ESOTERISME JIWA SANTRI UNTUK PENDIDIKAN YANG IDEAL

Sunday, December 31, 2017 Add Comment

Oleh: Vevi Ariyanti Lubis
Peradaban manusia dikembangkan melalui proses pembelajaran yang panjang dan terus-menerus. Jika dilihat dari konteks sejarah dan jika benar manusia berevolusi, tentunya peradaban dimulai dari sekumpulan manusia purba yang terasing di pedalaman hutan. Selama beribu-ribu tahun sekumpulan itu terus menyesuaikan diri dan memperbaiki taraf kehidupan hingga singkat kata pada abad 21 ini, manusia berhasil membangun peradaban maju. Apa yang menjadi kunci dari keberhasilan tersebut? Pendidikan. Manusia dibekali kemampuan berpikir dan belajar. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain yang ada di dunia ini.
Revitalisasi pendidikan tampaknya harus menjadi prioritas utama. Dan itulah sesungguhnya yang perlu dikembangkan secara berkualitas dan sungguh-sungguh. Sebab pendidikan diakui sebagai wadah untuk mencetak berbagai ahli dalam perkembangan kehidupan. Pendidikan merupakan tempat untuk melahirkan  manusia agar menjadi seorang ahli dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, hukum, antropologi, pertanian, militer, dan lain sebagainya.
Pendidikan yang akan menjamin manusia terus berkuasa di dunia ini. Melalui proses pendidikan manusia akan terus mengembangkan kemampuannya. Itu artinya pendidikan-lah sebagai dasar utama yang harus diperbaiki dan dirancang secara professional untuk menapaki sebuah kemajuan dalam perkembangan suatu bangsa. Diperlukan usaha bersama antara masyarakat dan  pemerintah untuk membangun pendidikan  yang mampu melahirkan SDM yang berkualitas bagi bangsa ini.
SDM lahir dari pendidikan yang didapatkan di lembaga sekolah, baik sekolah formal, dan non-formal. Pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan masing-masing masyarakat secara berkesinambungan dan memiliki pemikiran dalam membentuk generasi berkualitas.
Berdasarkan laporan Human Development Report (HDR) pada tahun 2000 versi United Nations Development Program (UNDP) disebutkan bahwa peringkat mutu sumber daya manusia (Human Development Index, HDI) Indonesia berada pada urutan ke-109. Peringkat tersebut jauh di bawah Filipina (77), Thailand (76), Malaysia (61), Brunei Darussalam (32), Korea Selatan (30), dan Singapura (32). Hal yang patut disayangkan yakni posisi antara Filipina dan Indonesia diisi oleh beberapa negara yang ekonominya masih di bawah Indonesia, seperti Vietnam (108), Sri Langka (84), Albania (94), dan Azebaijan (90).
Posisi Indonesia pada tahun sebelumnya (1999) berada pada urutan ke-105. Hal ini berarti bahwa peringkat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia semakin menurun. Data HDI pada tahun 2011 yang diterbitkan oleh UNDP menunjukkan bahwa peringkat Indonesia masih berada di kategori bawah. Indonesia berada pada peringkat ke-124 dari 187 negara di dunia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia menempati urutn ke-6 dari 10 negara ASEAN. Hal ini ditunjang dengan data Sensus Penduduk tahun 2010 yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih sangat rendah, dan 59,07% tercatat tidak tamat pendidikan sekolah dasar.
 Oleh karena itu, pemerintah merancang suatu program untuk memajukan pendidikan yang ada di Indonesia. Di antaranya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar roadshow kegiatan lokakarya dan pelatihan kepala sekolah di beberapa daerah di Indonesia. “Kami memang berencana untuk mengadakan semacam roadshow. Insya Allah tahun 2018, saat ini kami masih merancang kegiatan itu,” ungkap Staff Ahli Kemendikbud, Ananto Kusumo usai menghadiri Lokakarya  Penguatan Karakter Generasi Millenial untuk Indonesia Berkemajuan, di THE 101, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (17/11). Dikutip dari REPUBLIKA.co.id.
Ananto menjelaskan, kegiatan tersebut akan digunakan di beberapa daerah dan akan menghadirkan pembicara dari pusat. Hal itu dinilai lebih praktis dan efisien, ketimbang mendatangkan kepala sekolah atau tenaga pendididk di daerah ke Jakarta.
Dibalik itu, ada beberapa kesenjangan yang tejadi pada pendidikan yang ada di Indonesia. Diantaranya adalah pemikiran masyarakat mengenai lembaga pendidikan Islam khususnya pada pondok pesantren. Adanya beberapa anggapan dari masyarakat bahwa pesantren adalah tempat yang kurang layak, tidak berkualitas, serta tidak mengikuti eksitensi zaman. Mereka menganggap bahwa santri itu hanya bisa mengaji dan membaca kitab kuning.
Berbeda dengan pondok pesantren, menurut masyarakat sekolah umum memiliki fasilitas yang lebih baik dan maju. Sebab melalui fasilitas yang disediakan, siswa mampu mengembangkan bakat mereka. Selain itu mereka memiliki banyak waktu luang untuk mengekspresikan emosionalnya. Namun disisi lain banyak dari mereka yang tidak bisa mengontrol emosionalnya, bahkan mereka salah dalam menggunakan waktu luang tersebut. Masih banyak terjadi kenakalan-kenakalan dikalangan remaja, seperti tawuran, ugal-ugalan, bulliying bahkan tidakan asusila. Selain itu, lingkungan juga merupakan faktor terbesar yang memengaruhi perubahan pola pikir mereka. 
Kemendikbud dalam menetapkan kurikulum bahkan tidak membedakan antara lembaga pendidikan Islam dengan lembaga pendidikan umum. Keduanya memiliki kurikulum yang sama. Hanya saja dalam lembaga pendidikan Islam, selain memiliki kurikulum pendidikan, mereka juga memiliki kurikulum Departemen Agama. Dan jika dilihat dari sudut pandang agama, bahwa lembaga pendidikan Islam lebih memiliki banyak nilai positif. Karena selain memberi pembelajaran umum  juga menanamkan akhlak yang baik untuk para pelajarnya.
Untuk menjawab kesenjangan masyarakat selama ini terhadap pendidikan Islam, maka pemerintah mengadakan IIEE. International Islamic Education Expo atau Pameran Pendidikan Islam Internasonal adalah even pendidikan terbesar yang akan diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI pada akhir 2017. Tema yang akan dimuat dalam acara ini adalah “Pendidikan Islam Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.  Acara ini akan berlangsung selama empat hari dari tanggal 21 sampai 24 November 2017. Expo ini akan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE),  expo ini juga akan dimeriahkan oleh sekitar 200 stand pameran yang disediakan untuk peserta, terdiri dari lembaga-lembaga pendidikan dan mitra dari dalam dan luar negeri.
Untuk mengatasi masalah yang ada dikalangan remaja  saat ini, Islam menawarkan satu lembaga pendidikan yaitu pondok pesantren. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang terletak di Jl. Jamin Ginting Km. 11 Paya Bundung Medan Sumatera  Utara. Pesantren ini berdiri sejak 18 Oktober 1982 bertepatan pada tanggal 1 Muharram 1404 H. “Di atas dan untuk semua golongan” adalah salah satu pegangan dari pesantren ini yang memiliki arti bahwa pesantren ini terbuka untuk semua orang.
Selain pendidikan agama, pesantren ini juga menonjolkan pengetahuan umum terutama dalam kemampuan berbahasa Arab maupun Inggris yang merupakan bahasa resmi para santrinya.  Untuk mengaplikasikan bahasa  resmi tersebut, setiap hari libur mereka mengadakan conversation dan  mengikuti pelatihan public speaking tiga kali dalam satu minggu, yaitu pada hari senin, kamis, serta jumat. Dari pengaplikasian bahasa resmi tersebut, pesantren ini telah mengirim alumninya ke berbagai negara untuk melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya seperti Mesir, Jordan, Madinah, Maroko, Malaysia, Singapura, Jepang, dan masih banyak lagi.
Untuk melatih soft skill santrinya, pesantren ini memiliki banyak kegiatan dan perlombaan diantaranya:
§  Language expo adalah salah satu perlombaan yang bertujuan untuk mengembangkan kepandaian para santri dalam berbahasa resmi. Perlombaan ini terdiri dari story telling (menyampaikan cerita atau argumen dengan menggunakan Bahasa Inggris), scrabble (menyusun kata Bahasa Inggris), miss language (pencarian puteri bahasa yang dapat menguasai kaidah-kaidah Bahasa Inggris (grammar) dan Bahasa Arab (nahwu dan sharaf), wall magazine (pameran majalah dinding yang berisi tulisan-tulisan santri baik berupa puisi, cerita, maupun informasi yang dimuat dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), dan hiwar (debat Bahasa Arab dan Bahasa Inggris).
§  Musabaqah Maharatil Kitabah (MMK) adalah perlombaan yang mengembangkan bakat santri dalam menulis baik berupa karya ilmiyah maupun non ilmiyah. Perlombaan ini tidak mengharuskan peserta menggunakan Bahasa Arab ataupun Bahasa Inggris.
§  Drama competition adalah perlombaan teater dengan menggunakan bahasa resmi pesantren.
§  Shalawat competition adalah perlombaan yang bertujuan untuk menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah di jiwa para santri.
§  Kursus Mahir Dasar (KMD) adalah pelatihan kepramukaan yang dilaksanakan oleh santri kelas XI sebelum mereka diangkat menjadi pembantu pembina. Selain KMD, masih banyak kegiatan kepramukaan yang diikuti oleh para santri diantaranya, cross coutry, pesta penggalang dan penegak, serta jambore nasional.
§  Pagelaran seni Drama Arena dan Panggung Gembira adalah sebuah mahakarya yang ditunjukkan oleh santri kelas XI dan XII. Semua seni yang ditampilkan merupakan hasil dari kreativitas mereka. Bahkan panggung serta dekorasinya adalah hasil dari sentuhan tangan mereka.
Selain memberikan pengetahuan, pesantren juga mengajarkan kepada para santrinya untuk memiliki sifat kepemimpinan. Karena dengan penanaman sifat tersebut  menjadikan mereka tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, melainkan mereka yang harus memengaruhi lingkungan.
Dari ini terjawablah bahwa lembaga pendidikan Islam itu tidak tertinggal dari lembaga pendidikan umum. Bahkan anggapan masyarakat tentang pondok pesantren yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, justru menjadi salah satu solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia. Sebab pendidikan di pesantren lebih  mandiri, disiplin, kreatif, serta lebih siap untuk mengahadapi kehidupan nyata.

