pengetahuan tentang lembaga keuangan khususnya perbankan syariah dan Untuk mengetahui praktek perbankan syariah/ untuk memadukan antara praktik dan teori tentang perbankan syariah serta merupakan program kerja sama untuk kader2 forSHEI supaya ikut gerakan bertransaksi di bank syariah,hal ini terbukti dengan dibukanya 18 rekening oleh kader2 ForSHEI. Kunjungan kali ini dihadiri oleh MPF,BPH dan  kader ForSHEI angkatan 2015 dan 2014. 
Acara selesai pukul 15.00 dilanjut dengan foto bersama didepan kantor Bank CIMB NIAGA.

Rapat Kerja ForSHEI Periode 2016/2017

Monday, August 29, 2016 Add Comment



Semarang, (29/08) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) mengadakan Rapat Kerja (Raker) periode 2016/2017 yang bertempat di PPB (Pusat Pengembangan Bahasa) kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Peserta raker tersebut telah dihadiri oleh KA-ForSHEI, Majelis Pertimbangan ForSHEI (MPF), Badan Pengurus Harian (BPH), dan anggota dari berbagai bidang. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun dan menyiapkan Program Kerja (proker) satu tahun kedepan supaya berjalan dengan baik dalam mengemban amanat.  
Acara dimulai pukul 08.00 dan diawali dengan bacaan al-fatihah kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Acara inti yang paling dinanti yaitu, pembahasan program kerja. Acara berlangsung sangat antusias sekali karena adanya tanya jawab dari peserta RAKER untuk mempertanggungjawabkan program kerjaanya mengenai kinerja satu tahun kedepan dari berbagai bidang diantaranya, Bidang Kajian dan Penelitian, Bidang Media dan Jurnalistik, Bidang Keorganisasian, Bidang Pelatihan dan Pendidikan, Bidang Keagamaan serta Badan Pengurus Harian,dan lain - lain.
Dalam pembahasan masing-masing bidang yang telah menyampaikan prokernya. Tak sedikit dari peserta memberikan kritik dan saran mengenai proker dari bidang-bidang tersebut. “Lebih baik proker sedikit namun terlaksana, dari pada proker banyak akan tetapi tidak terlaksana”. Kata Asep Saefurrahman (MPF).
Acara berlangsung hingga pukul 16.30 dan ditutup dengan bacaan hamdalah oleh moderator dan saling berjabat tangan antar anggota.

Tri Yuli Astuti (kader ForSHEI 2015)

Open Recruitment 2016

Open Recruitment 2016

Tuesday, August 23, 2016 1 Comment
Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI), merupakan organisasi mahasiswa UIN Walisongo yang bergerak di bidang ekonomi islam. ForSHEI berdiri pada tanggal 31 Mei 2008 yang diprakarsai oleh sekelompok mahasiswa Muamalah (Hukum Ekonomi Syariah), Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah. Keanggotaan kader ForSHEI meliputi mahasiswa Muamalah (Hukum Ekonomi Syariah), Ekonomi Islam, Perbankan Syariah dan Akuntansi Syariah. Akan tetapi ForSHEI menerima keanggotaan dari seluruh jurusan di UIN Walisongo Semarang.
Syarat Pendaftaran :
1. Mahasiswa/i maksimal semester 3
2. Mengumpulkan Esai dengan tema "Ekonomi Islam" (Minimal dua lembar)
3. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 10.000,00
4. Mengumpulkan pas foto 3x4 satu lembar

Untuk mengisi formulir online silahkan klik disini

Mengenal Ekonomi ala Islam

Tuesday, July 26, 2016 Add Comment

Ekonomi islam adalah sebuah sistem ekonomi yang berdasarkan pada aturan syariat islam dimana Al-Qur’an dan Sunah Rasul menjadi acuan dan pertimbangan dalam penetapan aturan, prinsip dasar dari ekonomi syariah ini hampir sama dengan ekonomi konvesional yang membedakan adalah jika dalam sistem ekonomi konvesional terdapat bunga sedangkan dalam ekonomi islam bunga ditiadakan atau tidak ada, pada ekonomi konvesional bunga ditetapkan pada perjanjian awal dimana ketika nasabah meinjam modal /uang untuk melakukan sebuah kegiatan usaha kemudian bank akan melihat sebuah kegiatan usaha tersebut akan selalu mendapatkan keuntungan lalu bank akan sesuatu barang berharga milik nasabah sebagai jaminan, besar kecinya bunga ditentukan oleh besar kecilnya peminjaman modal atau uang semakin besar nasabah meminjam modal atau uang semakin kecil bunga yang ditawarkan bank kepada nasabah sebaliknya semakin kecil modal atau uang yang dipinjam semakin besar bunga yang ditawarkan bank kepada nasabah. Sistem pembayaran bunga ini tetap dan tidak meningkat , bank tidak akan melihat kegiatan usaha yang dilakukan oleh nasabah apakah untung atau rugi pembayaran bunga  akan tetap dan tidak meningkat, bank juga tidak akan mempertimbangkan jika nasabah rugi dalam kegitan usahanya pembayaran bunga akan turun ataupun sebaliknya jika nasabah mendapat keuntungan dalam kegiatan usahanya pembayaran bunga juga tidak akan naik, pembayaran bunga ini akan sama dalam tempo waktu yang sama pula.
Sedangkan pada ekonomi islam bunga ini diharamkan karna mempunyai banyak madhorot (masalah) dari pada manfaat maka sebagian dari jumhur ulama mengharamkan bunga bank ini dan diganti dengan sistem bagi hasil dimana penentuan bagi hasil ditentukan bersama-sama antara nasabah dan bank yang berbasis pada sistem syariah diawal perjanjian atau akad,perjanjian ini biasanya berisi objek jual beliporsi pembiayaan bank, jangka waktu, nominal keuntungan yang diterima bank dan lain sebagainya. Atas perjanjian tersebut maka selama masa pembiayaan berjalandan nasabah melakukan pembayaran dengan baik, bank tidak diperkenankan untuk menambah dan mengurangi keuntungan yang disepakati diawal sehingga pembayaran yang dilakukan nasabah tetap dan tidak berubah. Selain pembyaran yang tetap ekonomi syariah juga menerapkan sistem bagi hasil dimana kerjasama antara 2 orang atau lebih, yang satu menjadi pemilik modal dan yang lain menjadi menjadi pengelola modal keuntungan dibagi menurut i kesepakatan bersama. Jadi jika ada kerugian dikemudian pada kegiatan usaha yang dilakukan oleh pengelola modal maka kerugian bisa ditanggung pemilik modal, pengelola modal atau bersama-sama sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.


Arief Mahmudi (Kader ForSHEI 2016)