PURIFIKASI KEMISKINAN MELALUI MODERNISASI MANAJEMEN MASJID

Saturday, December 30, 2017 Add Comment


oleh : Devi Nur Havifah
Kemiskinan merupakan masalah fundamental yang tengah dihadapi oleh semua bangsa, termasuk Indonesia. Meskipun pada kenyataannya kemiskinan akan selalu ada, namun upaya dalam mengatasinya tidak akan berhenti. Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat kemiskinan cukup tinggi. Tercatat pada bulan Maret 2017 jumlah penduduk  yang memiliki pengeluaran per kapita dibawah garis kemiskinan mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen) (Badan Pusat Statistik, 2017).
Banyak upaya yang dilakukan Indonesia dalam mengentaskan masalah kemiskinan, seperti menciptakan sistem pinjaman bagi usaha mikro, menyediakan bantuan teknis berupa pendampingan manajerial dan memperbesar akses perkreditan pada lembaga keuangan. Upaya tersebut merupakan solusi yang dilakukakn oleh pemerintah. Dalam pengentasan kemiskinan, upaya pemerintah saja tanpa disertai peran masyarakat tidaklah cukup. Butuh adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang sesuai dengan Undang-undang dasar pasal 33 ayat 1: “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”
Jika kita bercermin pada perekonomian zaman Rasulullah, fungsi masjid memiliki manfaat yang kompleks. Selain sebagai tempat beribadah, masjid digunakan sebagai pusat kegiatan musyawarah dalam memecahkan berbagai masalah. Menurut Dalmeri (2004) Masjid Nabawi oleh Rasulullah difungsikan sebagai: (1) pusat ibadah; (2) pusat pendidikan dan pengajaran; (3) pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum; (4) pusat pemberdayaan ekonomi umat dalam aspek hukum; (5) pusat informasi Islam; (6) bahkan sempat sebagai tempat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah. Baitul mal didirikan oleh Rasulullah sebagai institusi yang bertindak sebagai pengelola keuangan negara. Baitul mal memiliki peranan yang penting bagi perekonomian, termasuk dalam melakukan kebijakan yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat Indonesia berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keseimbangan dan pemerataan perekonomian, dibuktikan dengan adanya zakat infak dan shadaqoh. Pengelolaan dana ZIS dapat dipusatkan pada peran masjid dalam masyarakat, dengan dibentuknya baitul mal. Keberadaan dana ZIS yang dikelola melalui baitul mal dengan manajemen baik akan membantu dalam masalah  pengentaskan kemiskinan.
Terdata jumlah masjid di Indonesia sebanyak 800.000 (Kementrian Agama, 2017), seharusnya bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui dana ZIS yang dikelola oleh baitul mal. Pada faktanya keberadaan masjid masih belum memberikan fungsi yang maksimal, karena rendahnya kasadaran masyarakat akan pengelolaan masjid yang baik.
Merujuk pada dalil Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 7 “supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”. Dimana ZIS sebagai sarana dalam pemerataan kesejahteraan hidup, maka tidaklah pas jika dana ZIS yang terkumpul hanya diperuntukan untuk kepentingan masjid. Sebab pemenuhan segala fasilitas masjid akan sia-sia jika tidak dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk beribadah. Sebaiknya harus ada keseimbangan pengelolaan dana antara keperluan pembangunan masjid dan kesejahtaraan masyarakat. Maka dalam pendistribusian infak juga harus memperhatikan kepada kepentingan masyarakat sekitar masjid, sehingga distribusi lebih efektif.
Banyaknya masjid di Indonesia seharusnya dapat menjadi solusi masalah kemiskinan dengan pengelolaan dana ZIS sebagimana dicontohkan oleh Masjid Jogokariyan yang terletak di kecamatan Mantrijeron, Yogakarta. Masjid ini mulai membentuk lembaga kemasjidan, serta kegiatan keagamaan, poliklinik dan pengajian remaja sampai proses pemberdayaan jemaah. Kehadiran masjid ingin memberikan arti bagi kehidupan masyarakat. Masjid Jogokariyan menjadi masjid percontohan nasional dan menjadi tujuan studi banding dari berbagai instansi di Indoesia.
Sistem keuangan Masjid Jogokariyan berbeda dengan yang lain. Jika ada masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan, maka Masjid Jogokarian Yogyakarta selalu berupaya agar ditiap pengumuman, saldo ZIS harus sama dengan nol. ZIS itu ditunggu pahalanya untuk jadi amal saleh, bukan untuk disimpan di rekening bank. Dengan saldo sama dengan nol, jemaah lebih bersemangat mengamanahkan hartanya.
Menilik manajemen Masjid Jogokariyan yang dapat meminimalisir jumlah kemiskinan menjadi hal yang sangat menarik. Masjid berhasil menanamkan kepercayaan kepada masyarakat untuk menitipkan hartanya.. Harta tersebut dapat berupa zakat, infak maupun shadaqoh yang akan dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat. Penyaluran dana di tahun 1437 H diantaranya diberikan kepada fakir miskin sebesar 29 juta, fisabilillah 49 juta, dan ibnu sabil/musafir sebesar 412 ribu. (Zulfa, 2017)
Pada tahun 2005 Masjid Jogokariyan berinisiatif untuk menggalakan program jemaah mandiri. Program ini merupakan ajakan kepada masyarakat untuk berinfak dalam jumlah tertentu setiap usai sholat Jumat. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan masjid selama satu tahun. Kapasitas masjid sebesar 1200 orang, angka yang diperoleh dari setiap orang adalah Rp. 1500,-/pekan. Melelui program ini infak yang diperoleh meningkat secara signifikan, bahkan lebih dari yang diperkirakan.
Boleh dikatakan  takmir Masjid Jogokariyan memiliki sistem pengelolaan dan program yang baik. Program yang berbeda dan sangat unik adalah gerakan sholat subuh berjama’ah. Setiap keluarga diberi sebuah undangan mirip seperti undangan pernikahan yang berisi ajakan untuk sholat subuh berjamaah. Undangan berisi nama lengkap dan disertai dengan hadist tentang keutamaan sholat shubuh berjama’ah. Ternyata ide ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan mampu meningkatkan jumlah infak. Jemaah terhitung mencapai sepertiga jemaah sholat Jum’at  kurang lebih 4000 jemaah. Bahkan, melalui pemasukan kotak infak takmir masjid bisa mengadakan sarapan untuk jemaah subuh setiap hari Minggu pekan pertama setiap bulannya.
Pengeluaran dari kotak infak subuh 1437 H diantaranya digunakan untuk bakti sosial di Gunung Kidul sebesar 4,6 juta, subsidi poliklinik sebesar 9 juta, santunan anak yatim sebesar 2,4 juta, dan konsumsi pengajian subuh sebesar 14,3 juta.
Jika kita melihat dari  program Masjid Jogokariyan mengenai pengumpulan dana ZIS melalui gerakan sholat berjama’ah, jelas bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan melalui manajemen masjid. Terbukti bahwa takmir masjid dapat mendirikan sebuah poliklinik di area masjid sebagai alternatif pengobatan. Fasilitas ini pastinya diutamakan untuk warga Masjid Jogokarian dan gratis untuk pengobatan ringan. Fasilitas lainnya adalah wifi gratis yang tersedia di sekitar wilayah Masjid Jogokarian. Dimaksudkan adanya wifi gratis dapat mengontrol anak-anak supaya tidak menyalahgunakan warnet dan tetap berada di wilayah setempat.
Dalam bulan Ramadhan, Masjid Jogokariyan juga memiliki program khusus yakni kampung ramadhan. Sholat tarawih yang dilaksanakan mengikuti alal Madinah dan Gaza, bahkan Takmir Masjid mengundang imam asli dari Madinah dan Gaza. Diharapkan bahwa dapat memberikan wawasan pada jamaah dan mendengar kabar gembira atau buruk tentang Gaza dari sumbernya secara langsung. Buka puasa bersama juga menjadi kegiatan rutin dengan porsi mencapai 1200. Total pemasukan kegiatan ini biasanya mencapai Rp. 323.758.700.- dan menyisakaan saldo Rp.0- Selain itu diadakan pasar sore Ramadhan. Masyarakat diberi kebebasan untuk berwirausaha, bahkan jika ada warga yang tidak memiliki modal namun ingin berwirausaha maka cukup mengajukan bantuan pada panitia. Akad yang digunakan adalah akad Qardh atau hibah bagi mereka yang memenuhi kriteria.
Kebebasan untuk berwirausaha serta memberikan dana pinjaman kepada masyarakat menunjukan bahwa Masjid Jogokariyan benar-benar ingin memberdayakan masyarakat. Kesejahteraan akan tercipta bahkan kemiskinan dapat teratasi. Faktanya bahwa banyak masyarakat yang ingin berwirausaha namun tidak memiliki modal, tetapi Masjid Jogokariyan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuka usaha. Kemasndirian masyarakat miskin akan terbentuk karena mendapat dukungan finansial serta moral. Jika seluruh masjid Indonesia memiliki manajemen keuangan seperti Masjid Jogokariyan, maka bisa mengangkat perekonomian Indonesia berawal dari pengusaha kecil.
Dirasa sudah memiliki pemasukan yang melebihi taksiran, inovasi yang dilakukan denga tujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat tidak berhenti. Masjid yang ingin terus berkontribusi bagi masyarakat dibuktikan dengan dibangunnya hotel setara bintang tiga. Hotel ini memiliki 10 kamar regular dan satu kamar VIP yang berada di lantai tiga Masjid Jogokariyan. Selain memiliki hotel, Masjid Jogokariyan juga memliki aula Islamic Center. Aula ini disewakan untuk berbagai acara dan untuk umum. Daya tampung aula mencapai 200 orang dengan lima AC, LCD proyek dan sound system yang lengkap. Pendapatan yang didapat dari gasil penyewaan juga cukup lumayan.
Berawal dari sistem pengelolaan yang kecil seperti yang dicontohkan Masjid Jogokariyan, seharusnya  bisa menjadi solusi yang ditempuh oleh pemerintah. Baitul mal yang mendapat kepercayaan dari masyarakat merupakan sesuatu yang penting. Banyak orang yang enggan untuk menitipkan hartanya untuk dizakatkan pada lembaga zakat, karena pengalokasian yang kurang tepat. Masjid berperan dalam menyelesaikan permasalahan dalam bidang ekonomi. Kejayaan yang diungkapkan sejarah pada masa perekonomian Rasulullah bukanlah hanya sekedar cerita dongeng dan tidak mungkin diterapkan pada zaman sekarang. Terbukti bahwa Masjid jogokariyan berhasil memberikan kesejahteraan pada masyarakat melalui pengelolaan baitul mal yang baik. Maka dari itu Pemerintah harus menyadari bahwa dengan  jumlah masjid yang banyak, seharusnya bisa menjadi solusi jitu dalam mengentaskan kemiskinan

“Integritas yang Dibangun dengan Solidaritas untuk Menciptakan Profesionalitas” SHARIA ECONOMIST TRAINING 1 forshei 2017

Monday, December 25, 2017 Add Comment

Ungaran, 23-24/12 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Walisongo Semarang mengadakan Sharia Economist Training 1. Hari yang ditunggu oleh setiap anggota forshei 2017 ialah pengesahan sebagai kader forshei. Untuk menjadi kader forshei setiap anggota diwajibkan mengikuti kegiatan Sharia Economist Traning 1 (SET 1) 2017 dengan tema “Integritas yang Dibangun dengan Solidaritas untuk Menciptakan Profesionalitas”. Tujuan diadakannya SET 1 yaitu untuk mengembangkan kemampuan, bakat, dan minat yang dimiliki setiap kader maupun anggota sesuai passion mereka. Sebelum mengikuti kegiatan SET 1 para anggota 2017 diwajibkan mendapatkan poin dari buku saku sebesar 80 poin yang diujikan dari mentor masing-masing.

Sebelum pemberangkatan diadakan TM ( Technical Meeting) dahulu pada hari Juma’at 22 Desember 2017. TM ini memberikan pengarahan terhadap para anggota 2017 dalam melaksanakan kegiatan SET 1. Seperti keperluan yang dibawa dan pembagian kelompok serta keterangan lain.

Pada hari pemberangkatan para anggota 2017 dan kader forshei yang lain berkumpul di sebelah audit 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang pukul 08:00 WIB, kemudian dilanjut perjalanan dan sampai pukul 10:30 WIB di lokasi Bukit Lerep Indah Ungaran. Pembukaan SET 1 dimulai dengan sambutan yang pertama dari ketua panitia saudara  Muhammad Faizul Mamduh (kader 2016), sambutan yang kedua oleh ketua forshei umum sudara Muhammad Firdaus (kader 2015) dan sambutan yang terakhir oleh ketua MPF sudara Syukon Makmun.

Pada SET 1 ini ada empat materi yang diberikan, yaitu Personal Identity, Ekonomi Syariah vs Ekonomi Konvensional, Leadership, dan Antropologi Campus. Materi pertama diisi oleh saudara El Abid. Pada materi ini pemateri meneragkan mengenai mesin kecerdasan, kecerdasan seseorang dapat ditempuh melalui “the fast way” (jalan tercepat) yaitu diantaranya focus, active, silent, dan teachable. Pada materi kedua diisi oleh saudara Asep Saepurrahman (KA forshei). Pada materi Ekonomi Syariah vs Ekonomi Konvensional beliau menerangkan tentang dasar-dasar ekonomi konvensional dan syariah, perbedaannya, konsep teorinya. selanjutnya pada materi yang ketiga dan keempat peserta dibagi menjadi dua kelompok yaitu A dan B. Materi yang ketiga diisi oleh saudara Ahmad Fauzi (Majelis Pertimbangan Forshei) dan saudara Ahmad Ghifary Rizalun Nafis (Majelis Pertibangan Forshei) pada materi kepemimpinan ini pemateri menyampaikan tentang bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik dan bijak. Kepemimpinan adalah proses mengarahkan orang dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yan berhubungan tugas dari anggota-anggota kelompoknya. Saudara Nafis mengatakan “jika kalian tidak mengatur tujuan kalian sendiri, maka kalian akan diatur oleh orang lain untuk kepentingan orang lain”. Poin penting bahwa pemimpin yang baik dan adil akan meendapat naungan Allah Swt ketika di padang mahsyar.

Waktu menunjukan Maghrib, para peserta dan kader forshei yang lain berjamaah menunaikan sholat maghrib, tahlilan, sholat isya’ dan makan malam. Kegiatan selanjutnya yaitu sarasehan dan pentas seni yang diikuti oleh Majelis Pertimbangan Forshei, kader-kader forshei dan dihadiri oleh Keluarga Alumni Forshei dan Founding Father forshei saudara Hery Aslam. Sarasehan ini diisi dengan penyampaian pesan dan kesan para MPF dan KA forshei yang hadir. Pada kesempatan kali ini mas Hery berpesan bahwa “Pada saat kalian mendapat peluang dan kesempatan sekicil apapun itu, maka datang dan ambilah, dan kalian tidak akan merugi”. Setelah sarasehan dilanjut pentas seni yaitu penampilan karya dari kader 2015,2016, dan 2017 yang acaranya selesai pada pulul 24.00.

Pada keesokan harinya, kegiatan selanjutnya yaitu senam bersama dan outbond. Kegiatan ini bertujuan agar para kader dapat menjaga kekompakan dalam berkompetisi dan dapat melatih manajemen sebuah tim.

Pada pukul 09.00 dilanjutkan materi keempat yaitu oleh pemateri saudara Sulistyowati (MPF) dan saudara Ahmad Arief Widodo (MPF) pada materi Antropologi Campus ini pemateri menerangkan karakter setiap individu. Antropologi kampus adalah berusaha menjelaskan bagaimana kehidupan mahasiswa sebagai pemeran utama. Saudara Arief memberikan contoh kutipan dari Pramudya Ananta Toer yaitu “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”. Menjadi mahasiswa harus bisa berfikir dan mencipta yang baru, harus bisa bebas dari segala arus masyarakat yang kacau, dan mampu bertindak demi tanggung jawab sosial dalam kondisi mendesak sekalipun.


Acara SET 1 berakhir pada pukul 12.00 WIB. Semua kader forshei berjamaah sholat dhuhur dilanjutkan penutupan SET 1 dan diakhiri foto bersama semua kader forshei dan MPF. Setelah itu perjalanan menuju kampus tercinta UIN Walisongo Semarang. Semoga dengan diadakannya SET 1 ini kader-kader forshei bisa mendapatkn ilmu-ilmu yang baru dan dapat mengimplementasikan serta mengamalkannya.

  
 


Pandangan Islam dan Konvensional tentang Penawaran dan Permintaan

Thursday, December 14, 2017 Add Comment
Kamis, 14/12 - forum studi hukum ekonomi Islam melakukan agenda rutinan yaitu diskusi primer setiap senin dan kamis sore. Untuk pembahasan kamis sore kali ini ialah Pandangan Penawaran dan Permintaan dalam Islam dan konvensional. Diskusi ini dihadiri oleh kader forshei angkatan 2015, 2016 dan 2017. Pembukaan awal dilakukan dengan membaca bersama-sama ayat ekonomi yang telah di tentukan oleh bidang keagamaan. Selanjutnya pemberian pandangan umum maupun pertanyaan umpan balik untuk menghidupkan diskusi sore ini oleh mederator.

Teori permintaan dalam konvensional merupakan banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga pada tingkat pendapatan dalam periode tertentu. Sedangkan Teori permintaan dalam Islam adalah banyaknya jumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Secara garis besar permintaan dalam ekonomi Islam sama dengan ekonomi konvensional, namun ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim dalam keinginannya.

Misalnya, Islam mengharuskan orang untuk mengkomsumsi barang yang halal dan thayyib. Selain itu dalam ajaran Islam, orang yang mempunyai uang banyak tidak serta merta diperbolehkan untuk membelanjakan semua uangnya untuk membeli apa saja yang diinginkan dengan jumlah yang berlebihan. Batasan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak boleh berlebihan (isyraf) dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah). Perbedaan yang perlu diperhatikan terutama pada permintaan dalam Islam adalah sumber hukum dan adanya batasan syari’ah, sudut pandang barangnya, motif dari permintaan dan tujuannya.

Teori penawaran dalam Islam merupakan banyaknya barang atau jasa yang tersedia dan dapat ditawarkan oleh produsen kepada konsumsi pada setiap tingkat harga selama periode penawaran tertentu (supply). Teori penawaran yaitu teori yang menerangkan sifat penjual dalam menwarkan barang yang dijual. Gerakan sepanjang dan pergeseran kurva penawaran perubahan dalam jumlah yang ditawarkan dapat berlaku sebagai akibat dari pergeseran kurva penawaran. Satu aspek penting yang memberikan suatu perbedaan dalam perseptif ini kemungkinan besar berasal dari landasan filosofi dan moralitas yang didasarkan pada premis nilai-nilai Islam.


Penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: harga barang, tingkat teknologi, jumlah produsen di pasar, harga bahan baku, serta harapan, spekulasi atau perkiraan. Tak terasa hari sudah semakin petang dan menjelang magrib, diskusi pun diakhiri. Selanjutnya diskusi di tutup dengan pembacaan notulensi oleh moderator. Diskusi ini ditutup dengan bacaan hamdalah bersama-sama serta tos jargon forshei.

Pengertian Konsumsi

Monday, December 11, 2017 Add Comment
Konsumsi adalah hal yang niscaya dalam kehidupan manusia, karena manusia membutuhkan berbagai konsumsi untuk memertahankan hidupnya. Manusia perlu makan untuk hidup, berpakaian untuk melindungi tubuh dari berbagai terpaan cuaca, memiliki tempat tinggal untuk berteduh dan beristirahat serta menjaganya dari berbagai gangguan.

Dalam ilmu ekonomi Islam, konsumsi diartikan sebagai pemakaian barang untuk mencukupi suatu kebutuhan secara langsung, atau penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan Yusuf al-Qardhawi mendefinisakan konsumsi dengan pemanfaatan hasil produksi yang halal dengan batas kewajaran agar manusia dapat hidup aman dan sejahtera. Dengan demikian, konsumsi tidak terbatas pada makan dan minum semata, melainkan mencakup segala pemakaian dan pemanfaatan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam hidupnya.

Adapun tujuan konsumsi dalam Islam, yaitu. Pertama, dalam memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok (dharuriyyah), yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seseorang karena terkait dengan keberlangsungan hidupnya, seperti kebutuhan makan, minum, oksigen, dan lain-lain. Kedua, kebutuhan sekunder (hajiyyah), yaitu kebutuhan yang diperlukan dalam hidup manusia untuk mengatasi kesulitannya, tetapi jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, tidak sampai mengancam atau berakibat pada kehidupannya. Seperti kebutuhan akan kendaraan untuk memudahkan dan memercepat kegiatan usaha, sarana dan prasarana pendidikan yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sarana kesehatan dan sebagainnya. Ketiga, kebutuhan tersier (tahsiniyyah) yaitu kebutuhan yang bersifat aksesoris, pelengkap dan memberi nilai tambah pada kebutuhan pokok dan sekunder, misalnya arsitektur masjid, desain gedung sekolah dan rumah sakit yang indah,dan sebagainya.
Dalam Islam, berikut prinsip-prinsip konsumsi. Pertama prinsip halal, seorang muslim diperintah dalam al-Qur’an untuk memakan-makanan yang halal (sah menurut hukum dan diizinkan), dan tidak memeroleh secara haram (tidak sah menurut hukum dan terlarang). Kedua, prinsip kebersihan dan menyehatkan, orang-orang yang beriman diingatkan untuk memakan-makanan yang thayyib dan menjauhakn diri dari yang khabaita. Kata thayyib bermakna menyenangkan, manis, diizinkan, menyehatan, suci, dan kondusif untuk kesehatan. Sedangkkan khabaitas adalah barang-barang yang tidak suci, tidak menyenangkan, buruk dan tak sedap dipandang dan dimakan. Ketiga, prinsip kesederhanaan dalam konsumsi berarti bahwa orang haruslah mengambil makanan dan minuman sekadarnya dan tidak berlebihan karena makanan yang berlebihan itu berbahaya bagi kesehatan.

Produksi adalah sebuah proses yang lahir seiring dengan keberadaan manusia dimuka bumi. Menurut Adiwarman Karim, produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dan alam. Secara umum, produksi adalah penciptaan nilai guna yang berarti kemampuan suatu barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhan manusiawi tertentu. Menurut Al-Ghazali produksi adalah pengerahan secara maksimal sumber daya alam (row material) oleh sumber daya manusia, agar menjadi barang yang bermanfaat bagi manusia. Dalam perspektif al-Qur’an, kegiatan produksi tidak hanya berorientasi untuk memeroleh keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi tujuan utama produksi adalah untuk kemaslahatan individu dan masyarakat di dunia. Bahkan disamping itu, produksi dimaksudkan untuk mendapatkan nilai guna (utilitas) di dunia, juga dimaksudkan untuk mencapai kebahagiaan (falah) di akhirat.

Menurut Nejatullah Ash-Shiddiqi, tujuan produksi yang pertama yaitu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu secara wajar. Kedua, pemenuhan kebutuhan keluarga. Ketiga, bekal untuk generasi mendatang. Keempat, bantuan kepada masyarakat dalam rangka beribadah kepada Allah. Dalam al-Qur’an mengklasifkasi barang-barang atau komoditas dalam dua kategori, yaitu komoditas thayyibat yakni komoditas yang secara hukum halal diproduksi dan dikonsumsi, artinya komoditas ini diperbolehkan dalam agama Islam. Kedua, komoditas khabaits yakni komoditas yang secara hukum dilarang untuk diproduksi dan dikonsumsi misalnya minuman yang memabukan, daging babi dan daging anjing.

Secara umum faktor-faktor produksi mencakup empat hal. Pertama, Sumber Daya Alam (SDA), Allah Menciptakan bumi dan segala isinya sebagai SDA untuk dikelola manusia demi kepentingan dan kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 29 yang dimaksudkan bahwa “konsep tanah sebagai sumber daya alam memiliki makan luas yang mencakup segala sesuatu yang ada di dalam, di luar, maupun di sekitar bumi (darat, udara, dan laut) yang menjadi sumber-sumber ekonomi seperti pertambangan, pasir, tanah pertanian, sungai dan lain sebagainya”. Kedua, tenaga kerja, Allah SWT menciptakan manusia di bumi dengan tugas untuk memakmurkan bumi, dalam arti memanfaatkan sumber di bumi dengan mengelola dan memproduksi hasil-hasil bumi sehingga tercapai kesejahteraan hidup. Ketiga, modal, menurut M Abdul Mannan, modal memiliki posisi yang strategis dalam ekonomi Islam sebagai sarana produksi yang mengahsilkan tidak sebagai faktor produksi pokok melainkan sebagai perwujudan tanah dan tenaga kerja. Alasannya adalah kenyataan yang menunjukan bahwa modal dihasilkan oleh pemanfaatan tenaga kerja dan penggunaan sumber-sumber daya alami. Islam menganjurkan agar modal dapat dikembangkan melalui berbagai transaksi, seperti transaksi jual beli, transaksi bagi hasil, baik itu mudharabah ataupun musyarakah, bahkan jenis transaksi bagi hasil lainnya yang sesuai ajaran Islam. Transaksi jasa baik itu transaksi rahn ataupun wadi’ah dan jenis transaksi jasa lainnya. Keempat, organisasi, organisasi atau manajemen merupakan proses mengarahkan kegiatan usaha untuk mencapai tujuan. Organisasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan produksi yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan secara kontinuitas dengan cara memfungsikan dan menyusun unsur-unsur produksi sebuah perusahaan. Islam sangat mengajurkan seseorang memiliki manajemen yang baik sebagaiman firman Allah SWT dalam surat Al-Hasyr ayat 18 yang dimaksudkan bahwa “manajemen atau tata laksana organisasi merupakan faktor produksi yang intangible (tidak dapat diraba), sekaliun demikian tetapi peranannya sangat besar dan menentukan”.




Sharia Economic Competition (SEC) se-Komisariat Semarang 2017

Monday, December 11, 2017 Add Comment
Sharia Economic Competition (SEC) se-Komisariat Semarang 2017
Semarang, 9/12 Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (forshei) UIN Waslisongo Semarang, mengikuti event tahunan bergengsi yaitu “SHEVENT” Sharia Economic Competition (SEC) 2017 se-komisariat Semarang pada TEMILKOM (Temu Ilmiah Komisariat) yang diadakan di KSEI UNNES. Dengan mengusung tema “Optimalisasi Peran Ekonomi Syariah dalam Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) 2045”. SHEVENT kali ini diikuti oleh 59 peserta, yaitu dari 7 KSEI yang tergabung dari komisariat Semarang, Pati, dan Magelang. Cabang perlombaan yang dilombakan antara lain MTQ, esaay,danlombacerdacermat.KSEI forshei sendiri mengikuti semua cabang perlombaan tersebut, yaitu delegasi MTQ (Eko Nur Choliludin dan Eva Nur Musdalifah), delegasi Essay (Khiyaratul Fajriyah dan Itsna Tifani B.R), delegasi LCC ada 3 tim, tim pertama (Muhammad Ikhsanudin, Nandiyah, dan Eva Nurul Anisa), tim kedua (Miftahul Munir, Faiz, dan Ulul Fahmi), dan tim ketiga (Bintang Mahardika P.B, Uyuna Sundari, dan Mihlatunnisa).

SHEVENT ini dimulai pada pukul 09.00 WIB, ditandai dengan acara pembukaan yang diikuti oleh seluruh peserta SHEVENT, dan dibuka oleh pembina KSEI UNNES Bp. Ubaedul Mustofa yang bertempat di Aula FE UNNES. Pada sambutannya beliau mengatakan bahwa event ini bertujuan antara lain untuk dakwah, ukhuwah dan ilmiah untuk seluruh KSEI yang mengikuti perlombaan. Dari tema SHEVENT ini, beliau berharap bahwa kita sebagai masyarakat ekonomi syariah harus mampu memberikan kontribusi lebih melalui SDGs tersebut. Kemudian sambutan dari coordinator komisariat Fossei Semarang, saudara Ibnu Alwi Aziz mengatakan bahwa ajang ini merupakan tolak ukur untuk mengkaji kajian tiap minggunya dari setiap KSEI.

Event dimulai pada pukul 10.45 WIB. Masing-masing peserta menempati ruangannya sesuai cabang lomba yang perlombakan. MTQ terdiri dari babak penyisihan dan babak semi final, essay terdiri dari satu babak yaitu presentasi essay, dan LCC terdiri dari tiga babak yaitu penyisihan, semi final, dan final. Dari ketiga perlombaan tersebut terlihat sekali peserta sangat antusias mengikuti serangkaian perlombaan pada SHEVENT ini. Setiap peserta menampilkan kemampuan terbaiknya pada event ini, bukan ingin menjadi pemenang tapi secara tidak langsung turut memeriahkan persatuan ukhuwah di TEMILKOM ini.

Serangkain acara berjalan dengan lancar, babak demi babak pun telah terlewati. Pada sore hari, acara penutupan dan pengumuman hasil perlombaan. Pada lomba MTQ dijuarai oleh: Juara pertama KSEI UNNES, juara kedua KSEI Jazirah, dan juara ketiga KSEI UNDIP. Sedangkan lomba essay juara pertama dan kedua direbut oleh KSEI UNDIP dan juara ketiga diraih oleh KSEI Jazirah. untuk lomba LCC juara pertama diraih oleh KSEI UNDIP, juara kedua oleh KSEI Jazirah dan juara ketiga diraih oleh KSEI forshei.

Alhamdulillah dari KSEI forshei meraih juara 3 pada lomba cerdas cermat, yaitu dari tim 1 oelh Muhammad Ikhsanudin, Nandiyah, dan Eva Nurul Anisa. Sebelum beranjak meninggalkan tempat perlombaan, peserta dari forshei berkumpul dahulu dan berdoa sebelum perjalanan pulang. Salah satu MPF, saudara Arief Widodo mengatakan seperti halnya aksi kamisan, mereka tidak tau menang atau kalah, tetapi mereka tetap memukul memperjuangkan keadilan. Sepertihalnya kita, meski kita tidak tau hasil yang akan diraih, kita harus tetap berusaha secara maksimal. Yang terpenting kita senantiasa berusaha, karena orang yang berhenti berusaha mereka itu orang yang kalah, an sebagai contoh yang tetap berproses di organisasi yaitu mereka pemenangnya.

Hikmah dari diadakannya SHEVENT ini yaitu tidak lain untuk menjalin ukhuwah dan mengembangkan dakwah ilmiah kita semua. Jadikan setiap peristiwa sebagai lading pembelajaran dan mengais ilmu, tetap semangat perproses dan jangan pantang menyerah.
Muhammad Faizul Mamduh

Konsep Produksi Konvensional

Saturday, December 09, 2017 Add Comment
Konsep Produksi Konvensional
Konsep produksi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam menghasilkan suatu produk, baik berupa barang atau jasa yang dimanfaatkan oleh konsumen. Saat kebutuhan manusia masih sedikit, kegiatan produksi dan konsumsi cenderung dilakukan sendiri, yaitu seseorang memproduksi untuk kebutuhnya sendiri. Namun, dengan berbagai macam kebutuhan manusia sekarang ini yang semakin banyak dan keterbatasan sumber daya, maka seseorang membutuhkan orang lain dalam memproduksi segala pemenuh kebutuhannya.

Sedangkan aktifitas produksi yaitu suatu upaya atau kegiatan untuk menambah nilai guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan sumber daya alam (SDA) yang tersedia. Sedangkan kegiatan menambah nilai guna suatu barang dikenal lima jenis kegunaannya. Diantaranya adalah, guna bentuk, guna jasa, guna tempat, guna waktu dan guna milik.

Dari kegiatan produksi dan aktifitas produksi tentu ada faktor yang menunjang atau memengaruhi produksi. Pertama, tanah atau bahan baku. Bahan baku merupakan faktor utama dalam produksi, sebab alam telah menyediakan begitu banyak SDA untuk dimanfaatkan yang nantinya akan berguna bagi orang banyak. Kedua, tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan tangan-tangan untuk mengolah bahan baku sehingga menjadi suatu produk atau jasa. Ketiga, modal. Suatu produksi akan berjalan apabila ada modal. Modal digunakan untuk membeli bahan baku awal dan menggaji tenaga kerja sehingga aktifitas produksi bisa terus berputar. Secara kontemporer modal dibagi menjadi dua, modal fisik dan modal uang. Keempat, manajemen. Adanya manajemen yang dapat mengalkulasi keuntungan dan kerugian dengan baik, sehingga risiko kerugian bisa diminimalisir. Kelima, teknologi. Selain membutuhkan tenaga kerja, adanya teknologi juga memudahkan kegiatan produksi dalam mengolah suatu produk atau jasa.

Salah satu keberhasilan produksi memerhatikan dan berhasil menerapkan konsep serta hukum produksi dengan baik. Konsep dan hukum produksi adalah sebagai berikut. Pertama, konsep efisiensi. Efisiensi dibagi menjadi dua, efisiensi fisik dan efisiensi ekonomis. Efisiensi fisik yaitu memerhatikan pengeluaran fisik dan pemasukan fisik secara maksimum. Sedangkan efisiensi ekonomis yaitu mencapai keuntungan maksimum berupa uang. Kedua, konsep opportunity cost. Adalah nilai produk yang diproduksi karena pemasukannya telah digunakan untuk menghasilkan produk lain. Ketiga, konsep keuntungan maksimum dan kerugian minimum. Merupakan perwujudan dari produsen yang mengejar kepuasan atau keuntungan maksimum dari produksi yang dilakukan. Keempat, konsep optimalisasi. Keadaan ini tercapai jika keuntungan maksimum dan kerugian minimum suatu produsen bekerja secara optimal, sehingga hasil yang didapat bisa keuntungan maksimum dan kerugian minimum. Kelima, konsep jangka waktu produksi. Jangka waktu produksi dibagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan jangka jauh, konsep jangka waktu merupakan ekspektasi yang akan dicapai suatu prosuden terhadap produksinya. Keenam, konsep mekanisme pasar. Merupakan perputaran ekonomi, harga-harga produksi dan berjalannya ekonomi melalui pasar. Ketujuh, konsep marginal. Merupakan perbandingan antara nilai tambahan produk dengan nilai tambahan satu satuan pemasukan.

Hukum produksi adalah sebagai berikut. Pertama, Low of Increasing Return. Hukum ini menyatakan bahwa setiap penambahan pemasukan kepada pemasukan yang tetap akan menghasilkan tambahan pengeluaran yang semakin besar dibanding tambahan masukannya. Kedua, Low of Dimishing Return. Setiap penambahan pemasukan kepada pemasukan yang tetap akan menghasilkan pengeluaran yang semakin kecil dibandingkan masukannya. Ketiga, Low of Decreasing Return. Setiap penambahan pemasukan kepada pemasukan yang tetap akan menghasilakan pengeluaran penurunan yang semakin besar dibandingkan masukannya. Keempat, Economics of Scale dan Diseconomic of Scale. Economics of Scale adalah penghematan kegiatan produksi karena skala usaha lebih besar, sedangkan Diseconomics of Scale adalah pemborosan kegiatan produksi karena skala usaha lebih besar.


Selain itu, faktor produksi konsumsi merupakan sesuatu yang diperlukan dalam menentukan besar kecilnya konsumsi. Faktor-faktornya secara umum dibagi menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi. Faktor ekonomi yaitu meliputi, pendapatan produsen, perkiraan harga pasar, iklan dimedia cetak atau media online, harga barang yang bersangkutan dan harga barang lain untuk membandingkan harga dipasaran. Sedangkan faktor non-ekonomi yaitu faktor dari aspek konsumen dan kultur setempat, diantaranya yaitu, selera konsumen, adat istiadat setempat, mode atau gaya hidup seseorang dan jumlah kecilnya keluarga juga akan memengaruhi besar kecilnya konsumsi.